Catila's posts with tag: motivasi
From: Ida Arimurti Wisdom of the day: Karena saya sering bertemu pengusaha-pengusaha dari berbagai skala bisnis, banyak kawan2 yang bertanya kepada saya yang baru merintis bisnis sendiri, "dari pertemuan dengan mereka, apa sih sebenarnya rahasia sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka itu bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?". Terus terang, tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Jawabannya bisa sangat panjang. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan kecil, dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa beragam, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ini seperti pertanyaan 'iklan seperti apa sih yang benar2 bisa menjual'. Ada pengusaha besar relasi yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah 'menjaga kepercayaan’. Kalau kita sudah dipercaya maka kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli. Biasanya yang mengatakan seperti ini adalah pengusaha yg bisnisnya di bidang jasa dan banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Misalnya pengusaha jasa pertambangan, jasa kontraktor, pengusaha kurir korporat, jasa keamanan, dll. Malahan ada yang mengatakan 'kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik. Ini tidak salah, bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien -- dalam artian positif, bukan menyogok. Sementara, bagi pengusaha sukses di bidang garmen, fashion dan consumer good, bisa jadi akan cenderung mengatakan, "inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen. Karena itu tugas kita adalah membangun merek agar semakin dikenal. Karena itu pula tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli. Pendapat ini tentu saja juga sangat betul, sesuai konteks industri yang digeluti. Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama-sama ritel ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah membaca buku laris terbitan Gramedia Pustaka Utama berjudul "10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0", ditulis Sudarmadi, disitu ada contoh menarik pengusaha Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung. Pak Roni ini rupanya pengusaha yang mengembangkan merek tas terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Dari situ ketahuan, momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari. Seperti dijelaskan di buku itu, untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan 'ruang' untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. Menurut saya, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun sejumlah proyek perumahan mewah di Bandung, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah 'menemukan momentum' seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya'. Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Kita tidak boleh lelah mencari 'kendaraan' agar bisa menemukan momentum seperti itu. Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses juga sangat menyukai bacaan2 baru dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber, baik dari pelakunya langsung atau pihak lain yang tahu seperti para konsultan. Saya kira pilihan 'suka membaca' seperti itu bisa dimengerti karena bagi kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C -- kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta -- namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku. Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk 'menetes' maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan 'tetesan' itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?... Semoga kita semua termasuk orang yang sukses 'menetes' itu sehingga usaha kita semua sukses dan diberkati. Amin.
From: Srinivasa Raghavan Most people are familiar with the phrase "thoughts become things", and in a manner of speaking that is true. However, the more accurate way to explain that concept would be to say that thoughts become emotions. Emotions in turn drive the machine of your life that creates the things that you think about. The fact that emotions need to be part of the equation is easily verified by thinking back to any time in your life whenever you thought long and hard about having or doing something, but those thoughts never manifested into whatever it was that you were thinking about. For example: · Many people think very often about having enough money to enjoy certain material possessions or experiences. · Almost all people give considerable thought to weight loss, physical fitness, or their overall health. · The majority of people also spend plenty of time thinking about satisfying romantic or other social relationships. However, despite the massive amount of thought that is dedicated to some or all of those things, it is often the case that we do not have the level of success in those areas that we desire. The reason for that is because we do not have the appropriate emotional attachment to the things that we want to bring into our lives. When giving thought to the things that we want, more is not necessarily better, since emotionless thoughts have no real power, no matter how many times we think them. However, a consistent thought about something that also evokes a positive emotional response from you almost always serves to ultimately bring that thing into your life. In order to illustrate this concept, simply think back to any job interview, health improvement program, date, or other social situation that you were involved in that you felt very positive and confident about. In most if not all of those situations, one of two things happened: 1) You attained or enjoyed the experience of whatever it was you felt positive about, or 2) You realized after the fact that you didn't really want it after all. By feeling positive and confident about attaining something, you put yourself in charge of the outcome, as opposed to how a lack of confidence will tend to make you feel powerless to get what you want out of any given situation. You need to be honest with yourself, however, when considering whether or not you truly feel positive and confident about attaining something. Strongly desiring something does not equate to feeling positive or confident about acquiring it. Everyone wants whatever they consider to be financial, health, or social success, but actually believing that we will attain it is another matter entirely. It is this difference between giving a high quantity of thought to something vs. giving a high quality of thought to something that is ultimately the deciding factor in whether or not we attain it. High quality thoughts about something are thoughts that evoke a consistent positive emotional response in relation to that thing. These thoughts fill you with the belief that – sooner or later – you will attain whatever it is that you are thinking about. Compare that to the thoughts that most people have about attaining their desires. You will see that often people's thoughts about their dreams tend to evoke negative, disempowering emotional responses, such as doubt, fear, uncertainty, concern, lack of confidence, etc. Rarely in history has anything of note been accomplished by someone thinking of how scared they were about whether or not it was actually going to happen. Disempowering thoughts such as fear do not tend to manifest positive results. That is not to say that fear or similar feelings are not part of the process, because often they are. However, they are used only as tools to bolster the confidence and belief level of the person involved, as squashing disempowering feelings has the immediate effect of causing us to feel empowered! If you have ever faced down a fear, then you know this to be true. The bottom line solution to using the power of your emotions as the fuel for self improvement is to make a conscious recognition of how you feel about something that you want to accomplish. If the thought of improving your finances, your health, your social life, or any other area of your life causes you to feel anything other than positive and confident, you must embrace the fact that you have mental roadblocks that need to be cleared before you will achieve success in that area. Those roadblocks can then be cleared by engaging in whatever activity will eliminate those negative feelings. That may include getting educated about what it will take to accomplish your goal, it may mean practicing affirmations or visualizations, it might involve doing research on the topic, hiring a professional to help you, or even something as simple as voicing the disempowering belief to yourself. Once the dark things in our subconscious are brought into the light, they are often seen to have very little actual power over us, if any at all. Ferret out your negative, disempowering beliefs by being 100% truthful with yourself about how you feel about something that you want to attain. Once you have recognized whatever it is that is causing your negative feelings, drag it kicking and screaming into the light, eliminate it, and you will leave yourself with nothing but positive and confident feelings about your ability to succeed. Then you will do exactly that!
