Catila's posts with tag: oalaaah indonesia-ku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag oalaaah indonesia-ku
Blog EntryNdesoMay 4, '08 4:24 AM
for everyone
Oleh : Ika S. Creech *)

 

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

 

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

 

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

 

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia . Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

 

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand . Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

 

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

 

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

 

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid.

 

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.

 

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

 

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!

 

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :

·         Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp

·         Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok

·         Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas

·         Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan

·         Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala

·          Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya

·         Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah

·          Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur

·         Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald

·         Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.

·         Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja

·          Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.

·         Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor

·         Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar

·         Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan

·         Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang juga digandeng

 

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

 

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis


Blog EntryPasarku adalah RumahkuJan 26, '07 9:27 PM
for everyone

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/26/sorotan/3266502.htm

 

Lepas tengah malam, ritme kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati yang cepat berangsur melambat. Para buruh yang semula berjalan tergesa-gesa mengangkut sayuran mulai bersantai di los tempat mereka bekerja. Ada yang mengobrol, menonton televisi, atau rebahan di lantai.

 

Geliat kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta Timur, berkebalikan dengan kehidupan normal. Pada saat sebagian besar orang sudah terlelap, buruh angkut dan pedagang baru bisa bersantai. Wajah kuyu dan sorot mata redup menjadi kebalikan tubuh-tubuh berotot para buruh angkut.

 

Mereka melepaskan penat dengan rebahan di sela-sela tumpukan sayuran maupun di atas atap kios dari papan kayu. Alas tidur mereka hanya lembaran kardus dan kertas koran.

 

Buruh angkut dan karyawan los memilih tidur di pasar karena tidak perlu membayar sewa tempat tinggal. Maka, pasar pun menjadi rumah besar bagi ratusan perantau dari berbagai daerah yang menggantungkan hidup di PIKJ.

 

"Berat rasanya saat pertama kali tidur di pasar. Lantainya dingin, pasarnya bising. Siapa pun yang baru pertama kali tidur di pasar pasti susah tidur, masuk angin, pusing, dan demam," tutur Eman Suherman, pedagang kentang dari Tasikmalaya.

 

Sejak lulus sekolah dasar, 19 tahun lalu, Eman merantau ke Jakarta dan tinggal di PIKJ. Berawal dari buruh angkut di los kentang milik saudaranya, Eman belajar berdagang hingga akhirnya menjadi juragan kentang seperti sekarang.

 

Pengalaman Firman tak jauh berbeda. Karyawan los bawang merah asal Sumatera Utara itu memilih tidur di pasar karena tak mampu membayar indekos. Jika indekos, biaya sewa kamar ukuran 2 meter x 3 meter sekitar Rp 125.000 per bulan.

 

"Kalau tidur di pasar, saya bisa menyisihkan sedikit uang untuk disimpan," ungkap Firman yang sudah 12 tahun tinggal di PIKJ.

 

Penghuni pasar

 

Firman, Eman, dan ratusan buruh angkut di PIKJ saat ini sudah menikmati nyenyaknya tidur di pasar berbantal pakaian. Keramaian pasar sudah menjadi musik pengantar tidur bagi mereka. "Bila lagi nginap di rumah teman, saya malah sulit tidur karena sepi," tutur Firman.

 

Namun, buruh yang tinggal di pasar harus terbiasa dengan minimnya fasilitas rumah. Pakaian dan peralatan mandi, misalnya, cukup disimpan dalam kantong plastik yang digantung pada pagar pembatas antarlos.

 

Geliat kehidupan di PIKJ adalah salah satu potret perjuangan hidup di tengah kota besar Jakarta. Setiap orang mempunyai kiat untuk bertahan hidup.

 

Ikin (26) adalah salah satunya. Karyawan los sayuran Dian Putra ini, dengan penghasilan yang kadang hanya Rp 10.000 per hari, terpaksa mandi dua hari sekali. Sekali mandi, lajang itu harus membayar Rp 1.000.

 

Agar lebih hemat, Ikin dan dua temannya berpatungan membayar jasa cuci pakaian Rp 4.000 sehari. Mereka pun berpatungan membeli air minum Rp 12.000 per hari.

 

Semua kebutuhan di pasar memang harus diganti dengan rupiah. Para buruh tidak memiliki waktu untuk memasak apalagi mencuci pakaian. Waktu yang ada tersita untuk mengejar rezeki. Sisa waktu antara pukul 02.00 dan pukul 06.00 digunakan untuk tidur agar badan tetap fit.

 

Jika punya uang berlebih, sejumlah pedagang dan buruh memanfaatkan jasa pijat dan urut. Lepas tengah malam, tukang pijat berkeliling menjajakan jasanya dengan upah Rp 15.000-Rp 20.000 per 1,5 jam.

 

Jasa pijat dan urut banyak diminati karena bagi sebagian orang bisa mengembalikan vitalitas tubuh. Namun, sebagian orang justru menghindarinya karena takut ketagihan.

 

"Saya enggak mau pijat supaya tidak merasakan nikmatnya. Kalau ketagihan, uang bisa habis," kata Ikin yang memilih mengobati penat dengan tidur.

 

Ada juga jasa pijat "hiburan" bagi lelaki. Selepas pukul 20.00, belasan perempuan pemijat dan pekerja seks komersial sudah menanti pelanggan di balik pilar los daging dan ikan yang tengah dibangun di sisi timur PIKJ.

