Catila's posts with tag: buku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buku
Blog Entry10 Resep Jadi PenulisMay 4, '08 5:20 AM
for everyone
oleh: Yon's Revolta
http://penamuda.multiply.com/journal/item/118/10_Resep_Jadi_Penulis 

Anda ingin jadi penulis, gampang! Untuk menjadi seorang penulis masalahnya bukan kita bisa atau tidak bisa. Tapi kita mau atau tidak mau. Jika kita mau, pasti ada jalan untuk meraih predikat itu. Baiklah, dalam kesempatan ini, akan diketengahkan beberapa resep ringkas bagi mereka yang ingin terjun ke dalam dunia tulis menulis. Semoga membantu yah.

1.Suka Membaca
Membaca tentu bukan asal baca, apalagi membaca apa saja. Kita perlu menetapkan skala prioritas apa yang kita baca sesuai dengan kebutuhan kita. Misalkan Anda seorang muslim, dalam satu bulan minimal tiga jenis buku yang perlu dibaca. Buku tentang keagamaan, buku sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan buku yang sesuai dengan minatnya. Dengan skala prioritas tersebut otak kita tidak dijejali beragam informasi yang justru membuat kita pusing, tapi informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai seorang penulis nantinya.


2.Suka Kliping
Kliping tak hanya soal gunting menggunting koran. Jaman sekarang, kliping bisa berupa data digital. Yah, semua orang tahu, kita tinggal mengunduh materi-materi sesuai dengan kebutuhan kita melalui jejaring dunia maya. Ingat, jangan terjebak untuk mengoleksi banyak informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Sekali lagi tetapkan prioritas untuk mengkoleksi informasi sebaga bahan mentah untuk karya yang akan kita buat kelak. Kliping gunanya hanyalah untuk menambah khasanah karya kita, yang paling penting tetap orisinalitas ide kita dalam sebuah karya.


3.Miliki Diary


Diary (catatan harian) perlu dimiliki oleh (calon) penulis. Diary akan melatih orang untuk jujur pada diri sendiri. Menuliskan sepenggal goresan spontanitas apa yang dirasakan. Kelak menulis secara jujur akan sangat berguna bagi karier kepenulisan. Sebab, bisa mengantarkan penulis untuk menulis dengan hati. Yah, harapannya ketika orang menulis dengan hati, pesannya akan sampai ke hati juga. Mulia sekali bukan penulis yang seperti ini.




4.Miliki Buku Sakti


Berbeda dengan diary. Buku sakti adalah bank data. Berisi kutipan buku-buku yang pernah kita baca, hasil-hasil penelitian dan juga momen-momen penting yang terjadi di dunia. Untuk apa buku sakti ini perlu kita miliki? Yah, seperti papatah mengatakan the palest ink is better than the best memory (tinta yang kabur sekalipun masih lebih baik daripada ingatan yang tajam). Ketika kita ingin menulis sebuah karya, untuk memperkaya khasanah kita tinggal membuka bank data tersebut. Misalnya ketika akan menulis artikel berjudul “Televisi itu Candu”, untuk memperkayanya, kita tinggal membaca rangkuman dan kutipan buku terkait televisi yang pernah kita baca beserta hasil-hasil penelitian terkait dengannya. Adanya buku sakti ini sebenarnya adalah usaha sebuah manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik.


5.Miliki Blog


Blog ibarat tabungan karya. Memang lebih bagus kalau blog kita itu spesifik dalam arti wadah menuliskan hal-hal yang tidak beragam. Satu tema saja. Dengan begitu, ketika kita menuliskan karya dalam blog kita, sesungguhnya adalah sedang menabung. Kita menabung karya yang punya potensi kelak disulap menjadi sebuah buku. Selain itu, memiliki blog juga bisa sebagai ajang latihan kita dalam menuliskan karya. Disana tulisan kita akan mendapat respon dari pembaca. Dengan demikian menjadi sebuah pembelajaran dan masukan tersendiri agar kelak kita bisa berkarya lebih baik lagi.