by Jim Stovall* Conversations are pleasant, discussions are interesting, debates are productive, but arguments are destructive. The difference between debates and arguments lies in whether you are dealing with the subject at hand or the personalities involved. Whether it is in your personal or professional life, you will inevitably encounter a difference of opinion. This is not a bad thing. In fact, if you don't frequently encounter a difference of opinion, either you have no opinion, the people around you have no opinion, or people are not feeling the freedom to express themselves. In any event, conversation, discussion, and debate are positive. They can ignite people's passions, their creativity, and bring their best ideas to the table; however, once it descends into an argument, there is a lot to be lost and little, if anything, to be gained. Often, colleagues are put in a position to express differing opinions. There is a right way and a wrong way to carry on these dialogues. Here are a few rules for keeping your conversation on a positive plane. 1. Be sure the time is appropriate for a debate. Don't hijack people in the hall or catch someone rushing off to another commitment. Be sure there is time for a productive discussion. 2. Be sure that the setting is conducive to a good conversation. It should take place where all of the relevant parties can comfortably come together, and interruptions should be avoided. Whenever possible, non-involved parties should be excluded. 3. Everyone should agree on the matter to be discussed. Whenever possible, only one subject should be tackled at a time. Everyone should agree on what we are deciding, when the decision needs to be made, and what factors are involved in coming to a positive resolution. 4. Only one person should talk at a time. Interruptions are threatening and counterproductive when people are expressing opposite opinions. If necessary, establish a "magic pen," which everyone agrees must be held in the hand of the individual speaking. No one talks unless they have the "magic pen." 5. Agree that appropriate language will be used, everyone will be treated with respect, and the voice level will not be raised. If someone inadvertently violates this rule, calmly point it out and get back to the subject at hand. 6. Find out not only what people who oppose you feel but why they believe their position is best. Try to understand their position so you can repeat their argument to them. This will demonstrate respect and create clarity. Remember, in an argument, there are only losers. In a productive debate or discussion, everyone can win. As you go through your day today, find ways to include the collective wisdom of those around you by encouraging discussion and avoiding argument. Today's the day! Jim Stovall is the president of Narrative Television Network, as well as a published author of many books including The Ultimate Gift. He is also a columnist and motivational speaker. He may be reached at 5840 South Memorial Drive, Suite 312, Tulsa, OK 74145-9082, or by e-mail at JimStovall@aol.com. Visit http://www.JimStovall.com
From: Vatsala Saxena 1. Throw out nonessential numbers. This includes age, weight, and height. Let the doctors worry about them.. That is why you pay them. 2. Keep only cheerful friends. The grouches pull you down. (Keep this in mind if you are one of those grouches!) 3. Keep learning: Learn more about the computer, crafts, gardening, whatever. Never let the brain get idle. 'An idle mind is the devil's workshop.' And the devil's name is Alzheimer's! 4. Enjoy the simple things 5. Laugh often, long and loud. Laugh until you gasp for breath. And if you have a friend who makes you laugh, spend lots and lots of time with him or her! 6. The tears happen: Endure, grieve, and move on. The only person who is with us our entire life, is ourself. LIVE while you are alive. 7 Surround yourself with what you love: Whether it's family, pets, keepsakes, music, plants, hobbies, whatever. Your home is your refuge. 8. Cherish your health: If it is good, preserve it. If it is unstable, improve it. If it is beyond what you can improve, get help. 9. Don't take guilt trips. Take a trip to the mall, even to a foreign country, but NOT to where the guilt is 10. Tell the people you love that you love them, at every opportunity. And if you don't send this to at least four people - who cares? But do share this with someone.
From: Srinivasa Raghavan Great things happen when small things are done with purpose, care and persistence. Few people can make a big positive impact on the first attempt, yet anyone can have a small impact, and then another and another. The small things matter, because they join together to become big things. Every moment is your opportunity to do the small things that can surely and steadily bring about big results. Those who sit and wait for a big break rarely ever get one, and wonder why life has been so cruel and unfair. Those who do what they can, when they can, with what they have, will get precisely where they intend to go. Today is your chance to do what you can. It may seem small, but focus and persistence will, over time, make it into something big. Meaningful, lasting value is something that is built, effort upon effort, day after day, moment by moment. Step forward at every opportunity, be willing to do the small things, and you'll be making the big things happen.