 

Karyawan los sayuran ESB, Asep Yayat, menyebutkan bahwa hiburan di PIKJ bermacam-macam. "Mereka yang tidak kuat mengontrol diri, ya bisa cari yang aneh-aneh. Kalau saya lebih suka menonton TV, mendengarkan musik, atau tidur," tuturnya.

 

Menabung untuk anak

 

Menahan keinginan mencari hiburan adalah salah satu cara untuk menabung. Uang yang terkumpul dikirim ke kampung untuk biaya hidup keluarga dan sekolah anak. Itu, misalnya, dilakukan Kusmini, pedagang sayuran asal Tegal, Jawa Tengah. Ia berhemat ekstra ketat supaya ketiga anaknya, Teguh (15), Asriyati (12), dan Iskaniah (10), bisa terus sekolah. Padahal, hasil yang diterimanya sehari bekerja hanya Rp 15.000 hingga Rp 25.000.

 

"Jangankan jalan-jalan cari hiburan, buat makan saja seadanya. Kalau bisa, sehari nabung sedikitnya Rp 10.000," ungkapnya.

 

Mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik menjadi semangat hidup para penghuni PIKJ. Biarpun angin malam menyesaki paru-paru dan badan bungkuk gara-gara mengangkut beban berat, pekerjaan itu tetap mereka lakoni untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan Jakarta. (LIA/NIT/MHD/ANG)


Blog Entry1/3 TAHUN LIBUR!Jan 14, '07 1:35 AM
for everyone

Oleh: Christovita Wiloto

Managing Partner Wiloto Corp Asia Pacific

powerpr@wiloto.com www.wiloto.com

 

Terlalu banyak hari libur pada 2006 ini. Dalam satu tahun penuh total hari libur sabtu, minggu serta hari besar keagamaan dan nasional mencapai 119 hari. Sementara total hari kerja hanya 246 hari saja, itupun hanya sekitar 8 jam sehari kita produktif bekerja, belum lagi ditambah berbagai kemacetan lalu lintas yang sangat menyita waktu produktif kita.

 

Total 119 hari libur ini sama dengan 33% dari total waktu yang ada dalam setahun, dan 48% atau hampir setengah dari total hari kerja dalam setahun. Luar biasa! Artinya, selama kita dibius, bahkan hampir dibunuh, dengan libur yang terlalu melimpah.

 

Angka itu membengkak lagi jika dimasukkan 'hari kejepit' yang juga kerap kita klaim sepihak untuk tidak bekerja. Tahun 2006 sedikitnya ada sekitar enam hari kerja yang berkategori 'hari kejepit' tadi. Sehingga total, pada tahun 2006 lalu, kita bisa menfaatkan 126-an hari untuk liburan.

 

Tidak akan berbeda di tahun depan, 2007. Pemerintah kembali memberlakukan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2007. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No 481 Tahun 2006, ditetapkan 13 hari libur nasional dan 6 hari libur sebagai cuti bersama selama tahun 2007.

 

Konsep cuti bersama pada dasarnya diambil dari hari yang terjepit antara hari libur nasional dengan libur akhir pekan, yang jatuh pada hari Jumat, menjelang atau setelah hari libur nasional.

 

Yang menarik, adalah kebiasaan unik kita yang selalu berpanjang-panjang ria dengan liburan yang melimpah tadi. Artinya, meski seharusnya sudah berstatus masuk kerja, tapi kita tetap belum benar-benar siap untuk kembali bekerja secara produktif.

 

Secara fisik memang kita sudah berada di kantor, tapi otak dan hati kita masih libur. Celakanya, untuk mengaktifkan kembali otak dan hati itulah yang biasanya jauh lebih sulit.

 

Sekadar perbandingan, di Jepang hanya ada 15 hari libur nasional. Walau itu belum termasuk libur khusus yang berhubungan dengan musim. Ini lantaran masyarakat Jepang banyak memasukkan agama dan kepercayaan yang diyakininya dalam aktivitas sehari-hari. Namun secara total jumlahnya tak sampai 100-an seperti di Indonesia.

 

Sementara para pekerja di Cina, hanya bisa menikmati libur panjang pada Labour Day. Itu pun rata-rata paling lama hanya sekitar 8-10 hari. Namun, secara umum warga Cina juga punya masa libur panjang selama 15 hari yang merupakan hari libur paling penting pada awal tahun anjing.

 

Di Korea Selatan juga tak terlu banyak hari libur. Meski ada hari-hari khusus yang ditetapkan sebagai hari libur nasional. Misalnya, Tahun Baru Imlek dan Hari Bulan Purnama. Saat itu masyarakat Korea bisa menikmati liburan, masing-masing, selama tiga hari berturut-turut.

 

Khusus libur akhir tahun dan lebaran di Indonesia, sering kali bisa lebih lama dari jumlah libur resmi. Apalagi kalau waktunya mepet ke akhir pekan. Kitapun kerap memanfaatkannya untuk cuti besar. Sehingga kita bisa tenang berkunjung ke sanak saudara yang ada di kampung.

 

Uniknya, liburan yang lebih panjang lagi bisa dinikmati oleh wakil-wakil rakyat kita yang ada di Senayan dan bergaji luar biasa besar. Selain libur resmi nasional mereka juga leluasa menikmati masa reses pada setiap akhir masa persidangan, yang masing-masing selama dua pekan.

