Catila's posts with tag: lingkungan hidup

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lingkungan hidup
Blog EntrySave Our Planet (75 cara menyelamatkan bumi)May 4, '08 5:06 AM
for everyone
Posted by: Ida Arimurti'

 

Mari Kita Selamatkan Bumi buat ANAK CUCU KITA kelak Mulailah dari diri kita sendiri dan lingkungan kita

 

Memang lidah tak bertulang, berbicara memang lebih mudah dibanding melakukannya.

 

Padahal tanpa banyak bicarapun sebenarnya kita semua bisa ikut mengambil bagian dalam upaya pelestarian

 

1.       Jangan menggunakan listrik untuk penerangan atau peralatan kecuali jika anda benar-benar sedang menggunakannya,

 

2.       jika tidak menggunakannya matikanlah !

 

3.       Menggunakan lampu luorescent (neon) yang hemat energi.

 

4.       Pergunakan penerangan, pembangkit listrik, unit-unit pemanas bertenaga surya.

 

5.       Manfaatkan lebih banyak penerangan cahaya alam.

 

6.       Pergunakan ventilasi yang struktural untuk penyejuk ruangan daripada menggunakan Air Condition (AC)

 

7.       Pergunakan air dingin, bukan air panas.

 

8.       Pastikan peralatan bertenaga listrik tetap efisien dan terawat dengan baik

 

9.       Pengendalian penerangan, alat pendingin udara secara otomatis, misal dengan alat sensor cahaya

 

10.   Pergunakan alat-alat pematul cahaya untuk menggantikan lampu penerangan.

 

11.   Pergunakan film pelapis kaca atau rayban untuk mengurangi panas matahari.

 

12.   Tanamlah tanaman sebanyak mungin di kebun anda untuk mengurangi karbondiosida.

 

13.   Jangan membakar apa saja, bahkan rokok.

 

14.   Lengkapi mobil atau motor anda dengan katalisator.

 

15.   Jika anda menghentikan kendaraan dalam waktu yang tidak lama, jangan matikan mesin kendaraan anda.

 

16.   Kurangi bawaan pada kendaraan anda untuk mengurangi beban, bahkan mengeluarkan sebatang pensil dari kendaraanpun akan membantu.

 

17.   Jangan membuang sesuatu yang dapat di daur ulang, seperti kaleng aluminium dan kertas. Simpan dan berikan pemulung untuk dijual kembali.

 

18.   Meminimalisir penggunaan styrofoam (gabus sintetik) untuk bungkus makanan.

 

19.   Lihat dan periksa kembali jika anda menggunakan aerosol, cat, AC, apakah mengandung khlorofluorokarbon (CFC).

 

20.   Jangan beli barang apapun yang langsung dibuang sesudah dipakai sekali, jika ada barang sejenis yang dapat dibeli sebagai investasi jangka panjang.

 

21.   Belilah produk yang anda sukai sehingga produk tersebut tidak perlu diganti sampai benar-benar rusak dan tidak dapat dipakai kembali.

 

22.   Cobalah untuk tidak memiliki barang yang hanya memiliki nilai estetika saja.

 

23.   Berhati-hati dengan barang plastik yang anda beli karena ada beberapa jenis plastik tidak dapat di daur ulang.

 

24.   Bawalah tas anda sendiri jika hendak berbelanja yang terbuat dari kain atau kanvas untuk mengurangi produk plastik.

 

25.   Katakan pada seseorang jika anda melihatnya membuang sampah secara sembarangan.

 

26.   Jangan sekali-sekali memotong tanaman atau menebang pohon karena tetumbuhan membantu menyelamatkan bumi.

 

27.   Sirami taman anda dengan air hujan, buat sistem tadah hujan. Pergunakan air sehemat mungkin untuk mencuci kendaraan dan menyiram kebun anda.

