Catila's posts with tag: inspiring thought
Posted by: Siddharta You've heard the question asked, "If your home were on fire, what you try to save?" Most people answer that they would rescue people and pets and as many photographs and memories as possible. The question we faced was similar. We were forced to consider, "If we have to evacuate our home, what should we take with us?" Or, put another way, which of our possessions could we live without? Our area was just a few miles from largest wildfire in Colorado's history. We were on "evacuation alert." If we got the call to evacuate, we would have to grab whatever we could save and leave immediately. We packed suitcases with a few clothes and toiletries and set them by the door. Though these things were not valuable, time was. We moved the computers ... I made a living with my computer. We cleared out books we sold from our home office. Those books represented our livelihood. We packed financial records - who wants to hassle with the government for years over missing documents? Now, what else? We snatched family pictures from the walls and packed scrapbooks in boxes - all sentimental objects that could not be replaced. Then we took a hard look at all that remained. There was a lamp that belonged to my great grandmother. It was a connection to my family. And there was the piano my wife Bev learned to play when she was a little girl. Not of great value in itself, but another family connection. We would be leaving a hutch that belonged to her grandmother and handmade quilts and gifts from dear friends and family. All represented connections to people and memories we value, but if we were to be evacuated immediately, we would have no way to move these items. I've never been much attached to things, but the thought of leaving behind something passed down through our families or handmade for us by dear friends saddened me deeply. It's about what they represented -- family and love. Each had a story to tell, and some of them spoke in the voices of our parents and grandparents and a few friends as close to us as family. The fire never reached our home. We were lucky. And though I felt grateful that all was spared, I realized also just how fortunate I had been in another way. I saw just how rich my life had been. Not in things I owned, but in love I've known. Someone wisely said, "There are people so poor that the only thing they have is money." And now I knew. I was indeed rich. I was rich in friends and family. Rich in memories. Rich in everything that really matters. I wonder if there is any other kind of wealth worth seeking. -- Steve Goodier
Kiriman: John & Mely Sumber: unknown Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu. Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, iapun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik. Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya,"Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu." "Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek dikota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui." ???" Renungkan...! Semua orang akan melakukan apa pun bagi anda, bila anda memperlakukan mereka dengan penuh hormat, penting, dan berharga. Kritik seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi. Adakah kritik yang membangun? Yang pasti ada adalah penghargaan yang membangun. Renungan kali ini menggugah kita agar lebih pandai menyuarakan penghormatan, bukan hanya kritik belaka.
Kiriman: Ifan Di milis ini kerap kita jumpai posting berbau agama. Atau perdebatan yang menjurus pada perdebatan soal agama. Kadang perdebatannya begitu panas. Sindir-menyindir atau ejek mengejek. Buat saya itu menyedihkan. Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan. Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu. Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. "Apakah anda semua punya tetangga?" Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan saja menjawab : "Tentu saja punya". Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak tetangga Anda?" Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong". Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya. Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya ?" Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun. Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?" Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?" Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu. Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja". "Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran. "Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja". Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun. Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. " Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya. Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.Begitu. " Kami semua terus menyimak paparannya. "Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. " "Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah," ujarnya. Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan. Sangat menyedihkan.
oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta "Orang yang memiliki kebiasaan menulis memiliki kondisi mental lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukannya." -- James Pennebaker, Ph.D., dan Janet Seagal, Ph.D., University of Texas, Austin, dalam Journal of Clinical Psychology. "AYO BELAJAR!", begitulah perintah orang tua terhadap anaknya ketika sang anak ketahuan sedang asyik menonton televisi atau bermain game. Kalimat generik dari orang tua mana pun, bahkan hal serupa pernah kita alami ketika kita masih kanak-kanak. Namun, rasanya kita jarang mendengar atau bahkan tak pernah ada orang tua yang menyuruh anaknya untuk menulis? "Ayo menulis!", pernahkah Anda mendengarnya? Betul, menulis. Tak lazim memang perintah itu. Bagi anak-anak yang masih terbatas kemampuan menulisnya pasti akan mendelik. "BT ah" mungkin kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya. Lagi pula, jangankan anak-anak, orang dewasa pun pasti akan kesulitan untuk diberi perintah seperti itu. Menulis? Betul, menulis. Sederet kalimat akan meluncur. Bila semua orang bisa menulis, tentu negeri ini akan penuh dengan karya sastra. Mungkin juga sastra tidak akan ada lagi, kalau semua orang bisa menulis, apalagi dengan kalimat yang indah dan berirama layaknya pujangga. Menulis memerlukan keterampilan tersendiri. Benarkah demikian? Tidak juga sebenarnya. Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan kegiatan tulis-menulis, bahkan secara menyenangkan. Tak ada keterampilan atau keahlian khusus dalam menulis. Anda mungkin mengenal nama Rachmania Arunita. Dia adalah perempuan muda pengarang novel remaja best seller, `Eiffel, I'm in Love'. Rachma mengaku pada awalnya tidak suka menulis. Tapi ketika guru bahasa Prancis mewajibkan murid-muridnya untuk membuat sebuah karangan, dia mulai ketagihan menulis. Rachma berkisah, awalnya ia sering melakukan plagiat alias menjiplak tapi ketahuan. Rachma pun kena omel dan dihukum untuk membuat PR mengarang. Tak diduga, hasil karangannya mendapat acungan jempol gurunya bahkan dipuji di depan kelas. Mulai dari situ Rachma pun ketagihan menulis hingga akhirnya ia menelurkan novelnya yang ternyata meledak di pasaran. Bahkan kemudian diangkat dalam film dengan judul yang sama, dan berhasil mengundang dua juta penonton. Kebanyakan dari mereka adalah kaum remaja. Persoalan lain yang kerap mengganggu proses menulis adalah soal mood. Lainnya? Fasilitasnya tidak tersedia dengan lengkap, seperti komputer, laptop atau lainnya. Ah, itu sih alasan klasik. Lihatlah Agatha Christie, pengarang novel misteri terkenal. Anda mungkin bisa membayangkan susahnya orang menulis saat itu, di zaman tahun 1920-1930an. Namun dengan segala keterbatasan peralatan, lahir novel-novel berkelas dunia dari Agatha Christie, Ngaio Marsh, Sir Arthur Conan Doyle dan seabreg pengarang top lainnya. Jadi sesungguhnya yang paling penting untuk menulis ialah niat dari awalnya. Kesungguhan tanpa dimulai dengan niat pada awalnya, tentu tak akan terlaksana dengan baik. Orang bijak bilang bahwa cara yang paling sederhana untuk menumpahkan isi hati dan pikiran adalah dengan menulis, karena bila tidak, ia seperti sebuah saluran, suatu saat tersumbat dan meledak. Seorang wanita bernama Dewi Hermayanti dalam suatu milis menceritakan unek-uneknya. Dewi mengatakan, "Kadang-kadang perlu rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati lewat tulisan. Apalagi rasanya sudah sesak di dada. Cuma apa yang harus ditulis, bingung tidak apa yang akan ditulis. Tapi dia menyadari, menulis adalah sangat penting. Aneh memang. Tapi begitulah, Andai saja otak kita punya tombol print mungkin gampang saja mengeluarkan isi otak kita. Tinggal pencet print terus select subject, langsung keluar deh apa yang mau kita ungkapkan dalam tulisan. Sayang, otak kita Cuma bisa memerintah si tangan untuk bergerak sesuai yang diperintahkan." Terkesan dengan unek-unek tersebut, Pak Hernowo dari Penerbit Mizan, menanggapi posting Ibu Dewi. Dia pernah melakukan studi kecil-kecilan tentang kegiatan menulis. Selama melakukan studi itu, nah ini yang penting, ia kemudian bertemu dengan Psikolog Pennebaker yang menganggap menulis dapat mengatasi depresi. Menulis itu dapat menyehatkan tubuh dan jiwa. Pennebaker meniru tradisi confession dalam agama Katolik dan menerapkannya pada pembuatan catatan harian. Bahkan seorang penulis kondang, Fatima Mernissi, juga bilang bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah. Hernowo pun bercerita bahwa ia bertemu dengan ahli linguistik bernama Dr. Stephen D. Krashen. Penelitiannya menunjukkan bahwa menulis dapat memecahkan problem-problem diri. Katanya, menulis itu menata pikiran. Jadi, kalau kita dapat menata problem kita, bisa jadi problem kita bisa hilang. Dan dia juga membuktikan bahwa menulis dan membaca itu tidak dapat dipisahkan. Membaca itu memasukkan, dan menulis itu mengeluarkan. Demikian Hernowo menjelaskan dalam postingnya. Keampuhan menulis tidak saja dialami Hernowo dalam penelitian kecil-kecilannya itu. Dari seberang sana, tepatnya di Amerika Serikat, Joshua M. Smyth, psikolog dari Syracuse University lebih jauh lagi menyatakan menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas dan hormonal dalam merespons beban stres, dan meningkatkan hubungan dan kemampuan kita menghadapi stres. Contohnya, ada juga. Dia adalah Debra Van Wert, 44 tahun, dari Rochester, New York, setelah menderita Pre-Menstrual Syndrome (PMS) atau sindrom menjelang menstruasi selama lebih dari satu dekade, Debra mulai mencatat gejala-gejala yang dialami tubuhnya. Debra mengatakan, "Dengan membuat catatan, saya dapat mengantisipasi fase-fase hormonal dan mengidentifikasi minggu kapan saya berada pada kondisi paling fit dan paling buruk." Kegiatan menulis tidaklah dimaksudkan untuk menjadi sastrawan besar, tapi paling tidak punya manfaat bagi kesehatan. Sebagaimana dikutip dari Majalah Reader Digest Indonesia, April 2005, berikut adalah sejumlah keuntungan dari menulis: MENGURANGI BERAT BADAN. Para peneliti dari Women's Health Initiative menarik kesimpulan bahwa catatan harian tentang makanan yang dikonsumsi membantu menimbulkan kesadaran tentang konsumsi kalori dan asupan lemak. Dan jika Anda mengetahui seberapa banyak yang telah dilahap, akan lebih mudah menguranginya. MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR. Ilmuwan di Temple University menemukan bahwa wanita yang menuliskan pengalaman traumatisnya – seperti pemerkosaan atau kecelakaan lalu lintas yang parah - ternyata jarang mengalami sakit kepala, susah tidur, dan gejala depresi dibandingkan mereka yang tidak mau menuliskannya. MELAWAN PENYAKIT. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2002 di Ben-Gurion University, Israel, disimpulkan bahwa mereka yang menuliskan sebuah kejadian yang menjadi beban pikiran, akan mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke klinik pengobatan selama l5 bulan ke depan. MENGURANGI STRES. Sebuah studi di Chicago Medical School menemukan bahwa ketika penderita kanker yang kurang diperhatikan keluarganya menuliskan tentang penyakit yang diderita selama 20 menit setiap hari, mereka jadi jarang mengalami stres selama enam bulan berikutnya. Nah, mengapa Anda tidak menyiapkan pulpen dan kertas untuk mulai menulis sejak sekarang. Karena ternyata menulis bukan hanya menyenangkan, tapi juga menyehatkan lahir dan batin. Bahkan bisa jadi Anda dapat menangguk untung karenanya. Dan, jangan lupa, bila suatu saat Anda sakit, setidaknya satu resep sudah di tangan: "menulis". Ini bukan sekedar lelucon. Penelitian telah membuktikannya. So, tunggu apa lagi? Ayo Menulis!
From: Lakshmi Venkateswaran If you're mad with someone and nobody's there to fix the situation... You fix it. Maybe today, that person still wants to be your friend. And if u doesn't, tomorrow can be too late. If you're in love with somebody, but that person doesn't know...tell her/him. Maybe today, that person is also in love with you. And if you don't say it, tomorrow can be too late. If you still love a person that you think has forgotten you...tell her/him. Maybe that person has always loved you. And if you don't tell her/him today, tomorrow can be too late. If you need a hug of a friend... ask her/him for it..Maybe they need it more than you do. And if you don't ask for it today, tomorrow can be too late. If you really have friends who you appreciate... tell them. Maybe they appreciate you as well. That if you don't and they leave or go far away today, tomorrow can be too late. If you love your parents, and never had the chance to show them... do it. Maybe you have them there to show them how you feel. That if you don't and they leave today, and then tomorrow can be too late.
By Kent Blumberg What is your personal brand? Do not have one, you say? Wrong! We all have a personal brand - it just might not be what we want it to be. What is a personal brand? It is that word, or phrase, that comes to mind when people think of you. Perhaps your personal brand is "whiner." Perhaps, on the other hand, it is, "the gal who gets things done around here." Whatever your brand is today, you can make it what you want it to be. And you should. The days of the 40 year career at one company are long gone. As you navigate through the many organizations you will help during your career, a strong brand will help you make career decisions and it will help you attract the kind of organizations you want to help. Your brand is not what you say you are. You cannot become "the gal who gets things done around here" simply by saying so. It is your consistent behavior that builds your brand. You have to consistently "get things done around here" to earn that brand. Once you are consistently delivering on your brand promise, then you can say so. But delivery comes before boasting. And before you deliver on your brand promise, you need to figure out what your unique value is. You need to find your personal hedge-hog concept, as covered by Jim Collins in Good to Great. Collins found that great companies did one thing supremely well, what he called the hedge-hog concept (see the book for more detail). That one thing, for your personal brand, is at the intersection of three circles: * What you do better than others, * What you are passionate about, * What organizations will value. Your job is to discover that one thing, by thinking over your career to date, taking assessments if that sort of thing helps you, and asking folks who know you. Once you have discovered that one thing that makes you unique, then next step is to invest in your own professional growth in order to build your capability to deliver that one thing even better. Tiger Woods, for example, with a historically huge drive, spends countless hours trying to make his swing even better. Finally, as you truly do deliver the promised results, you can articulate what you do into a short concise statement. Warning: just be sure you can back up your brand statement with real accomplishments. My personal brand statement I have been playing with my personal brand statement for some time. It probably isn't the greatest yet, but I thought I would share it to give you a feel for what a personal brand statement might look like: I energize, focus and align manufacturing organizations, resulting in sustainable acceleration of processes, reduction in waste, and growth of profits.
| |