 

Kalau setahun ada empat kali masa persidangan, berarti anggota DPR kita juga akan mendapat empat kali liburan masa reses. Lamanya, empat kali dua pekan atau 48 hari. Biasanya mereka memanfaatkan waktu untuk melancong atau studi banding luar negeri.

 

Lucunya, pernah anggota DPR kita studi banding ke parlemen Belanda. Sayang saat itu parlemen Belanda malah sedang libur. Jadinya, rombongan wakil rakyat kita 'terpaksa' hanya ikut liburan sambil berbelanja.

 

Introspeksi

 

Memasuki tahun 2007. Di awal tahun ini, biasanya merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi. Mengevaluasi kesalahan apa saja yang kita lakukan tahun lalu, serta mencari solusi tepat untuk memperbaikinya tahun depan.

 

Atau, kita perlu mempertanyakan kepada diri sendiri, kenapa kita tak bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk keluarga kita. Atau kenapa kita tak mampu mengoptimalkan waktu untuk meraih sukses sebesar-besarnya. Padahal, sepanjang tahun kita punya berlimpah waktu untuk melakukan semua itu.

 

Nah, menyimak fenomena seperti itu, rasanya kita memang perlu introspeksi. Kapan bangsa kita ini bisa menjadi bangsa yang besar, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini? Kalau kita selalu lebih mementingkan liburan dari pada bekerja keras?

 

Bangsa-bangsa lain telah bangun dan bekerja keras, ketika kita masih tertidur dan berlibur. Dan bangsa-bangsa lain masih bangun dan bekerja keras, ketika kita sudah tertidur dan berlibur.

 

Selamat tahun baru 2007. Semoga di tahun 2007 kita dan bangsa kita menjadi lebih bijaksana.


http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/02/metro/3138008.htm

 

 

Jakarta, Kompas - Mulai hari Senin (4/12) setiap pengendara sepeda motor wajib melaju di lajur kiri dan menyalakan lampu di siang hari. Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Komisaris Besar Djoko Susilo mengatakan, peraturan ini berlaku di seluruh DKI Jakarta dan daerah sekitarnya, yaitu Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi.

 

Menurut Direktur Lalu Lintas (Dirlantas), ini bukan baru, melainkan kembali menegakkan peraturan yang telah ada, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan serta Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2003. "Tujuannya, untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan," kata Djoko, Senin.

 

Berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, sejak Januari hingga Oktober tahun ini terjadi 4.206 kecelakaan lalu lintas (laka lantas), 3.286 di antaranya melibatkan kendaraan roda dua.

 

Laka lantas meningkat setiap tahun seiring meningkatnya jumlah kendaraan roda dua. Tahun ini terdapat 7.840.671 kendaraan bermotor di seluruh Jabodetabek, 5.194.011 di antaranya adalah sepeda motor. Khusus di DKI Jakarta terdapat 4.276.133 kendaraan bermotor, 2.718.864 di antaranya adalah sepeda motor.

 

Banyaknya pengendara sepeda motor juga diimbangi peningkatan jumlah pelanggaran lalu lintas. Pengendara motor sering kedapatan melaju maupun menyalip di bahu jalan, di lajur tengah dan kanan, serta sering ditemui para pengendara ini seenaknya melawan arus.

 

Perilaku menyimpang ini menjadi pemicu utama kecelakaan. Menyalakan lampu di siang hari menjadi penanda keberadaan sepeda motor dan mudah dilihat pengendara lain melalui kaca spion.

 

Demi kenyamanan semua pengendara, sepeda motor diberi ruang tersendiri di lajur kiri. Kendaraan roda empat hanya boleh berada di lajur ini jika akan belok atau berhenti.

 

Simulasi dan sosialisasi tahap awal peraturan ini sudah dilakukan dua pekan terakhir. Hasilnya, tingkat kecelakaan dipastikan menurun lebih dari 20 persen dibandingkan dengan dua pekan pertama bulan November.

 

Untuk pelaksanaan Senin nanti diakui masih kekurangan rambu-rambu, marka jalan, dan jumlah personel polisi. Dirlantas Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat bersedia bekerja sama.

 

Pada pekan-pekan awal masa sosialisasi tidak akan ada sanksi tilang bagi yang melanggar. (nel)


Blog EntryOverdosis Kompetisi Dec 3, '06 1:06 AM
for everyone

Oleh Bayu Prawira Hie

Executive Director Intellectual Business Community, Dosen Program Magister Manajemen IPMI

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/01/opini/3135986.htm

 

Setelah kunjungan Presiden AS George W Bush, Indonesia kembali dikunjungi oleh seorang Amerika terkenal, Michael E Porter, Guru Besar Strategi Harvard Business School. Pengaruh Porter terhadap dunia bisnis dunia jauh lebih kuat daripada Bush. Porter sangat dikagumi di seluruh dunia atas pemikiran strategi kompetisi di bidang bisnis yang kemudian meningkat menjadi strategi kompetisi antarnegara.

 

Kompetisi menjadi buzzword yang telah merasuki pemikiran setiap orang, bukan saja di aras negara, bisnis, tetapi sampai personal. Kesadaran kompetisi membuat setiap orang waspada terhadap keadaan sekelilingnya dan memacu orang untuk lebih maju daripada orang lain. Tanpa ada kesadaran kompetisi, orang akan terlena dengan keadaannya, dan kemajuan-kemajuan prestasi dunia pun tidak akan secepat sekarang.

