Catila's posts with tag: pat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pat
Blog EntryMax Lane Berubah karena PramSep 3, '06 3:03 AM
for everyone

http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/max_lane060501

 

Max Lane Berubah karena Pram

Ranesi

01-05-2006

 

 

Karya-karya sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer yang berpulang Ahad lalu dikenal oleh dunia internasional. Itu jelas berkat pekerjaan para penerjemah Pramoedya. Banyak orang menerjemahkan karya Pramoedya ke dalam pelbagai bahasa dunia, salah satunya adalah Max Lane, warga Australia yang menerjemahkan empat karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris. Hidup Max Lane sendiri mengalami perubahan besar karena Pramoedya Ananta Toer.

 

Tertarik karena kualitas

Berikut penuturan Max Lane kepada Radio Nederland Wereldomroep.

 

Max Lane [ML]: Saya sudah terjemahkan Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca dan juga sudah selesai diterjemahkan Arok Dedes dan juga Hoakiau di Indonesia.

 

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Bagaimana ada niat diri anda untuk menerjemahkan buku-bukunya Pram itu?

 

ML: Ya saya baca Bumi Manusia sebelum terbit sebenarnya, dalam bentuk naskah, tahun 1980. Siapa pun yang membaca buku yang sebagus Bumi Manusia itu akan ingin supaya sebanyak mungkin orang membacanya. Jadi saya berharap sekali sebanyak mungkin orang Indonesia membacanya, tetapi juga sebanyak mungkin orang di dunia bahasa Inggris. Jadi langsung berniat untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

 

Pada saat itu juga sehabis baca, saya pergi ke Pak Pram dan juga kepada Pak Joesoef Isak untuk membicarakan kemungkinan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

 

Suara revolusi bangsa

RNW: Jadi itu karena anda tertarik pada kualitasnya begitu?

 

ML: Kualitasnya dan isinya. Bukan hanya kualitasnya dalam semacam ukuran sastra, tetapi sebagai suara dari revolusi bangsa Indonesia itu, suara yang kental sekali dengan kerevolusionerannya dan dengan kekayaan pengalaman revolusi nasional Indonesia. Padahal buku itu hanya menggambarkan asal mulanya. Tapi dengan menggambarkan asal mulanya revolusi Indonesia itu, kita bisa membayangkan betapa kaya dan betapa membebaskan proses revolusi yang mulai pada abad 20 itu.

 

Sebenarnya ini revolusi nasional. Suatu proses di mana segala sesuatu itu digulingkan, melahirkan sesuatu yang sama sekali sebelumnya tidak ada. Yaitu Indonesia. Atau watak pribadi seperti Tirto Adhisoerjo si Minke itu. Juga sebelumnya belum ada sama sekali di atas bumi Indonesia. Jadi Pramoedya itu bisa menggambarkan proses penciptaan sebuah makhluk baru. Dan ia menggambarkan proses itu dengan sangat mengesankan sehingga kita itu tidak mau berhenti membacanya.

 

RNW: Bagaimana anda bisa menceritakan pengalaman anda pada waktu menerjemahkan keempat buku itu terutama?

 

ML: Kalau pengalaman menerjemahkannya itu sendiri, ya sebenarnya pengalaman lebih tenggelam, dan lebih berhadapan sekaligus dengan pikiran-pikiran dan ide-ide Pramoedya itu. Kalau proses terjemahan sendiri, terus terang itu, pertama, itu 20 tahun yang lalu. Kedua kalah, kalah sebagai satu pengalaman dengan harus menghadapi pikiran-pikiran, ide-ide dan analisa Pramoedya tentang asal usul bangsa Indonesia dan asal usul negeri Indonesia itu sendiri.

 

Sejarah Indonesia

RNW: Maksudnya kalah bagaimana?

 

ML: Memang dalam soal menghadapi bahasa Indonesia, bahasa Indonesia Pramoedya cukup banyak yang memusingkan juga. Tapi tidak sebanding dengan bagaimana pikiran kita diuji. Bukan oleh bahasanya Pram, tapi oleh ide-idenya yang sebenarnya merupakan ide-ide yang sama sekali baru dalam menghadapi sejarah Indonesia. Kalau tidak ada Pram, yang namanya Tirto Adhisoerjo tidak akan pernah terungkapkan.

 

Kalau tidak ada Pramoedya bahwa Indonesia sebagai sebuah negeri berasal mula dari kontradiksi di antara ide-ide dan nilai-nilai yang diangkat oleh orang-orang seperti Kartini, Tirto Adhisoerjo, Mas Marco Kartodikromio dan lain-lain dengan kenyataan kolonialisme, itu tidak akan terungkapkan. Dan sejarah Indonesia tetap sejarah yang ditulis oleh orang Barat, bahwa nasionalisme Indonesia mulai dengan Boedi Oetomo, yang kemudian diteruskan oleh sejarawan-sejarawan Indonesia sendiri yang nerima saja analisa Belanda itu dulu,

 

Saya kira Indonesia adalah satu-satunya negeri di seluruh dunia, di mana kurikulum sejarah Indonesia untuk SD, untuk SMP dan untuk SMA ditangani langsung oleh Pusat Sejarah ABRI. Untuk hampir semua tahun 1970an dan 1980an. Jadi tentara yang langsung mengurus kurikulum sejarah, sehingga berbagai generasi anak Indonesia, dibesarkan dengan sejarah yang penuh kebohongan.