6.Gabung Milis Kepenulisan


Milis adalah forun diskusi di dunia maya. Kita bisa mengikutinya, banyak sekali milis tentang dunia kepenulisan. Misalnya milis terbesar kepenulisan seperti penulislepas@yahoogroups.com, forum_lingkarpena@yahoogroups.com, apresiasi-sastra@yahoogroups.com dsb. Dengan bergabung dengan milis kepenulisan, kita bisa mendapat banyak informasi yang mendukung karier sebagai penulis seperti kiat-kiat kepenulisan, bedah karya maupun beragam informasi lomba kepenulisan di mana kita juga bisa berkiprah di dalamnya.


7.Kunjungi Perpustakaan dan Toko Buku


Kemana orang berlibur? Bisa ke pantai, mall, tempat-tempat wisata dsb. Tapi bagi orang yang ngebet pingin jadi penulis, liburan bisa digunakan untuk mengunjungi perpustakaan. Disana kita bisa refresing sekaligus menambah wawasan bagi otak kita. Ke toko buku juga perlu, selain kita bisa membaca sekilas buku-buku yang ada. Kita juga bisa mendapatkan inspirasi judul-judul buku yang laris manis di pasaran. Selanjutnya, kita berharap bisa memunculkan karya atau buku-buku yang digemari masyarakat pula.



8.Datangi Acara Kepenulisan



Penting sekali yang ini. Dengan mendatangi acara kepenulisan, terutama acara bedah buku, kita akan banyak mendapatkan ilmu. Biasanya adalah ilmu tentang proses kreatif sang pengarang buku. Bagaimana lika-likunya, mulai dari mendapatkan inspirasi, proses penulisan, mencari penerbit, sampai menyaksikan bukunya bisa dibaca orang lain dan barangkali bisa best seller, dicetak berulang-ulang. Dengan mengetahui cerita tersebut, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Menjadi penulis “hebat”. Tentu dengan cara yang berbeda.

9.Ikuti Komunitas Kepenulisan


Ikut komunitas kepenulisan itu perlu. Dengan mengikuti komunitas kepenulisan kita bisa berbagi pengalaman dalam berkarya. Begitu juga bisa saling memberikan kritikan dan masukan pada karya yang dibuat anggota. Dengan begitu akan matang sebelum karya benar-benar dikirimkan ke berbagai media maupun penerbit. Dengan ikut komunitas pula akan memberikan semangat kepada kita untuk berkarya. Biasanya kita akan terpacu dan bersemangat berkarya ketika ada salah satu anggota yang karyanya bisa tembus ke media massa maupun bukunya diterbitkan.



10.Angkat Mentor Inspiratif



Siapa mentor inspiratif itu? Dia adalah penulis favorit kita. Kita perlu mengangkat mentor walaupun tanpa kontak dengannya. Cukup kita mengakrabi karya-karyanya. Mentor ini gunanya dalam soal gaya menulis maupun bercerita. Bukan hal yang haram ketika kita mengikuti gaya menulis seseorang. Yang penting kita tetap punya ide orisinil tersendiri. Adanya mentor yang kita angkat sendiri ini akan membantu kita. Misalnya, akan menulis novel inspiratif, kita perlu mengangkat Paulo Choelo sebagai mentor. Ini sekedar contoh saja. Jadi karya kita nantinya berbau karya dia dalam soal gaya kepenulisan.


Baik, sementara ini dulu yah,
abaikan saja ke sepuluh resep diatas
kalau hanya bikin pusing dan menganggu pikiran.
Sekarang duduk dan menulislah, itu saja.
Selamat berkarya.