 

Kompetisi merupakan perlombaan egosentris untuk membuat semua yang berhubungan dengan "saya"—diri saya, perusahaan saya, negara saya, dan seterusnya — harus lebih unggul daripada yang lain.

 

Kunci sukses bisnis

 

Paham kompetisi begitu dalam di dunia bisnis sehingga pedoman yang dianut adalah keunggulan berkompetisi merupakan kunci dalam kesuksesan berbisnis. Bahkan sangat umum menganalogikan bisnis itu seperti perang, di mana untuk terus hidup dan berjaya, musuh harus ditaklukkan atau dibunuh.

 

Karena itu, hampir seluruh pemikiran dan usaha di bidang bisnis difokuskan pada bagaimana mengungguli pemain yang ada di depan kita dan mengunci pemain di belakang kita agar tidak punya kesempatan mengejar kita. Pemikiran maju seperti Blue Ocean Strategy Profesor Kim pun sebenarnya bersentral pada kompetisi, yaitu cara menghindari arena kompetisi sengit dengan membuat arena baru sehingga "meninggalkan" pemain lain.

 

Ketakutan pada persaingan yang mengarah pada paranoia telah menjadi gejala umum dari para pebisnis, di Singapura dikenal sebagai istilah kia-su, yang berarti "takut kalah", yang sebenarnya bukan hanya terjadi di Singapura. Di seluruh dunia kia-su telah menyebabkan dunia bisnis merupakan dunia yang penuh sakit kepala dan sulit tidur.

 

Kebersamaan dalam bisnis

 

Adakah kebersamaan dalam dunia bisnis? Ada. Dalam dunia bisnis ada suatu pemeo terkenal, yaitu kalau Anda tidak sanggup melawan (pesaing Anda), jadikanlah ia kawan. Kalau Anda sanggup? Bunuh! Sedemikian culasnya ajaran tersebut sehingga jika ada perkawanan, itu merupakan alat strategi bersaing. Strategi aliansi juga merupakan suatu bentuk perkawanan di dalam dunia bisnis, dengan tujuan… memenangi persaingan. Jadi kebersamaan lahir apabila diperlukan dalam bersaing.

 

Sedemikian kejamnyakah seharusnya dunia bisnis? Begitulah konsep yang dianut sehingga ketika Adam Brandenburger dan Barry Nalebuff pada tahun 1996 menulis buku berjudul Co-opetition berisi konsep memadukan kompetisi dan ko-operasi di pasar, buku itu menjadi best-seller karena dianggap sebagai pola pikir revolusioner. Buku ini menyumbangkan pemikiran nilai kebersamaan dalam dunia bisnis yang bisa membuat orang yang membacanya dapat menghargai kebersamaan setara dengan persaingan. Namun, rupanya pemikiran Brandenburger dan Nalebuff tidak cukup kuat mengubah naluri kompetisi yang sudah melekat erat dalam dunia bisnis yang sejalan dengan suburnya egosentris kapitalisme.

 

Kebersamaan dalam kompetisi, atau kompetisi dalam kebersamaan? Adakah bedanya? Dalam kenyataannya, kebersamaan dan kompetisi hidup bersama dan saling mengisi, bagaikan warna putih dan hitam dalam simbol Yin-Yang. Dalam berkompetisi, diperlukan kerja sama untuk menang. Dalam kerja sama, diperlukan kompetisi untuk mempererat. Perbedaannya adalah terletak dalam psikologi pelakunya.

 

Kawan atau lawan?

 

Cara berpikir kebersamaan dalam kompetisi akan membuat pelakunya sadar bahwa kawan yang dimilikinya setiap saat dapat menjadi lawan yang akan membunuh atau dibunuhnya. Hidup ini akan terasa sepi pada saat kita menyadari tidak ada kawan sejati. Sedangkan cara berpikir kompetisi dalam kebersamaan akan membuat kompetisi menjadi suatu hal yang seru dan menyenangkan bagaikan pertandingan olahraga dengan sahabat. Apa pun yang terjadi, sukacita dan damai tetap ada dalam hati.

 

Mungkinkah? Apabila kita memperlakukan pemain bisnis lain sebagai sahabat kita, akankah mereka memperlakukan kita juga sebagai sahabat? Tidakkah kita malah menjadi lengah dan menjadi sasaran kecurangan mereka? Memang dalam dunia bisnis yang telah diracuni kompetisi egosentris kapitalisme sulit ditemukan persahabatan sejati. Kalaupun kita ingin membinanya, kita harus berusaha mengubah pikiran kita sendiri, menularkannya kepada orang lain, memakan waktu yang tidak sedikit, dan rela menanggung risikonya, termasuk sekali waktu dikhianati.

 

Memang tidak mudah dan berisiko, karena untuk memukul orang lain, kita hanya memerlukan satu tangan yang di bawah kendali kita, tetapi untuk bergandeng tangan diperlukan juga tangan orang lain yang di luar kendali kita. Namun, mungkin kita harus bertanya kepada diri kita, apakah yang kita cari dalam hidup, kedamaian atau kemenangan?

 

Life without competition is complacence, life full with competition is sleepless. Life without cooperation is lonely, life full of cooperation is peaceful.

