Catila's posts with tag: profesi
Oleh Eka Budianta
Pekerja Budaya
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/11/seni/3307312.htm
========================
Indonesia dikaruniai jiwa-jiwa yang teguh dan pikiran brilian. Itulah kekayaan termahal bangsa ini yang tidak boleh dilupakan. Kepergian dua penyair "paruh waktu", Tuti Gintini (45) dan AS Dharta (83), pada awal Februari 2007 dengan jelas mencatatkan hal ini. Mengapa terpaksa disebut "penyair paruh waktu"? Karena kepenyairan mereka menumpang pada predikat lain yang lebih mapan.
Tuti Gintini lebih dikenal sebagai wartawati dan produser MetroTV. Ia pernah meraih Hadiah Adinegoro, lambang supremasi wartawan di negeri ini. Tuti adalah seorang penulis pariwisata terbaik untuk Indonesia. Wartawan senior Rosihan Anwar memujinya karena, untuk menuliskan keindahan Tanah Airnya, Tuti menyelam ke dasar lautan. Padahal, penyair yang berjiwa halus ini bukan penyelam. Naik motor dan menyetir mobil pun tidak berani.
Tokoh satu lagi, AS Dharta, adalah pendiri dan sekretaris pertama Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). "Ia lebih banyak berperan sebagai orang partai ketimbang sebagai sastrawan," kata penyair senior, Taufiq Ismail. Padahal, Dharta—yang akrab dengan Rendra dan dianggap guru oleh mendiang Pramoedya Ananta Toer—sepanjang 1950-an banyak memproduksi esei dan puisi dengan berbagai nama samaran: antara lain Klara Akustia, Kelana Asmara, Yogiswara, dan Rodji.
AS Dharta sendiri semacam singkatan yang menyamar. Aslinya adalah Adi Sidharta, lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 27 Maret 1924. Adapun Tuti Gintini lahir dengan nama Tan Siau Gin, 26 Januari 1962 di Kemantran, Tegal, Jawa Tengah. Ada banyak alasan mengapa keduanya perlu dikenang dalam sebuah refleksi. Pertama, karena mereka wafat pada hari yang berurutan. Mula-mula Dharta pada hari Rabu, 7 Februari; kemudian Tuti pada Kamis tanggal 8.
Dharta meninggal karena usia lanjut, setelah dirawat di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, sedangkan Tuti wafat di klinik Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menjelang berangkat berobat ke Singapura. Tuti menderita kanker antara jantung dan paru- paru. Mestinya ia berangkat 2 Februari, tetapi batal karena banjir nyaris merendam seluruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan rumahnya di Bekasi.
Kegetiran dan penderitaan
Alasan kedua, baik Tuti maupun Dharta mempunyai kepedulian yang mendalam terhadap urusan sosial. "Saya tidak menyangka Tuti telah menjadi penulis dan wartawan yang menyuarakan kepentingan rakyat kecil," kata Ibundanya, Tjioe Wie Kiauw, yang populer dengan panggilan Ibu Yuliani. Dalam usia 77 tahun, perempuan yang melahirkan Tuti itu terdengar tulus bicaranya dan jernih pikirannya.
"Tuti itu anak mama. Sama sekali tidak mengenal kasih sayang ayah. Ia yatim sejak kecil. Suami saya, Tan Ek Tjioe, tidak mewariskan apa-apa selain lima orang anak yang masih kecil-kecil," kata Ibu Yuliani. Nadanya getir, sedih, tetapi dibuat humor. Ayahanda Tuti seorang aktivis, tidak pernah pulang sesudah peristiwa 1965. Saudara- saudaranya cuma berani menyebut kata "tersangkut". Selebihnya hanya penderitaan dalam diam.
Dengan susah payah, berdagang kelontong, Yuliani membesarkan lima anaknya. Tuti yang bungsu. "Kami ini orang susah, tetapi anak-anak saya malah memilih jadi seniman. Bagaimana? Apakah mau jadi lebih melarat lagi?" ia bertanya kepada Dadang Christanto, kakak Tuti.
