Catila's posts with tag: gede prama
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/01/opini/4031654.htm Oleh: Gede Prama Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi, demokrasi, kapitalisme, dan feminisme hanya sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat, lalu menerjang ke seluruh dunia. Siapa saja yang rajin ke Barat di abad ke-21 boleh bertanya what is your religion? Dan siap-siaplah dijawab, stupid question. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne pernah bertanya kepada mahasiswanya di kelas, any one of you who have religion? Yang menaikkan tangan hanya segelintir. Itu pun semua berwajah Asia. Dari salah satu segi terlihat, agama di Barat lebih dipandang sebagai beban ketimbang identitas yang membahagiakan. Pada saat sama, ada kecenderungan lain yang layak direnungkan. Karen Amstrong—penulis buku Hystory of God—menulis, inilah zaman keemasan Buddha di Barat. Albert Einstein—fisikawan besar abad ke-20—berpendapat agama yang bisa memenuhi kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha. Lama Surya Das—penulis Awakening to the Sacred—menjumpai sejumlah anak muda di Barat yang mengaku, my parent hate me when they know that I am a Buddhist, but they love me when they know that I am a Buddha. 0rang tua kesal melihat putrinya masuk wihara. Namun, mereka cinta saat menyadari anaknya sabar, santun, penuh rasa hormat, dan rendah hati. Dahaga akan kedamaian Digabung menjadi satu, ada pintu kecenderungan yang terbuka. Di satu sisi ada rasa dahaga manusia akan kedamaian. Terutama karena materialisme di Barat sudah menunjukkan batas-batasnya. Di sisi lain, agama Buddha menyentuh komunitas Barat dengan kedamaian. Membaca tanda-tanda seperti ini, tantangan agama-agama sebenarnya bukan persaingan antaragama. Raja Asoka, murid Buddha, mewariskan, "siapa yang menghina agama orang, ia sedang mencaci agamanya sendiri. Siapa yang menghormati agama orang, ia sedang mencintai agamanya sendiri". Tantangan agama ke depan adalah memuaskan rasa dahaga manusia akan kedamaian. Tanpa kemampuan memuaskan dahaga akan kedamaian, lebih-lebih memperpanjang daftar kekerasan yang panjang, bukan tidak mungkin ada agama mengalami kepunahan di masa depan. Bahasa-bahasa cinta Kalau boleh jujur, semua agama berbahasakan cinta. Islam menempatkan cinta di urutan pertama dalam 99 nama Allah. Kristen mengalami dinamika dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, tetapi cinta kasih tidak bergeser sama sekali. Yoga Hindu tidak bisa sempurna tanpa bhakti yoga (path of love and devotion). Rumah batin luhur Buddha mulai dengan cinta kasih. Dalam ketokohan juga serupa. Islam bersinar di tangan manusia seperti Jalaludin Rumi, Imam Al-Ghazalli yang tidak punya bahasa lain selain cinta. Ajaran Kristus menyentuh di tangan orang seperti Santo Fransiskus dari Asisi yang digerakkan kasih. Di tangan Mahatma Gandhi, Bhagawad Gita hidup. Tidak ada kekuatan lain yang membantu Gandhi terkecuali bakti. Saat Dalai Lama ditanya pengertian Tuhan, ia menjawab: God is an infinite compassion. Teduh, menyentuh itulah wajah asli agama-agama. Namun, kerap ini dihadang keingintahuan yang membandingkan wacana dengan realitas. Bila demikian, mengapa ada serangan teroris, Pemerintah AS dan kawan-kawan menyerang Afganistan dan Irak, rezim militer Myanmar menembaki biksu, masyarakat Bali yang tekun berupacara melakukan sejumlah kekerasan? Latihan sebagai langkah Meminjam cerita Zen, setiap kata hanya jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha digabung dengan Krishna pun tidak bisa mengantar manusia menemukan pencerahan, terutama bila hanya sebatas dimengerti lalu lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama latihan. Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan. Thich Nhat Hanh dalam Creating true peace lebih konkret soal latihan. Dalam diri kita ada bibit kedamaian sekaligus kemarahan. Perjalanan latihan bergerak kian sempurna, saat manusia dalam keseharian menyirami bibit kedamaian, berhenti menyirami bibit kemarahan. Cara terbaik melakukan ini dengan mempraktikkan kesadaran (mindfulness). Dalam aktivitas apa pun—bangun, makan, bekerja sampai tidur lagi—lakukanlah dengan penuh kesadaran. Bila kemarahan datang, senyumlah sambil ingat untuk tidak mengikuti kehendak kemarahan. Saat kedamaian yang berkunjung, senyumlah sambil sadar jika kedamaian pasti pergi. Dengan demikian, ketika kedamaian pergi, tidak perlu kecewa. Bila digoda orang menjengkelkan, berfokuslah pada api amarah di dalam. Lihat, senyum, jangan diikuti. Bila ini tidak membantu, ganti judul orang menjengkelkan dengan orang yang membutuhkan uluran cinta. Sebab bila judulnya menjengkelkan, respons alaminya marah. Jika judulnya memerlukan cinta kita, respons alaminya membantu. Teruslah berlatih sampai tidak ada lagi yang tersisa—kemarahan menghilang, kedamaian menghilang—kecuali kesadaran agung. Kadang disebut kesempurnaan agung karena semua sempurna apa adanya. Dan yang terlihat orang lain di luar adalah keseharian yang diam, senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu. Dibimbing cinta manusia bertemu keteduhan, kesejukan kedamaian. Kedamaian membukakan pintu pencerahan. Ada yang bertanya, apa itu pencerahan? Seperti berlatih naik sepeda. Teorinya sederhana. Namun, begitu berlatih dijamin jatuh. Ada yang masuk selokan. Ada juga kakinya berdarah. Hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan keseimbangan (baca: kesadaran agung). Dan momen saat kesadaran agung dialami, ia akan berujar, ooo! Itulah pencerahan. Ia di luar kata-kata. Bila ada yang mau menjelaskan dengan kata-kata, nasibnya akan serupa dengan tangan manusia yang mau mengambil seluruh air samudra. Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Perbukitan Desa Tajun Bali Utara
