Catila's posts with tag: experd

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag experd
Blog EntryMalasJan 24, '07 8:10 AM
for everyone

Oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting & Training Specialist

 

Deni sedang agak malas bekerja hari ini. Rasanya masih ingin libur. Kok cepat sekali liburan berakhir. Rasanya baru sebentar libur, eh sudah harus bekerja lagi.

 

Tapi, kemudian Deni teringat suatu kejadian yang menggerakkan hatinya ketika belum lama berselang dia pulang kampung untuk merayakan tahun baru bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika dalam perjalanan ke kotanya, di kereta api Deni bertemu seseorang. Orang tersebut duduk di kursi sebelah kirinya dan hanya dipisahkan oleh jalan untuk lalu lalang. Seorang pemuda. Sederhana. Biasa saja. Tidak terlalu istimewa.

 

Yang membuatnya istimewa adalah pemuda tersebut terus menerus dipuji-puji oleh teman-temannya. Mereka semua berlima. Teman-temannya tak henti-hentinya memujinya, menggodanya, menepuk-nepuk bahunya, dan menyalaminya berulang-ulang. Sebaliknya pemuda tersebut hanya senyum-senyum dan tertawa.

 

Di tengah perjalanan, setelah teman-teman pemuda tersebut tidak terlalu ribut lagi, tiba-tiba pemuda tersebut menyapa Deni. Mau pinjam koran yang dipegang Deni. Tentu saja Deni tidak keberatan untuk meminjamkan korannya. Apalagi dia sudah selesai membacanya. Tak lama kemudian pemuda tersebut mengembalikan korannya dan mereka berdua terlibat dalam pembicaraan.

 

Karena penasaran, Deni menanyakan mengapa pemuda tersebut disalami. Dia hanya tersenyum saja. Tapi, teman di sebelahnya langsung menengok ke arah Deni dan menjawab:"Dia karyawan terbaik tahun ini, mas! Nomor satu! Ha ha ha... Sudah tiga tahun berturut-turut lho mas. Hebat kan?" Temannya yang lain menambahkan: "Tahun ini dia naik jabatan mas. Jadi bos."

 

Deni memberi salam sambil mengucapkan selamat. Sambil bercakap-cakap, Deni menanyakan kiat-kiat suksesnya dalam bekerja. Temannya menjawab: "Dia orangnya selalu ingin lebih baik. Tidak pernah berhenti belajar mas. Tidak pernah menyerah. Kalau dia tidak mengerti, dia bertanya dan belajar. Kalau sudah mengerti, dia akan berusaha melakukan yang terbaik. Kalau sudah terbaik, dia berusaha lebih baik lagi. Pokoknya tidak pernah puas. Yah, jelas dia menang lagi tahun ini."

 

Teman yang lain lagi menambahkan: "Betul mas. Malah kita semua banyak belajar dari dia. Dia ini memang superman. Pokoknya hebat deh." Deni ikut tersenyum: "Wah, mas, saya juga ingin belajar nih. Saya kok tidak bisa begitu ya? Kalau lagi down, ya kerja jadi malas juga. Tidak bisa selalu bersemangat tinggi. Apalagi kalau lagi bokek. Ha ha... Bagaimana sih caranya?"

 

Pemuda tersebut memandangnya, lalu berkata serius: "Saya juga sering mengalami up and down kok. Tapi, saya tidak mau down terus. Setiap kali saya malas, ya langsung saya kerja lebih giat. Kalau saya ingin istirahat, saya langsung cari apa saja yang bisa dikerjakan. Kalau

saya bosan, saya langsung bikin rencana baru tentang apa saja yang akan saya lakukan hari itu."

 

Dia bercerita: "Tiga tahun yang lalu, saya ditegur oleh atasan saya. Soalnya saya lagi malas banget. Beberapa hari di kantor saya hampir tidak mengerjakan apa-apa dan hanya main game. Lalu atasan saya datang. Beliau hanya bertanya, Kalau kamu sedang malas bekerja, bagaimana jika perusahaan juga sedang malas membayar gajimu?"

 

Pemuda itu melanjutkan, "Setelah berkata demikian, beliau pergi. Saya jadi malu sendiri. Saya tidak ingin perusahaan malas membayar gaji saya, tentunya perusahaan juga tidak ingin saya malas bekerja. Jadi, sejak saat itu saya tidak mau menuruti rasa malas, lelah, bosan dan lainnya."

 

"Caranya?" tanya Deni.