 

28.   Pisahkan sampah yang dapat di daur ulang dan tidak.

 

29.   Jangan membuang sampah kedalam saluran air, terusan air, sungai dan laut.

 

30.   Jangan gunakan bahan kimia terutama bahan detergen dan bahan pembersih yang mengandung phospat.

 

31.   Pakailah bahan pengganti zat kimia dalam rumah misal jus lemon dicampur dengan garam,cuka dan amoniak.

 

32.   Jangan menggunakan air lebih dari yang anda perlukan.

 

33.   Apabila mungkin, air di daur ulang.

 

34.   Jangan menggunakan air untuk membersihkan halaman jika dapat dibersihkan dengan sapu.

 

35.   Pastikanlah agar keran bekerja dengan baik dan pergunakan pancuran yang mengalir pelan.

 

36.   Periksa pembilas toilet berada dalam keadaan baik untuk menghindarkan pembilasan yang tidak perlu.

 

37.   Simpan air bekas dan mesin cuci pakaian untuk mencuci kendaraan anda.

 

38.   Biasakan meminum air dengan tidak menyisakan air dalam gelas.

 

39.   Jangan melakukan perjalanan, kecuali anda terpaksa melakukannya.

 

40.   Jangan melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, kecuali jika anda memang terpaksa.

 

41.   Pergunakan kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan, karbon monoksida dan ongkos parkir.

 

42.   Pergunakan sepeda, jika jarak yang ditempuh relatif dekat.

 

43.   Pergunakan bahan bakar yang bebas timah (unleaded fuel)

 

44.   Pergunakan bahan bakar beroktan rendah.

 

45.   Mengkonversi mesin kendaraan anda untuk memakai gas alam yang dipadatkan.

 

46.   Merawat mesin dengan teratur.

 

47.   Pilih kendaraan yang menggunakan bahan bakar paling efisien.

 

48.   Jika hendak mencetak (nge-print) periksa setting print terlebih dahulu,

 

49.   pergunakan cetak draft untuk menghemat tinta.

 

50.   Pergunakan dibalik kertas yang telah terpakai untuk kebutuhan intern.

 

51.   Jangan pergunakan gambar-gambar yang yang tidak dibutuhkan dalam sebuah tulisan,

 

52.   karena gambar membutuhkan tinta yang lebih.

 

53.   Pilih jenis dan ukuran huruf yang standart.

 

54.   Jangan mempergunakan pupuk yang mengandung zat kimia atau penyalahgunaan pestisida. Pergunakan bahan kimia untuk tanaman herbisida dan fungisida seefisien mungkin.

 

55.   Mulailah menanam tanaman dengan teknik hidroponik (ditanam tanpa menggunakan tanah dan hanya memberi gizi secukupnya di dalam air.

 

56.   Untuk pedagang keliling, jangan menghidupkan alat-alat yang menimbulkan suara bising, kecuali untuk memberikan demonstrasi kepada konsumen.

 

57.   Menghindarkan musik pengiring ditempat-tempat publik.

 

58.   Jangan mengoperasikan peralatan pada jam-jam puncak istirahat.

 

59.   Hindari memperdengarkan musik bersuara keras, sehingga mengaburkan bunyi pengumuman yang penting. Pastikan bahwa peralatan benar-benar kedap suara dan diservis untuk memperkecil suara bising.

 

60.   Pakailah alat penutup telinga jika bekerja pada mesin yang bersuara bising.

 

61.   Pastkan agar produk yag menimbulkan suara mengeluarkan suara sekecil mungkin atau diisolasi.

 

62.   Gunakanlah alat-alat musik pada tingkat suara yang wajar dan tidak memekakkan telinga.

 

63.   Jangan menempel poster,atribut organisasi atau hal-hal yang berbau promosi di dinding atau tembok di area publik.

 

64.   Hindari pemasangan tanda penunjuk atau rambu lebih dari satu sehingga orang tidak dibingungan dengan rambu itu.

 

65.   Pasanglah reklame atau baliho pada tingkat kewajaran.

 

66.   Jangan bangun pabrik yang menimbulkan pencemaran di daerah pemukiman.

 

67.   Pastikan adanya prasarana yang memadai untuk pembuangan seluruh limbah.

 

68.   Meminimalisir tingkat asap beracun dan limbah cair yang rendah.

 

69.   Cari informasi dari pemerintah mengenai standar pencemaran udara dan air yang dapat diterima.

 

70.   Pergunakan bahan bakar yang paling sedikit menimbulkan pencemaran.

 

71.   Pergunakan teknologi pembersih atau anti pencemaran yang ada untuk menjaga agar prosesing pabrik anda menjadi bersih.