From: resonansi_2002 "Whenever you see a successful business, someone once made a courageous decision" ~ Peter Drucker Pembaca, mudah-mudahan Anda melewati masa liburan akhir tahun yang menyenangkan. Itu yang saya rasakan. Setidak-tidak, setelah melewati setahun yang meletihkan dengan jadwal training, seminar coaching dan personal konseling yang padat, saya berkesempatan lagi berlibur bersama keluarga ke Kuta, Bali. Dan sewaktu menunggui anak saya bermain di kolam anak-anak, saya berendam di Jacuzzi sambil rileks dan membuka-buka beberapa buku yang dipinjamkan dari perpustakaan hotel. Saat itu, pikiran saya justru tertuju pada sebuah buku anak-anak bergambar. Dan, tak disangka, inilah yang menjadi bahan artikel motivasi untuk saya share-kan pada Anda di awal tahun ini. Diceritakan dalam buku dongeng bergambar itu kisah tentang kelelawar yang tidak bisa memutuskan, apakah mau bergabung dengan kelompok burung ataukah bergabung dengan kelompok binatang. Awalnya dikisahkan bahwa kedua kelompok ini sedang berseteru, bersaing dan berkelahi. Karena tidak ingin kalah dan tanggung risiko, maka kelelawar memutuskan menunggu siapa yang menang. Nantinya, kepada kelompok yang menang itulah, kelelawar akan bergabung. Awalnya burung menang, maka kelelawar pun bergabung dengan burung. Tetapi tatkala burung akhirnya kalah, kelelawar pun berbalik arah bergabung dengan binatang. Namun, akhirnya karena tahu kelakuan kelalawar yang buruk, maka tidak ada satu kelompok pun yang menginginkan kelelawar. Karena takut dan malu, kelelawar hidup menyendiri di gua yang gelap dan hanya berani keluar di waktu malam. Itulah nasib kelelawar yang tidak mau membuat keputusan yang pasti tentang nasib mereka. Pembaca, cobalah kita renungkan soal pengambilan keputusan yang pernah Anda lakukan dalam hidup Anda. Ada satu hal yang pasti, bagaimana dan seperti apa kehidupan Anda sekarang, pasti tergantung dari keputusan yang telah Anda buat sebelumnya. Namun, jangan hanya pikirkan keputusan yang sudah Anda buat, keputusan yang tidak Anda buat pun menjadikan diri Anda seperti sekarang. Dalam realita kehidupan, memutuskan suatu pilihan ataupun tidak mengambil pilihan, itupun suatu keputusan besar. Cobalah lihat keputusan Anda. Misalnya keputusan di mana Anda bersekolah, di mana Anda bekerja, keputusan siapa yang akhirnya jadi pasangan Anda. Itulah keputusan-keputusan besar Anda. Maka nasib Anda hingga di awal 2008 pasti ditentukan oleh segala keputusan yang bersinergi membentuk kehidupan Anda saat ini. Jadi, salah satu rumusan sukses yang kita ingin tegaskan dalam kesempatan ini adalah, buatlah keputusan! Kadang kita tidak pernah tahu apakah keputusan kita benar atau salah, tetapi kita harus berani membuat keputusan. Saya pun teringat dengan suatu puisi tentang seorang yang kebingungan di bahwa pohon apel yang rindang. Ia bingung soal apel manakah yang harus ia petik duluan. Semua tampak lezat. Di akhir kisahnya, sangat tragis. Orang itu tidak bisa memutuskan dan akhirnya ia mati kelaparan! Tiga pelajaran Kisah kelelawar maupun kisah orang yang mati kelaparan ini mengajarkan kepada kita tiga hal. Pertama, your decision will shape your destiny. Keputusan Andalah yang menentukan nasib Anda sekarang. Sukses atau gagal, mari lihat kembali semua keputusan yang pernah Anda ambil. Jadi, pikirkanlah bahwa di tahun depan, ada banyak lagi keputusan yang harus Anda ambil, jika Anda menginginkan kehidupan yang lebih baik. Intinya, no decision, no change, no progress. Tanpa keputusan maka tak ada kemajuan berarti yang bakal terjadi. Camkan baik-baik! Kedua, tidak ada keputusan tanpa risiko. Karena itu, keputusan harus tetap diambil. Tidak mengambil keputusan pun berisiko. Sama seperti yang dikatakan Warren Buffet dalam biografinya, mengutip dari buku yang pernah dibacanya. Ia pun berkata bahwa ia belajar dari keputusan-keputusan yang dibuatnya, termasuk belajar dari keputusan salah yang pernah dibuatnya. Jika sudah demikian, dapat kita simpulkan bahwa keputusan itu tidak pernah salah. Yang ada hanyalah keputusan yang baik atau kurang baik. Semua keputusan pasti benar, dalam arti selalu mengandung hikmah pembelajaran di dalamnya. Ketiga, jika sudah membuat keputusan berjuanglah sampai keputusan itu memberikan hasil. Kita baru tahu apakah keputusan itu baik atau tidak, setelah proses perjalanan waktu. Para guru kebijaksanaan kita sebelumnya selalu mengajarkan pelajaran yang sederhana kepada kita. Ingat. Saat Ciputra memutuskan mengurusi proyek Senen ataupun menyulap pantai Ancol, banyak yang menganggapnya keputusan buruk. Namun, perjuangannya untuk menyukseskan keputusan itu membuahkan hasil yang spektakuler. Karena itu, pembaca, bagaimana nasib Anda pada tahun ini bisa diramalkan dari keputusan yang segera akan Anda buat ataupun yang tidak Anda buat! Keputusan di mana Anda akan berinvestasi, keputusan dengan siapa Anda akan bermitra. Keputusan siapa yang akan menjadi pendamping Anda. Keputusan strategi apa yang Anda akan jalankan. Itulah yang akan membentuk nasib Anda pada 2008. Dan jangan lupa, keputusan yang tidak Anda buatpun akan membentuk nasib Anda. Hanya saja, ketika Anda tidak membuat keputusan berarti Anda harus bermain dengan aturan yang diciptakan dari keputusan orang lain. Akhirnya, mari kita renungkan apa yang diucapkan oleh psikolog terkenal Wiilaim James, "When you have to make a choice and you don't make it, that itself is a choice." (ketika Anda harus membuat keputusan, tetapi Anda tidak melakukannya. Itu sendiri sudah merupakan keputusan). Tergantung Anda mau memutuskan untuk hidup Anda atau membiarkan orang lain yang memutuskan nasib Anda. Selamat Tahun Baru 2008! Sumber: Decide or Defeat! oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency
Kiriman: resonansi_2002 Pada awal tahun, ada baiknya kita berefleksi tentang kepemimpinan. Coba kita simak apa kata Peter Drucker tentang tugas pemimpin. Dia mengatakan bahwa tugas kepemimpinan adalah menciptakan keselarasan dari kekuatan-kekuatan yang ada, sehingga kekurangan-kekurangan yang ada menjadi tidak relevan. Berarti tugas pemimpin difokuskan kepada 'kekuatan', dan bukan pada kelemahan yang ada. Temukan kekuatan dalam organisasi, 'diolah' sedemikian rupa, sehingga kekurangan menjadi tidak relevan lagi. Fakta di lapangan acap mengatakan yang berbeda. Para pemimpin lebih fokus menemukan kekurangan organisasi, bukan kekuatannya. Cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatan adalah dengan mengapresiasi apa yang dimiliki, dalam sebuah budaya apresiatif. Dalam budaya yang apresiatif, pemimpin menginginkan anggota organisasi terinspirasi dan terlibat, dan sebaliknya organisasi menginginkan pemimpin yang mampu memberikan inspirasi serta perasaan keterlibatan dalam setiap aktivitas organisasi. Pemimpin yang apresiatif menyadari bahwa karyawan akan melakukan yang terbaik manakala mereka bekerja berdasarkan inspirasi sebagai hasil dari perhatian yang diberikan secara berkesinambungan terhadap kekuatan serta kesuksesan yang diraih. Hal ini berkebalikan dengan pemimpin yang hanya berfokus pada pencarian kesalahan dan masalah, sehingga secara tidak sadar mereka mematikan semangat serta mengabaikan kekuatan yang dimiliki dan kesuksesan yang pernah dialami, yang menyebabkan para bawahannya menjadi enggan untuk terlibat lebih dalam pekerjaan yang dilakukan. Pemimpin yang apresiatif membantu para karyawannya mengidentifikasi faktor-faktor penunjang perbaikan serta keberhasilan yang diraih, seperti kualitas produk yang meningkat, pelanggan yang puas, proses yang dikelola tanpa adanya kesalahan, dan sebagainya. Fray mengatakan bahwa pemimpin yang apresiatif memahami pentingnya menjaga organisasi agar tetap mengingat praktik-praktik terbaik dan kapabilitas inti yang dimilikinya. Mereka memanfaatkan waktunya untuk berbicara dengan karyawan mengenai impian serta kekuatan yang dimiliki, sehingga para bawahannya akan merasakan adanya semacam energi baru, serta lebih merasa percaya diri dalam jangka waktu yang lebih lama. Selanjutnya akan lebih menghidupkan peluang bagi terciptanya inovasi dan nilai tambah. Menurut Fray, jika para karyawan ini diminta untuk menggambarkan masa depan, mereka akan melakukannya dengan mengungkapkan ide-idenya dengan lebih jelas serta pemikiran yang lebih ekspansif. Pemimpin dalam organisasi yang apresiatif memastikan bahwa para bawahannya bekerja berdasarkan kekuatan serta memiliki tujuan yang melibatkan imajinasi yang mereka miliki. Pemimpin yang apresiatif lebih tertarik kepada kemungkinan-kemungkinan (possibilities) ketimbang solusi. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, menanyakan hal-hal apa saja yang bernilai, serta apa yang dapat dipelajari dari hal-hal tersebut. Mereka mengetahui saat-saat para bawahannya mengerjakan pekerjaan terbaik, memberi perhatian terhadap hal-hal yang telah berjalan dengan baik, serta memberikan suaranya terhadap aspirasi tertinggi organisasi. Menurut Ricchiuto, pemimpin yang apresiatif mendedikasikan dirinya guna membangun kepercayaan diri dan kekuatan para bawahannya melalui pertanyaan yang sifatnya memberdayakan serta cerita-cerita yang memberikan inspirasi. Pada saat mereka berbicara dengan orang lain, melaporkan kinerja, atau berpartisipasi dalam sebuah pertemuan, mereka berfokus pada apa yang telah berjalan dengan baik serta faktor-faktor pendukungnya. Manakala percakapan mengarah kepada hal-hal yang bertujuan mencari kesalahan dan kekurangan, mereka mengarahkannya kembali kepada perpektif apresiatif yang lebih produktif. Dorong kreativitas Keberhasilan kepemimpinan apresiatif terletak pada kemampuannya menciptakan kondisi yang mendorong berkembangnya kreativitas, ketangkasan (agility), dan kolaborasi. Para pemimpin apresiatif bekerja dengan keras dan cerdas guna menciptakan lingkungan yang melibatkan kekuatan dan imajinasi. Bagaimana membangun sebuah kepemimpinan yang apresiatif dalam sebuah organisasi? Sebagai langkah awal, menurut Bushe, adalah membangun mindset yang juga bersifat apresiatif. Namun, hal ini bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan dari kita cenderung lebih terbiasa melihat hal-hal yang kurang baik. Dalam sebuah organisasi, manajemen lebih sibuk mengidentifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dengan bagaimana kondisi yang semestinya, antara yang ideal dengan yang aktual, antara tujuan dengan kinerja saat ini. Kita lebih terpaku pada pemecahan masalah. Untuk membangun mindset yang apresiatif, pemimpin perlu bersentuhan dengan imajinasi, aspirasi, dan spirit para bawahannya. Peluang untuk mengungguli, membuat perbedaan, tumbuh dan berkembang, memaksimalkan potensi menjadi yang terbaik, menjadikan dunia menjadi lebih baik, mewujudkan impian yang dimiliki, memperoleh pengharapan baru, berhasil melebihi ekspektasi, menjadi bagian dari tim yang dinamis dan peduli, serta membuat kontribusi yang bernilai adalah hal-hal yang menjadi perhatian dari para pemimpin yang apresiatif. Membangun mindset yang apresiatif memang bukan merupakan hal yang mudah serta merupakan tugas yang harus dilaksanakan untuk waktu yang panjang. Mereka yang gagal menjadi pemimpin yang apresiatif adalah mereka yang berfikir bahwa kesuksesan dibangun di atas ketakutan dan pengendalian, serta berfikir bahwa semata-mata berfokus pada masalah merupakan cara yang paling produktif guna mencapai perbaikan. Melalui coaching, lingkungan, peluang, serta waktu yang tepat, maka pemimpin yang apresiatif dapat ditumbuhkan. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pemimpin yang menggunakan pendekatan yang bersifat apresiatif akan mendorong keterlibatan yang lebih dalam dari para bawahannya, yang selanjutnya akan meningkatkan kepuasan kerja serta memperbaiki produktivitas. Sumber: Kepemimpinan Apresiatif oleh A. B. Susanto, Managing Partner The Jakarta Consulting Group