 

"Kalau saya sedang merasa malas, saya langsung berdiri dan lompat-lompat di tempat. Kira-kira 20 kali lompat. Dulu saya sering ditertawakan teman-teman saya ini, tapi sekarang banyak yang mengikuti cara saya. Dengan melompat-lompat sebentar, maka peredaran darah menjadi lebih lancar, rasa malas pun hilang. Begitu juga kalau saya mengantuk, saya langsung melompat-lompat sebentar, maka rasa mengantuk akan lenyap. Pokoknya saya melakukan kebalikan dari setiap perasaan negatif yang saya rasakan."

 

"Begitu juga kalau saya sedang pusing dengan masalah pribadi saya. Langsung saya menelepon klien yang membutuhkan bantuan saya, sehingga saya tidak memikirkan masalah saya sendiri. Kadang saya langsung menghadap atasan dan mendiskusikan masalah pekerjaan. Saya tidak mau mengasihani diri sendiri. Masalah saya tidak akan selesai dengan berpusing-pusing atau bermalas-malasan kan? Apa uang saya akan bertambah kalau saya malas bekerja? Tidak kan? Jadi, untuk apa?"

 

Waktu mendengar penjelasan pemuda itu, Deni hanya mengangguk-angguk. Tapi kini, ketika dia merasa sedang malas, Deni teringat akan pemuda di kereta. Segera Deni berdiri dan melompat-lompat di tempat sebanyak 20 kali. Eh benar, ternyata badannya terasa lebih segar. Dia pun mulai bekerja lagi. Ternyata dia merasa semangatnya timbul lagi. Manjur juga yah?

 

Semangat Deni timbul. Untuk apa memulai tahun yang baru dengan rasa malas? Apakah rasa malas akan mengubah keadaan menjadi lebih baik? Jelas tidak! Jadi apa gunanya malas? Do something! Be active! Be successful!

 


Blog Entry"Being Recognized": Tidak Cukup Hanya Kerja BaikNov 30, '06 7:52 PM
for everyone

Oleh Eileen Rahman & Ninik Wulandari, EXPERD

 

Tidak sedikit saya bertemu karyawan yang curhat mengatakan bahwa tidak ada bedanya jadi pekerja `biasa-biasa' saja dengan pekerja yang banting tulang dan `luar biasa'.

 

"Tetap saja saya harus melalui jalur standar. Menunggu kenaikan pangkat dan gaji massal. Lama kelamaan saya berkesimpulan orang yang menonjol atau tidak, tidak terlihat di perusahaan"

 

Barangkali ini seperti cerita klise. Anda sudah melakukan outstanding job, namun tetap tidak ada yang peduli? Jangankan mendapat reward, justru orang lain yang dipromosikan. Jengkel tentu saja. Mau protes? Nanti dulu. Coba pikir lagi, kapan Anda pernah berupaya secara khusus agar atasan melirik prestasi Anda? Sudahkah Anda `menjual' diri agar orang tahu kemampuan Anda? Jangan-jangan selama ini hanya duduk manis di balik meja, merespons semua instruksi, bekerja cepat, atau menyelesaikan setiap masalah dan keluhan. Anda tidak pernah tahu kapan orang-orang menyadari kesuksesan Anda selama ini.

 

Sadari beberapa poin krusial ini, jika Anda benar-benar ingin `dilirik' dan diakui keberadaan dan kontribusinya dalam organisasi.

 

1. Ingat: Kerja Keras Itu "Biasa"

 

Sudah sewajarnya seorang profesional yang bekerja di sebuah organisasi bekerja keras. Rekan-rekan sejawat Anda juga dituntut untuk menampilkan semangat yang sama. Jangan pernah bandingkan diri kita dengan orang yang tidak bekerja keras. Masalahnya sekarang adalah selain bekerja keras, kita perlu dikenal dan terlihat "kinclong".

 

Ketidaksadaran individu untuk menjual hasil karyanya inilah yang sering membuatnya tenggelam. Kerap kita mendengar ungkapan, "Saya hanya seorang administrator. Apakah seorang administrator tidak bisa menonjol dan meraih puncak karier daiam organisasi?

 

2. Ciptakan Nilai Tambah

 

Keahlian tidak bersifat instan dan tidak terikat gelar pendidikan. Keahlian justru dimatangkan oleh pengalaman di lapangan, dan proyek yang ditangani, dan persoalan yang muncul, atau dan kesalahan yang dibuat. Anda perlu membungkusnya agar keahlian ini bisa mengendap, muncul, dan membawa perubahan dan gaya dalam pemecahan masalah khas Anda. Prinsipnya, jangan hanya bisa mengerjakan sesuatu, tetapi jadilah ahli solusi yang memiliki gaya khas! Hanya dengan nilai tambah yang signifikan, profesionalitas Anda menjadi "luar biasa".