 

Sebenarnya tahun 1981, waktu Bumi Manusia terbit, kemudian disusul oleh buku-buku Pramoedya yang lain yang diterbitkan oleh kaum pemberani Hasta Mitra itu, dimulaikan kembali kesadaran tentang sejarah Indonesia yang sebenarnya.

 

Banyak penggemar

RNW: Berkat terjemahan anda ini, maka karya Pram sampai pada pentas dunia. Orang akhirnya membaca Pramoedya. Anda merasa di situ anda berperan?

 

ML: Yah kebetulan aja karena saya kebetulan ada di Jakarta pada waktu itu dan sempat pernah punya kesempatan menerjemahkannya. Kalau bukan saya pasti orang lain juga yang melakukan. Tapi saya senang juga bahwa Pramoedya bisa dibaca di seluruh dunia. Saya baru kembali dari Amerika, di mana saya juga memberi beberapa ceramah dan kuliah tentang Pramoedya dan kemaknaan tulisan Pramoedya untuk dunia sekarang. Dan ternyata di Amerika penggemarnya banyak sekali.

 

Dan saya lihat sebenarnya di dalam buku-buku Pramoedya itu, bukan saja suara revolusi Indonesia yang terungkapkan nilai-nilainya dan semangatnya, tetapi ternyata menyambung dengan orang-orang Amerika yang rindu akan semangat revolusi Amerika sendiri. Revolusi dari abad ke-18 dan 19. Itu yang sebenarnya masih ada gema-gemanya di masyarakat Amerika, meskipun padam. Jadi mereka nyambung juga dengan jiwa dan semangat pemberontakan, pembaharuan dan jiwa kritis yang ada pada figur-figur yang berperan besar

dalam karya-karya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa.

 

Banyak sekali orang Amerika justru cinta sekali pada Nyai Ontosoroh, cinta sekali pada Minke, ternyata.

 

Diusir

RNW: Saya mendapat kesan anda berusaha mengecilkan peran anda sendiri nih. Waktu anda menerjemahkan buku-buku Pramoedya itu, anda kan bekerja di Indonesia sebagai diplomat Australia?

 

ML: Betul, betul.

 

RN: lalu Anda diusir kan itu?

 

ML: Bukan disuir tapi dipecat oleh duta besar Australia. Disuruh pulang oleh duta besar Australia. Karena dianggap menerjemahkan buku itu bukan sesuatu yang bersifat diplomatis. Karena pada waktu itu dianggap menerjemahkan buku terlarang. Tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang diplomat katanya.

 

RNW: Jadi duta besar Australia menjadi kepanjangan tangan Soeharto begitu?

 

ML: Rupanya. Rupanya Tapi pemerintah Indonesia sebenarnya pada waktu itu, saya belum pernah dengar ada apa-apa. Jadi ini adalah duta besar Australia atas pikirannya sendiri bertindak dulu.

 

RNW: Tapi anda sudah sadar itu, bahwa resikonya ada?

 

ML: Sebenarnya saya tidak menduga akan secepat itu. Aku ketemu dengan duta besar, waktu dia sudah mengetahui itu dia mengatakan "Oke kamu pulang besok!". Aku tidak menduga bahwa akan sebiadab itu. Sebarbar itu duta besar Australia. Tapi ternyata begitulah para pejabat kementrian luar negeri di banyak negeri.

 

RNW: Anda tidak kasih tahu dia, atau bagaimana, dia tahunya belakangan saja?

 

ML: Aku memberi tahu dia sesudah selesai. Bahwa hobi waktu akhir pekan aku, dalam rangka menyumbang hubungan yang lebih baik di bidang kebudayaan di antara rakyat Australia dan rakyat Indonesia, saya menerjemahkan Bumi Manusia.

 

Sama dengan sebelumnya saya sudah terjemahkan sandiwara W.S Rendra Kisah Perjuangan Suku Naga yang sebenarnya langsung kritik terhadap pemerintahan Soeharto. Tapi ternyata mungkin karena Pramoedya dianggap komunis atau apa oleh duta besar Australia. Goblok seperti itu.

 

Sangat Berpengaruh

RNW: Jadi sebenarnya perjalanan hidup anda ditentukan oleh Pramoedya ini, sedikit banyak?