LinkGanesha Bookshop and Music Workshop Ubud BaliJul 7, '07 12:56 AM
for everyone
Link: http://www.ganeshabooksbali.com/



Jalan Raya, Ubud, Bali - Indonesia
Tel / Fax : (62-361) 970320
Email : info@ganeshabooksbali.com

Toko buku ini menjual buku baru, buku bekas, majalah, koran, dan perlengkapan meditasi.
Saya paling suka browsing buku bekas nya sih...
Buku bekas yang sudah dibeli, bisa dijual kembali dengan harga 50% dari harga belinya.
Buku bekas nya lumayan updated dibandingkan toko buka lain diseputaran Ubud yang juga sebagian besar menyediakan buku bekas.

Oh ya..kita juga bisa meninggalkan nomer kontak untuk dihubungi kalau buku yang dicari tidak ada. Di setiap sudutnya terdapat keterangan2 yang membantu dalam memilih dan mencari buku.

Di website nya terdapat informasi terbaru mengenai koleksi buku, CD dan proyek sosial mereka.

Pokoknya, kalo ke Ubud, jangan lupa mampir deh...Ga nyesel koq!

About Ganesha Bookshop:
Ganesha Bookshop was established in 1989 as a small family business by Ketut Yuliarsa and his wife Anita Scheeres. Ketut Yuliarsa is a well known writer and actor/musician in Bali and together with Anita had the desire to see a bookshop in Bali that would cater to the needs of all the avid readers, collectors and researchers who passed through Ubud, Bali. They began the bookshop with their own precious collection of books and traded as a second hand outlet. Over the years the shop grew extensively and now houses a vast second hand books section which includes antiquarian books on Bali and Indonesia. As the shop grew they added lots of new books on Indonesia in the areas of language, literature, cooking, arts and culture.

The bookshop:
Ganesha Bookshop is a new and secondhand bookstore in Bali.
They have new section specialises in Indonesian Studies and a wide selection of books relating to various aspects of Indonesia, also a CD store specialising in Indonesian musical instruments and CD's.

Blog EntryMereka Bangga Jadi Anak DesaNov 18, '06 5:54 AM
for everyone

Oleh P Bambang Wisudo

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/08/humaniora/3079913.htm

 

 

Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku, dan tidak dari kehidupan. …Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya.

 

Kritik terhadap dunia pendidikan dalam penggalan syair Rendra "Sajak Seonggok Jagung" ternyata tidak berlaku untuk SMP Plus Pasawahan. Sekolah yang berdiri di atas areal eks perkebunan karet di perbukitan Cipucung, sekitar 70 kilometer selatan Kota Ciamis, mendidik murid-muridnya untuk mencintai dan bangga menjadi anak petani.

 

Anak-anak SMP Plus Pasawahan tidak hanya dari buku-buku teks pelajaran, guru-buru bersertifikat tetapi juga bergulat dengan tanah yang kering di musim kemarau, belajar bersama masyarakat petani, dan mengenali dari dekat persoalan-persoalan yang menjadikan petani terpinggirkan. Bukan hanya itu saja, mereka diajak masuk ke dalam dunia tulis-menulis. Anak-anak itu tidak hanya membaca buku dan guntingan koran, tetapi juga menulis cerita pendek, puisi, kisah-kisah perjuangan hidup petani, sampai pengalaman mereka sehari-hari bergaul dengan tanaman. Di sekolah milik komunitas petani di desa terpencil itu, hampir tiada hari tanpa menulis.

 

Sebulan sekali, tiap kelas menerbitkan buletin sendiri. Penerbitan itu sangat sederhana. Sebagian ditulis tangan dan diperbanyak dengan fotokopi. Di kelas II, tiap anak pernah menulis belasan hingga puluhan puisi dan cerita pendek.

 

Akhir tahun lalu, sebagian kumpulan tulisan anak-anak itu diterbitkan dalam sebuah buku Aku Bangga Jadi Anak Desa yang mencantumkan tulisan pengantar Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi.

 

Antara pena dan cangkul

 

Di SMP Plus Pasawahan, anak-anak bersahabat dengan pena dan cangkul. Tidak laki-laki, tidak perempuan. Semua harus mengenal cangkul. Ketika musim kering tiba, anak-anak perempuan pun ikut bersusah payah mengangkat ember-ember air untuk menyirami tanaman. Perempuan dan laki-laki mendapatkan giliran untuk mencari rumput buat kambing-kambing yang dikandangkan di halaman sekolah. Mereka juga belajar menyemaikan bibit di kantong-kantong plastik.