 

3. Bersahabat dengan ide dan Rangkul Peluang

 

Seringkali saya sedih bila individu melihat sukses dikaitkan dengan jenis pekerjaannya. Seolah ada pekerjaan kelas satu dan keias kambing. Suami saya yang hafal sejarah luar kepala, mendapatkan pelajaran dari seorang guru yang selalu melakukan "roleplay" dengan penggaris, kursi, dan alat bantu sederhana lain yang ada di dalam kelas untuk mengajarkan sejarah. Bukankah ini suatu cara kreatif? Tidak selamanya ide kreatif harus datang dari eksekutif top atau bagian kreatif perusahaan. Ide sekecil apapun, bila digarap sungguh-sungguh bisa mengubah sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi perusahaan.

 

Apapun peran yang Anda emban di organisasi, ingatlah untuk selalu mencari peluang yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Anda bekerja di bagian back office? Ciptakan alur kerja yang lebih efisien untuk kemudahan kerja unit Anda, dan hitung dampaknya terhadap cost. Cari sebanyak mungkin kesempatan, dan lakukan eksekusi secara cermat. Cari dukungan dari orang-orang yang mau mendengarkan dan membantu menjual ide Anda. Sekali Anda berpikir tentang ide, Anda akan terus kritis mencari celah untuk kemajuan kerja dalam skala yang lebih luas, bahkan hingga ke tahap organisasi.

 

4. Sekali Luar Biasa Tidak Selamanya Luar Biasa

 

Seorang manajer pemasaran yang berhasil meluncurkan produk dan bahkan mendongkrak angka penjualan produknya dengan 100 persen tidak bisa berada di dalam "comfort zone". Ia tidak bisa mengklaim sejarah kesuksesannya untuk waktu yang lama. Bila ia tidak menciptakan kesuksesannya kembali, apakah melalui kegiatan yang sama dengan target lebih atau kegiatan lain dengan hasil yang lagi-lagi menonjol, maka keterlihatannya pun akan berangsur pudar.

 

5. Jual dan Tonjolkan Keberhasilan

 

Saat Anda dan tim mencapai kesuksesan dalam proyek atau menemukan solusi yang hasilnya luar biasa, jangan lalu berhenti, Bagilah pengalaman Anda kepada orang lain. Manfaatkan media komunikasi di perusahaan, apakah bulletin, intranet atau website yang paling mungkin dibaca oleh orang orang penting di perusahaan Anda. Gali masukan dan diskusikan lebih lanjut dengan orang-orang yang berkepentingan. Cari orang-orang yang bisa membantu Anda menuangkan kisah sukses Anda secara cerdas.

 

Sukses Anda, sekecil apapun, bila dikemas dengan cantik, bisa memberi inspirasi kepada orang banyak. Hal yang lebih penting lagi, "sense of success" akan berdampak luar biasa bagi kemajuan Anda pribadi. Jangan pernah takut untuk menampilkan keberhasilan Anda kepada orang lain. Katakan "saya berupaya keras dan telah berhasil' dengan penuh percaya diri, dan suarakan secara positif dan tepat. ****


Blog EntryJadi Nomor Satu!Nov 30, '06 7:38 PM
for everyone

Oleh: Eileen Rachman, EXPERD

 

Rasa haru tak bisa ditahan mengenang momen-momen di mana kita mendengar berita "Indonesia nomor satu di dunia". Rudy Hartono juara bulutangkis terlama di dunia, Ellyas Pical juara tinju, dan berita yang terakhir, di tengah gonjang-ganjing dunia pendidikan nasional, Tim Olimpiade Fisika Indonesia meraih juara umum. "... bahkan, Jonathan berhasil mengalahkan 380 siswa dari 84 negara dan meraih gelar Absolutely Winner. TOFI nomor satu di dunia!"

 

Sayangnya, predikat nomor satu mulai menjadi ungkapan langka. Bahkan, ada kebiasaan tersenyum sinis untuk menerima predikat nomor "buncit" mengenai kinerja sumber daya manusia Indonesia di pasaran global, "rangking" untuk negara yang sarat korupsi, dengan berpikiran: "Ah.., yang penting bukan saya...!" Pertanyaan untuk kita semua adalah, apa yang sebenarnya bisa kita mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari hal yang kecil?

 

Berobsesi Jadi Pemenang, Kenapa tidak?