 

ML: Sangat-sangat berpengaruh. Sebenarnya bukan hanya dipulangkan dari kedutaan Australia, tapi ide-idenya, pikiran-pikirannya sangat mempengaruhi hidup saya. Sesudah membaca buku Pramoedya, sesudah kembali ke Australia saya memang terjun dan tenggelam di gerakan aktivis demokrasi dan sosialis Australia sejak saat itu.

 

Bahkan bisa dikatakan, yang merekrut aku kepada gerakan  progresif di Australia dan di Indonesia ini adalah Pramoedya Ananta Toer, melalui karya-karyanya. Seluruh hidup saya berubah akibat membaca buku-buku dia.

 

Berubah

RNW: Max Lane yang sebelum membaca buku Pramoedya seperti apa dan Max lane sesudah baca Pramoedya seperti apa?

 

ML: Yah, Max Lane sebelum baca Pramoedya orang baik-baik saja yang mau jadi diplomat. Max Lane yang sesudah membaca buku-buku Pramoedya full time jadi aktivis politik, ikut gerakan progresif, menjadi aktivis full time yang prioritas utamanya adalah bagaimana membantu pergerakan mencari keadilan sosial. Sebelumnya orang baik-baik yang mau menjadi diplomat. Aduuh, malu juga.

 

RNW: Hahaha, gitu yah rasanya?

 

ML: Tapi di lain sisi sampai sekarangpun aku masih menerima surat dari pembaca, yang berterima kasih. Mereka tulis, "Sdr. Max Lane trims ya sudah menerjemahkan buku ini. Saya mulai bacanya dari awal sampai akhir dalam satu malam suntuk dan saya menjadi fans Pramoedya untuk selama-lamanya."

 

Jadi selama masih dapat cukup banyak surat seperti itu saya merasa cukup puas dengan pekerjaan itu.

 

Tapi ada satu dosa besar yang sedang terjadi di masyarakat Indonesia. Yaitu bahwa karya-karya sastra hebat Pramoedya ini sama sekali tidak dipelajari di sekolah. Itu satu dosa besar. Sama seperti Shakespeare atau Dickens tidak dipelajari di sekolah Inggris. Atau sama dengan Steinbeck atau Hemmingway tidak dipelajari di sekolah-sekolah Amerika. Itu satu kejahatan besar.

 

Jadi tantangan sekarang adalah bagaimana pencinta-pencinta Pramoedya dan pencinta-pencinta revolusi Indonesia bisa bergerak, bisa berkampanye, bisa menuntut supaya buku-buku Pramoedya ini menjadi bacaan wajib di semua sekolah Indonesia. Dan kalau masyarakat Indonesia diam dan tidak menuntut itu, itu namanya mengkhianati Bung Pramoedya ini.

 

Harus jadi bacaan wajib

RNW: Mungkin juga mengkhianati keindonesiaan mereka sendiri?

 

ML: Betul juga. Terutama buku-buku Pramoedya harus jadi bacaan wajib. Orang-orang Indonesia harus bersuara. Saya berharap acara bung nanti kalau disiarkan ke Indonesia juga pesannya itu. Bangkitlah dan menuntut buku-buku Pramoedya jadi bacaan wajib. Akan mulailah sebuah revolusi kebudayaan Indonesia yang akan menghidupkan kembali semangat revolusi Indonesia.

 

Berapa juta anak Indonesia dicuri kesempatannya belajar melalui sastra Pramoedya ini? Jutaan anak menunggu buku ini. Adam Malik dulu waktu wakil presiden, ketemu dengan Pramoedya, Pak Joesoef Isak, Hasjim Rachman, juga berseru bahwa buku ini harus jadi bacaan wajib di sekolah. Sudah waktunya itu direalisir.

 

Dan pemeritah Indonesia tidak akan melakukan itu secara suka rela. Masyarakat harus menuntut dan memaksa. Jangan menunggu pemerintah bertindak. Menunggu seribu tahun enggak jadi-jadi.


Blog EntryMenghormati Pram, Bangsa dan Tanah AirnyaSep 3, '06 2:45 AM
for everyone

Oleh Eka Budianta

Sastrawan, inisiator Jababeka Multi Cultural Center di Cikarang, Jawa Barat

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/07/seni/2631981.htm

 

 

Dua hal paling penting sepeninggal wafatnya Pramoedya Ananta Toer adalah warisannya untuk dunia dan perlakuan bangsa Indonesia terhadap warisan itu. Warisan Pram terbesar adalah rasa cinta mendalam dari berbagai bangsa kepada sebuah negeri bernama Indonesia. Sedangkan perlakuan yang paling diharapkan adalah bagaimana warisan itu dapat diterima dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

 

Pramoedya lahir dari keluarga guru, di Blora (Jawa Tengah dekat perbatasan dengan Jawa Timur) pada 6 Februari 1925. Ia meninggal dunia sebagai seorang opa, ayah, suami, kakak, dan sahabat pada hari Minggu pagi, 30 April 2006 di Utan Kayu, Jakarta Timur. Dalam rentang hidupnya 81 tahun dua bulan tiga minggu dan tiga hari itu Pram membangun Indonesia-nya, pemahamannya pada sejarah dan kehidupan: dunianya!