 

Bayu Prawira Hie Executive Director Intellectual Business Community, Dosen Program Magister Manajemen IPMI


Blog Entry"Smack Down" TV KitaDec 3, '06 1:00 AM
for everyone

Oleh Sunaryono Basuki Ks

Sastrawan, Tinggal di Singaraja

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/01/opini/3134542.htm

 

Ketemu sudah kesempatan untuk mendemo TV kita. Kalau untuk beberapa lamanya penonton dibuat jengkel dengan acara TV yang terasa membodohi kita, tetapi tak ada alasan buat memprotesnya, maka kini acara SmackDown bisa dijadikan sasaran.

 

Apalagi di Bandung ada anak tewas, katanya, gara-gara kena smack down temannya sehingga pihak TV yang menanyangkan acara SmackDown harus datang ke Bandung dan menerima serangan pedas. Di Kulonprogo, Yogyakarta, Maryunani harus dirawat di rumah sakit lantaran kena smack down teman-teman sekelasnya. Orang menyalahkan dampak buruk tontonan bagi anak-anak.

 

Acara baru?

 

Acara SmackDown bukanlah barang baru bagi penonton TV di Tanah Air.

Pada dekade yang lalu, acara ini ditayangkan pada siang hari dan ditonton baik orangtua maupun anak-anak. Seorang teman saya selalu menceritakan kepuasannya menonton acara ini yang berisi adegan-adegan seru, tendang, banting, tubruk, dan tindih. Dia lebih puas menonton acara ini dibanding menonton acara pertandingan tinju tingkat apa pun. Dia juga percaya bahwa semua adegan dalam acara ini benar-benar dilakukan dengan serius: memukul, membanting, menubruk, dan

menendang.

 

Dia tak membayangkan bahwa sebenarnya dia sedang menyaksikan sebuah tontonan, yang memang dimaksud untuk memuaskan keinginan-keinginan hewani manusia: sadisme, nafsu saling membunuh, menyakiti, serta melukai. Dan para pelaku tontonan tersebut memang dibayar untuk kelihatan bersungguh-sungguh melakukannya. Berbeda dengan acara pertandingan tinju, atau bela diri lain. Mereka memang bertanding, tidak berpura-pura bertanding. Kalau petinju cuma berpura-pura lantaran kalah pun dia dibayar, penonton mencapnya sebagai "main sabun".

 

Pada dekade yang lalu tak terdengar ada korban dari penonton yang jatuh kena smack down walaupun acara disiarkan pada siang hari. Tidak

ada pula protes. Apakah memang musim protes dan demo belum tiba karena kontrol penguasa yang ketat? Apalagi stasiun TV yang menayangkannya juga milik keluarga penguasa?

 

Persaingan bisnis

 

Ada yang menduga hal ini disebabkan oleh persaingan bisnis. Memang, persaingan bisnis kotor. Pada setiap bidang ada persaingan. Jual koran saja perlu mengancam pengecer agar tak menjual koran pesaing. Rokok? Tahun 1967, ketika saya menjadi guru di sebuah kota kecil Kepanjen di selatan Malang, saya mendengar persaingan kotor.

 

Di kota ini diproduksi rokok keretek dengan cap Si Kuncung dan Si Kuncung Istimewa, meniru nama majalah anak-anak pimpinan Soedjati SA yang punya tiras sampai 100.000 eksemplar. Rokok ini sangat digemari dan produksinya meningkat. Makin hari permintaan mengalir dan produksi terus ditingkatkan. Namun, tiba-tiba rokok tak laku. Banyak pesanan yang dikembalikan, sementara produsen sudah telanjur pinjam modal ke bank. Akhirnya pabrik tutup: bangkrut. Ternyata, pesaingnya memborong rokok produksinya, lalu menyimpannya di tempat yang lembab, dan ketika rokok sudah menjadi lembab, dia menjualnya. Karuan saja pembeli menjauh dan penjualan jatuh.

 

Acara SmackDown lantaran sudah bolak-balik ditayangkan, harga sewanya murah, tetapi penggemarnya masih banyak. Acara tersebut sekarang disiarkan pukul sepuluh malam, dengan tujuan agar tak ditonton anak-anak. Tampaknya acara murah yang murahan ini menggeser rating acara TV lain yang justru dengan biaya mahal. Bukan mustahil pihak yang merasa disaingin berusaha "menggeliat" dengan berbagai cara.

 

Kalau ada anak-anak yang jadi korban, pasti ada yang salah dengan keluarga si anak, yang membiarkan anak menonton TV saat seharusnya sudah tidur. Namun, akses anak-anak terhadap acara SmackDown tampaknya bukan dengan TV, tetapi dengan permainan yang sudah "mendesa", yakni playstation yang menyediakan juga acara SmackDown. Bermain playstation tak perlu tunggu malam hari. Lihat saja tempat persewaan playstation yang selalu dipenuhi anak-anak.

 

Kalau begitu, apakah sekarang kita menyalahkan dioperasikannya penyewaan playstation? Apakah program-programnya pernah disensor? Apa yang salah dengan negeri kita yang sudah di smack down oleh berbagai masalah ini?


Blog EntryKepemimpinan EfektifDec 3, '06 1:00 AM
for everyone

Kiriman: Ida arimurti

 

Dalam waktu seminggu, dua tamu dengan nama besar mengunjungi Indonesia. Yang seorang dari kalangan bisnis, satunya lagi dari dunia politik. Chief Executive Officer General Electric Jeffrey R. Immelt datang untuk keperluan perusahaannya, sementara Corazon Aquino, mantan presiden Filipina yang terkenal karena perjuangannya menghadapi diktator Ferdinand Marcos, memberikan kuliah umum di sebuah perguruan tinggi.