 

Banyak orang tua meyakinkan putra-putrinya agar tidak cemas bila tidak mendapatkan rangking di sekolah. Kita lupa bahwa `tidak perlu'-nya seorang anak menjadi pemenang di bidang akademik bukan berarti dia tidak bisa menjadi pemenang di bidang lain, seperti memenangkan permainan, olah raga, kesenian, ketrampilan bergaul, atau bahkan di situasi kemanusiaan seperti menolong orang lain. Sense of success perlu di upayakan sejak dini, dalam segala hal, sehingga setiap individu mempunyai keyakinan bahwa ia bisa menjadi pemenang. Selain itu latihan untuk bersikap fair dalam menghadapi kekalahan juga hanya bisa dirasakan individu bila ia sendiri memang tertantang untuk berlomba. Amati potensi kita baik-baik, `think big', dan beraspirasi tinggi untuk membuat tantangan yang realistik.

 

Perlombaan Ada di LUAR!

 

Bila ingin sungguh-sungguh jadi `pemenang, jangan berorientasi `ke dalam". Tidak bisa sekedar berorientasi ke internal perusahaan, internal kota sendiri, internal negara sendiri, dan hanya menjadi "jago kandang". Berorientasilah ke pelanggan karena membuat pelanggan happy membuat kita berjiwa pemenang. Berorientasilah ke mitra bisnis, mitra profesi. Buka wawasan dan lakukan riset mengenai sukses dan kiat yang dilakukan oleh orang lain, perusahaan lain, karyawan dari perusahaan lain. Simpan keyakinan: "Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak bisa?"

 

Lomba Memang "Fun", tetapi Bersikaplah Serius

 

Lomba memang bagai permainan yang mengasyikkan tetapi upaya memenangkannya bukan lelucon. Seringkali ada tindakan tidak populer yang harus dilakukan, seperti minggir dulu, melawan arus, ciptakan hal baru, memisahkan diri untuk berlatih keras, tolak ajakan teman untuk bersantai, bahkan bersikap keras dalam mempertahankan prinsip. Semua itu akan membawa hasil akhir belakangan dan baru terasa kenikmatannya bila sudah memenangkan suatu situasi. Keluarga Item, perenang zaman dahulu, sudah berada di kolam renang sejak pukul 4 pagi. Para juara olimpiade fisika memasuki karantina selama 1 tahun, bekerja keras, berlatih dan tetap harus berupaya sekolah. Bukankah ini sesuatu yang sangat serius? Pertanyaannya, seserius apa perjuangan kita untuk menjadi nomor satu?

 

Saat Ragu, Bergeraklah

 

Seringkali jalur karier atau studi kita meragukan. Pada saat seperti itu, yakinkan bahwa berdiam diri tidak menguntungkan. Jangan terlena dalam analisa, analisa, dan analisa yang tidak membawa kita ke mana-mana. Terlena dalam analisa membuat kita bahkan ketinggalan kereta. Berpikir memang perlu, tetapi kita perlu melakukan sesuatu, dan tak perlu menunggu sampai hasil pemikiran kita perfect betul. Lakukan sesuatu, dengarkan intuisi Anda, bergeraklah sesuai kata hati. Pada saatnya Anda akan menemukan jalur Anda kembali.

 

Lawan Sikap Kurang Percaya Diri Dengan Antusiasme

 

Dalam latihan-latihan outbound yang kami selenggarakan, banyak sekali keberanian dimunculkan hanya karena antusiasme para peserta. Para peserta yang tidak pernah berani melewati jembatan tali tinggi akhirnya bisa memutuskan untuk melakukannya hanya karena antusiasme yang ditularkan teman-temannya. Selain kenyataan bahwa sikap antusias itu menular, sikap tersebut juga sangat berguna untuk menggali potensi ketrampilan dan kreativitas yang selama ini terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri atau situasi emosi lainnya.

Bahkan banyak pemenang yang bisa berhasil hanya dengan bermodalkan antusiasme yang tidak ada habisnya.

 

Relaks Setiap Saat, Bekerja Setiap Saat

 

Biarkan diri kita terlena, dan tertidur setiap saat tubuh menuntut untuk beristirahat, di dalam bis, pada saat mata perih memandang komputer. Dengan demikian kita juga memperbolehkan diri kita untuk menikmati pekerjaan dan berpikir, 24 jam sehari 7 hari seminggu. Relaks, berpikir dan kerja keras bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. ***


Blog EntryPemimpin yang Meng "inspirasi"Nov 18, '06 6:03 AM
for everyone

Sumber: Pemimpin yang Meng "inspirasi" oleh Eileen Rachman, EXPERD

 

Ketika ditanyakan pada 500 orang manajer, dalam sebuah survei secara global, mengenai pemimpin macam apa yang mereka dambakah, jawaban populer yang muncul adalah: "Pemimpin yang menginspirasi."