Oleh: Gede Prama Kebahagiaan adalah mata pencahariaan hampir setiap orang. Entah itu bekerja, menikah, berdoa dan kegiatan hidup lainnya, semuanya bermuara pada samudera yang bernama kebahagiaan. Boleh Anda lakukan survey di pinggir jalan, mungkin semua manusia normal menginginkan kebahagiaan. Demikian dahsyatnya daya tarik kebahagiaan, sehingga banyak orang yang mau mencapainya dengan ongkos dan biaya yang sebesar apapun. Maka, jadilah hidup seperti perjalanan yang diharapkan bermuara pada kebahagiaan. Akan tetapi, kendati sudah menjadi tujuan manusia sejak lama, dan manusia sudah menghabiskan tenaga, waktu dan dana yang teramat besar, masih saja tersisa banyak sekali orang yang tidak puas akan hal ini. Di banyak pojokan kehidupan bahkan terjadi, ada tidak sedikit kehidupan yang hanya bergelimang air mata. Pojokan-pojokan seperti ini tidak hanya tersedia di tempat miskin yang kumuh, melainkan juga terjadi di perumahan elit lengkap dengan mobil mewahnya. Kenyataan terakhir seperti mengajarkan ke kita, bahwa tawa dan air mata tidak mengenal sekat-sekat harta. Keduanya bisa terjadi pada tingkatan harta berapapun dan di manapun. Lantas, adakah sesuatu yang menjadi ciri khas hadirnya tawa dan air mata? Meminjam argumen Hugh Down - sebagaimana dikutip penulis buku A Cup of Chicken Soup For the Soul - 'orang yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan seseorang dengan perangkat sikap tertentu.' Kalau dicermati argumen terakhir, point pentingnya bukanlah keadaan (baca: harta, tahta dan keadaan lainnya) melainkan perangkat sikap kitalah yang lebih menentukan seberapa lama umur kebahagiaan bisa kita miliki. Dengan perangkat sikap yang tepat, mau miskin atau kaya, jabatan tinggi atau rendah, di kota atau di desa, semuanya dibukakan pintu kebahagiaan yang sama lebarnya oleh Tuhan. Persoalannya, jarang orang yang mencari kebahagiaan melalui jalur-jalur sikap. Umumnya, orang mengejarnya di sektor keadaan. Maka, jadilah kegiatan terakhir seperti kegiatan mengejar kaki langit yang tidak mengenal akhir. Atau seperti mengejar bayangan sendiri. Oleh karena tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan hidup untuk senantiasa bergaul di atas maupun di bawah, tidak jarang saya bertemu orang yang dibuat sengsara oleh nafsu berlebihan untuk mencapai keadaan tertentu. Didorong oleh mesin kejam yang bernama keinginan, jadilah tubuh dan hidupnya seperti mobil yang bergerak cepat tapi tanpa sopir. Kerap sampai dalam keadaan yang diinginkan memang. Tetapi, ongkos yang dibayarnya amat dan teramat mahal. Tidak jarang terjadi, ongkosnya adalah kehidupan mereka sendiri. Agak berbeda dengan pencari-pencari harta dan tahta, ada sejumlah orang yang saya kenal yang memusatkan sebagian besar energi dalam perbaikan dan pengembangan sikap. Fokusnya memang bukan keadaan yang ada di luar sana, melainkan sikap yang muncul dari dalam sini. Tidak mudah tentunya, terutama pada awalnya. Dan saya sendiri masih dalam tahap belajar. Namun, begitu wilayah sikap ini sudah terkuasai, kebahagiaan bukanlah barang yang teramat langka dan mahal. Sebutlah seorang tokoh mengagumkan yang bernama Helen Keller. Ia memiliki keadaan dalam bentuk matanya yang tidak bisa melihat. Akan tetapi, separuh lebih waktunya diisi dengan raut muka yang penuh dengan senyum. Demikian juga dengan Bunda Theresa, hidupnya sebagian besar dikelilingi orang-orang berpenyakit di lingkungan miskin. Akan tetapi, toh beliau bisa memiliki umur tua dan panjang. Buddha bahkan meninggalkan harta dan tahta untuk mencapai pencerahan. Sebenarnya masih ada contoh lain yang terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Yang jelas, sikaplah kunci yang amat menentukan dalam perjalanan menuju kebahagiaan. Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah pepatah cina yang menarik perhatian saya. Pepatah tersebut berbunyi amat sederhana. Jika kau menginginkan kebahagiaan. Untuk sejam - tidurlah selama itu. Untuk sehari - pergilah memancing. Untuk sebulan - menikahlah lagi. Untuk setahun - warisi harta. Untuk seumur hidup - tolonglah orang lain. Lama sempat saya terpaku pada pepatah sederhana terakhir. Semakin ia didalami, semakin saya dibawa ke dalam rangkaian pemahaman tentang kebahagiaan yang demikian lengkap dan mengagumkan. Sikap, itulah hulu dari sungai kebahagiaan. Lebih-lebih kalau sikap terakhir dijabarkan ke dalam sikap rajin membantu dan menolong orang lain. Sungai kebahagiaan akan menjadi sungai yang tidak pernah mengenal kering. Entah bagaimana Anda menjabarkan kalimat 'tolonglah orang lain'. Saya mengenal seorang sahabat yang kaya secara materi dan hidupnya berakhir mengagumkan. Ketika beliau masih hidup, sering kali merayakan ulang tahunnya di panti asuhan dan panti jompo secara bergantian. Memiliki anak asuh di mana-mana. Tutur katanya demikian lemah lembut. Mengingatkan kesalahan saya secara amat pas dan tidak pernah menyakiti hati. Banyak sekali sahabatnya - termasuk saya - yang demikian kehilangan ketika beliau meninggal dunia. Semua ini seperti mengingatkan saya dan Anda, bersikaplah yang positif, dan kitapun sudah sampai pada keadaan bahagia selamanya. When all things are done well, the journey is the reward - demikian salah seorang guru meditasi saya pernah berucap.
Oleh Gede Prama
Penulis Sejumlah Buku, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/17/utama/3383769.htm
Ketika seorang guru ditanya evolusi jiwa manusia ratusan tahun terakhir, dengan diam sebentar, menatap mata lalu menjawab, "dari gelap ke gelap". Dari ketidakpuasan satu ke ketidakpuasan lain. Dari konflik satu ke konflik lain.
