Blog EntryCenderung Sial (Prone to Accident)Feb 3, '07 4:07 AM
for everyone

Oleh: Mang Iyus

 

Salah satu tayangan SCTV berjudul 'Cinta Lama Bersemi Kembali' dengan host Gading Martin dan Jenifer Arnelita. Alkisah yang menjadi subyek minggu ini ialah seorang cowok bernama Luki dan mantannya Oya (atau semacam itulah). Perpacaran mereka putus karena diputuskan sepihak oleh Oya yang sebel banget sama pacarnya itu. Kalau bersama cowok itu

walaupun namanya Luki dari kata Lucky yang artinya 'beruntung' nyatanya bawaannya sial melulu. Tidak pernah on time kalau ngedate, kendaraan mogok, kelupaan bawa dompet dsb.

 

Dikisahkan Luki dijadikan obyek (atau subyek?) yang ingin rujuk dengan pacarnya itu. Maka Jenifer mencari rumah Oya dan mengundangnya untuk 'rendevous' dengan Luki. Untuk meyakinkan Oya diputarlah VCD 'kerja keras' Luki untuk mengambil hati Oya. Luki memilih lokasi di depan Taman Suropati, Menteng di mana ia meletakkan beberapa lilin yang ingin dinyalakannya; mungkin dalam bentuk formasi hati atau apa begitu. Tetapi tiba-tiba turun hujan deras sehingga usahanya gagal. Tanda kesialan lagi! Mulanya Oya segan tetapi akhirnya kepingin juga ketemuan karena sudah lama pisah.

 

Pada Hari-H ternyata Oya harus menunggu sampai tiga jam. Kenapa telat? Ya karena sial lagi. Kendaraan yang ditumpanginya mogok 'as usual'. Kemudian setelah ganti mobil terkena macet yang luar biasa. Apa nggak sial lagi namanya? Maka ditetapkan pertemuan pada hari berikutnya. Kali ini Luki lebih waspada dan tidak mau ketelatan. Ia datang 1,5 jam sebelum jam pertemuan. Maka mereka pergi jalan-jalan berduaan. Luki mengajak Oya ke toko dan menawarkan untuk membeli kado buat Oya. Oya memilih tempat HP dan boneka. Saat mau membayar Luki blingsatan karena ternyata dompernya ketinggalan karena datangnya tadi terlalu terburu-buru sehingga kelupaan. Lagi-lagi kesialan yang telah pernah terjadi. Oya malu sekali dan terpaksa membuka koceknya sendiri untuk membayar barang-barang yang sedianya mau dibelikan untuknya. Demikianlah rupanya mereka memang 'ciong' dan mulai ribut lagi karena Oya mengungkit-ungkit lagi faktor 'sial' tempo dulu saat mereka masih jadian.

 

Pendek cerita akhirnya mereka dijadwalkan piknik ke mana gitu. Mereka main luncuran pakai tali dari tempat tinggi melalui danau – lupa namanya seperti ala outbound gitulah. Oya takut setengah mati sampai lututnya gak bisa kompak. Tetapi setelah diberi contoh oleh Luki akhirnya nekad juga. Dan ternyata Oya merasa fun juga. Mereka main hanyut-hanyutan pakai rakit. Mereka juga belajar main golf. Dan Luki sok pinter ngajarin Oya tetapi puttingnya gak masuk dan Oya marah-marah ngatain dia macem-macem. Maka Luki juga naik pitam 'enough is enough'. Tetapi Oya bisa dibujuk host untuk minta maaf dan akhirnya mereka baikan. Pendek cerita akhirnya mereka jadian kembali setelah Luki nembak lagi dan Oya menurut pengakuannya juga masih cintrong kepada Luki.

 

Tulisan kali ini bukan fokus pada acara rujukan Luki dan Oya. Ada anggapan orang bahwa ada manusia tertentu memang 'prone to accident'. Dan dalam kehidupan nyata memang ada manusia semacam itu. Saya jadi ingat akan kartun jadul zaman kuda gigit besi pada mingguan Star Weekly - atau semacam itulah - tentang tokoh Put On. Put On dalam bahasa tionghoa artinya "tidak hokkie" alias "sial". Serial Put On selalu menggambarkan macam-macam kesialan melulu yang dialaminya sehari-hari.