 

Aquino, sekarang sebagai orang biasa, tetap sama. Dia selalu apa adanya. Namun, kebersahajaan presiden Filipina periode 1986-1992 itulah yang menjadi kekuatannya sebagai pemimpin politik. Sikap Aquino yang tanpa pretensi membuatnya tetap disegani saat dia bukan orang penting lagi di negaranya.

 

Perjalanan hidupnya tidak biasa-melompat dari seorang ibu rumah tangga, memimpin gerakan politik melawan presiden yang sangat berkuasa, dan kemudian menjadi presiden-sehingga rasanya pantas jika orang menyimak apa yang dikemukakannya tentang kepemimpinan dan kehidupan.

 

Sedangkan Jeffrey R. Immelt mencapai posisi puncak di GE lima tahun lalu melalui jalan yang panjang. Dia harus konsisten menjaga kinerjanya sebelum ditunjuk memimpin sebuah konglomerasi berusia lebih dari satu abad, dengan ratusan perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, dan ratusan ribu karyawan.

 

Immelt menarik perhatian karena dia menggantikan Jack Welch, CEO yang legendaris. Orang bertanya-tanya, mampukah Immelt lepas dari bayang-bayang kebesaran Welch dan muncul dengan originalitas dirinya sendiri? Hanya dalam waktu singkat, Immelt mampu menjawab keraguan orang. Dia kini menjadi salah satu CEO yang disegani.

 

Ketika berada di Jakarta pekan lalu, Immelt banyak bicara tentang China dan India. Dia menilai pemimpin di kedua negara itu dengan sadar menyesuaikan kebijakan mereka dengan perkembangan global.

 

Birokrasi dipangkas, korupsi diberantas, demi terciptanya iklim bisnis yang sehat. Pada level sumber daya insani (human capital), misalnya, mereka menyediakan tenaga kerja trampil yang dibutuhkan oleh dunia usaha.

 

China, misalnya, memusatkan program pendidikannya pada politeknik yang tersebar di seluruh negeri. Akibatnya, setiap tahun tersedia lulusan tenaga teknik dalam jumlah besar. Ini program pendidikan yang sangat pragmatis, menghasilkan tenaga kerja yang langsung diserap oleh begitu banyak pabrik yang tumbuh, karena derasnya investasi asing. Kebijakan pemerintah India pun demikian.

 

Sedangkan Aquino, ketika menyampaikan kuliah umum berjudul The right attitude, di Universitas Pelita Harapan, menyebutkan empat poin sikap yang baik untuk pemimpin yang efektif, yakni kepercayaan diri, pandangan jangka panjang, tidak pernah berhenti belajar, dan berbuat sesuatu yang dapat mengubah kehidupan orang di sekitarnya. Pemimpin bangsa, katanya, harus melayani rakyat dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompok.

 

Poin penting sebagai sari dari pernyataan Aquino dan Immelt adalah bangsa yang mau maju membutuhkan pemimpin yang percaya diri, mampu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingannya sendiri, dan tanggap terhadap perkembangan global.

 

Bukan sesuatu yang mudah memadukan ketiga hal itu dalam praktik sehari-hari. Namun, jika Indonesia ingin maju dan unggul dalam percaturan global, bangsa ini membutuhkan pemimpin-di level korporat dan pemerintahan-yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

 

Sumber: Bisnis Indonesia - Senin, 02 Oktober 2006


Blog EntryCalo & Pahit Getirnya Mengurus PasporDec 3, '06 12:55 AM
for everyone

Oleh: Yulius Nurendra Efendi

 

Pengalaman mengurus paspor sendiri di kantor Imigrasi Surakarta, membuat saya mengetahui bagaimana bobroknya kondisi birokrasi di negeri ini. Berawal dari undangan rekan di negeri seberang, membuat saya pergi ke luar negeri. Hal ini juga yang mengharuskan saya memiliki dokumen paspor.

 

Tanggal 18 oktober 2006, saya datang ke kantor Imigrasi Surakarta. Saya bawa semua persyaratan lengkap. Di dalam kantor tersebut memang terpampang dengan jelas tentang syarat, prosedur dan tarif untuk pembuatan segala macam surat atau dokumen keimigrasian. Apakah juga sejelas itu proses yang kemudian saya jalani?

 

Saat memasuki pintu kantor tersebut, kerumunan calo sudah menunggu. Mereka menawarkan jasa pengurusan paspor dengan janji lebih cepat selesai. Tentunya itu bukan tawaran gratis, tapi aku harus membayar uang lebih kepada calo tersebut. Tarif yang dipasang para calo bisa dua hingga tiga kali lipat dari tarif resmi yang hanya Rp.200.000. Karena memang dari awal saya berniat untuk mengurus sendiri, maka tawaran calo tersebut saya abaikan. Padahal jika saya terima tawaran tersebut, dia bisa menguruskan paspor saya hanya dalam waktu sehari. Sedangkan ketentuan resmi yang tertulis di papan pengumuman harusnya dua hari.

