Blog EntryAgama dan Isteri TetanggaApr 12, '08 8:51 AM
for everyone

Kiriman: Ifan

 

Di milis ini kerap kita jumpai posting berbau agama. Atau perdebatan yang menjurus pada perdebatan soal agama. Kadang perdebatannya begitu panas. Sindir-menyindir atau ejek mengejek. Buat saya itu menyedihkan.

 

Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.

 

Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.

 

Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.

"Apakah anda semua punya tetangga?"

 

Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : "Tentu saja punya".

 

Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak tetangga Anda?"

 

Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong". Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.

 

Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya ?"

 

Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.

 

Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?"

 

Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?"

 

Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu.

 

Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja".

 

"Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran.

 

"Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja".

 

Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.

 

Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

 

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. "

 

Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.

 

Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.Begitu. "

 

Kami semua terus menyimak paparannya.

 

"Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. "

 

"Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah," ujarnya.

 

Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan. Sangat menyedihkan.

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
farhan0704 wrote on Apr 12
Andai semua orang baca tulisan ini..........
enniarief wrote on Apr 12
Saya yakin bila semua umat manusia berpandangan seperti itu, tak ada permusuhan tentang agama. Tuhan untuk semua umat manusia, juga Tuhan menurunkan agama bukan untuk saling menonjolkan yang satu lebih suci dari yang lain. Iya ngga Catila?

Terima kasih telah berbagi.
enlightenment wrote on Apr 13
Setuju ^_^. Cak Nun pas banget yah, bikin ilustrasinya.

Dulu pas jaman saya ikut penataran P4 (waktu Opspek), pas ada perdebatan soal agama, dosen nya bilang gini: "dalam setiap agama, itu pasti ada hal-hal yang termasuk dalam kategori misteri, yang ga bisa diperdebatkan."

Nah, baru kali ini saya ketemu "misteri" dalam ilustrasi terbaiknya, dan saya rasa orang2 pasti lebih bisa menerima ^_^

Peace be on earth...
olivepopeye wrote on Apr 13
thanks for sharing.. i hope u dont mind i send this to others
enlightenment wrote on Apr 15
Sama2 ^_^
It's okay...ini juga kan dapet dari milis.
So...happy share yah...
fotorinaldi wrote on Apr 16
Nasihat Cak Nun benar namun dalam konteks kepenganutan agama pada masyarakat awam. Sebab, kebanyakan masyarakat menganut agama sekedar warisan dari orang tua. Jarang sekali yang memperolehnya melalui proses pencarian yang jujur dan valid. Tradisi ini tentu mempengaruhi mindset/tata pikir dan pandangan orang tersebut tentang agama dan keimanan di kemudian hari. Di mata awam, agama dan keimanan merupakan hal yang sangat sensitif. Dan memang sebaiknya perbedaan latar belakang agama tidak usah dilibatkan dalam pergaulan awam.

Namun dalam konteks lain, misalnya kajian akademik, perdebatan teologis itu perlu, boleh, dan normal saja dilakukan. Sejatinya, sebuah konsep teologi bukanlah sekedar “paket iman” tok yang dianut tanpa berpikir/menimbang-nimbang dahulu. Seseorang harus memiliki penjelasan filosofis mengapa ia memilih suatu konsep teologi tertentu dan bukan yang lain. Tentunya ini harus dibekali pengetahuan yang luas. Sehingga perdebatan teologis dengan penganut konsep teologi lain di kemudian hari adalah hal yang lumrah, positif, dan progresif. Seseorang yang menganut suatu konsep tertentu (mis. Konsep teologi) memang harus siap secara mental dan intelektual mendengar kritik tajam terhadap konsep yang dianutnya, dan harus siap pula memberi jawaban. Jika tidak siap, ya pending dulu kepenganutannya..

Demikian juga yang terjadi pada agama-agama lain yang tidak berparadigma theistik, semisal agama Buddha (Buddhisme). Bahkan semenjak awal, agama Buddha sudah memberi lampu hijau bagi mereka yang kritis dan skeptik terhadap ajaran ini untuk datang, melihat sendiri, dan membuktikan kebenarannya.
7dragon wrote on Apr 28
benar, terlalu banyak orang usil...
enlightenment wrote on May 1
Bikin hidup lebih hidup ^_^
rokunco wrote on Jun 3, edited on Jun 3
ehm barusan kan diperingati lahirnya pancasila (1 juni)...kalo pancasila bener2 diaplikasikan dengan benar ke kehidupan sehari2 ya seperti yang cak nun utarakan itu...indah damai, krisis bisa segera dientaskan bersama2 dstnya.....nah kalo sudah merasa menang sendiri, paling benar sendiri itu yang repot, contoh ambon, palu, teror bali, dllnya kan demikian bahkan yng terakhir kejadian di monas kemarin.....jadi sok usil "mendiskripsi isteri tetangga" emang jadi biang keroknya....kira2 begitu yaah...salam<<
enlightenment wrote on Jun 4, edited on Jun 4
Ya emang begitulah kira2 ^_^
Yang sabar ajah....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help