 

72.   Hindarkan pemakaian bahan-bahan beracun, kecuali jika hal tersebut sangat diperlukan sekali.

 

73.   Jangan menanam limbah beracun tanpa nasehat ahli.

 

74.   Jangan membuang limbah beracun di luar pabrik anda.

 

75.   Jangan membakar limbah industri di tempat terbuka.

 

(dari berbagai masukan)

 

Apapun yang anda lakukan dan apapun yang anda beli, pikirkan apakah anda

merusak lingkungan kita?


Blog EntryJangan Pernah Terlalu Berharap!Jan 20, '08 8:29 AM
for everyone

From: resonansi_2002

 

Anita Roddick adalah perintis perusahaan waralaba The Body Shop yang kini sudah mendunia. Sebelum perusahaan The Body Shop dikenal seperti sekarang, Anita pernah berinisiatif menggerakkan seluruh karyawannya yang berada di kantor pusat untuk melakukan bakti sosial dalam rangka Hari Dunia. Bentuk bakti sosial tersebut adalah membersihkan sebuah pantai di Inggris.

 

Tetapi inisiatif Anita tidak direspon positif oleh mayoritas pegawainya. Hanya sebagian kecil karyawan, yaitu sekitar 13 orang, yang bersedia berpartisipasi dalam bakti sosial tersebut. Sedangkan mayoritas pegawainya memilih untuk menghindar dengan berbagai alasan. Anita sangat kecewa atas penolakan yang ditunjukkan oleh mayoritas karyawan.

 

Tetapi dalam perjalanan menuju pantai yang akan dibersihkan, Anita merasa sedikit terhibur. Pasalnya, ia berpapasan dengan seorang pengendara sepeda yang ramah. "Mau kemana?" tanya pengendara sepeda itu kepada dirinya dan rombongan.

 

"Hari ini adalah Hari Dunia. Kami akan ke pantai untuk membersihkan pantai itu," jawab Anita Roddick antusias sambil menunjuk sebuah pantai indah di depan mereka.

 

"Luar biasa! Kemauan Anda semua sangat mulia. Saya sangat senang ada orang yang bersedia turun tangan membersihkan pantai ini, karena memang sudah sangat kotor," lanjut pengendara sepeda itu tak kalah bersemangat dibadingkan dengan Anita.

 

"Kalau begitu, mari bergabung bersama kami membersihkan pantai," ucap Anita girang karena merasa berhasil mendapatkan simpati dan dukungan dari pengendara sepeda itu.

 

"Jangan pernah harap ya!" cetus pengendara sepeda itu mengejutkan. Tanpa basa-basi pengendara sepeda itu langsung mengayuh sepedanya kencang sekali. Anita dan rombongan ternganga tak percaya pada respon yang sedemikian negatif.

 

Pengalaman pahit tersebut memberi sebuah pelajaran berharga bagi Anita, bahwa kesadaran orang lain terhadap lingkungan tak mudah diketuk hanya dengan himbauan. Ia berpikir mungkin kesadaran untuk mencintai lingkungan akan tumbuh, bila himbauan itu terus didengungkan lewat berbagai macam media, misalnya poster, brosur, kampanye secara langsung, dan lain sebagainya.

 

Karena itu dalam setiap pertemuan bersama para stafnya, Anita selalu berkata, "Menciptakan keuntungan dari segi keuangan saja tidak cukup, kita harus menciptakan kemajuan dalam segi spiritual!" Anita sangat serius dengan apa yang ia ucapkan itu. Di bawah kepemimpinannya The Body Shop mencapai kemajuan luar biasa, sudah tersebar di lebih dari 50 negara dengan 1.900 gerai di dunia. Meskipun demikian, perusahaan tersebut masih memegang teguh sebuah visi, yaitu kepedulian terhadap lingkungan.

 

Pesan:

 

Kisah di atas menunjukkan bahwa kepedulian itu sangat penting. Bahkan hampir semua agama di dunia menandaskan tentang pentingnya kepedulian. Kepedulian adalah sumber kebaikan.

