Blog EntryCinta, Kedamaian, Pencerahan Dec 2, '07 3:30 AM
for everyone

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/01/opini/4031654.htm

 

Oleh: Gede Prama

 

Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi, demokrasi, kapitalisme, dan feminisme hanya sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat, lalu menerjang ke seluruh dunia.

 

Siapa saja yang rajin ke Barat di abad ke-21 boleh bertanya what is your religion? Dan siap-siaplah dijawab, stupid question. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne pernah bertanya kepada mahasiswanya di kelas, any one of you who have religion? Yang menaikkan tangan hanya segelintir. Itu pun semua berwajah Asia.

 

Dari salah satu segi terlihat, agama di Barat lebih dipandang sebagai beban ketimbang identitas yang membahagiakan. Pada saat sama, ada kecenderungan lain yang layak direnungkan.

 

Karen Amstrong—penulis buku Hystory of God—menulis, inilah zaman keemasan Buddha di Barat. Albert Einstein—fisikawan besar abad ke-20—berpendapat agama yang bisa memenuhi kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha. Lama Surya Das—penulis Awakening to the Sacred—menjumpai sejumlah anak muda di Barat yang mengaku, my parent hate me when they know that I am a Buddhist, but they love me when they know that I am a Buddha. 0rang tua kesal melihat putrinya masuk wihara. Namun, mereka cinta saat menyadari anaknya sabar, santun, penuh rasa hormat, dan rendah hati.

 

Dahaga akan kedamaian

 

Digabung menjadi satu, ada pintu kecenderungan yang terbuka. Di satu sisi ada rasa dahaga manusia akan kedamaian. Terutama karena materialisme di Barat sudah menunjukkan batas-batasnya. Di sisi lain, agama Buddha menyentuh komunitas Barat dengan kedamaian.

 

Membaca tanda-tanda seperti ini, tantangan agama-agama sebenarnya bukan persaingan antaragama. Raja Asoka, murid Buddha, mewariskan, "siapa yang menghina agama orang, ia sedang mencaci agamanya sendiri. Siapa yang menghormati agama orang, ia sedang mencintai agamanya sendiri". Tantangan agama ke depan adalah memuaskan rasa dahaga manusia akan kedamaian.

 

Tanpa kemampuan memuaskan dahaga akan kedamaian, lebih-lebih memperpanjang daftar kekerasan yang panjang, bukan tidak mungkin ada agama mengalami kepunahan di masa depan.

 

Bahasa-bahasa cinta

 

Kalau boleh jujur, semua agama berbahasakan cinta. Islam menempatkan cinta di urutan pertama dalam 99 nama Allah. Kristen mengalami dinamika dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, tetapi cinta kasih tidak bergeser sama sekali. Yoga Hindu tidak bisa sempurna tanpa bhakti yoga (path of love and devotion). Rumah batin luhur Buddha mulai dengan cinta kasih.

 

Dalam ketokohan juga serupa. Islam bersinar di tangan manusia seperti Jalaludin Rumi, Imam Al-Ghazalli yang tidak punya bahasa lain selain cinta. Ajaran Kristus menyentuh di tangan orang seperti Santo Fransiskus dari Asisi yang digerakkan kasih. Di tangan Mahatma Gandhi, Bhagawad Gita hidup. Tidak ada kekuatan lain yang membantu Gandhi terkecuali bakti. Saat Dalai Lama ditanya pengertian Tuhan, ia menjawab: God is an infinite compassion. Teduh, menyentuh itulah wajah asli agama-agama.

 

Namun, kerap ini dihadang keingintahuan yang membandingkan wacana dengan realitas. Bila demikian, mengapa ada serangan teroris, Pemerintah AS dan kawan-kawan menyerang Afganistan dan Irak, rezim militer Myanmar menembaki biksu, masyarakat Bali yang tekun berupacara melakukan sejumlah kekerasan?

 

Latihan sebagai langkah

 

Meminjam cerita Zen, setiap kata hanya jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha digabung dengan Krishna pun tidak bisa mengantar manusia menemukan pencerahan, terutama bila hanya sebatas dimengerti lalu lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama latihan.

 

Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.

 

Thich Nhat Hanh dalam Creating true peace lebih konkret soal latihan. Dalam diri kita ada bibit kedamaian sekaligus kemarahan. Perjalanan latihan bergerak kian sempurna, saat manusia dalam keseharian menyirami bibit kedamaian, berhenti menyirami bibit kemarahan. Cara terbaik melakukan ini dengan mempraktikkan kesadaran (mindfulness).

 

Dalam aktivitas apa pun—bangun, makan, bekerja sampai tidur lagi—lakukanlah dengan penuh kesadaran. Bila kemarahan datang, senyumlah sambil ingat untuk tidak mengikuti kehendak kemarahan. Saat kedamaian yang berkunjung, senyumlah sambil sadar jika kedamaian pasti pergi. Dengan demikian, ketika kedamaian pergi, tidak perlu kecewa.