"Biarin, Ma!" kata Yuliani menirukan anaknya. "Eh, sekarang Dadang jadi pelukis dan pematung terkenal, tinggal di Brisbane, Australia. Kok bisa ya?" Dia juga ingat, Tuti berangkat kuliah ke Jakarta berbekal setumpuk daster untuk dijual. Hingga mendekati ajalnya pun, Tuti gemar berjualan aksesori perempuan, termasuk kalung mote. Kesulitan hidup telah membuatnya ulet dan terus berjuang.
"Musim hujan tidak juga menolongku dari kabut-kabut yang membujukku bersatu dengan luka-luka". Begitu bunyi satu sajak Tuti Gintini yang paling terkenal. Disiarkan dalam harian Sinar Harapan, 23 Januari 1982, genap seperempat abad sebelum meninggal. Ibu Yuliani heran. "Saya tidak pernah bercerita apa-apa tentang ayah mereka. Tetapi, dalam karya-karya Dadang dan Tuti terasa sakit hati yang tidak berkesudahan," katanya.
Kegetiran serupa juga dirasakan oleh keluarga AS Dharta. "Sepanjang hidupnya, kepada siapa pun, bapak selalu mendendangkan agar Pasal 33 UUD 45 segera dilaksanakan dengan benar," kata Ira Dharta, putri semata wayang. Ira ikut merasakan keprihatinan ayahnya atas tidak terjaminnya kesejahteraan rakyat. "Kita harus mengutamakan perlakuan yang manusiawi." tambah putri penulis buku puisi berjudul Rangsang Detik ini. Dharta pernah menjadi guru bahasa Inggris untuk guru taman kanak-kanak di Cianjur.
Sepanjang hayatnya, Dharta yang dimakamkan tidak jauh dari rumahnya adalah warga Cianjur, persisnya di Cibeber. Setengah abad silam ketika berjaya sebagai Sekretaris Pertama Lekra, Dharta memang banyak bepergian. Sebuah kartu pos bertanggal 20 Februari 1953 dikirimnya dari Wina, Austria, untuk musuh besar dan sahabatnya, HB Jassin. "Ini gambar tempat istirahat buruh di Rumania. Memang bukan suatu surga," tulisnya bercanda.
Ditambahkan lagi, "Demam musim winter bikin saya rindu hawa panas dan kawan-kawan di Tanah Air." Perdebatan sastra Indonesia saat itu diramaikan oleh penolakan Dharta terhadap Angkatan '45 (terutama Chairil Anwar) dengan norma hidupnya. Dalam serangannya: Kepada
Seniman "Universiil", Dharta menulis: "Mengapa HB Jassin tidak mengupas djiwa korrup mereka. Sampai akhir hayatnya, Dharta terkenal suka bicara berapi-api. Prosais Martin Aleida membesuknya di RS UKI seminggu sebelum meninggal. "Cukup lihat dia dari jauh saja. Kalau mendekat, dia pasti bicara penuh semangat sampai dadanya tersengal- sengal," kenang Martin.
Meski langit kelam
Dengan menggunakan nama Klara Akustia, Dharta menulis sajak-sajak yang heroik, patriotis, penuh semangat. "Tetapi, pada masa Orde Baru, karena takut, banyak kritikus sastra Indonesia sengaja menggelapkan sejarahnya sendiri," tulis Korrie Layun Rampan, dengan SMS dari Kutai, Kalimantan Timur. Korrie menyatakan tetap kagum pada karya-karya Dharta. "Pengarang Lekra adalah sastrawan Indonesia," tegasnya.
Ungkapan duka atas wafatnya Tuti dan Dharta bertaburan dari sejumlah seniman di berbagai penjuru. Pelukis Hardi di Jakarta mengenang Tuti sebagai penulis yang melayani dan membesarkan banyak seniman tanpa pamrih. Hal serupa dinyatakan deklamator terkenal, Jose Rizal, yang sedang berada di Tanjung Pinang. "Tuti bersikap familiar dan tidak pernah mengeluh," katanya.