By Zelig Pliskin [1] DON'T be obsessed with the people you can't help. Focus on the people you can. You are a mortal. You, like everyone else, are limited. Obsessing about what you can't do prevents you from thinking about things you can do. [2] DON'T let the lack of kindness and giving of others influence you to stop helping and giving. Some people feel resentful, "Other people aren't helping. Why should I?" We learn from role models. Learn from those who are kind, not from those who aren't. [3] DON'T keep trying to help someone who truly doesn't want your help. Some people are very independent. They could gain from accepting your help. But their need to be on their own is stronger than their wish for your help. Be aware that some people really want your help but are embarrassed about it. If you feel that is the situation, try to say things to put the person at ease. [4] DON'T give up too soon. Some people might think that you really won't be able to help them so they initially tell you not to bother. If you don't give up, both you and the other person will see that he will gain much more than he thought. [5] DON'T complain that other people keep asking you to do things for them. If others come to you for help, it's an expression that they believe you are a kind person. You might not be able to meet other people's needs right now, but by being aware of their needs, you might think of a creative solution. [6] DON'T tell anyone, "I had to go without this for a long time. So you also can go without it." Other people have a right to something even if you didn't always have it. If you don't want to help someone, just say a polite 'NO' [7] DON'T be hurt if a selfish person complains that you are selfish. Some selfish people try to manipulate giving people by telling them they are selfish. Perhaps you are being selfish. Then again, perhaps not. You might want to ask objective outsiders for their opinion. [8] DON'T be naïve. Don't believe every story you hear. If a story seems questionable, check it out. If you have good reason to believe that someone is lying to you, perhaps he is. But be very careful. Someone's sad story might not at first seem true, but it could very well be that it is. A person who loves kindness would rather err on the possibility of helping someone who doesn't need it rather than not helping someone who does. [9] DON'T say things that might cause someone to feel badly when you help him. Some people might say things such as, "This is so difficult for me to do. I don't know why I agreed to do this for you." Or, "This is the last time I'll commit myself to do this for anyone." [10] DON'T embarrass someone when you do something for him.. Be careful not to say or do anything in the presence of others that would cause distress to the person you are trying to help.
Oleh: Erwin Arianto Suatu hal kecil yang terkadang dilupakan orang dalam menggapai sukses adalah pengontrolan tingkah laku. pembelajaran tingkah laku adalah sebuah soft skill yang harus dimiliki seseorang dalam menggapai sukses, kenapa? Karena kita Sebagai Individu kita sering dinilai dari tinkah laku kita, manusia dapat dipengaruhi hidupnya oleh tingkah lakunya sendiri.jadi saya menyimpulkan bahwa pondasi dari sebuah kesuksesan adalah tingkah laku. Perlu diketahui bahwa tingkah laku yang kita miliki sekarang bukanlah sesuatu yang sudah ada sejak kita lahir melainkan suatu hal yang terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan kita masing-masing. Jika memiliki tingkah laku yang negatif, akan menjadikan kita sebagai batu sandungan bagi diri kita sendiri. Orang-orang dengan tingkah laku yang negatif akan menghadapi masa sulit dalam mempertahankan persahabatan, pekerjaan, pernikahan dan hubungan secara umum, maupun dalam menggapai mimpi. Karena kita tidak hidup sendiri didunia. Manusia adalah mahkluk sosial, yang akan selalu membutuhkan dan berinteraksi dengan sesama. Dan dalam menggapai sukses dan mimpi kita kita membutuhkan orang lain, jadi kita harus dapat mempuyai tingkah laku yang baik agar kita dapat menggapai mimpi atau sukses. Beberapa hal utama yang mempengaruhi tingkah laku seseorang adalah: 1. Lingkungan Yang disebut dengan lingkungan adalah mulai dari tempat tinggal kita (rumah), sekolah, kantor sebagai tempat kerja kita sehari-hari, media massa yang kita tonton/dengar/baca setiap hari, latar belakang kebudayaan, latar belakang agama, latar belakang tradisi, latar belakang kepercayaan, lingkungan sosial serta lingkungan politik. salah satu lingkungan baru adalah lingkungan virtual/internet, yaitu bisa berupa blog ataupun milist yang kita ikuti saat ini Di dalam lingkungan yang positif, output yang dihasilkan dari performa seseorang akan meningkat, sebaliknya di dalam lingkungan yang negatif, performa yang pada dasarnya sudah baik justru akan menghasilkan output yang kian menurun. Corak kebudayaan di setiap tempat selalu berawal dari kedudukan yang paling atas atau pimpinan kemudian mempengaruhi kedudukan yang lebih rendah di bawahnya, tidak pernah sebaliknya. Sebagai contoh, bilamana pemerintahan suatu negara dilingkupi dengan atmosfer yang penuh dengan kecurangan/kelicikan maka secara umum Anda akan menemukan bahwa orang-orang yang berada di bawah pemerintahan tersebut juga memiliki karakter yang tidak jauh berbeda, demikian sebaliknya. 