 

Bila digoda orang menjengkelkan, berfokuslah pada api amarah di dalam. Lihat, senyum, jangan diikuti. Bila ini tidak membantu, ganti judul orang menjengkelkan dengan orang yang membutuhkan uluran cinta. Sebab bila judulnya menjengkelkan, respons alaminya marah. Jika judulnya memerlukan cinta kita, respons alaminya membantu.

 

Teruslah berlatih sampai tidak ada lagi yang tersisa—kemarahan menghilang, kedamaian menghilang—kecuali kesadaran agung. Kadang disebut kesempurnaan agung karena semua sempurna apa adanya. Dan yang terlihat orang lain di luar adalah keseharian yang diam, senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu.

 

Dibimbing cinta manusia bertemu keteduhan, kesejukan kedamaian. Kedamaian membukakan pintu pencerahan. Ada yang bertanya, apa itu pencerahan? Seperti berlatih naik sepeda. Teorinya sederhana. Namun, begitu berlatih dijamin jatuh. Ada yang masuk selokan. Ada juga kakinya berdarah. Hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan keseimbangan (baca: kesadaran agung). Dan momen saat kesadaran agung dialami, ia akan berujar, ooo!

 

Itulah pencerahan. Ia di luar kata-kata. Bila ada yang mau menjelaskan dengan kata-kata, nasibnya akan serupa dengan tangan manusia yang mau mengambil seluruh air samudra.

 

Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Perbukitan Desa Tajun Bali Utara


enlightenment wrote on Dec 2, '07
Cocok banget tulisan Gede Prama ini dengan kondisi saya minggu ini, yang….bawaan nya marah2 melulu…

Anak buah kerjanya sambil bercanda, ngobrol pake basa planet, sambil males2an….
Ada yang kalo datang telat melulu….eh…dapet tugas hari Minggu, dipakenya untuk membolos.

Orang cargo Jakarta, (Jakarta loh!) minta kiriman fax SMU ajah....susah nya minta ampun. Harus marah2 dulu, baru suratnya muncul...
Doooohhhhh....aaaarrrrrgggghhhhh!!!!!

Susah nya…mengatasi marah ini…

Biasanya, saya lebih bisa menahan marah, tapi minggu ini...kayanya lepas kontrol...mana udara puanasss banget, mungkin aja membawa pengaruh buruk juga...

Cara saya menahan marah, biasanya...dengan menjawab pertanyaan.
Pernah baca dibuku (lupa buku apa): marah itu terjadi karena kita takut.
So, kalau mau marah, saya langsung bertanya pada diri sendiri:

Apakah yang saya takutkan?

Dengan menjawab pertanyaan itu, biasanya saya jadi berpikir, terus berusaha menyelesaikan ketakutan saya itu dengan tindakan. Selesailah.

Kali ini Gede Prama mengajarkan hal baru untuk mengatasi marah:
Tersenyumlah, dan berikan cinta ^_^

Ayo berlatih!
onit wrote on Dec 2, '07, edited on Dec 2, '07
mas/mbak.. salam kenal..

tulisannya gede prama ini bagus..
tapi masih satu pertanyaan saya...
kalo saya marah belum tentu penyebabnya adalah rasa takut.
justru waktu saya gak marah itu, dan paham bahwa orang2 itu hanyalah butuh cinta, di situlah takut saya muncul. krn biasanya orang2 yg butuh cinta itu belum tentu bisa atau terbuka hatinya utk diberi cinta.. bahkan bisa menyakiti saya. di situlah yg saya takut krn saya belum siap utk sakit.. bagaimana menghilangkan takut yg ini?
enlightenment wrote on Dec 2, '07, edited on Dec 2, '07
Mbak, salam kenal juga ^_^

Kalau tentang ini: "orang2 yg butuh cinta itu belum tentu bisa atau terbuka hatinya utk diberi cinta.. bahkan bisa menyakiti saya"
Baca juga tulisan nya Gede Prama yang judulnya:
Orang Brengsek Guru Sejati http://enlightenment.multiply.com/journal/item/155

sufistik wrote on Jan 27
The mountain of murid existence
is like straw before the wind of adam
It saved him from fear and hope

This teacher is a sea
we are the fishes
existence the net
the taste of the sea knows
he who has left the net

O you who turns
my thorns into roses
my desert into garden
my journey into arrival !

sword andbegging bowl in hand
Ready to serve at your command
Swift sharp a whiff of rumi for you
enlightenment wrote on Feb 1
Fill your mind with peace and good feelings and your mind will give that experience in return. Whatever you are experiencing in your mind now is what you put there earlier on.
www.thoughtfortoday.org.uk
moumtaza wrote on Mar 12
bener juga ya, meskipun tidak selalu sesederhana itu
:)
enlightenment wrote on Mar 14
Iya sih...kl sederhana pasti bakalan damai dunia ini...
Peace ^_^
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help