Melihat kehidupan bergerak begini, sejumlah orang desa yang polos bertanya, mengapa kemajuan iptek harus seperti ini? Maafkanlah keluguan. Andaikan keluguan ini dijawab dengan data, angka, logika, mungkin sinyalemen "dari gelap ke gelap" akan tambah panjang. Angka dilawan angka. Logika mengundang serangan balik logika.
Karena demikian keadaannya, izinkan sekali-sekali bukan angka, bukan logika yang bicara, tetapi sepi sunyi. Tidak dalam posisi menyebut sepi benar, yang berbeda salah. Sekali lagi tidak. Serupa dengan mulut manusia, gigi wujudnya keras karena tugasnya memotong dan menghancurkan. Lidah bentuknya lembut karena panggilan hidupnya bukan untuk menghancurkan, tetapi merasakan. Keduanya punya tugas lain. Dengan spirit seperti inilah, sepi sunyi dalam tulisan ini mohon izin bicara.
Sejak dulu, pencinta sepi selalu tidak banyak. 0rang yang bertapa di kesunyian selalu lebih sedikit dibanding mereka yang mencari di keramaian. Keduanya bertumbuh. 0rang-orang keramaian menyukai bertumbuh ke luar (dengan ukuran kekaguman pujian orang), sedangkan pencinta kesunyian menyukai bertumbuh ke dalam. Kekaguman dan pujian orang dihindari karena penuh godaan ego.
Melihat bulan dengan lampu
Satu contoh yang amat menerangi di jalan sunyi adalah pertapa suci Ramana Maharshi. Sampai umur 16 tahun tidak ada tanda ia akan jadi pertapa. Begitu berkenalan dengan perjalanan ke dalam diri, tiba-tiba badannya panas. Ini membuatnya lari ke Bukit Arunachala. Lebih dari sekadar panasnya menghilang, ia menikmati kesunyian di tempat ini. Bahkan selama puluhan tahun menghabiskan hidup yang sepenuhnya diam.
Saat mengakhiri diamnya, Ramana menjawab pertanyaan orang secara mengagumkan hanya dengan segelintir kata. Dari situ didirikan ashram oleh banyak pengikutnya di sekitar tempat ia bertapa. Tiap kali ditanya siapa gurunya, ia menggeleng sambil bergumam, "The ultimate consciousness is the only teacher" (Kesadaran yang mahautama itulah gurunya).
Serupa dengan ini, di sejumlah perenungan dengan judul agama yang berbeda-beda, banyak murid diminta diam. Awalnya percakapan ke luar menghilang, diganti percakapan ke dalam. Akhirnya percakapan ke dalam pun menghilang. Dan yang tersisa hanya satu, yakni kesadaran. 0rang-orang yang sudah disinari cahaya kesadaran, akan bergumam, untuk melihat bulan tidak memerlukan lampu!
Kata-kata, logika, angka mirip lampu luar. Manusia membutuhkan saat gelap. Namun, dalam terang cahaya kesadaran, manusia tidak memerlukan lampu luar. Salah satu founding father kehidupan spiritual Bali (Dang Hyang Dwijendra) menulis Kakawin Dharma Sunya. Ia bertutur, jika batin yang tenang-seimbang adalah sumber keindahan. Bila sumber keindahan sudah di dalam, masihkah manusia memerlukan lampu penerang dari luar? Dalam bahasa provokatif seorang guru, "When you still have some one who can make you happy or sad, you are not a master, you are a slave!" (Jika sumber kebahagiaan/kesedihan masih dari luar, itu tandanya seseorang belum menjadi master, masih jadi budak).
Apresiasi akan sepi memang bukan monopoli Bali. Lama Surya Das (Awakening the Buddha Within) pernah menulis bahwa puncak perjalanan menemukan perkataan yang benar adalah hening. Eckhart Tolle (Stillness Speaks) juga serupa, "wisdom comes with the ability to be still. Just look and just listen... let stillness direct your words and actions" (Kearifan datang dari keheningan. Lihat dan dengar saja... biar keheningan yang menjadi pembimbing). Thomas Merton (Thoughts in Solitude) menambahkan, "My knowledge of myself in silence... opens out into the silence... of God" (Pengetahuan diri dalam keheningan membuka rangkaian keheningan yang berujung pada Tuhan).
J Krishnamurti (The Light in Oneself) menyarankan, meditation is absolute silence of the mind (meditasi adalah keadaan batin yang sepenuhnya hening). Dainin Katagiri (Returning to Silence) menulis, Shakyamuni is some one who practice tranquil silence (Siapa saja yang mempraktikkan kesempurnaan keheningan, ia menjadi Buddha). Murid-murid Zen yang perjalanannya suka menekuni latihan silent illumination. Penyair sufi Rumi bertumbuh jauh dalam sepi. Perhatikan salah satu syairnya (The Rumi Collections): when you know your own definition, flee from it, that you may attain to the 0ne who cannot be defined (Saat Anda dipagari kata-kata, cepat-cepatlah menjauh. Ia menghalangi mencapai yang Satu yang tidak terucapkan).
Dengan cerita ini, terlihat banyak manusia yang terterangi rapi oleh sepi sunyi. Ia melewati banyak sekat tradisi. Dari Sufi, Nasrani, Buddha, sampai Hindu. Jenis manusia-manusia ini memiliki pola pertumbuhan serupa. Logika dan kata-kata ibarat kulit dan batok kelapa. Di awal manusia membutuhkan. Namun, begitu dikupas dan dibuka, kelapa dimakan, airnya diminum, kulit dan batoknya dibuang.
Mikhail Naimy (The Book of Mirdad) lebih terang lagi. Kata, logika serupa tongkat, berguna bagi mereka yang kakinya bermasalah. Bagi jiwa yang kakinya sehat, tongkat hanya beban. Lebih-lebih jiwa yang bisa terbang, tongkat adalah beban berat.
Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Saka 1929.
Oleh: Gede Prama
Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata –dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, hingga tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung- tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah?
Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua, ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.