 

Meskipun masih sangat sulit dibudayakan, tetapi kepedulian dapat ditumbuhkan hingga akhirnya membudaya dalam kehidupan kita. Langkah pertama guna menumbuhkan kepedulian adalah menjadi panutan. Dengan kata lain kepedulian itu dimulai dari diri kita sendiri.

 

Langkah selanjutnya adalah mengkomunikasikan dengan orang-orang yang besangkutan tentang solusi-solusi dari masalah yang sedang dihadapi bersama. Jika perlu prinsip-prinsip kepedulian yang dapat dijadikan solusi tersebut dicetak dalam ukuran besar atau cukup menarik perhatian. Dalam kisah di atas Anita berinisiatif mensosialisasikan kepedulian melalui seruan-seruan misalnya dalam bentuk spanduk atau papan iklan, disiarkan lewat media elektronik, cetak, dan lain sebagainya.

 

Dalam periode tertentu sebaiknya hasil dari kepedulian tersebut disiarkan untuk diketahui bersama. Misalnya sumbangan sukarela dari penduduk di kampung-kampung sebagai bentuk kepedulian disiarkan berapa uang yang sudah terkumpul dan yang sudah digunakan, perubahan yang dihasilkan sekaligus anggaran yang dibutuhkan untuk program selanjutnya. Keterbukaan seperti itu menjadi sumber motivasi bagi setiap individu dari lapisan masyarakat yang lebih luas untuk berpartisipasi, apalagi jika kepedulian tersebut ditujukan untuk memperbaiki keadaan, mengatasi masalah, dan mewujudkan harapan mereka semua.[aho]

 

Sumber:

Jangan Pernah Terlalu Berharap! oleh Andrew Ho.

Andrew Ho adalah seorang motivator, pengusaha, dan penulis buku bestseller.


Blog EntryClimate Change and Global Warming.Dec 31, '07 1:22 AM
for everyone

From: Srinivasa Raghavan

 

Climate change refers to the variation in the earth's global climate or in the regional climates over time. Human activates such as burning of fossil fuel (Coal, crude oil, natural gas etc.) have led to generation and build up of greenhouse gases in the atmosphere. The green gases include Carbon Dioxide (CO2), Methane (CH4) .Nitrous oxide (N2O), Hydro fluorocarbons (HFC), Perflurocarbons (PFCs) and sulfur hexafluoride (SF6). These green house gases absorb the radiations from the sun and leads to warming the earth's atmosphere. Excessive build of these greenhouse gases is resulting into increase of earth's average temperature, also called as Global Warming.

 

The impact of Global Warming.

 

1.              The Co2 concentration is expected to increase between 540 to 970 ppm (Parts per million) by 2100 compared to pre industrial level of about 280 ppm.

 

2.              The world's average surface temperature has increased by around 0.74ËšC..Over the past 100 years(1906-2005) A warming of about 0.2ËšC is projected for each of the next two decades.

 

3.              Melting of ice caps/glaciers-Glaciers in Greenland, Alaska, the Himalayas and the Antarctic Peninsula are retreating. Sea ice in the Arctic Ocean during summer is disappearing.

 

4.              The sea level may rise between 110 to 770 mm by 2100 due to ocean expansion & glacier melt.

 

5.              634 people live in the threatened coastal areas world wide, areas at less than 33 feet above sea level.

 

6.              China is most  at risk with 143 million people living by the coast, followed by India, Bangladesh, Vietnam, Indonesia, Japan, Egypt and the US.

 

7.              Warmer water in the oceans pumps more energy into tropical storms, making them more intense and potentially more destructive.

 

8.              Warmer temperatures increase the energy of the climatic system and lead to more intense rainfall at some times and in some areas.

 

9.              Warmer temperature could also increase the probability of drought.

 

10.           Deaths rates for poor from global warming related illness, such as malnutrition, diarrhea, malaria will rise.

 

11.           Polar bears in the wild and other animals will be pushed to extinction.

 

12.           By 2080 between 1.1 and 3.2 billion people will face water shortages and 200 to 600 million will face extreme hunger.

 

13.           A temperature rise of 1-2 degrees centigrade would see one third of the earth's species either displaced or wiped out.