 

Saya mulai urus sendiri pembuatan paspor saya. Pertama, saya membeli formulir/berkas pengurusan paspor seharga Rp.10.000. Untuk pembelian ini, saya tidak mendapatkan kwitansi bukti pembelian. Inilah ketidakberesan pertama yang saya jumpai.

 

Setelah saya isi lengkap formulir, kemudian saya serahkan lagi berkas tersebut dengan dilampiri persyaratan lain. Proses selanjutnya dimulai dengan pemeriksaan berkas oleh petugas. Ketidakberesan kedua segera terjadi. Meski semua berkas telah lengkap diisi dan syarat telah komplit, sepertinya petugas ingin mencari kesalahan. Entah apa maksudnya. Akte kelahiran yang saya lampirkan sebagai syarat permohonan dipermasalahkan. Petugas meminta saya melengkapi dengan syarat lain yaitu ijasah terakhir. Artinya saya harus kembali lagi besoknya, karena saat itu saya tidak membawa ijasah yang dimaksud. Padahal di papan pengumuman akte kelahiran dan ijasah sifatnya opsional, yaitu saling menggantikan.

 

Keesokkan harinya, saat ijasah yang dimaksud sudah saya bawa, petugas tersebut malah mengabaikan ijasah tersebut begitu saja. Sedikitpun ijasah saya tak ditanyakan. Ini membuat saya serasa dilecehkan. Yang membuat saya naik pitam, pada proses berikutnya berkas saya sempat tidak jelas keberadaannya. Setelah saya desak, barulah petugas tersebut memprosesnya. Meski untuk itu, saya harus menunggu lebih lama lagi.

 

Setelah berkas kembali diproses, tahap selanjutnya adalah foto untuk paspor. Untuk keperluan ini, saya harus membayar Rp.55.000. Kali ini barulah diberikan bukti pembayaran. Anehnya, orang yang datang dan memasukkan berkas jauh dibelakang saya, justru dipanggil untuk foto duluan. Baru saya sadar bahwa yang menjadi korban calo bukan saja para pengguna jasa calo, namun juga para pencari paspor dengan jalur resmi. Kami jadi digusur-gusur ke urutan yang lebih belakang oleh orang-orang yang membayar lebih pada calo tersebut.

 

Setelah difoto, lagi-lagi petugas sepertinya ingin mengulur waktu lagi. Dengan alasan bahwa proses selanjutnya menunggu persetujuan dari Jakarta, ia mengharuskan saya menunggu seminggu lagi. Kali ini saya memahaminya karena akan ada liburan lebaran yang menghalanginya.

 

Saya pikirkan benar peristiwa itu. Ketidaktahuan mengenai proses yang sebenarnya, menyebabkan saya mengiyakan saja perintah petugas tersebut. Hal ini pasti juga dialami oleh pencari paspor yang lainnya. Proses yang berjalan tak seperti yang terpampang di papan pengumuman. Ketidakjelasan nasib berkas yang kami ajukan, membuat kami seperti jadi bulan-bulanan permainan petugas.

 

Tanggal 30 Oktober 2006, seperti yang dijanjikan petugas, sayapun kembali lagi mendatangi kantor Imigrasi. Lagi-lagi pelayanan yang diberikan sangat lambat. Dengan alasan harus melewati beberapa meja dan persetujuan, saya diharuskan menunggu dan menunggu lagi. Itupun saya harus beberapa kali menanyakan dengan setengah protes kepada petugas. Sejauh mana berkas saya diproses?

 

Setelah menunggu hampir 4 jam, dokumen pasporpun baru jadi. Kami pun harus membayar Rp.205.000, dengan rincian Rp.200.000 untuk pembayaran buku dokumen paspor dan Rp.5.000 untuk sidik jari. Kalau dihitung dari proses awal hingga akhir, total yang harus dikeluarkan untuk pembuatan paspor, sebanyak Rp.270.000. Padahal yang terpampang di pengumuman hanya Rp.200.000. Mengurus dengan jalur resmi saja biaya masih bisa membengkak, apalagi dengan calo? Dari beberapa informasi para pengguna jasa calo, ternyata mereka bisa menghabiskan Rp.500.000 s.d Rp.600.000 untuk memperoleh paspor dengan waktu 1 s.d 2 hari. Inikah Indonesia

 

===

 

Tips dari: Pauline

 

Saya juga pernah mengalami hal serupa. Karena pada dasarnya saya tidak suka dengan calo, jadi biasanya saya urus semua surat2 saya sendiri.

 

Berikut TIPS untuk mengurus paspor sendiri :

1.        Pertama datang dulu, catat semua persyaratan yang dikehendaki. Jangan menyerahkan dokumen apapun sebelum semua dokumen yang anda punya dibawa, termasuk paspor lama! Fotocopy dulu semua dokumen rangkap 2 + bawa asli.

 

2.        Datanglah pagi2. Karena kalau pagi biasanya calonya masih sedikit dan orang yang mau pake calo biasanya datang siangan. Dan tidak memberikan mereka alasan makan siang atau waktu sholat.

 

3.        Tersenyumlah dan ajak bicara (sedikit cerewet dan manis gak apa kan?) saat menyerahkan dokumen dan selama pemeriksaan dokumen dilakukan. Jangan pasang MUKA CEMBERUT, SELALU SENYUM. Biasanya JITU untuk membuat pikiran mereka tidak fokus pada keinginan mereka untuk permintaan lebih.