Di Timur telah lama terdengar pendapat, jika Tuhan penari, maka alam adalah tarian-Nya. Jika demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?
Wajah Tuhan
Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastor tentang seorang ibu yang permennya dicuri putranya, Rio. Melihat putranya mencuri, ibu ini bertanya, "Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen Mama?" Dengan polos Rio menjawab, "Lihat Ma!"
Mendengar jawaban ini, ibunya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi, "Tuhan bilang apa sama kamu Rio?" Dasar anak polos, Rio menjawab jujur, "Boleh ambil dua!"
Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti Mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.
Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan bahwa manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Di mana pun tingkatannya, semua punya tugas yang sama, bertumbuh!
Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU, misalnya, kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan kepada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang kini SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya..
Empat pertumbuhan
Dengan spirit seperti ini, izinkan tulisan ini membagi pertumbuhan dalam empat pertumbuhan jiwa.
Pertama, mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai, maka Tuhan berwajah baik. Kalau tidak dipenuhi, apalagi dihadang bencana, Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanya Tuhan yang murka kepada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.
Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan, dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak ke mana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya, Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Karena itu, bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnya jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun, karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas, dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Dengan demikian, dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apa pun yang terjadi diberi judul sama, sempurna! 0rang Buddha menyebut ini nirwana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha-samadhi. Dalam bahasa Konfusius, "Bila bertemu orang baik, teladanilah. Jika bertemu orang jahat, periksalah pikiran Anda sendiri".
Pertumbuhan jiwa
Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.
Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar?
Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik?
Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olahraga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.
Gede Prama
Penulis 22 Buku; Bekerja di Jakarta; Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
Penulis: GedePrama
Salah satu profesi yang sering mengganggu kebersihan lingkungan, namun tidak tega untuk saya tolak kehadirannya karena alasan kemanusiaan, adalah profesi pemulung (pengumpul barang bekas). Setelah sampah dikumpulkan, dibungkus plastik secara rapi agar pengangkut sampah bisa bekerja lebih efisien, eh tiba-tiba ada orang datang yang membongkar bungkusan plastik, mencari barang bekas, dan membuat semuanya berantakan kembali. Tanggung jawab memang acap kali diabaikan oleh profesi terakhir. Bayangkan, setelah diberikan kesempatan mencari barang bekas, setelah selesai bukannya dikembalikan ke posisi semula, malah dibiarkan berantakan.
Tidak terhitung jumlah manusia pencinta kebersihan dan lingkungan yang sangat menyesali perbuatan sejumlah oknum tukang pemulung.
Dalam setting yang kurang lebih sama, tanpa banyak disadari orang, tidak sedikit pemimpin yang perilakunya sama dengan pemulung. Sama-sama mengumpulkan barang bekas. Sama-sama memiliki tangan kotor. Dan sama-sama lupa tanggungjawab.
Mari kita mulai dengan ciri pertama : pengumpul barang bekas. Bila pemulung hanya mengumpulkan barang bekas, banyak pemimpin yang perilaku belajar dan pengambilan keputusannya yang mengumpulkan pengetahuan dan informasi bekas. Coba cermati apa yang dimaksud banyak pemimpin dengan kata "mengetahui" yang sering digunakan sebagai basis keputusan. Bukankah ia berarti proses pengumpulan pengetahuan dan informasi sudah dianggap cukup ? Atau, lihat kembali apa yang mereka sebut informasi. Tidakkah ia merupakan kumpulan kejadian yang terjadi kemaren dan hari sebelumnya ? Bila demikian, adakah perbedaan kreativitas secara fundamental antara pemimpin dengan pemulung yang sama-sama hanya menjadi kolektor, tanpa penambahan creative value ?
Sebagai konsekwensinya - kita sedang memasuki ciri kedua - bila pemulung tangannya teramat kotor, maka pemimpin dengan perilaku keputusan di atas sulit bisa diharapkan untuk memiliki kejernihan dan kebersihan berfikir. Dari mana datangnya kejernihan berfikir, bila setiap hari terbelenggu oleh proses pengumpulan yang tidak pernah berakhir ? Lebih dari itu, pengetahuan dan informasi yang dikumpulkan dari manapun, tidak bisa dihindari bisa menghalangi proses observasi yang segar. Bahkan bisa menimbulkan ketumpulan-ketumpulan berfikir.
Coba bayangkan sekumpulan ikan yang telah lama hidup di aquarium. Demikian lamanya mereka hidup di sana, sampai-sampai ada yang bertanya "apa itu air ?". Lain halnya dengan ikan yang baru saja dimasukkan ke situ, dengan sangat jernih ia bisa berargumen, bahwa tempat mereka hidup itulah air. Penyakit yang sama juga menghinggapi banyak pemimpin kini. Demikian terbelenggunya mereka dengan keyakinan lama, sampai -sampai salah seorang pemimpin Golkar (sebuah organisasi yang nyata-nyata membuat negeri ini bangkrut) bertanya kalau-kalau mereka punya salah.
Tanggungjawab, sebagai ciri terakhir yang membuat pemimpin dan pemulung itu sama, tentu saja susah diharapkan dari sini. Bila pengetahuan bekas yang mereka peroleh berasal dari senior yang nyata-nyata tidak pernah bertanggung jawab, lebih-lebih sang yunior tidak pernah jernih untuk menyeleksi mana yang benar, maka terjadilah proses bola salju yang membuat tanggungjawab semakin memalukan dan memalukan.
Terlepas dari tiga faktor yang membuat kedua profesi ini mirip, sebenarnya "dosa" pemulung itu lebih kecil dibandingkan dengan pemimpin. Pemulung, sebagaimana kita tahu, hanya menyakiti hati pencinta kebersihan. Pemimpin, di lain sisi, disamping menyakiti hati masyarakat lebih luas lewat tanggungjawabnya yang memalukan, juga sedang melakukan bunuh diri tanpa disadari.
Persoalannya, dengan menjadi pengumpul pengetahuan dan informasi bekas, dan pada saat yang sama tidak memiliki kejernihan berfikir, maka praktis mereka hanyalah sekumpulan "mayat", yang karena rasa malu yang sudah habis, kemudian menyebut diri menjadi pemimpin.