 

Selain diberi tanggung jawab untuk menggarap petak tanah masing-masing, anak-anak itu juga menggarap kebun bersama di depan sekolah. Juni lalu mereka memanen 1,5 kuintal mentimun yang dijual dengan harga Rp 300.000. Tidak seperti petani kebanyakan, tiap anak

menuliskannya dalam bentuk laporan.

 

"Kami ingin anak-anak ini kelak bisa bertani dengan cerdas. Dengan menuliskan semua kegiatan yang dilakukan, bila panenan jelek, mereka bisa melihat catatan untuk mencari penyebabnya," kata Saeful Milah (25), guru SMP Plus Pasawahan.

 

Sindi (15), yang kini duduk di kelas dua, mengaku sudah terbiasa menulis puisi sejak ia kelas I. Hampir tiap hari, sebelum masuk sekolah, kalau tidak menulis puisi ia menulis cerita pendek. Ai Syatul Avifah (16) juga hampir tiap hari menulis.

 

Ia sering mengikuti pertemuan-pertemuan organisasi tani. Ia merekam baik-baik peristiwa-peristiwa menjelang dan sesudah aksi penebangan pohon karet oleh petani, penyerangan para preman, dan perlawanan balik oleh petani. Cerita-cerita itu dituliskan Avifah antara lain

dalam sebuah cerita pendek tentang percakapan antara tanah dan pohon karet.

 

Menurut Saeful, pilihan untuk membiasakan anak-anak menulis merupakan hasil pemikiran bersama guru-guru SMP Plus Pasawahan. Saeful sendiri mengaku tidak mempunyai pengalaman dalam dunia tulis-menulis.

 

"Yang penting guru bisa mendorong murid untuk menulis. Mereka dibiasakan saja membuat catatan tertulis tentang apa yang dikerjakan, membuat puisi, atau cerita. Nyambung atau tidak, itu belakangan," kata Saeful.

 

Haslinda Qadariyah (28), jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang mengajar di sekolah itu, kebetulan sebelumnya menjadi sukarelawan pengelola majalah Komite Pembaruan Agraria (KPA) di Bandung.

 

Keterampilan itulah yang ditularkan kepada anak-anak Pasawahan.

 

"Tiap hari ada kegiatan membaca dan menulis. Mereka kami biasakan membaca tulisan dari guntingan-guntingan koran, mendiskusikan, dan menuliskannya kembali," tutur Haslinda.

 

Secara periodik anak-anak Pasawahan diterjunkan ke organisasi-organisasi tani yang di Banjarsari untuk membuat laporan perjalanan.

 

Kurikulum nasional

 

SMP Plus Pasawahan mengadopsi kurikulum nasional. Mereka bersekolah antara jam 07.30 sampai jam 14.00. Tiap hari Jumat ada pelajaran bertani selama dua jam. Hari Sabtu merupakan hari penuh untuk bertani.

 

Sebelum sekolah dimulai, anak-anak biasanya telah berdatangan di sekolah untuk melihat kebun mereka. Setelah pelajaran usai, biasanya anak-anak itu masih berada di sekolah sampai sore untuk mengikuti kegiatan kesenian.

 

Tanpa kehadiran guru, anak-anak tersebut bisa belajar mandiri. Ketika diberi tugas oleh gurunya untuk mempersiapkan acara kesenian untuk pertemuan orangtua murid, anak-anak itu berembuk sendiri apa yang akan mereka lakukan.

 

Ada sekelompok anak yang berlatih membaca puisi, ada yang membuat teater dalam bahasa Sunda, ada yang berlatih calung. Jalan cerita, pembagian peran, dan lain-lainnya ditentukan oleh anak-anak sendiri.