 

Dari survei terpotret juga bahwa saat ini hanya 11 persen pemimpin yang dinilai mampu menginspirasi. Padahal, kita sangat sadar kenyataan bahwa perusahaan akan lebih mudah meraih sukses di bawah pimpinan yang menginspirasi.

 

Kurangnya pemimpin yang berbobot di sekitar kita, bahkan di negara kita, memang kita rasakan benar. Padahal, dalam suasana bisnis yang kompetitif seperti sekarang ini dan negara yang tengah dilanda berbagai bencana tim kerja membutuhkan energi lebih, di mana pemimpin berperan untuk senantiasa mensuplai energi pada tim dengan memberi motivasi yang sehat serta inspirasi yang tidak ada hentinya.

 

Inspirasi dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi, misalnya, melawan korupsi. Hanya bila pemimpin bisa memberi inspirasi yang kuat dan mengenalah maka tim kerja bisa terdorong untuk mendukung dan menyukseskan gerakan anfikorupsi. Inspirasi ini perlu sedemikian kuatnya sampai menjadi `api pemicu' perubahan sikap mental, mindset, dan perilaku anggota tim untuk berubah dan mengubah. Inspirasi seolah energi positif yang menyebar seperti `mistik". Dampaknya, tim kerja seakan rela bekerja tanpa kenal waktu dan tenaga, serta tidak hitung-hitungan.

 

Menginspirasi kelompok amatlah penting dan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh pemimpin yang inspiratif dapat di- 'benchmark' oleh kita:

 

"Customer focused"

 

Apakah dia seorang menteri, pemimpin organisasi, atau direktur, seorang pemimpin harus berfokus pada `pelanggan' dan tahu persis apa kebutuhan pelanggannya. Pemimpin yang tidak menyadari siapa pelanggannya akan tetap menjadi pemimpin yang berada di "awang-awang", gambaran visinya "mengambang", bicaranya sulit dimengerti bawahan karena tidak jelas kemana arahnya. Pemimpin yang bahkan "stake- holder focused" mampu bersikap direktif, tahu persis apa yang perlu ditanyakan bila bertemu atasan, bawahan, dan pihak eksternal. Ia pun otomatis akan menghilangkan sikap "bossy" dan birokratis, karena setiap perilakunya didasarkan pada pelayanan pelanggan.

 

Keluar dari Meja Kerja

 

Tak ada dalam sejarah pemimpin inspiratif menggerakkan tim dari balik meja kerjanya. Mahatma Gandhi, Winston Churchill, George Patton, Mother Teresa adalah orang-orang lapangan. Menginspirasi memang lebih mudah dilakukan dari tengah-tengah tim.

 

Hubungan informal dan kontak personal sangat berpengarüh pada mental bawahan. Mungkin itu juga sebabnya, mengapa Agus Martowardoyo, dirut Bank Mandiri, membuka pintu rumah dan ponsel-nya buat semua orang yang membutuhkan berkoordinasi dengannya.

 

Sadari Peta Kekuatan Karyawan

 

Hanya pemimpin yang sadar akan kapasitas sumber dayanya-lah yang bisa mengajak orang di sekitarnya untuk berupaya lebih dan membuat nilai tambah. Hal ini juga yang memungkinkan pemimpin untuk memotivasi bawahan secara personal, sesuai dengan kekuatan dan kekhasan bawahannya. Bawahan akan merasa "terangkat" dan seolah "superman' yang merasa mampu berbuat lebih. Pemimpin yang inspiratif membuat bawahannya menghargai dirinya sendiri seperti halnya ia menghargai perusahaan dan pelanggannya.

 

Dengan mengenali kekhasan bawahan, pemimpin yang inspiratif bisa menjadi lebih dari sekedar `coach" yang baik, namun ia juga membimbing bawahan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, kemudian memberikan pengarahan dan jalan keluar, juga prinsip profesional dan solusi permasalahan, bahkan sampai filosofinya.

 

Bermainlah pada Level Emosional

 

Ketika sesekali saya tanyakan kepada beberapa bawahan yang sangat setia kepada atasannya, padahal bisnis sedang merosot, maka jawaban mereka sekadar, "Dengan Bapak, kita selalu bersama-sama, terlambat makan sama-sama, makan enak sama-sama." Alasan emosional inilah yang tampak lebih solid daripada sekadar hubungan finansial. Upah memang menentukan kepuasan kerja, namun pemimpin besar biasanya kreatif dalam menemukan cara yang tidak biasa dalam memenuhi kebutuhan bawahannya, yaitu mempertimbangkan faktor-faktor di luar kebutuhan yang basic, seperti respek dan prestis, untuk bisa mengangkat semangat timnya dengan lebih baik.