 

4.        Bawalah uang 5ribuan karena kebiasaan korupsi belum hilang dari tanah tercinta kita. Berikan apabila mereka memaksa. Biasanya tidak semua berani memaksa kalau kita bilang tidak ada uang kecil.

 

5.        Pura2 polos kalau mereka memaksa (ikuti gaya mereka juga).

 

6.        Jangan jauh dari loket penyerahan dokumen. Tanyakan selalu keberadaan dokumen selang 15 menit.

 

Saya berhasil mengurus pembuatan paspor hanya dengan biaya Rp.200.000 + Rp.10.000 (uang korupsi mereka). Sedangkan untuk pengurusan SIM saya hanya mengeluarkan Rp.80.000 (lupa pembagiannya).

 

===

 

Tips dari Nova

 

Saya juga selalu mengurus sendiri segala surat2. Kadang2 saya lihat masalah ini timbul karena orang-orang yg perlu dokumen juga tidak mau mengikuti aturan, maunya di dahulukan, tidak mau antri, dan lain sebagainya. Dan hal ini di manfaatkan oleh oknum2 tersebut.

 

Dari pengalaman saya mengurus segala surat2 sendiri, ya memang harus sabar, karena yang di urus bukan kita sendiri. Yang sudah memuaskan menurut saya adalah pengurusan perpanjangan SIM. Sistemnya benar2 seperti ban berjalan. Saya perpanjang SIM prosesnya gak sampai 2 jam, sampai di Polda jam 9-an sebelum jam 11 saya sudah on the way back ke kantor.

 

Kalau mengurus hal2 seperti ini, baca baik2 semua persyaratan dan bawalah semua dokumen2 yang di perlukan, karena kalau tidak, harus bolak-balik lebih sering lagi. Kalau perpanjangan paspor memang saya harus 3 kali ke kantor imigrasi.

 

Karena sudah tahu syarat2nya saya datang sudah bersama segala dokumen dan photo copy yang di perlukan, jadi tinggal beli map, isi form yang ada, dan masukin berkas.

 

Yang ke-2 segala proses photo, dan lain-lain

 

Yang ke 3 ambil paspor yg sudah jadi.

 

Memang mungkin proses2 yang ada masih terlalu panjang, perlu perbaikan pasti perlu waktu karena pasti akan mengurangi banyak sekali karyawan di departemen yang bersangkutan. Serem juga khan dampaknya. So mungkin kita juga harus coba mengikuti peraturan yg ada, tidak langsung bayar2 dengan alasan supaya cepat.


Blog EntryIndonesia Paradox?Nov 30, '06 7:50 PM
for everyone

Oleh Makmur Keliat

Direktur Eksekutif Center for East Asia Cooperation Studies, FISIP, Universitas Indonesia

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/28/opini/3124979.htm

 

Tulisan Todung Mulya Lubis di Kompas, Kamis (2/11), menarik untuk diperbincangkan. Dalam tulisan dengan judul "Singapore Paradox" itu ia, antara lain, menyebutkan bahwa Singapura dapat berbuat banyak membantu Indonesia untuk memerangi korupsi di negeri ini. Bantuan tersebut, misalnya, dengan tidak mengizinkan dana-dana hasil korupsi dari Indonesia diparkir di negeri berpenduduk 4,5 juta jiwa itu.

 

Bantuan lain adalah dengan menandatangani perjanjian ekstradisi sehingga pelaku korutor yang melarikan diri ke negeri itu dapat dibawa dan kemudian diadili di Indonesia. Akan tetapi bantuan seperti itu, yang memang diharapkan Indonesia, hingga kini belum dilakukan Singapura.

 

Bisakah kita menyalahkan Singapura karena tidak memberikan bantuan itu? Dalam pandangan sekilas dan jika kita membiarkan emosi kita untuk bermain, tentu saja kita bisa menyalahkan negara kota itu. Sebagai tetangga yang baik, Singapura harusnya mendukung upaya yang tengah dilakukan Indonesia untuk memerangi korupsi. Penolakan Singapura memang dapat menyampaikan sinyal bagi kita bahwa Singapura telah ikut melestarikan terjadinya korupsi di negeri ini. Namun, kesimpulan semacam ini mengandung kelemahan dan perlu dipertanyakan.

 

Insentif dan disinsentif

 

Pertama-tama kiranya perlu diingat bahwa hubungan antarnegara jarang sekali didorong keinginan baik semata. Hubungan tersebut biasanya lebih dilandasi oleh keinginan untuk memperoleh manfaat timbal balik (mutual gain). Banyak contoh kasus untuk menyebutkan hal ini. Misalnya, bantuan yang diberikan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan rekonstruksi Eropa melalui Marshal Plan bukanlah karena keinginan baik semata. Bantuan itu juga didorong oleh motif politik dan ekonomi. Eropa yang sejahtera secara ekonomi dan demokratis dipandang dapat menjadi benteng untuk menghadapi pemerintah komunis di Eropa Timur dan sekaligus menjadi mitra dagang potensial bagi AS.

 

Motif yang mirip muncul ketika AS memberikan bantuan kepada Korea Selatan setelah perang Korea pada dasawarsa 1950-an. Keberhasilan Korea Selatan secara ekonomi dipandang penting oleh AS untuk memberikan bukti bagi Korea Utara bahwa ideologi komunis yang dianut adalah jalan yang keliru.<