 

Ia tidak wafat sebagai pensiunan, pegawai, apalagi pejabat. Ia mati sebagai manusia yang lemah, didera infeksi paru-paru dan komplikasi diabetes. Ia wafat setelah "mengabsen" dan mencoba merangkul orang- orang yang mencintainya satu persatu. "Sampaikan terima kasih pada semua," katanya. Pram adalah seorang pria yang hangat, penuh humor, simpatik, dan memuja anak-anak muda. "Mereka adalah mahkota bangsa," katanya pada setiap kesempatan.

 

Pram menghormati buruh dan tidak "mengecilkan" siapa pun. Rumahnya besar. Tapi, ia tidak "memelihara" pembantu rumah tangga. Semua dikerjakan sendiri, termasuk menyapu, mencangkul, dan membakar sampah. Simpatinya kepada para petani tembakau tidak pernah luntur sampai akhir hayatnya. Beberapa saat sebelum napasnya yang terakhir, ia minta rokok. Pram juga minta digosok minyak gandapura. Ia lebih suka dirawat di rumah secara alamiah ketimbang di rumah sakit. Kalau tidak dijaga ketat, saluran infus dan selang oksigen selalu dilepasnya.

 

Warisan terindah

 

Pada tahun 1987, seorang murid kelas V sekolah dasar di perdesaan kecil di Midwest bertanya, "Apakah di Indonesia masih banyak Inem?" Siapa Inem? Pembantu rumah tangga?

 

"Bukan. Inem, gadis berumur 11 tahun dalam cerpen Pramoedya, yang dikawinkan paksa, untuk meringankan beban ekonomi orangtuanya."

 

Ya, ampun! Sebegitu mendalam Pramoedya memperkenalkan bangsa dan tanah airnya ke segala penjuru dunia. Karya-karyanya (novel, cerita pendek, drama, dan esei) terbit di dalam 41 bahasa. Buku-bukunya masuk ke berbagai rumah, bahkan kamar tidur segala bangsa. Seorang perempuan di Inggris selatan menulis panjang lebar, sangat berterima kasih setelah membaca roman Bumi Manusia. Seorang wartawan di Jepang mengirimkan alat bantu pendengaran setelah tahu telinga Pram jadi tuli karena dipukul popor senjata.

 

Begitu banyak simpati mengalir untuk Pramoedya. Novelis tersohor Jean Paul Sartre dari Perancis mengirimkan mesin ketik untuknya. Pemenang Nobel dari Jerman, Heinrich Boel, memberi semangat dengan mengirim lukisan jago sedang bertarung. Presiden Cile menganugerahkan bintang Pablo Neruda. Dan seterusnya dan seterusnya. Semua menunjukkan bahwa ia sangat diperhatikan, dicintai, dan mencintai bumi yang melahirkannya.

 

Jadi, kalau ada yang bertanya apa warisan Pram terbesar? Cinta dunia pada Indonesia. Termasuk pada Pram sendiri, melalui berbagai hadiah, penghargaan, gelar doctor honoris causa, dan sambutan meriah pada karya-karyanya di mana-mana. Dalam kalender PEN Internasional, sejak tahun 1985 tercatat bahwa setiap 6 Februari adalah "Hari Pramoedya".

 

Pram sangat dipahami serta dicintai para pengarang besar dan kecil. Kalau ada beberapa pengarang dalam negeri yang tidak menyukainya, ia juga sangat mengerti. Dalam pidato tertulisnya ketika menerima hadiah Magsaysay dari Filipina, ia menyatakan, "Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal."

 

Sejauh saya mengenalnya (sejak 1983) Pramoedya Ananta Toer tidak pernah menunjukkan sikap antipati kepada seseorang. Ketika Taufiq Ismail dan DS Moeljanto (alm) menerbitkan kompilasi Prahara Budaya yang dinilai banyak orang sebagai upaya "menyudutkan Pramoedya", yang bersangkutan justru tak keberatan. "Tidak ada yang baru dalam buku itu. Isinya adalah kumpulan berita di koran," katanya.

 

Pram malah merasa kasihan kepada para pengarang yang menentangnya. "Apakah tidak semakin menjelaskan bahwa mereka begitu penakut?"

 

Mungkin ada yang masih merasa takut dan traumatis hingga sekarang bila mengenang sepak terjang Pramoedya antara 1959- 1965. Karena tulisannya yang sangat tajam, banyak orang menderita. Rumahnya dilempari, HB Jassin dipecat dari Universitas Indonesia, banyak yang

merasa diteror, dan sebagainya. Prof Dr Boen S Oemarjati konon juga punya pengalaman pahit tersendiri. Namanya masuk dalam "daftar hitam".