Bercermin dari ini semua, belajar - bagi saya - adalah sebuah kegiatan yang bersifat non akumulatif. Sebab, sumber daya kreatif kita sebagai manusia berpotensi jauh lebih dahsyat dari sekadar mengumpulkan dan mengingat. Jauh lebih dalam dari ingatan yang usang, tersembunyi kejernihan, kesegaran, kreativitas yang selama ini dibuat minggir oleh kebiasaan belajar dan kebiasaan keputusan ala pemulung.
Coba perhatikan inovator-inovator besar seperti Einstein, James Watt, Thomas A. Eddison, Bill Gates dan manusia sejenis. Kebesaran mereka tentu tidak terletak pada belenggu yang dihadirkan oleh kegiatan mengumpulkan pengetahuan bekas ala pemulung. Namun, melompat ke depan melampaui apa-apa yang sudah lewat dan menjadi barang bekas.
Amati kembali lompatan-lompatan peradaban yang pernah dialami manusia. Dari pesawat terbang, manusia sampai di bulan sampai dengan jaringan manusia yang mendunia melalui internet. Bukankah semua ini bisa terjadi karena ada segelintir manusia yang berani keluar dari kebiasaan berfikir dan bekerja ala pemulung ?
Jadi, kalau tidak mau menjadi pemulung informasi dan pengetahuan, anggap saja Anda baru selesai membaca artikel yang ditulis oleh manusia terbohong di dunia.
Pemimpin Seperti Burung Elang
Penulis: GedePrama
Dulu, ketika ada orang yang bercerita bahwa hampir semua pemimpin duduk kesepian di puncak piramida, saya agak kurang percaya. Pasalnya, secara kasat mata kelihatan, setiap pemimpin dikelilingi oleh banyak sekali pengikut. Di mana-mana muncul diikuti oleh banyak orang.
Sekian tahun setelah menjadi konsultan banyak pemimpin perusahaan, dan juga merasakan sendiri bagaimana kesepiannya saya di puncak piramida sebuah perusahaan swasta, terasa sekali kebenaran pernyataan di atas.
Ada banyak sekali hal yang hilang begitu duduk di atas. Tawa ria yang bebas, hubungan tanpa jarak, manusia-manusia tulus yang datang tanpa kepentingan, kebebasan dari politik perkantoran yang busuk, hidup dengan stress ringan, hanyalah sebagian kecil saja dari kemewahan hidup yang hilang.
Ketika hanya menjadi penasehat sejumlah pemimpin, ringan, enteng, dan jernih saja saya bisa menasehati mereka. Banyak klien yang bahkan mendekatkan anaknya ke saya, guna diberikan pencerahan berpikir ketika kesepian di atas. Namun, begitu duduk dan merasakan sendiri rasanya kesepian, baru terasa amat dalam substansi dari ide pemimpin yang kesepian di atas.
Ada kerinduan akan tawa yang bebas, tetapi saya tidak bisa melakukannya terlalu sering, sebab menyangkut the power of execution. Ada niat untuk lari dari politik perkantoran, tetapi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena setiap pemimpin harus melakukan power games. Maunya memiliki stres yang ringan-ringan saja, namun di atas, hampir semua informasi hadir seperti teka-teki yang tidak saja mengasikkan, tetapi juga membawa tekanan.
Ketika dunia pemimpin belum saya tahu langsung wajah aslinya, mimpi untuk sampai di sana sering hadir. Sekarang, ketika semua itu sudah menjadi keseharian, kadang saya rindu akan dunia orang biasa yang sederhana dan bersahaja.. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bercengkerama dengan tukang taman yang mengurus taman rumah, dengan satpam yang menjadi penjaga rumah, atau dengan pedagang skoteng yang kerap lewat di malam hari. Namun, bukankah daya radiasi hidup dan kehidupan pemimpin jauh lebih luas dari sekadar manusia biasa yang sederhana dan bersahaja?
Pertanyaan terakhir inilah yang memompa semangat saya, untuk tegar kesepian di atas.
Lebih dari sekadar takut kesepian, pemimpin seyogyanya terbang seperti burung elang. Tinggi, sendirian, kesepian, namun memiliki helicopter"s view yang amat mengagumkan. Atau ibarat orang yang bangun di pagi hari sendirian, kemudian siap disebut aneh oleh semua orang ketika bertutur tentang apa yang terjadi di pagi hari.
Sebagaimana burung elang yang sebenarnya, ia memang tidak pernah terbang bersama-sama, dan juga penuh kebebasan. Ia senantiasa sendirian.
Setiap kali saya mengambil keputusan penting, selalu saya usahakan untuk membayangkan diri terbang tinggi, dan bebas dari segala ketakutan termasuk dipecat besok pagi. Untuk kemudian, berusaha sekuat tenaga mengangkat dan menarik bawahan ke atas. Persis seperti magnet, untuk menarik logam yang berat, diperlukan tenaga yang amat kuat.
Stres, marah, tegang, kehilangan kawan, bahkan kadang frustrasi adalah bagian dari tanda-tanda mulai terkuras habisnya tenaga untuk menarik orang-orang bawah. Apapun harganya, ia mesti dibayar oleh setiap orang
yang berani memutuskan diri hidup menjadi pemimpin.
Hanya dengan cara terakhir, daya radiasi pemimpin menjadi luas, dalam dan panjang. Magnetnya akan menarik ke atas banyak orang. Standar kualitasnya diikuti.
Meminjam contoh cantik John Maxwell, pemimpin orkestra ketika bekerja harus membalik punggung di hadapan pengunjung. Ia membuat keputusan seorang diri - sekali lagi seorang diri. Ia tidak bisa hanyut dengan pengunjung, dan memperhatikan respons pengunjung terhadap cara dia memimpin. Bakti hidup dan perhatiannya tidak ditujukan untuk pengunjung, tetapi untuk bawahan-bawahan yang ia pimpin. Tepuk tangan penonton itu penting, tetapi bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya, memimpin pemain orkestra secara amat cemerlang.
Untuk mencapai tujuan tadi, pemimpin memerlukan lem yang bisa mengikat tanpa paksaan. Logika adalah salah satu perlengkapan dari lem tadi. Namun, sehebat-hebatnya logika, dia tidak bisa mengalahkan hubungan dari hati ke hati.