2. Pengalaman Kebiasaan kita dalam bertingkah laku berubah seiring dengan pengalaman kita terhadap orang lain dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki pengalaman yang positif dengan seseorang, maka secara natural kita akan bersikap positif pula terhadap orang tersebut, demikian juga sebaliknya. 3. Pendidikan Pendidikan yang dimaksudkan di sini mencakup baik pendidikan formal maupun pendidikan informal, tidak sekedar jenjang akademik. Sering kali kita tidak menyadari bahwa kebutuhan kita terhadap informasi terpenuhi akan tetapi sangat kekurangan dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita bagaimana agar dapat tetap hidup tetapi juga bagaimana kita seharusnya menjalani hidup. Secara jujur, saya pribadi menyukai seseorang yang memiliki tingkah laku yang baik atau positif, dan menurut pengamatan saya seseorang yang bertingkah laku positif akan lebih mudah menggapai sukes, contoh tingkah laku positif adalah Seseorang yang ramah, Bersahabat, Suka Belajar, Suka menolong, Enak Untuk diajak tukar pikiran, selalu berpikir positif, ataupun tingkah positif lainnya. Karena seperti kita ketahui bersama bahwa tingkah laku seseorang terbentuk mulai pada saat dia lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang. Bagaimanakah cara membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif? Hal yang pertama adalah kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana agar kita bisa bertingkah laku positif, berikut tips yang menurut pengamatan saya dapat membuat kita bertingkah laku positif/baik. 1. Selalu Berfikir baik / berperasangka baik Dalam agama Kita biasanya dituntuk harus menjadi seorang yang baik. Kita harus fokus terhadap hal-hal yang positif di dalam hidup kita. Mulailah dengan melihat seseorang akan hal-hal yang baik, daripada mencari-cari kekurangan atau kesalahan yang terdapat pada orang tersebut. karena kalau kita terbiasa berfikir baik, tiada beban hidup yang akan kita terima terlalu berat. dan kita akan bisa beraktifitas atau melakukan sesuatu dengan baik 2. Lakukan sekarang, jangan menunda Sering kali kita melakukan penundaan terhadap hal-hal yang ada di dalam hidup kita, dan sering kali pula ketika kita mengetahui bahwa kita telah melakukan penundaan, hal tersebut malahan akan menyebabkan penyesalan di dalam diri kita masing-masing. Melakukan penundaan adalah hal yang buruk untuk dilakukan. Kebiasaan melakukan penundaan akan lebih melelahkan kita dibandingkan usaha yang diperlukan untuk menyelesaikannya.Sebuah tugas atau pekerjaan yang terselesaikan adalah sesuatu hal yang memuaskan dan membuat kita bersemangat, sebaliknya sebuah tugas yang tak terselesaikan sangatlah memboroskan tenaga layaknya seperti kebocoran. Janganlah kita menunda segala sesuatu hal yang dapat diselesaikan hari ini juga, karena hal tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kita menyesal. Jika Anda ingin membentuk serta mempertahankan tingkah laku yang positif, Anda harus membiasakannya mulai dari sekarang dan saat ini juga. 3. Selalu bersyukur Ketika seseorang yang oleh sebab kecelakaan atau pun penyakit yang dideritanya, orang tersebut mengalami kebutaan atau kelumpuhan bagian tubuh, tetapi pada akhirnya memenangkan sebuah hadiah yang nilainya ratusan juta rupiah. Berapa banyak dari kita yang ingin bertukar tempat dengannya? Tidak banyak. Mengapa? Karena kita terlalu sibuk untuk memperhatikan hal-hal yang tidak kita miliki seperti kehilangan penglihatan atau hal-hal lainnya.Perhatikanlah kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diri Anda, bukan masalah-masalah Anda atau pun kekurangan-kekurangan Anda. Terkadang kita selalu melihat kekurang-kekurangan atau yang tidak kita miliki, sehingga kita tidak dapat menysukuri atas apa yang telah kita miliki. contoh kadang kita jenuh dalam bekerja, apakah kita pernah berfikir orang yang punya pekerjaan. Memang hal ini disebabkan karena keinginan manusia yang tidak pernah terbatas. dengan bersyukur kita bisa menikmati apa yang kita punya, dan kan membentuk sebuah pola tingkah laku yang menyenangkan/positif 4. Mau Untuk terus Belajar Apakah kita benar-benar mendapat pendidikan di bangku-bangku sekolah atau sebuah perguruan tinggi? Mungkin sebagian akan menjawab ya, akan tetapi lebih banyak lagi yang akan menjawab tidak. Bukan berarti bahwa kita tidak memerlukan hal-hal yang dapat kita peroleh dari bangku sekolah, katakanlah informasi, pengetahuan, dan lain-lain. Akan tetapi kita perlu mengetahui hal yang sebenarnya dari sebuah pendidikan. Bagaimana caranya? Dengan melakukan kegiatan belajar secara kontinu terus-menerus baik itu dengan membaca buku, membaca sumber-sumber informasi lain seperti media cetak dan elektronik, serta menghadiri seminar-seminar untuk lebih melengkapi pengetahuan kita. Dan akan lebih baik lagi bilamana kitalah yang mengadakan seminar-seminar tersebut. Sebab dalam hal belajar dan mengajar, sebenarnya keuntungan yang lebih besar terdapat di dalam diri sang pengajar. Karena dengan melakukan hal tersebut, dia sedang melatih dirinya sendiri tentang seuatu subjek (latihan secara terus- menerus akan menuju kesempurnaan). dari contoh kecil, dengan terbiasa menulis mengirim tulisan dar milis hal ini memacu saya untuk terus belajar kembali, hal ini juga semakin saya memahami apa yang saya sebelumnya kurang mengerti. Dan dengan terus memacu otak saya untuk dapat menulis dan berbagi untuk sahabat, saya mengalami suatu pemahaman bahwa otak/pikiran manusia adalah sumber informasi yang tidak terbatas.maka saya menulis terus dengan modal keikhlasan tanpa pamrih. maka cobalah untuk terus belajar. Seseorang bisa dan mungkin menjadi sukses dengan atau tanpa pendidikan formal jika memiliki hal-hal berikut ini; karakter, komitmen, itikad, sopan-santun, keberanian dan semangat. dan jangan lupa pelajaran tidak hanya dibangku pendidikan formal, kita bisa belajar dari lingkungan, dari alam, dari masyrakat, dan dari manapun. 