 

Tetapi, kalau sekarang kita lihat rumah Inul Daratista dan kantor Ratna Sarumpaet didemo setelah mengadakan pawai Bhineka (22 April 2006), apa bedanya? Bukankah terorisme dan pelecehan merupakan dampak dari kebebasan dan perasaan benar yang berlebihan? Pramoedya dan teman-temannya pun menghadapi hal yang sama, bahkan lebih lama. Setelah balik dari Pulau Buru, ia dikenakan "wajib lapor", rumahnya diawasi, dan orang takut bertamu kepadanya.

 

Dan itu tidak menjadikan dia punya alasan untuk berhenti mempersembahkan karya terbaiknya buat dunia dan bangsa ini. Pram tetap rajin bangun pagi, membaca semua surat kabar, menggunting, mengkliping, membuat catatan, terus-menerus sepanjang hari, sampai surya pun terbenam. Belum pernah saya melihat sastrawan Indonesia lain yang lebih giat bekerja dari Pramoedya Ananta Toer.

 

Tidak mengherankan bila harian The New York Times, 1 Mei 2006, beberapa jam setelah novelis besar itu wafat, mencatat bahwa Pramoedya adalah sastrawan yang paling banyak berkorban untuk mendidik bangsanya. "No other author has been willing to sacrifice so much to educate his compatriots."

 

Perilaku kita selanjutnya

 

Masalah kedua adalah bagaimana Indonesia memperlakukan nama dan karya- karyanya di masa depan? Ada yang mengatakan akan mengganti Jalan Utan Kayu menjadi Jalan Pramoedya. Ada yang ingin meneruskan cita-citanya membangun Institut Pramoedya. Dan seterusnya, dan seterusnya. Sikap pemerintah pun sudah semestinya berubah. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik datang melayat. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga dikabarkan mengirim bunga.

 

Hal seperti itu dengan gembira dapat dimengerti. Ketika Mochtar Lubis wafat (2004), Jusuf Kalla juga ikut menunggui jenazah di Taman Ismail Marzuki, diantar Rachmat Witoelar. Kita patut gembira melihat perhatian pejabat, sekecil apa pun, kepada para budayawan, seniman,

yang secara universal dianggap sebagai aset nasional. Ingat, Presiden BJ Habibie juga melayat novelis YB Mangunwijaya, yang disemayamkan di Katedral Jakarta (Februari 2000).

 

Tetapi, di antara Presiden Indonesia, hanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang dekat dengan Pramoedya. Selama menjabat presiden, dua kali Gus Dur menjenguk Pram di rumahnya. Gus Dur (dan Pram) juga melayat ketika Wiratmo Soekito meninggal dunia. Padahal, kata orang, Wiratmo dan Pram adalah musuh besar. Selalu ada yang mendramatisasi bahwa pertentangan antara pendukung Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) seolah-olah lebih dahsyat dari perang saudara.

 

Setelah Pram wafat, Indonesia perlu memasuki paradigma baru. Pertarungan ideologis bahkan yang lebih seram clash of civilization (benturan peradaban) hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan hati yang damai. Banyak yang mencatat bahwa kehidupan Pramoedya penuh ironi. Karya-karyanya diharamkan, tetapi sekaligus sangat disukai. Dia dicap ateis, tetapi juga dengan khusyuk didoakan. Jadi, menerima dan mengembangkan warisan Pramoedya berarti membiarkan jiwa ini menjadi lebih besar. Kita telah mendapat teladan, betapa seorang pengarang yang dianiaya ternyata juga disanjung karena menyumbangkan karya-karya terbaik kepada dunia.


Blog EntryIndonesia dalam DuniaSep 3, '06 2:40 AM
for everyone

Oleh Radhar Panca Dahana

Sastrawan, Tinggal di Tangerang

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/05/seni/2630221.htm

 

 

Wafatnya sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer tentu saja meninggalkan kesedihan, kehilangan, dan keprihatinan; terutama soal atensi pemerintah terhadap seseorang yang telah demikian rupa turut menegakkan dan menjelaskan keberadaan Indonesia di mata dunia. Dalam sastra pun, seakan kita kehilangan rantai terkuat yang selama ini menghubungkan dunia literer kita dengan dunia.

 

Mungkin tak banyak yang dapat memungkiri, ambisi bahkan obsesi sebagian dari kita untuk melihat sastra Indonesia pun memiliki tempat, bahkan peran, yang cukup signifikan dalam perkembangan sastra mutakhir. Baik di kawasan maupun di tingkat global. Gejolak ini sejak dulu sesungguhnya telah terasa. Sejak mula apa yang disebut "sastra modern" Indonesia dianggap muncul dan tumbuh.

 

Gelegak kebangsaan yang mencari kebebasannya, sejak paruh pertama abad ini, mendapat ekspresi literernya dalam berbagai bentuk. Mulai dari Sanusi Pane hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Disusul oleh semangat "Gelanggang" yang dimotori Chairil Anwar yang mencoba memosisikan diri sebagai "bagian dari kesusastraan dunia". Hingga akhirnya di masa pos-kolonial, segolongan literati menabalkan barisannya sebagai pengusung "humanisme universal".