Hubungan terakhir, mirip sekali dengan semen. Sekali merekat, susah sekali merobohkannya. Bedanya dengan logika yang boros sekali dengan kata-kata, hubungan dari hati ke hati tidak memerlukan terlalu banyak kata-kata. Setiap tambahan kata-kata, hanya akan memperenggang hubungan. Namun ia merindukan banyak tindakan. Lebih-lebih yang dibangun di atas ketulusan dan kemurnian.
Setiap tambahan tindakan tadi, di satu sisi memperkuat kekuatan daya tarik magnet pimpinan, dan pada saat yang sama memperingan gerakan orang bawah untuk ditarik ke atas.
Ada saatnya, "burung elang" pemimpin akan terbang ringan, bebas dan sedikit hambatan. Dan ini sangat ditentukan pada daya rekat lem di atas.
Saya memang masih terbang berat dan memiliki cukup banyak hambatan. Namun, ada saatnya, ketika tabungan hubungan dari hati ke hati sudah memadai, "burung elang" saya akan terbang bebas dan ringan.
Sama dengan burung elang yang sebenarnya, di titik ini, setiap hambatan tidak membuat daya jangkau terbangnya menyempit. Justru hambatan tadi - seperti angin - akan membuat burung elang terbang semakin jauh dan semakin jauh.
Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult People. Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.
Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang enemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit.
Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka; seperti keras kepala, menang sendiri, dll dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya tersenyum kecut.
Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain. Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan kotor. Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit. Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.
Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit. Terutama karena beberapa alasan.
Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka.
Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.
Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar.
Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini) menjadi lebih longgar (sabar). Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal. Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya, pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.
Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan.
Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.
Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa.
Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain..
Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat.
Di masa kecil, saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya menghina kita.
Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga.
Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi ?
Seorang anggota keluarga dekat sempat bertanya keheranan, kenapa orang yang setegar saya bisa menangis ketika ayah meninggal. Yang membuatnya tambah heran, karena saya adalah satu-satunya orang yang menangis menjelang penguburan. Dan Andapun boleh heran dengan saya.
Ini memang bukan cerita sinetron yang mau mengundang rasa kasihan Anda. Melainkan, pengungkapan perasaan duka kehilangan seseorang yang lama menjadi sumber cinta saya. Berbeda dengan saya yang mengenyam pendidikan relatif tinggi, ayah hanya tamatan kelas tiga SD zaman Belanda. Untuk itu, bisa dimaklumi kalau ia tidak menggunakan bahasa verbal sebagai sarana pengungkapan cinta.
Saya hampir setiap hari bernyanyi lagu every day I love you bersama anak-anak. Sedangkan ayah, ia tidak pernah mengucapkan satupun kata cinta. Tidak juga pernah bernyanyi cinta khusus buat saya. Bahasa verbalnya lebih banyak diam.
Apa lagi sekarang, ia diam selamanya!
Yang membuat saya menangis bukan bahasa verbalnya, melainkan bahasa hidupnya. Sebelum meninggal, ia mengumpulkan uang untuk seluruh biaya upacaranya. Seolah-olah tidak mengizinkan celah sedikitpun pada anaknya untuk "membayar" hutang-hutang kami. Atau seperti menghayati betul apa yang pernah ditulis Emma Goldman yang menulis : "Bila cinta mengharapkan bayaran, itu bukan cinta, melainkan sebuah transaksi".
Ketika saya masih teramat kecil, di halaman rumah ia sering mengajak berjalan-jalan sambil menambahkan gelar "sarjana hukum" di belakang nama saya. Sepertinya sedang mencita-citakan anaknya untuk sekolah setinggi-tingginya. Dan menunjukkan pemahaman yang dalam, hanya dengan pendidikan kehidupan bisa ditransformasikan. Digabung menjadi satu, he has been the best father to me. Lebih dari semua ini, cinta ayah juga sering menghadirkan keajaiban-keajaiban. Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan, dari zaman teramat miskin dulu sampai dengan sekarang, kami sekeluarga tidak pernah kelaparan, atau kekurangan uang yang membuat kami dililit hutang.
Ketika merantau di Inggris dulu, dengan bea siswa untuk seorang, dan dimakan untuk empat orang. Ada saja keajaiban yang membuat hidup jadi panjang. Demikian juga ketika "nekat" jadi pimpinan puncak perusahaan tanpa pengalaman memimpin yang memadai. Sudah lama banyak anak buah meramalkan, kalau di RUPS nasib saya akan tamat. Akan tetapi, dengan
alasan-alasan yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti, sampai sekarangpun saya masih duduk di kursi karir yang cukup tinggi. Demikian juga dengan pekerjaan sebagai pembicara publik. Hinaan, cercaan, ejekan memang pernah datang. Tetapi, entah dari mana datangnya keajaiban, semua itu tidak pernah bisa mengerem kecepatan karir saya sebagai pembicara publik.
Dengan seluruh cerita ini, percaya ataupun tidak, saya meyakini sekali kalau cinta bisa menghadirkan keajaiban-keajaiban. Berikut adalah sebagian kecil contoh keajaiban-keajaiban yang bisa dihadirkan cinta.
Kejaiban pertama, cinta membuat orang jadi awet muda dan berumur panjang. Sebagaimana pernah dikutip majalah Reader Digest, salah satu ciri orang yang awet muda dan berumur panjang adalah memiliki setidak-tidaknya seseorang untuk dicintai.
Sebenarnya penemuan ini amat logis. Sebab, dengan memiliki orang yang kita cintai, meniti karir dan nafas kehidupan lainnya bisa dilakukan tanpa rasa capek yang mengganggu. Capek saya sering kali hilang, kalau membayangkan anak-anak lulus dari sekolah ternama di luar negeri. Atau membayangkan isteri menikmati sekali hidup bersama saya. Atau mengetahui bahwa Ibu mensyukuri sekali pernah melahirkan anak seperti saya.
Keajaiban cinta yang kedua, bila Anda selalu mencari sesuatu yang baik dalam diri orang lain, Anda akan menemukan sisi terbaik dari diri Anda sendiri. Ini saya alami sendiri. Sebagai manusia biasa, saya juga pernah memenuhi hidup dengan pandangan-pendangan negatif tentang orang lain.