Blog EntryThe Wrap on the Bali Climate Change ConferenceDec 31, '07 1:14 AM
for everyone

http://www.balidiscovery.com/update/archive.asp

 

 

Through Drama, Emotions, Boos And Ovations: Bali Road Map Adopted. Indonesian President Plays Crucial Role in Breaking  Deadlock.

 

Wuryastuti Sunario of the authoritative Indonesian Digest provides the following overview of the just completed United  Nations Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) held in Bali December 3-14, 2007:

 

Friday, 14 December 2007 past midnight, and the plenary session of UN Climate Change COP-13 (Conference of Parties) in Bali  which was to have adjourned at noon that day was still ongoing. But consensus was nowhere in sight. Delegates definitely  looked beat, so Chairman Rachmat Witoelar decided to call it a day and adjourned the meeting to the next morning. The two  weeks COP-13 meetings at Nusa Dua Bali, which opened on 3 December now had to be extended with another, - anticipated -  exhausting day. At that moment the Bali Road Map was feared to be on the verge of collapse.

 

COP-13 Chairman, Environment Minister Rachmat Witoelar, the Ad Hoc Working Group and the Indonesian delegation were far from  thinking of going to sleep as they continued to thrash out the following morning's agenda. At two in the morning, President  Yudhoyono suddenly walked in unannounced to hold a private meeting with the Chairman.

 

Saturday morning, 15 December, UN Secretary General Ban Ki-moon, whose plane was on a refueling transit stop in Bali after a  visit to Timor Leste, was seen in unexpected private discussions with President Yudhoyono.

 

Breaking through a Stalemate

 

Kompas daily reports that at 13.10 hrs. Central Indonesia Time, both leaders entered the Plenary Session to give unscheduled  speeches to weary world delegates from 190 countries who had gathered in Bali with the purpose to decide the fate of planet  Earth.

 

Both leaders reminded delegates on the political agreement reached at the Climate Change Conference at the UN in New York  last September, when the strong mandate was given to this meeting in Bali to reach a breakthrough. "This was our common  political agreement. For this reason, here and now we must produce the Bali Road Map that will guide us all with concrete  steps towards a strong and effective agreement in Copenhagen", said President Yudhoyono to a standing ovation from the floor.

 

UN Secretary General on his side reminded delegates not to betray their children and life on Planet Earth. Now is no longer  the time to discuss concepts, now is the time to take decisions, and "I am certain that you will decide wisely", said Ban Ki -moon.

 

After more heated debates came that historic moment when the delegate from Papua New Guinea, releasing the conference's pent -up collective frustration challenged the United States: "We ask for your leadership and we seek your leadership. If you are  not willing to lead, please get out of the way".

 

After last-minute consultations with Washington, American negotiator, Paula Dobriansky announced the dramatic US turn-around  decision, backing down on its previous hard line stand, wrote the UPI.

 

"We want to be part of the road map... and let me say to you that we will go forward and join the consensus," U.S. head of  delegation Paula Dobriansky said to cheers and a standing ovation from delegates representing some 190 countries, reported  the Jakarta Post. And thus, the Bali Road Map was adopted.

 

With that, the Bali conference succeeded to strike an accord that according to many, achieved more than what could have been  expected, wrote the UPI.

 

"The magic moment came after both President Yudhoyono and the UN Secretary-General delivered their incredible speeches, which  changed the mood of the conference," UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) executive secretary Yvo de Boer said.

 

“This is a real breakthrough, a real opportunity for the international community to successfully fight climate change."

 

"Parties have recognized the urgency of action on climate change and have now provided the political response to what  scientists have been telling us is needed", said de Boer.

 

No Specified Targets, But Agreement On Collective Action By Developed-Developing Countries

 

The crux of the conflict that came into the open during the second week of meetings of the COP-13 in Bali concerned the  explicit and quantifiable emissions reduction targets for developed nations and what sort of obligations poor and emerging  economies should take on in the future. In this conflict, the United States, backed by Canada and Japan faced EU members who  insisted on a minimum reduction of between 25%-40% of emissions by industrial countries by 2020, that would ensure that  global warming would not rise above a critical 2 degrees Celsius. The U.S., on the other hand, persisted that quantifiable  and measurable emissions reductions should not be demanded from established industrial countries alone, but should also be  demanded from emerging countries (with special mention to China and India).