 

Sampai masa awal Orde Baru, gelegak ini sesungguhnya masih berlanjut. Kecenderungan beberapa sastrawan "eksperimentalis" mencoba masuk dalam mainstream kesusastraan global dengan mengadopsi gaya maupun bentuk ekspresi literernya. Dari naskah drama, puisi, cerpen, hingga novel. Sebut saja beberapa nama seperti Budi Darma, Danarto, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, bahkan Sutardji Calzoum Bachri.

 

Namun, setelah itu, ketika Soeharto menancapkan dengan keras kuku kekuasaannya, kecenderungan atau ambisi itu seperti luluh dan memendam. Selama tiga dekade setelah itu, sastra Indonesia seperti sibuk dengan dirinya sendiri, dengan tempurung yang tak juga membesar. Terjadi pembesaran-pembesaran artifisial, yang membuat sebagian dari kalangan sastra mabuk oleh kopi yang ia racik sendiri. Kondisi itu ditandai oleh banyak hal, seperti pergaulan sastra yang tidak mengambil ruang yang membesar kecuali sibuk dan bergaung sebatas kamar internalnya sendiri. Akses pengarang dan penikmat sastra yang rendah pada sastra dunia. Penulisan yang terjebak pada gaya dan bentuk tertentu (sastra koran, misalnya), dan sebagainya.

 

Dunia informasi

 

Namun, belakangan, di dekade terakhir ini, setelah reformasi dan dunia informasi memberi kita kemudahan mengakses dunia lain dan kebebasan berkomunikasi dengan dunia lain, tumbuh selapisan kecil anak muda yang tekun dan cerdas melahap kekayaan sastra dunia. Seperti batu "gua ali baba" terbuka, sebagian bahkan mengira katup kotak pandora mulai menganga. Muncul pengamat, pemikir sastra dan penulis-penulis kreatif yang mulai meninggalkan kebekuan dekade sebelumnya. Kajian wilayah dan penguasaan mereka pada genre atau perkembangan mutakhir sastra wilayah tampak sangat menjanjikan.

 

Apakah ini sebuah awal yang baik bagi keterlibatan kita yang lebih positif pada lingkungan global—yang kian tak terhindar belakangan ini? Sebuah jawaban harus ditemukan. Satu usaha identifikasi masalah, penemuan relasi kultural dan literer, dan posisi atau peran apa yang dimungkinkan oleh sastra Indonesia di tengah keluarga besarnya, tampaknya perlu dilakukan. Dengan begitu, Indonesia—yang terjungkal- jungkal mengikuti percepatan pertumbuhan dunia—dapat dilihat bukan hanya sebagai satu koordinat geografis atau demografis saja dalam peta dunia. Tapi juga sebuah ruang di mana dunia pun bermain di dalamnya. Begitupun sebaliknya.


Blog EntryIroni di Sekitar PramSep 3, '06 2:38 AM
for everyone

Oleh Iwan Gunadi

Peminat Sastra, Tinggal di Tangerang

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/04/humaniora/2628461.htm

 

 

Pramoedya Ananta Toer alias Pram adalah sebuah ironi. Sekitar akhir Oktober 1999, dia diundang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke Wisma Negara, beberapa hari setelah Gus Dur terpilih menjadi presiden keempat Republik Indonesia.

 

Gus Dur ingin mendiskusikan konsep "Indonesia sebagai negara maritim" yang sering dilontarkan Pram. Padahal, selama ini, pandangan orang- orang seperti Pram—yang pernah terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi di bawah payung Partai Komunis Indonesia (PKI)—kerap kali dibungkam.

 

Namun, ironi semacam itu laksana telah mentradisi pada diri Pram. Misalnya, jauh sebelumnya, pada 7 April 1988, PEN America Center memberi tahu Pram bahwa dirinya terpilih sebagai salah seorang penerima Freedom to Write Award. Dua puluh hari kemudian, 27 April 1988, penghargaan itu diberikan, tetapi Pram sendiri tak dapat hadir di sana.

 

Pada 8 Juni 1988, 51 hari sesudahnya, tindakan yang bertentangan dialami Pram. Rumah Kaca, novel terakhir dari tetralogi karya Pulau Buru, dilarang beredar oleh Jaksa Agung Sukarton (almarhum). Dan, 56 hari berikutnya, 3 Agustus 1988, hal yang sama berlaku untuk novel Gadis Pantai.

 

Peristiwa ironis itu kembali terulang dengan posisi terbalik. Pada 19 April 1995, Jaksa Agung Singgih melarang peredaran buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, memoar-memoar Pram selama diasingkan di Pulau Buru. Selama 91 hari kemudian, yakni 19 Juli 1995, Yayasan Penghargaan Ramon Magsaysay menetapkannya sebagai orang ke-10 Indonesia yang pantas menerima Ramon Magsaysay Award. Penyerahan penghargaannya sendiri dilakukan pada 31 Agustus 1995.