 

"Passion" yang Berbuah "Vision"

 

Perkembangan teknologi serta globalisasi membuka kesempatan yang jumlahnya tidak berbatas dan memberi kesempatan untuk para pemimpin lebih asik, lebih passionate dalam mencermati minat dan sasarannya. Hal ini juga yang mempermudah para pemimpin untuk menggambarkan visinya dengan kata-kata, deskripsi dan imajinasi yang lebih mudah dimengerti bawahan. Tidak sulit bagi pemimpin sekarang menggambarkan visi se- menggelegar "I have a dream." - nya Martin Luther King. Passion jugalah yang membuat pemimpin inspiratif tidak sekadar memikirkan "what's in it for me" tetapi berobsesi pada "big idea"—nya.


Blog Entry"Trust"Nov 14, '06 3:00 AM
for everyone

Kiriman: parastryono

 

Kepercayaan sangat penting. Pentingnya begitu terasa terutama saat kita sudah berada dalam keadaan tidak dipercaya. Pada saat itulah kita betul-betul merasa bahwa kepercayaan itu tidak mudah didapat.

 

Saya ingat cerita seorang teman yang terjebak dalam situasi di mana dia membuat kesalahan, diragukan ketulusannya, dan kemudian tidak tahu dari mana ia harus mengembalikan kepercayaan koleganya. Seolah berlaku hukum: Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Dari pengálaman kita tahu apa kepercayaan itu. Tetapi, mengembangkan dan menambahnya merupakan hal yang sulit dijabarkan.

 

Rasa percaya akan meningkatkan komitmen, menjaga semangat, dan kinerja tanpa perlu adanya pengawasan dan monitor ketat. Dalam organisasi di mana rasa saling percaya kuat, maka kontribusi dan energi menjadi hemat, karena lebih sedikitnya upaya komunikasi. Individu yang saling percaya lebih mudah menemukan "gelombang" yang sama. Saya ingat pengalaman melihat sengitnya debat 3 orang anggota "board of director" sebuah perusahaan, yang diwarnai argumen bernada kemarahan, seolah hampir terjadi peperangan. Namun, pada akhirnya, mereka saling mengalah dan kemudian sepakat, seperti halnya 3 orang kakak beradik. Komentar saya, "Ini hanya terjadi pada individu-individu yang saling percaya."

 

Rasa percaya dalam organisasi sebenarnya tidaklah hanya dari atasan ke bawahan. Banyak contoh di lingkungan kita yang bisa menggambarkan tidak percayanya bawahan pada atasan. Misalnya saja, keraguan apakah atasan "berkuping tipis", selalu berespons terhadap laporan tanpa menyidik terlebih dahulu, atau akan bersikap "fair" atau tidak bila seseorang memberinya kritik. Keraguan semacam inilah yang kemudian menimbulkan sikap "yes, man", "carmuk" (cari muka) atau mengambil jarak, yang akhirnya menyulitkan organisasi untuk bergerak, karena komunikasi kian tidak terbuka. Dengan tidak digarapnya pengembangan rasa percaya dalam organisasi, maka onganisasi bisa tumbuh tanpa ikatan yang kuat kecuali ikatan yang kasat mata, seperti upah dan fasilitas. Organisasi seperti ini juga kehilangan kesempatan untuk melahirkan pemimpin baru, karena para individunya sulit mengembangkan komitmen ke perusahaan.

 

Bisa dipercaya tidak sama dengan jujur.

 

Lihatlah, berapa banyak orang jujur yang ternyata tetap sulit memenangkan rasa percaya orang lain. Kita perlu mempertahankan dan mengembangkan beberapa kebiasaan, di samping jujur untuk membangun rasa percaya.

 

• Mendengar: Hanya dengan mendengar kita bisa bertukar nilai, minat, tujuan, dan bisa menyamakannya. Kesamaan inilah yang akan menumbuhkan rasa percaya. Dari mendengar kita juga bisa merasakan apa yang dibutuhkan orang lain dan tahu cara memenuhinya. Kita pun bisa mencari kesamaan pandangan, visi dan sasaran sehingga akhirnya menumbuhkan rasa percaya satu sama lain.

 

• Bisa Diakses dan Predictable: Konsistensi reaksi kita dari waktu ke waktu, dan antara apa yang kita katakan dan lakukan, membuat orang bisa memegang" apa yang kita katakan. "Sharing' informasi dan kebersamaan dalam kegiatan informal menyebabkan individu lain merasa bahwa kita seorang yang terbuka, "bisa dibaca' dan bisa didalami.