 

Paryono (14) yang kini duduk di kelas dua, sangat terampil dalam memainkan calung, berteater, maupun bertani. "Saya senang bermain drama, main calung, dan banyak lagi. Saya kelak mau jadi guru di sini," kata Paryono yang selalu sibuk mengerjakan sesuatu.

 

Sekalipun mengadopsi kurikulum nasional akan tetapi pendekatan yang dipakai SMP Plus Pasawahan berbeda dengan sekolah pada umumnya.

 

Mereka ingin mengembangkan anak sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing. "Kami tidak menyamaratakan anak dan memaksa anak menyukai segala hal," kata Saeful.

 

Dalam buku berjudul Aku Bangga Menjadi Anak Desa, anak-anak Pasawahan bercerita tentang desa mereka, tentang perjuangan orangtua mereka memperebutkan hak atas tanah, tentang sekolah mereka, bahkan opini tentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak yang menyengsarakan petani. Mereka memprotes ketidakberpihakan pemerintah kepada petani dan tidak diperhatikannya pendidikan bagi anak-anak di desa.

 

Rani Anggraeni (16) menulis tentang kebanggaannya sebagai anak desa. Ia sempat kebingungan mencari sekolah lanjutan karena ketiadaan biaya.

 

Ia tidak mau seperti seorang kawannya yang menyesal tidak bisa meneruskan sekolah karena harus pergi ke Jakarta mencari uang.

 

Ia juga bercerita tentang seorang temannya yang ke Bandung, katanya mau bersekolah, tetapi ternyata hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

 

"Aku bangga hidup di desa. Walaupun orangtuaku menjadi petani, aku tetap bangga. Desa adalah kekuatan ekonomi, desa menjadi harapan kita. Aku di desa sambil sekolah. Aku ingin membuat masyarakat di desaku tidak bodoh lagi …," tulis Rani.

 

Sekolah komunitas mendekatkan pendidikan dengan persoalan nyata yang ada di lingkungannya.


ReviewReviewReviewReviewCala IbiApr 29, '06 9:36 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Nukila Amal
Pertama kali lihat Cala Ibi, di hari terakhir UWRF 2005 (www.ubudwritersfestival.com). Yang udah sore-sore banget, di Indus. Itu juga dateng ke Indus nya gara-gara dah disuruh pulang mulu ma Bu Janet 2. Bis dah bosen kali yah…melihat diriku yang tiap hari barengan mulu ngejagain Box Office (BO).

Tapi, gara-gara tiap hari di BO mulu, jadi ngenalin para celeb nya UWRF deh… :p Termasuk ma pengarangnya Cala Ibi juga, Nukila Amal.

Ketemu Nukila…yang pengarang Indonesia, berasa, koq kayanya ga pernah tahu yah… (sebagai orang yang suka baca, biasanya sih yah...paling ga, pernah dengar nama lah…bis khan kerjanya nyusurin rak toko buku :p)

Trus, jadi pingin tahu profilnya…trus pas ke Indus (baru ngeh juga kalo di Indus itu ada toko bukunya…yang banyak ngejual buku yang bikin lapar mata pingin dibeli…sampe yang gawat, disaat terjepit karena dah kebanyakan beli buku, jadi nya minjem duit sama Pak Dewa. Malu sih benernya…tapi nekat aja. Bis dah hari terakhir. Kalo ga beli sekarang, kapan lagi…) ngeliat Cala Ibi, mbathin aja…oh ini nih bukunya Nukila Amal. Ngebaca-baca depan belakangnya… Tertarik banget ma sampulnya yang artistik…Denger-denger, Nukila Amal rambutnya jadi pada memutih gara-gara nulis Cala Ibi…Tertarik juga ma judulnya…apa sih, Cala Ibi itu? Dapet bocorannya, Cala Ibi tuh bahasa Sulawesi, yang artinya humming bird. O…gitu toh…

Tapi, dari semuanya yang diatas, yang bikin ‘klik’…harus...harus…bli!, kalimat-kalimat ini nih…di paragraf pertamanya:

Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan, Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan.
Cala Ibi, halaman 1

Bis itu, pulang dari Ubud, sibuk dah dengan segala rutinitas. Sambil nyicil baca Cala Ibi juga lah…
Biasanya, kalau baca buku tuh sekali dua kali baca langsung abis. Nah, ini novel pertama yang ngabisin waktu 1 tahun baru habis kebaca. Dari Oktober 2005 – April akhir 2006. Lama banget! Rekor euy…

Komentar tentang Cala Ibi…? Ini nih..
Di setengah lebih bab-bab yang ada, isinya brundelan kata-kata…(susah euy ngejabarin nya, tapi baca aja deh…kebrundelan nya)…yang bikin jadi suka lama ngebalik halaman karena jadi suka ngulang-ngulang keindahan kata-katanya, sambil terheran-heran, gimana yah…ngedapetin ide untuk dapat padanan kata sebanyak ini…?

Trus….lama-lama, koq jadi mumet dengan kebrundelan itu… mulai macet…macet…macet…dah…ga diterusin.
Sampai trus tersadar waktu ngeliat 2 tumpuk buku-buku yang blum sempet dibaca gara-gara nih Cala Ibi blum kelar. Wah…kalo Cala Ibi blum kelar, gimana nasib buku-buku yang lain nih…akhirnya, timbullah motivasi untuk nyelesaiin.

Mulai lagi…baca dengan konsep baru. Baca tanpa henti…! Akhirnya berhasil juga…apalagi, di setengah terakhirnya…dah ga sebrundel yang depan…

Kalau soal ceritanya, kira-kira begini:
Maya adalah si pencerita di dunia nyata. Dalam mimpinya, ia menjadi Maia, seorang penunggang Naga bernama Cala Ibi.
Buku ini mengisahkan Maya dengan mimpi-mimpi ilusif nya bersama Maia dan Sang Naga, juga Ujung dan Tepi (sepasang kekasih, yang tau-tau muncul)…

Namanya mimpi, yang notabene ilusif, Maia bisa berada di mana-mana saja dengan tiba-tiba, dan tanpa batasan ruang dan waktu. Sebentar di Sulawesi, di Jakarta, dan di hutan…

Di setengah bab terakhir, cerita nya bercampur antara mimpi dan kenyataan. Rasa kuatir Maya akan kerusuhan di Ambon, cerita tentang kakaknya, keponakannya, sedikit tentang pacarnya…

Dan ditutup dengan ajakan Cala Ibi membawa pergi Maia ke alam mimpi lagi….lagi…lagi…

Sedikit cuplikannya:
Di kemudian hari aku membeli sebuah buku kecil bersampul hitam, menyelipkannya di bawah bantal. Mengisi lembar-lembarnya dengan huruf-huruf cakar ayam yang kutulis dengan mata masih terpejam setengah terjaga. Ketika terjaga, aku suka kesulitan membacanya kembali. Entah mengapa, aku mulai menulis, mengingat mimpi-mimpiku malam hari, merahasiakan, menyimpannya sendiri.
Mungkin karena itu, aku berani bermimpi.
(Cala Ibi, Halaman 13)

Pagi sempurna. Tempat yang tepat untuk bermimpi. Untuk mengingat yang terlupa – meski tak semua bisa diingat, tak semua perlu jadi kalimat. Seperti pernah kata Bibi Tanna – mirip kata Kiki temanku – sebuah mimpi sebenarnya hanya punya satu dua imaji bermakna. Selebihnya adalah peramai, pemanis, pengalur, bahkan pembingungan, perumitan dan penyesatan. Jadi aku musti jeli mencari di antara imaji-imaji, merangkai bahasa ketaksadaran manusia yang aneh itu, puisi malam-malam hari. Dan kalau aku dungu, mimpi akan datang lagi dan lagi, berubah imaji dan rupa, untuk tanda yang sama. Muncul berkali-kali, hingga dimengerti. Betapa baik hati.
(Cala Ibi, Halaman 133)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help