 

Penghargaan itu diterimanya secara in absentia lantaran dirinya dilarang bepergian ke luar negeri oleh rezim saat itu. Polemik yang panjang dan emosional—termasuk kalangan sastrawan dan seniman; bahkan, Mochtar Lubis mengembalikan hadiah serupa yang pernah

diterimanya pada 1958—mengiringi penetapan tersebut.

 

Dunia pendidikan

 

Ironisme lain muncul melalui dunia pendidikan. Para siswa dan mahasiswa di Malaysia mengakrabi karya-karya Pram sejak bertahun- tahun lalu. Begitu juga para mahasiswa di Australia, Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan, dan beberapa negara lain, yang mengarahkan studi mereka ke negeri ini. Tetapi, para siswa dan mahasiswa di sini sendiri selama Orde Baru hingga kini tak pernah diberi kesempatan secara legal untuk mengakrabinya.

 

Dalam buku antologi Gema Tanah Air; Prosa dan Puisi susunan HB Jassin, pada cetakan-cetakan awal, mereka masih mungkin menikmati dua cerita pendeknya, yakni Ke Mana? dan Kemelut. Tetapi, pada cetakan terakhir, mereka tak mungkin lagi menikmati keduanya lantaran telah disensor.

 

Pada 1994, Penerbit Hasta Mitra, Jakarta, menerbitkan kembali buku kumpulan prosa Cerita dari Blora dan novel Perburuan. Tetapi, para siswa dan mahasiswa Indonesia tak mudah mendapatkan kedua buku tersebut karena peredaran keduanya sangat terbatas. Meskipun Jaksa Agung tak melarang peredaran kedua buku itu, ada kesan pelbagai toko buku besar di negeri ini takut menjualnya hingga beberapa tahun setelah penerbitannya.

 

Jangankan karya-karyanya, selama rezim Orde Baru, informasi tentang dirinya dan tentang karya-karyanya saja sulit diperoleh. Paling- paling mereka menemukannya pada empat buku berikut ini. Pertama, cetakan-cetakan awal buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik

dan Esei II karangan HB Jassin. Kedua, Sastra Baru Indonesia I karangan Andries Teeuw. Ketiga, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia karangan Ajip Rosidi. Keempat, Pengantar Novel Indonesia susunan Jakob Sumardjo. Panjang masing-masing informasi tersebut 62 halaman,

20 halaman, dua halaman, dan 10 halaman. Informasi sejenis dapat dibaca di Perkembangan Novel-novel Indonesia karangan Umar Junus. Tetapi, buku tersebut lebih sulit dicari.

 

Dalam buku-buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia selama rezim Orde Baru, informasi tentang Pram dan karya-karyanya lebih sukar lagi ditemukan. Hampir semua buku ajar menggelapkannya. Nama Rivai Apin, S Rukiah, dan Dodong Djiwapradja, misalnya, boleh disebut, tetapi nama Pram haram hukumnya. Standar ganda terasa di sana. Begitu kesan yang muncul ke permukaan. Padahal, dalam catatan DS Moeljanto, pada Orde Lama, keempat sastrawan tersebut sama-sama aktif bergiat di Lekra walaupun dengan intensitas keaktifan berbeda.

 

Sepanjang pengetahuan saya, hanya di buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMA Kelas I Program Inti karangan Suryadi Permana yang disusun berdasarkan Kurikulum 1984 nama Pram disebut. Itu pun sangat terbatas dan dengan data tak akurat. Di sana hanya disebut "Pramudya Ananta Toer, dengan karyanya: Percikan Revolusi (novel), Keluarga Gerilya (novel), Blora (novel), Tikus dan Manusia (terjemahan)".

 

Padahal, Percikan Revolusi bukanlah novel, melainkan buku kumpulan 10 cerita pendek. Ketika buku-buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia mengacu pada Kurikulum 2004 serta buku-buku Pram dan buku-buku tentang karya Pram dan Pram sendiri makin mudah diperoleh, situasinya tak banyak berubah.

 

Pangkal semua itu adalah masa lalu Pram sendiri. Dia aktif bergiat di Lekra dan sangat aktif menyerang para sastrawan penganut paham humanisme universal, terutama penanda tangan Manifes Kebudayaan.

 

Bahkan, konon, menurut seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan, Pram pernah mengacung-acungkan pistol terhadap seniman yang sedang berseminar di Jakarta. Tetapi, Pram membantahnya dengan kalimat yang sederhana, "Bagaimana mungkin saya melakukannya. Seumur hidup saya tak pernah punya pistol." Padahal, kita tahu, dia pernah menjadi tentara. Ini tentu ironisme yang lain.