Atau sedikit-sedikit menghakimi orang lain. Energi negatif tadi,mungkin tidak memakan orang yang saya benci. Tetapi saya rasakan sendiri, ia memakan badan saya sendiri. Namun, semua ini berubah secara radikal, sejalan dengan kemajuan untuk belajar melihat sisi positif orang lain. Entah dari mana datangnya keajaiban, kekaguman orang lain, rasa hormat orang lain, rasa percaya orang akan apa yang saya tulis dan bicarakan di depan umum, datang mengalir secara amat mudah.
Keajaiban yang ketiga, cinta sering membuat yang tidak mungkin jadi mungkin. Sebagaimana pernah dituturkan seorang Ibu dalam buku Chicken Soup for the Couple Soul, tubuh Ibu yang lemah tadi bisa menyelamatkan suaminya dari serangan beruang besar dan ganas. Tadinya ia takut melawan beruang tadi. Akan tetapi, karena suaminya adalah satu-satunya kekayaan
yang paling berguna, maka dia lawan dengan penuh kemampuan. Entah dari mana datangnya keajaiban, beruang besar tadi lari ketakutan melihat perlawanan wanita lemah tadi.
Anda bebas memilih, antara percaya atau tidak percaya. Yang jelas, pengalaman saya bersama Ayah tercinta menunjukkan, cinta menaburkan keajaiban di mana-mana. Teriring cinta buat Ayah tercinta, Kahlil Gibran pernah menulis: "Kenangan adalah anugerah Tuhan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut."
Penulis: Gede Prama
Pada setiap perjalanan, ada saja cara-cara sang hidup untuk bertutur. Dalam sebuah penerbangan dari Sydney ke Denpasar, entah apa yang terjadi tiba-tiba badan ini tidak mau membaca dan tidak mau tidur. Sehingga menerawanglah mata dari atas pesawat ke bawah sana. Ternyata, selama kurang lebih tiga setengah jam penerbangan tanah-tanah Australia lebih dari sembilan puluh persen berisi tanah kering yang tandus. Bandingkan misalnya dengan penerbangan dari Jakarta ke Medan. Selama hampir dua jam, di bawah sana terbentang warna hijau bukit barisan yang indah dan subur.
Di jalan-jalan darat, mata ini juga disuguhi bahan-bahan cerita yang berlimpah. Dalam sebuah perjalanan dari Medan ke Berastagi, mobil yang saya tumpangi mengikuti sebuah bus antarkota. Yang menarik, di atas bus tadi ada sekelompok orang yang duduk-duduk tenang dengan wajah gembira. Di sebuah pasar yang membuat jalan jadi macet, orang-orang yang tidak mengenal dinginnya udara di atas bus yang berjalan ini, tiba-tiba memesan durian dari atas sana, dan melahapnya dengan penuh gembira. Dari kaca mobil yang diteduhi AC diri ini bergumam kecil : mereka bisa hidup bahagia seadanya. Dan tiba-tiba teringat sebuah pengalaman ketika menginap di sebuah hotel berbintang di Bali sana. Dari mobil mewah yang mengkilap, keluar serombongan keluarga yang bermuka merah saling marah-marah. Sebelum mereka check in, mereka cekcok dan akhirnya kembali dari Bali tanpa bisa berlibur.
Melalui ilustrasi ini, sang hidup seperti sedang bertutur : we can be prosper at any level of income. Kita bisa sejahtera di setiap tingkatan pendapatan berapapun. Kesejahteraan, memang berkaitan dengan uang. Akan tetapi, yang paling utama tidak disebabkan oleh uang. Lantas, kalau tidak disebabkan oleh uang, disebabkan oleh apa ?
Sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, kesejahteraan memang berwajah ganda : material dan transendental. Keduanya memang saling memerlukan dan saling mengisi. Kesejahteraan material tanpa kesejahteraan transendental sering membuat orang jadi kaya tapi tidak bahagia. Kesejahteraan transendental tanpa kesejahteraan material menarik manusia ke dalam rangkaian hidup yang tidak seimbang : menoleh ke atas, lupa tugas-tugas di bawah dan disamping.
Kegagalan banyak manusia untuk merangkum kedua jenis kesejahteraan ini ternyata direspon tidak terlalu antusias oleh ilmu-ilmu manusia. Nyatanya wilayah-wilayah hubungan antara uang dan kesadaran manusia termasuk wilayah pengetahuan yang tidak banyak dieksplorasi. Kebingungan dan keterasingan di tengah limpahan uang, sang hidup yang diperkuda uang, hanyalah sedikit contoh dalam hal ini. Ada sahabat jernih yang pernah berbisik : many people have career, but they don't have life. Banyak manusia yang memiliki karir cemerlang, tetapi tidak memiliki hidup.
Berangkat pagi, putera-puteri masih tidur. Setelah pulang, mereka sudah tidur. Tatkala miskin tidak bisa makan enak karena tidak punya uang. Setelah kaya tidak boleh makan enak karena dilarang dokter. Di awal kehidupan semua tenaga fisik dikerahkan untuk kehidupan terang kemudian. Setelah materi terang benderang hanya habis untuk membayar ongkos rumah sakit.
Mungkin betul cerita orang bijak, kalau kehidupan adalah guru yang sempurna. Tubuh ini misalnya, ia sering kali mengingatkan kita akan perilaku-perilaku menyimpang. Pengalaman-pengalaman yang terbentang luas, juga bertutur cerewet tentang pedoman-pedoman menemukan kesejahteraan. Sayangnya, tidak sedikit diantara kita yang tuli akan pesan-pesan sang guru kehidupan. Untuk kemudian, mengulang-ulang lagi keterperosokan-keterperosokan terdahulu.
Dalam lapisan-lapisan renungan seperti ini, mungkin ada gunanya untuk melihat hakekat uang. Uang, harus diakui, memang sejenis energi kehidupan. Namun, tanpa kemampuan mengelola yang memadai, ia menjadi kuda yang minta digendong. Disamping berat, juga membuat sang hidup meneteskan air mata di sepanjang jalan.