 

• Sadari Posisi "Power": Di dalam kancah `politik, baik dalam perusahaan maupun dunia politik partai, setiap orang datang dengan berbagai motivasi, agenda, dan perbedaan akses ke pengambil keputusan. Rasa tidak percaya sering tumbuh bila menyaksikan adanya individu yang terlihat mempunyai akses ke pusat kekuasaan sementara orang lain tidak, misalnya saja dalam cara berkomunikasi. "Kedekatan" seperti ini sering menimbulkan rasa curiga , rasa iri, dan sering tidak disertai dengan upaya mencari lebih jauh tentang modus komunikasi apa yang cocok dengan pusat kekuatan tersebut. Seorang teman terheran-heran melihat betapa hubungan kepercayaan jadi membaik setelah komunikasi via SMS-nya dengan CEO lebih sering. Ternyata cara simpel dan murah ini malah mempan untuk mendekati sang pusat kekuatan.

 

- Sadari Cara Berdebat: Kita banyak menyaksikan bagaimana beberapa oknum membela diri atas kebenaran dengan cara yang defensif atau bahkan agresif, terkadang sengaja di depan umum, bahkan di media. Di sini bisa kita yakini bahwa sejujur dan sebenar apa pun seseorang, bila ia tidak mengemukakan pendapat, dan membuktikan kebenaran dengan cara penuh respek, ia malah tidak akan mendapat rasa percaya itu. Kepercayaan adalah masalah emosi, dan tidak selalu bisa disamakan dengan kredibilitas, yang sifatnya hanya rasional.

 

- Tidak Selalu Harus Banyak Bicara: Banyak bicara sering menyulitkan orang untuk mencerna dan mendalami motif pribadi kita. Ada pilihan cara lain untuk meyakinkan orang yang justeru berbicara lebih lebih keras daripada kata-kata. Pembuktian lapangan biasanya juga bisa lebih mempan daripada presentasi formal.

 

Membangun rasa percaya dalam suatu lingkungan sosial membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, dan taktik. Kita tidak bisa menggenjot orang lain agar percaya pada kita. Kitapun tidak bisa melakukan kampanye "trust" besar-besaran. Rasa itu akan datang dengan sendirinya, seolah tanpa kekuatan kontrol kita.

 

"To be trusted is a greater compliment than to be loved" (George MacDonald)

 

Sumber: "Trust" oleh Eileen Rachman, EXPERD


Blog EntrySpiritNov 14, '06 2:50 AM
for everyone

Kiriman: resonansi_2002

 

Teman saya, pemilik dua perusahaan besar, mengeluh dan mempertanyakan mengapa spirit di dua perusahaannya sangat berbeda.

 

Perusahaan pertama usianya 51 tahun, sementara yang kedua tidak lebih dari 10 tahun. Perusahaan yang lebih "dewasa" dan sudah berkembang baik, sulit dikatakan punya spirit yang segar. Karyawannya pulang "teng-go" (tepat jam 5 sore) bersikap hati-hati dan cenderung "cari aman".

 

Sementara, begitu memasuki perusahaan yang lebih "muda", terasa dinamika dan semangat, seolah suasana yang kita alami ketika bergadang di ruang senat mahasiswa, mengerjakan proyek organisasi. Yang jelas, memasuki dua lingkungan kerja yang berbeda ini, "mood" kita langsung beda, padahal lokasinya di gedung yang sama, hanya berbeda lantai. Kita lihat bahwa spirit ada di udara, mudah terasa dan tercium. Bagi sebagian orang, spirit tidak sulit diciptakan. Terkadang hanya perlu "dipancing" dengan gorengan di sore hari atau kebersamaan saat lembur sampai pagi. Namun, di beberapa organisasi tertentu, terasa bahwa spirit ini sulit dikembalikan, walaupun sudah "diangkat" dan "ditarik-tarik".

 

Organisasi yang penuh birokrasi, misalnya, sering membuahkan karyawan yang terlalu berhati-hati, "cari selamat", terlalu berhitung, takut berubah, hanya menunggu ide untuk berubah dari orang lain, dan enggan mengeluarkan ide baru. Tidak ada dinamika, kewaspadaan dan kenikmatan untuk berinisiatif lagi. Bila kita terjebak berada dalam organisasi seperti ini, namun secara pribadi memiliki spirit yang kuat, kita tentunya bertanya-tanya, apakah saya nanti tidak aneh sendiri? Bukankah spirit itu bersumber dari suasana kerja tim? Akankah kita bisa mempertahankan spirit yang segar dari waktu ke waktu?