 

On the other side, developing countries within the G-77 led by China opposed mandatory emissions on emerging nations since  these countries are still suffering from centuries of poverty and are only now trying to extricate millions of their own  population from dire poverty through industrialization. In addition, climate change that was mainly caused by pollution from  industrialized countries are already negatively impacting on poor countries, exacerbating their sufferings. Moreover, for  small island-nations, climate change consequences are already a reality today, as isles are flooded and are fast  disappearing.

 

In this context, to compare data, Bisnis Indonesia said that according to Carma/CGD, country-wise, highest polluters are: 1.  The United States of America (2,790 million tons), 2. China (2,680 million tons), 3. Russia (661 million tons), 4. India (583  million tons), 5. Japan (400 million tons), and 6. Germany (356 million tons), while Indonesia emitted 92.9 million tons,  caused chiefly by forest fires.

 

However, per capita-wise, Australians are world’s highest polluters at 10.7 tons per person, followed by the U.S.A. at 9.3  tons, South Africa and Russia at 4.6 tons and China at an average 2.0 tons per person. Indonesians, on the other hand,  produce a low 0.4 tons per capita.

 

Most Salient Decisions in the Bali Road Map

 

The Bali Road Map charts the course for a new negotiating process to be concluded by 2009 that will ultimately lead to a  post-2012 Kyoto Protocol international agreement on climate change. Ground-breaking decisions were taken which form core  elements of the roadmap. They include the launch of the Adaptation Fund as well as decisions on technology transfer and on  reducing emissions from deforestation. These decisions represent various tracks that are essential to achieving a secure  climate future. Core items in the Bali Road Map, as reported by the Indonesian language Kompas daily, include among others:

 

1.       An unanimous agreed response to the findings of the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate  Change, that warming of the climate system is unequivocal, and that delay in reducing emissions significantly constrains  opportunities to achieve lower stabilization levels and increases the risk of more severe climate change impacts.

 

2.       Delegates recognized that deep cuts in global emissions will be required to achieve the ultimate objective, and emphasize  the urgency to address climate change.

 

3.       The meeting further decided to launch a comprehensive process to enable the full, effective and sustained implementation  of the UN Convention Framework through long-term cooperative action, up to and beyond 2012.

 

4.       The Bali roadmap is based on a shared vision for long-term cooperative action, including a long-term global goal for  emissions reductions, to achieve the ultimate objective of the Convention, in particular the principle of common but  differentiated responsibilities and respective capabilities, taking into account social and economic conditions and other  relevant factors.

 

5.       Enhanced national/international action on mitigation of climate change including, inter alia, consideration of:

 

(i)                   Measurable, reportable and verifiable nationally appropriate mitigation commitments or actions, including quantified  emission limitation and reduction objectives by all developed countries.

 

(ii)                 Nationally appropriate mitigation action by developing countries in the context of sustainable development, supported  and enabled by technology, financing and capacity-building in a measurable, reportable and verifiable manner.

 

(iii)                Policy approaches and positive incentives on issues relating to reducing emissions from deforestation and forest  degradation in developing countries; and the role of conservation, sustainable management of forests and enhancement of  forest carbon stocks in developing countries. (text quoted from UNFCC website)

 

Other decisions included:

 

·         An Adaptation Fund put under the administration of the Global Environmental Facility (GEF) of the World Bank. The seed  funds from the developed countries are expected to come to between $18.6 million to US$37.2 million–(sums which are, however,  deemed severely inadequate to support the emergency efforts to address the ongoing ravages of climate change in the small  island states and others on the "frontlines" of climate change. Oxfam estimates that a minimum of US$50 billion a year will  be needed to assist all developing countries adapt to climate change.)

 

·         A "strategic program" for technology development and transfer was also approved, (again with troubling compromises). The  developing countries had initially held out for the mechanism to be designated a "facility" but finally had to agree to the  watered-down characterization of the initiative as a "program" on account of U.S. intransigence. Moreover, the program was  also placed under the GEF with no firm levels of funding stated for an enterprise that is expected to cost hundreds of  billions of dollars.)