 

Memang aneh bahwa namanya Luki tetapi nasibnya Put On. "Nomen est omen" (nama itu nubuat) kata pepatah Latin. Tetapi rupanya itu hanya berlaku di Roma dan bukan di Jakarta. Mungkin saat nama Luki itu diberikan dalam hati orangtuanya ada semacam kekuatiran "supaya anaknya jangan sial maka sebaiiknya diberi nama Luki". Frasa "supaya jangan" itu adalah formula "afirmasi negatif" -- ( saya tidak berani lagi nulis 'doa negatif' karena netter fundamentalis ada yang protes bahwa "doa selalu positif" -- ya sudah, saya mengalah saja. Buat apa ribut soal istilah?) Sayangnya kerap terjadi kalau diniatkan dalam hati 'jangan sesuatu' maka justru kebalikannya yang terjadi. Mengapa demikian? Apakah di sini selalu berlaku "the law of inversion"?

 

Coba katakan kepada pembantu rumah tangga, "daging beku itu dikeluarkan nanti dari kulkas, tetapi jangan direndam ya." Apa yang terjadi? Justru ia merendam daging beku tersebut; supaya esnya cair, katanya. Apakah komunikasinya tidak jelas? Apakah dipakai bahasa Hotentot sehingga kurang dimengerti? Pada Supervisory Management dikatakan kalau menyuruh bawahan jangan memakai frasa negatif seperti kalimat dengan kata jangan tersebut. Mengapa? Karena kemampuan daya serap dan daya pikirnya yang rendah, maka yang ditangkap ialah kata terakhir yaitu "direndam". Ada dua kata kerja dalam kalimat perintah yang diberikan tadi yaitu "keluarkan" dan "rendam." Maka yang dilakukan persis itu: ikan 'dikeluarkan' dan 'direndam'! Saya sedikit mulai sedikit-sedikit mengerti mengapa sampai ada majikan yang sampai hati menggaplok pembantunya karena kesal dan jengkel. Kalau kejadiannya terus-terus begini. Apalagi misalnya, kalau gaun baru yang harganya ratusan ribu diperintahkan supaya "jangan disetrika" lalu yang terjadi justru benar-benar "disetrika" -- apalagi kalau sampai mbleber atau gosong, padahal baru sekali saja dipakai. Mungkin itulah mengapa mukanya yang ganti disetrika atau upahnya tidak dibayar buat pengganti harga gaun mahal tersebut.

 

Tetapi artikel ini juga bukan fokus pada soal kebodohan pembokat atau miskomunikasi dengan bawahan yang IQ-nya pas-pasan. Fokus artikel ini ialah tentang cinta. Lho kok?!

 

Ya hanya cintalah yang mengerakkan Luki mau mengejar terus Oya walaupun berkali-kali menjadi korban pelecehan. Cintalah yang mendorong Oya untuk mau bertebal muka meminta maaf kepada Luki karena 'gampang marah'. Karena cintalah Luki mau memaafkan Oya yang sangat menyinggung harga dirinya seakan-akan dia tidak punya harga sama sekali di mata Oya; apa-apa yang dilakukannya selalu saja salah. Bahkan sampai faktor eksternal yang di luar kekuasaan Luki seperti hujan, mogok atau macet juga dijadikan "bahan bukti" bahwa Luki itu memang makhluk pembawa sial. Dalam memorinya hanya ada kata sial, sial dan sial. Tetapi dalam hatinya juga ada kata cinta. Dan rasa cinta itu lebih kuat daripada memori kata sial di otaknya.

 

Memang dari ketiga nilai dan energi utama manusia yaitu iman, harapan dan cinta, ternyata cintalah yang menempati peringkat paling atas. Cinta itu panjang sabar, cinta itu tahan uji tahan menderita, cinta itu melihat melampau keterbatasan-keterbatasan yang (selalu) ada pada orang lain, setiap manusia dan pada diri sendiri.

 

Jakarta, 28 Januari 2007.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help