 

Perjuangan setengah hati

 

Ketika musim berganti, Pram tidak balik diserang. Sekurangnya secara terang-terangan. Bahkan, sejak 1994, buku-bukunya kembali diterbitkan. Beberapa buku terbarunya pun terbit dan beredar luas. Wacana tentang diri dan karyanya mulai pula lebih mudah diperoleh sejak era reformasi bergulir.

 

Bahkan, beberapa tahun terakhir, sejumlah buku Pram tergolong sangat laku sehingga dicetak ulang beberapa kali dan dipajang secara khusus di pelbagai toko buku. Sayangnya, hingga akhir hayatnya, 29 April 2006, pelarangan atas buku-buku Pram belum juga secara resmi dicabut Pemerintah Indonesia. Itulah mungkin puncak ironisme yang membalut perjalanan Pram dan karya-karyanya.

 

Masa lalu itu, sebagaimana diakui beberapa sastrawan penganut paham humanisme universal yang masih hidup, memang tak menciptakan dendam.

 

Tetapi, sebelumnya, dia seperti pernah melahirkan perjuangan setengah hati untuk pembebasan karya-karya Pram. Bahkan, ribut-ribut perihal Ramon Magsaysay Award untuknya pada sekitar medio 1995 melengkapi perjuangan setengah hati itu.

 

Sekalipun Pram selalu membantah segala tuduhan terhadapnya, tetapi banyak pihak menyepakati bahwa dia pernah salah melangkah. Mana yang benar dari tuduhan dan bantahan tersebut, biar masyarakat yang menentukan.

 

Namun, kita harus mengakui, Pram pernah menghasilkan karya-karya yang bermutu baik. Karya-karya itu pantas diakrabkan kepada masyarakat. Keseriusannya meriset sebelum menulis karya sastra pantas menjadi teladan bagi para penulis karya sastra masa kini yang sering dinilai lemah dalam hal yang satu itu.

 

Khusus karya-karyanya yang layak diperuntukkan bagi subyek ajar, tentu guru atau dosen akan memilihkan secara arif. Ini supaya sejarah kesusastraan modern Indonesia tetap menyimpan kejujuran dan jiwa besar.


Blog EntryArus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta ToerSep 3, '06 2:35 AM
for everyone

Oleh: Linda Christanty

 

Artikel ini bisa juga dibaca di http://indoprogress.blogspot.com

 

PRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun, ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api, lalu menyurut sedikit untuk soal-soal yang memedihkan hati dan sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang harus berbicara keras padanya. Dia tuli. Untuk lebih aman, biarkan dia saja yang bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.

 

"Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yang dianugerahi bintang lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya, membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi, tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution dan Soeharto itu sama saja, sama-sama KNIL," tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan Belanda.

 

Di tengah emosi yang campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa benci terhadap penguasa Orde Baru yang telah mengirimnya ke Pulau Buru, tanpa pengadilan, dan memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang Bolshevik yang dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai novel tersebut.

 

Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik. Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden Soekarno sendiri kurang mesra dengan tentara dan dianggap bersimpati pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah intrik dan kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan dan memerintahkan pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yang menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.

 

Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yang baru saja menikah saat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yang tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. Dan ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yang korup.

 

Dalam rumah beton dua lantai yang dibangun dari buku-bukunya yang laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, dan tak bisa pergi ke luar negeri untuk menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Untuk membaca buku Pram orang harus sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, dan menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru dan yang selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yang terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yang kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yang paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara dan tangan-tangan pemuda yang menjadi kacung. Barangkali, untuk mereka yang terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.

 

Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan "massa" dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.

 

Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yang Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah kekuatan perubahan berpusat dan menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian menulis tentang mereka.

 

Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yang setaraf budak menjadi perempuan yang menguasai ilmu dagang, pintar menulis dan bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yang mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.

 

Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yang sah merebut anak perempuannya dan semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yang disokong penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia di tanah pelarian. Namun, yang terpenting mereka sudah melawan.

 

Selain tetralogi Bumi Manusia yang melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yang selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.

 

Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.

 

Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.

 

Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.

 

Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.

 

Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.

 

Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206)

 

Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.

 

Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi. Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.

 

Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.

 

Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.

 

Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang berharap, Galeng membuat keputusan.

 

"Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya, semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam diri dan terhadap diri-sendiri." (hlm. 749)

 

Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.

 

Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki "literatur maritim Nusantara" tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.

 

Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng, pemuda desa, sehingga penjelasannya yang sembarangan ini bisa diterima? Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yang tak punya pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman Jawa.

 

"Tunggu," tegah Wiranggaleng, "biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …" (hlm. 746)

 

Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yang mulai berdiri pada abad ke-13 tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yang menguasai samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut melawan Funan?

 

Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman. Kosa kata bahasa Melayu yang jadi lingua franca waktu itu muncul di sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan kayu di dinding), tegah (cegah), dan sebagainya. Ini juga jejak-jejak Sriwijaya, bukan?