5. Menghargai diri sendiri/ Self-Esteem Apakah self-esteem tersebut? Self-esteem adalah bagaimana perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Ketika kita sendiri merasa bahwa diri kita itu adalah baik, maka performa kita akan meningkat seiring dengannya. Bagaimana kita membentuk hal tersebut? Cara yang paling cepat dalam melakukan hal tersebut adalah dengan melakukan sesuatu kepada seseorang yang tidak dapat dibalas dengan uang atau pun sejenisnya. Sebab di dalam dunia ini, manusia dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar, yaitu sang penerima dan sang pemberi. Sang penerima dapat makan dengan nyaman, akan tetapi sang pemberi dapat tidur dengan nyaman. Pemberi mempunyai self-esteem yang tinggi, sikap yang positif dan mereka melayani masyarakat. Saya menikmati menulis dan menjadi sahabat bagi semua. 6. Jauhi pengaruh Buruk Ada beberapa hal-hal yang harus kita hindari di dalam hidup kita ini, supaya kita tidak ikut tersejerumus ke dalamnya. Hal pertama yang harus kita hindari adalah orang-orang yang negatif. Tahukah Anda bahwa di dalam ilmu beladiri, Anda akan diajarkan untuk menghindari sebuah serangan. Jadi daripada Anda melakukan pertahanan (blocking), Anda akan dianjurkan untuk melakukan langkah menghindari. Mengapa? Karena untuk melakukan blocking Anda memerlukan tenaga. Jadi daripada menghabiskan tenaga untuk melawan lebih baik Anda menghindar. Sama halnya dengan ilmu bela diri tersebut, ketika Anda meladeni orang-orang yang ingin mencelakakan Anda atau ingin memberikan pengaruh negatif terhadap Anda, Anda harus menghindar. Tetapi untuk melakukan hal tersebut, hal yang harus Anda lakukan terlebih dahulu adalah menyadarinya. Jangan biarkan orang-orang yang negatif menjerumuskan Anda. Ingatlah bahwa karakter seseorang tidak hanya dinilai oleh tempat dia bekerja atau pun tempat-tempat yang sering dikunjunginya tetapi juga tempat-tempat yang tidak ia kunjungi. Hal lainnya adalah obat-obat keras dan alkohol, hal-hal ini sangatlah menjerumuskan kita. Seperti kita ketahui bahwa hal seperti meminum minuman keras menjadi suatu hal yang umum di mata masyarakat, mereka melakukannya untuk merayakan sesuatu, atau sekadar menemani teman, atau untuk menyenangkan hati bos ketika sedang menemaninya minum atau pun hanya untuk menghilangkan stress, ketahuilah bahwa hal tersebut dapat membawa kita ke dalam masalah-masalah baru yang tidak kita kehendaki dan akan makin menjerumuskan kita bila kita segera menyadarinya dan menghentikannya. Berikutnya adalah pornografi, tahukan Anda bahwa sebagian besar penyebab kasus pemerkosaan yang terjadi dewasa ini disebabkan karena sang pelaku telah mengonsumsi hal-hal yang berbau pornografi sebelum dia melakukan tindak kejahatan tersebut. Tontonan negatif. Contohnya adalah film-film yang sekarang beredar penuh dengan warna kekerasan, kejahatan, kriminalitas dan segala sesuatu yang berbau negatif. Hal ini akan membahayakan terutama bagi anak-anak karena pada masa mudalah seseorang itu justru lebih mudah terpengaruh. Hal lainnya adalah musik keras. Tahukan anda bahwa musik-musik keras yang kita dengar serta tontonan yang kita lihat secara tidak sadar akan mempengaruhi kita. Sebuah tes musik pernah dilakukan terhadap dua buah tanaman, yang satu didekatkan dengan radio yang memutar musik-musik keras, sedangkan yang lainnya didekatkan dengan musik yang memutar musik-musik klasik. Hasilnya? Tumbuhan yang pertama layu keesokan harinya, sedangkan yang lainnya tetap segar dan bahkan lebih segar. Menarik bukan?. Satu hal kritik untuk TV sekarang. Adakah tayangan yang layak untuk anak-anak, saat ini saya tidak mendapatkan lagu-lagu untuk anak-anak, dan lagu yang dinyanyikan anak-anak adalah lagu orang dewasa, sungguh ironi. 7.Mulailah untuk menyukai hal-hal yang kita perlukan Ada hal-hal yang perlu kita lakukan meskipun kita tidak menghendakinya, Contohnya seorang ibu yang harus menjagai anak-anaknya. Hal tersebut bukanlah permainan dan mungkin bahkan menyakitkan atau melelahkan. Akan tetapi jika kita belajar untuk menyukainya, hal yang tidak mungkin dapat menjadi hal yang mungkin. 8. Selalu Mulai Hari Dengan Positif Karena memulai hari dengan positif akan berpengaruh dalam kehidupan kesehariaan anda. dan dangan memulai melalui harihari yang positif anda telah memulai langkah awal anda menjadi orang bertingkah laku positif dan anda sudah memulai langkah awal menggapai mimpi anda. Membaca atau mendengar sesuatu yang positif di pagi hari akan melatih kita untuk merespon terhadap hal-hal yang positif di dalam hidup kita. Dan apabila kita melakukan dengan telaten, maka hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang pada akhirnya memberikan efek yang positif bagi diri kita sendiri. Cobalah bertingkah laku positif, dan anda akan merasakan perdaan yang luar biasa dalam kehidupan anda. tapi seperti biasa hidup adalah suatu pilihan, bagaimana anda memilih, untuk dapat bertingkah laku positif, dan mendapatkan hasil yang luar biasa, atau bertingkah laku negatif dan anda dapat merasakan sendiri apa yang akan anda dapatkan.Ayo kita mulai bertingkah laku positif Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah berdasarkan bekal keturunan, Pengalaman, pendidikan dan lingkungan. kita dapat memulai bertingkah laku positif dari lingkungan sekitar kita, seperti dirumah, kantor dan lingkungan sosial Anda. Dan bertingkah laku positif adalah sebuah langkah awal anda menggapai mimpi/sukses. "Tingkah Laku adalah hal kecil yang membawa perubahan besar dari hidup Anda"