 

·         The REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) initiative pushed by host Indonesia and several other  developing countries with large forests that are being cut down rapidly was adopted. The idea is to get the developed world  to channel money to these countries, via aid or market mechanisms, to maintain these forests as carbon sinks. (However, many  climate activists fear that indigenous communities will be victimized by predatory private interests that will position  themselves to become the main recipients of the funds raised.)

 

More Than Expected, Less Than Needed

 

Whatever controversial opinions remain, one thing holds true, and that is that the significance of the Bali COP-13 Conference  lies in the fact that it has succeeded to bring everyone on board, most importantly the United States, the only country, and  highest polluter, that has until then decided to stay apart from negotiations related to the Kyoto Protocol.

 

British Environment Secretary Hilary Benn hailed the agreement as "an historic breakthrough". "For the first time ever all  the world's nations have agreed to negotiate on a deal to tackle dangerous climate change concluding in 2009. What we have  achieved here has never been done."

 

The British environment secretary also said: "We came here saying we wanted a roadmap that included every country and covered  emission reductions from developed countries and fair and equitable contributions from developing countries. We leave here  with all of this and more, a groundbreaking agreement on deforestation and others on adaptation and technology", writes Yusof  Sulaiman for e-turboNews Asia/Pacific

 

Indonesia may be congratulated for successfully hosting this most crucial Conference, and for having taken an active role  towards its outcome, including in taking the initiative to host sideline parallel meetings of international Trade Ministers  and Finance Ministers.

 

Indonesia's President Yudhoyono himself expressed satisfaction with the outcome of the meeting that had given birth to the  Bali Road Map that will guide the world from Bali (2007) to Copenhagen (2009).

 

(Sources: Kompas, Jakarta Post, UPI, UNFCC web, Bisnis Indonesia)

 

The BALI UPDATE is owned and distributed by

Bali Discovery Tours

Destination Management Company

Komp. Pertokoan Sanur Raya No. 27

Jl. By Pass Ngurah Rai, Sanur, Bali, Indonesia

Phone: ++62 361 / 286 283, Fax: ++62 361 / 286 284

info@balidiscovery.com, http://www.balidiscovery.com

_________________________________________________________

 

BALI UPDATE, © Bali Discovery Tours, All Rights Reserved.

_________________________________________________________

 


http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/26/0106.htm

 

KEPEDULIAN terhadap lingkungan rupanya telah mendarah daging di jiwa Sariban (61) warga Jln. Terusan Cikutra Barat, RT 05/RW 20 Cikondang Kec. Coblong Kota Bandung. Meski usia lanjut, lelaki pensiunan pegawai RS Mata Cicendo Bandung itu tetap saja berkarya demi keindahan dan kebersihan Kota Bandung.

 

Karya nyata yang ia lakukan adalah menjadi relawan penyuluh kebersihan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Selain itu, ia juga punya garapan lain, menyelamatkan pohon yang ada di Bandung dari paku. "Begitulah pekerjaan saya sekarang ini, mencari sampah dan paku," ungkap Sariban kepada "PR" sambil memarkir sepedanya di Jln. Wastukancana, Kamis (25/11).

 

Memang, ke mana-mana Sariban hanya ditemani sepeda mini. Ia tak kenal lelah mengayuhnya untuk menyusuri jalan-jalan di Kota Bandung. Sariban dalam melakukan kegiatannya, bak seorang pegawai, bekerja dari Senin hingga Sabtu. Berangkat dari rumah sekira pukul 8.00 WIB, lalu pulang pukul 16.00 WIB. "Selama delapan jam itu, saya berkeliling menyusuri jalan-jalan di Kota Bandung dengan ditemani sepeda mini ini," ujarnya.

 

Selama melakukan kegiatannya, Sariban membuat jadwal tiap hari, berupa peta jalan yang dilaluinya. Sebelum berangkat, ia melakukan persiapan dengan membawa alat-alat berupa linggis, tang, palu, dan sapu lidi. Perlengkapan lainnya, seperti kaleng, pompa sepeda, buku, dan tak lupa kotak amal.

 

Barangkali, itu hanya sebuah usaha, mengetuk hati warga, untuk sekadar memberinya uang bensin atau uang lelah. Maklum, saat menjalani rutinitasnya selama "enam hari kerja", Sariban tidak digaji siapa-siapa.