Sebuah lagu tua pernah bertutur jernih, hidup ini memang serupa dengan menyapu lantai. Setiap hari kita menyapu lantai. Hilang debu, datang daun kering dan seterusnya tanpa pernah habis-habis. Demikian juga dengan lantai-lantai kehidupan. Kita perlu menyapunya setiap hari. Dan sapu kesejahteraan yang paling mengagumkan bernama sapu cukup. Sekali lagi, cukup adalah sapu pembersih kehidupan yang paling bisa membuat lantai-lantai kehidupan tampak bersih.
Dan sebagaimana diakui banyak sahabat, justru menemukan sapu cukup inilah bagian terberat dari perjalanan menemukan kesejahteraan. Terutama karena sang uang melalui tamu kehidupan yang bernama nafsu - memaksa untuk digendong. Serupa dengan mulut yang meminta makan ditambah terus ketika enak, dan bisa dihentikan dengan air putih, kita juga memerlukan air putih kesadaran. Yang bisa membuat kuda uang turun dari gendongan, dan kemudian kitalah yang naik di atas.
Tidak mudah tentunya. Ia memerlukan serangkaian latihan kehidupan yang panjang. Dan juga menuntut manusia menjadi supir dari kendaraan kehidupan yang bernama tubuh. Ketika manusia sudah menjadi supir dari tubuhnya, terbukalah tanda-tanda bisa menjadi kaya raya selamanya. Ketika punya uang, supir mengaturnya dengan rangkaian manajemen keuangan yang terpadu. Ketika tidak punya uang, supir mengatakan begini : time for break !. Baik ketika ada maupun tidak ada uang, sang supir menyanyikan lagu syukur sepanjang jalan. Pernah kejernihan berbisik begini ke saya : ketika kita masih mencari, kita memerlukan tujuan dan masa depan. Tatkala manusia tidak lagi mencari, ia memiliki semuanya di sini di hari ini.
Penulis: Gede Prama
Karena mendidik diri peka dengan suara-suara kehidupan, setiap kali mengalami kejadian, atau bertemu orang penting, kerap ada yang bertanya dari dalam diri ini : apa makna dari kejadian ini? Pertanyaan ini juga yang muncul ketika sang "kebetulan" membuat saya duduk bersebelahan dengan Bapak Marie Muhammad "mantan menteri keuangan zaman orde baru" dalam penerbangan dari Medan ke Jakarta empat Agustus 2002 lalu. Beruntung bisa duduk dekat dengan salah satu tauladan Indonesia dalam hal kebersihan hidup, maka beberapa pertanyaanpun dilemparkan oleh mulut ini.
Ketika pertanyaan bagaimana Pak Marie bisa bertahan lama dalam lingkungan orba dilontarkan, tokoh yang senantiasa bersemangat inipun menjawab sederhana : lingkungan memang menentukan, tetapi kitalah yang paling menentukan dalam hidup kita sendiri !. Ada angin kekaguman yang berdesir di dalam sini ketika mendengar jawaban seperti itu. Lebih-lebih ketika berjalan meninggalkan pesawat, Pak Marie menentengkan tas seorang Ibu yang menggendong dua tas dan membawa seorang anak. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba melalui suara yang tidak bersuara ada yang membisikkan kalimat indah Kahlil Gibran dari dalam sini : our daily life is our true temple. Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.
Setelah mendengar bisikan kalimat Gibran ini, tiba-tiba Indonesia yang telah lama gelap ini seperti muncul cahaya. Ya cahaya keteladanan. Sebab, tanpa keteladanan bangsa manapun berjalan dalam kegelapan. Demikian juga dengan kehidupan perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang berjalan dalam kegelapan. Enron, World Com dan sejumlah perusahaan yang memecahkan rekor skandal korporasi dunia, hanyalah sebagian contoh korporasi yang tersandung dalam kegelapan.
Angka-angka neraca, rugi laba, arus kas memang sebentuk peta yang berguna. Tanpa cahaya keteladanan yang memadai, angka-angka tadi berubah menjadi deretan kebohongan yang menakutkan. Betul kata Richard Morris dalam The Big Questions, ilmu pengetahuan hasil produksi pikiran manusia memang tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Lebih dari tidak bisa menjawab semua pertanyaan, mind - dari mana konstruksi logika itu dibangun- memang bisa jadi sahabat bisa juga jadi musuh.
Meminjam argumen seorang guru, sebagai pembantu mind adalah sahabat yang baik. Karena ia juga yang membantu manusia berkomunikasi, merangkai analisa dan masih banyak lagi yang lain. Akan tetapi, sebagai penguasa mind sungguh sebuah penguasa yang buruk. Keserakahan, ketakutan, kebencian, pengkotakan adalah rangkaian hasil kerja mind. Amerika sebagai contoh, adalah sebuah bangsa yang memiliki banyak sekali hal. Termasuk memiliki pemenang hadiah nobel paling banyak. Namun dalam perjalanan peradaban yang dikuasai mind, Amerika harus menuai malu melalui serangkaian skandal korporasi, kekeliruan serangan di Afghanistan dan Irak, sampai ketakutan akan teroris.
Sejarah seperti ini seperti sedang bertutur ke kita manusia, tempat mind memang hanya duduk di bawah sebagai pembantu. Tidak berdiri pongah di atas kepala sebagai penguasa. Sayangnya, melalui rangkaian pengetahuan dan pengalaman, banyak sekali manusia yang tidak bisa keluar dari jeratan tali-tali mind. Dan lebih dari sekadar terjerat, ada yang mengidetikkan dirinya dengan mind bahkan ada yang rela mati demi serangkaian hal yang keluar dari mind.
Di tengah-tengah kegagalan ilmu pengetahuan membawa manusia ke wilayah-wilayah kejernihan, ada segelintir orang yang mulai melemparkan isu going beyond the mind. Kendaraannya memang bukan pengetahuan, bukan pengalaman melainkan meditasi. Kendaraan terakhir memang tidak sepongah pengetahuan seperti ketika pertama kali ditemukan. Meditasi bukan substitusi pengetahuan. Bukan juga lawannya pengalaman. Dan ia bukanlah sesuatu yang bisa ditambahkan di kepala ini. Ia lebih menyeru |
|