Oleh: Erwin Arianto Dalam beberapa hari ini saya dituntut dengan kegiatan pekerjaan yang agak padat, sehingga dituntut untuk dapat berkonsentrasi penuh untuk mendapatkan hasil yang maksimal. yah saat ini sedang mempelajari dan mengimplementasi JSOX Sistem (Sebuah Regulasi baru di Jepang tentang penerapan sistem internal control atas laporan keuangan), tapi permasalahannya terkadang konsentrasi itu terganggu karena adanya hal-hal lain yang harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Dalam mengerjakan sesuatu, dalam menggapai mimpi, menggapai sukses kita akan dituntut dengan konsentrasi yang tinggi, mengapa konsentrasi dibutuhkan. Kemampuan kita dalam berkonsentarsi akan mempengaruhi kecepatan dalam menangkap materi yang kita butuhkan. Seorang pelajar / mahasiswa yang punya kemampuan bagus dalam berkonsentrasi akan lebih cepat bisa menangkap materi yang seharusnya ia serap. Seorang karyawan yang bisa berkonsentrasi, ia akan cepat menangkap (menguasai) berbagai jenis keahlian yang ia butuhkan. 1. Konsentrasi, adalah sumber kekuatan. Apa hubungannya antara konsentrasi dengan kekuatan? Satu dari sekian penjelasan yang bisa menggambarkannya itu adalah cara kerja pikiran. Konon, pikiran kita akan bekerja berdasarkan "ingat" dan "lupa". Pikiran kita tidak bisa bekerja untuk lupa dan untuk ingat dalam satu waktu. Lupa dan ingat akan dilakukan secara bergantian dalam tingkat kecepatan yang sangat maha super. Kalau anda ingat kebaikan orang, saat itu juga kita melupakan kejelekannya. Sebaliknya, kalau kita mengingat kejelekannya, maka saat itu juga kita melupakan kebaikannya. Teori Neouroscience-nya mengatakan bahwa otak manusia ini berubah sesuai dengan penggunaan. Kemana kita mengarahkan konsentrasi akan diikuti dengan perubahan struktur fisik otak itu (Neuroscience, Funderstanding, 1998-2001) 2.Konsentrai meningkatkan ketahanan. Kaitan konsentrasi dengan katahanan seseorang terletak pada porsi dan frekuensinya. Kalau pikiran ini lebih sering kita gunakan untuk mengingat atau melihat hal-hal positif dari diri kita, dari keadaan dan dari orang lain di sekitar kita, maka kesimpulan yang tercetak di dalam diri kita adalah kesimpulan positif. Kalau sudah kesimpulan ini yang terbentuk, maka energi yang muncul adalah energi positif. Kekuatan dalam menghadapi kerasnya kenyataan hidup ini terkait dengan energi positif. Ketika kita gagal, Jika yang kita ingat dan yang kita lihat adalah sisi-sisi yang mengecewakan dari kegagalan itu dan dari keadaan itu, maka sekuat apapun fisik kita pasti akan terasa berat untuk melangkah ke opsi lain. Akan beda rasanya ketika kita masih bisa melihat opsi dan alternatif lain atau bisa mengingat-ingat tujuan hidup kita dalam potret yang lebih besar (perspektif jangka panjang). Meski kegagalan itu tetaplah kegagalan, tetapi energi yang keluar dari diri kita berbeda. Yang satu menambah kekuatan dan yang satunya malah mengurangi kekuatan. Untuk bisa mengingat yang positif, untuk bisa cepat melupakan hal yang negatif, dan untuk bisa melihat yang positif, tentu ini terkait dengan kemampuan berkonsentrasi. Mahatma Gandhi menggunakan teknik "ingat" dan "lupa" untuk memperkuat perjuangannya. Ketika dirinya hampir mau putus asa menghadapi penjajahan, Gandhi kemudian memprogram pikirannya untuk ingat bahwa perjuangan menegakkan kebenaran itu selalu akan berakhir menang meski kelihatannya kalah di babak awal. Dengan kata lain, ketahanan seseorang itu tidak semata-mata terkait dengan kekuatan fisiknya. Bukti-bukti yang ada lebih sering menunjukkan bahwa ketahanan itu terkait dengan kemana seseorang memfokuskan konsentrasinya. Konsentrasi, karena itu disebut sumber kekuatan. Kalau anda melihat kesulitan sebagai sebagai kesulitan, ini rasanya seperti bara api. Tapi kalau kita melihat kesulitan sebagai rangkaian yang terpisahkan dari tujuan yang kita inginkan, ini rasa-batinnya akan beda. Kesulitan di sini kita anggap sebagai tantangan bukan sebagai tekanan. 3. Keseimbangan Semakin bagus kemampuan Anda dalam berkonsentrasi, maka semakin cepat Anda bisa menangkap signal dari dalam diri tentang apa yang kurang, apa yang kebablasan, apa yang perlu dilakukan atau apa yang perlu dihindari, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan ini semua maka hidup kita cepat seimbang atau stabil. Sopir yang punya kemampuan berkonsentrasi bagus akan tajam sensitivitasnya. Kalau membaca penjelasan para ahli seputar Kecerdasan Multiple (Multiple Intelligence), konsentrasi ini terkait dengan apa yang mereka sebut dengan istilah Intra-personal intelligence, yaitu: kemampuan seseorang untuk bisa "connect" dengan dirinya Sebenarnya tidaklah mudah untuk bisa mempertahankan konsentrasi dengan baik..Ada banyak hal yang dapat membuat konsentrasi seseorang melemah ataupun menjadi pecah, dan akhirnya setiap karya seseorang tidak memberikan hasil yang maksimal. Agar konsentrasi bisa tetap terjaga, bbeberapa hal bisa kita lakukan: · Sebelum kita mulai melakukan aktivitas, sedapat mungkin hindarilah hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi kita
|
|