 

Bagaimana menyuntikkan spirit ke dalam diri sendiri, bahkan sampai memengaruhi organisasi? Ingat Umur! Bila kita sudah kehilangan spirit bekerja, ingatlah umur. Bayangkan profesional seperti Martha Tilaar, yang berusia 70 tahun, tetapi, semangatnya serasa 30 tahun. Beliau mengisi kehjdupan kariernya dengan “passion" dan urgensi.

 

Berapa usia kita sekarang? Masih berapa tahunkah kita harus berproduksi? Bila sekarang saja semangat kita sudah kempis, bagaimana kita akan giat berkarya pada tahun- tahun mendatang? Hati-hati dengan "Menerimà Apa Adanya" Bayangkan sebuah rapat yang "garing", tidak bersemangat, di mana kebanyakan orang tidak mempunyai persiapan materi yang menantang, hanya menjawab bila ditanya atasan, tidak mempunyai ide dan pasrah menjalankan kehidupan perusahaan apa adanya Saat seseorang mengemukakan ide berbeda, semua pandangan menghujam padanya. Dan, si kreatif ini bisa-bisa kemudian meragukan idenya. Kita lihat bahwa sikap "menerima apa adanya bisa mematikan spirit sehingga perlu juga diwaspadai dan diperangi.

 

Pandanglah ke Depan Bukan saja entrepreneur seperti Henry Ford (Ford Motor Comp), Bill Gates (Microsoft Corp.), Larry Page dan Sergey Brin (Google) yang mempunyai kemampuan untuk memandang ke depan, kita pun bisa! Kita selalu bisa melakukan "benchmark" ke perusahaan yang mempunyai aspek yang bisa ditiru. Kita pun selalu bisa mempunyai obsesi untuk meningkatkan produktivitas kita sebagai individu, kelompok atau bahkan perusahaan.

 

Bacaan-bacaan mengenai "best practice? profesi dan perusahaan serupa tidak terbatas jumlahnya. Dari sini kita bisa menumbuhkan mood untuk maju, mentransfer dan merealisasikan ide dan berobsesi untuk lebih sukses. Bertanyalah, "Bagaimana Caranya?"

 

Bisnis dan situasi negara kita sëkarang membutuhkan produk baru, cara dan metode produksi, pasar baru, kecepatan, transfer kekuatan, dan informasi. Bagaimana mungkin kita tinggal diam dan menunggu? Kita bisa mengaktifkan otak dan selalu mencari cara baru.

 

Seberapa pun kecil peranan kita di perusahaan, bantulah untuk memikirkan "improvement", karena hal ini pasti akan berguna bagi perusahaan, tim dan diri Anda sendiri. Selain itu kekuatan spirit Anda akan terasa oleh atasan.

 

Dengan demikian kita secara tidak langsung membuat harapan baru bagi diri sendiri setiap saat dan terbiasa menanggulangi ancaman. Kembangkan mindset "Memulai" Menjadi orang yang pertama maju ke depan memimpin diskusi, memberi tanggapan atas email kolega, mengirimkan notulen rapat ke pelanggan yang baru dikunjungi, sama sekali tidak sulit!

 

Dampaknya terhadap diri sendiri-lah yang lebih besar. Kita akan mendapatkan apresiasi orang lain, dipandang sebagai orang yang gesit. Bayangkan kalau kita selalu menjadi orang yang pertama menyapa "halo" di setiap kontak dengan orang lain. Kita pasti akan menebar semangat.

 

Dan, untuk diri sendiri, kita akan menumbuhkan semangat ekstra sebagai pemulai dan penyerang tidak sekedar responsif. Cintai Teknologi Pemrosesan data, jaringan internet, telekomunikasi tidak pernah bisa kita hindari. Teknologi juga berkembang demikian pesat sehingga sulit diikuti.

 

Rasanya baru beberapa tahun saja kita menikmati teknologi GPRS, CDMA. Sekarang, kalau tidak ber-3G-ria, rasanya kuno. Baru saja, kita menikmati "i-pod", sekarang kita perlu bersiap siap memahami "i-phone'.

 

Bila kita sedikit berusaha untuk menyukai dan memperdalam teknologi, kita secara tidak langsung terpaksa mengadaptasi derap inovasi dan perubahan dari perkembangan teknologi. Menjaga agar tetap ber-spirit ibarat menjalankan dinamika kehidupan seorang artis; seorang artis tidak pernah berhenti memerhatikan, berpikir, mengembangkan ide, bereksperimen, mencari ide baru, antusias, bekerja tak kenal waktu dan berupaya menciptakan sesuatu yang unik dan baru.

 

Jadilah orang yang senantiasa hidup dengan spirit. Hidup akan terasa lebih artistik.

 

*** Sumber: Spirit oleh Eileen Rachman, EXPERD


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help