Dr Henri Supriyanto, pakar ludruk Jawa Timur, mengenang saat-saat menjelang koran tempat mereka bekerja, Sinar Harapan, dibreidel pada Agustus 1985. "Dalam pertemuan dalang di Nganjuk, Tuti bersikap sangat bersaudara, terbuka, dan membagi-bagikan uang saku tanpa arogan," tulisnya. Tuti dikenang teman-temannya di Lampung, Cirebon, termasuk oleh bintang sinetron Jajang C Noer yang bilang: "Dengan segala kesederhanaan ia perempuan yang mandiri, bertanggung jawab atas keberadaan keluarganya."
Pernyataan Jajang bahwa Tuti juga seorang ibu yang penuh kasih, dan istri yang penuh pengertian, sama sekali tidak berlebihan. Dalam upacara pelepasan jenazah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jatibening, Bekasi, hal itu terbukti. Lala, remaja putri 16 tahun, dengan teguh bernyanyi solo di depan jenazah ibunya. Sidang perkabungan terharu mendengarnya.
Putri bungsu dari dua anak Tuti dengan Joseph Ginting itu menyelesaikan lagu dengan merdu dan khidmat: "Aku tahu ada hari esok/Meski langit kan kelam".
Lala bernyanyi tentang keteguhan hati yang tak terlupakan. Hal serupa dilakukan oleh "anak angkat" Dharta, yaitu Budi Setiyono. Penulis lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, itu sedang mengumpulkan esai, puisi, dan berbagai tulisan Dharta. Perlu diingat pikiran-pikiran cemerlang Dharta telah melahirkan cendekiawan baru dari dalam maupun luar negeri.
Itulah potensi pengarang di hari esok. Mereka adalah harta karun setiap bangsa. Karya-karya Tuti Gintini juga sedang dihimpun menjadi biografi dan kesaksian. Sobat kentalnya, Martha Sinaga, menyiapkan biografi Tuti sebagai manusia yang merdeka. Penyair, citra diri sang Maha Pencipta.
Ada beberapa tulisan:
Kiriman: mulaharahap
Kompas, ll Februari 2007
Sobron Aidit Meninggal
Jakarta, Kompas - Penulis dan penyair yang bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Paris, Perancis, Sobron Aidit, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Paris, Sabtu (10/2) pukul 09.23 waktu setempat atau pukul 16.23 WIB.
Sobron yang lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934, adalah adik pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit. Saat peristiwa G30S meletus, Sobron tengah berada di Beijing sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Sejak itu, ia tak bisa pulang ke Indonesia.
Menurut penuturan keponakannya, Ilham Aidit—putra keempat DN Aidit yang saat ini bekerja di Nanggroe Aceh Darussalam—pamannya dilarikan ke rumah sakit di Paris pada Jumat malam karena penyumbatan pembuluh darah ke otak.
Sampai sore kemarin, dia belum tahu apakah pamannya itu akan dimakamkan di Perancis atau Belanda. Selama lima tahun terakhir, menurut Ilham, Sobron lebih banyak ulang alik Perancis-Belanda. "Temannya kebanyakan di Perancis, tapi kedua anaknya di Belanda," kata Ilham.
Sobron memiliki dua anak, yakni Wita dan Nita. Keduanya tinggal di Belanda dan memberinya lima cucu. Istri Sobron telah meninggal semasa mereka hidup di pengasingan di Beijing.
Sobron pindah ke Paris tahun 1981. Bersama sejumlah teman, dia kemudian mendirikan restoran "Indonesia" di Rue de Vaugirard, Paris. Sebagai penulis, Sobron menulis cerita-cerita pendek, yang beberapa di antaranya berlatar belakang restorannya itu. Tahun 2000, buku kumpulan cerpennya berjudul Kisah Intel dan Sebuah Warung (Garba Budaya) diluncurkan. Terakhir, terbit bukunya berjudul Razia Agustus (Gramedia Pustaka Utama). Buku itu diluncurkan dalam sebuah acara diskusi buku di Bentara Budaya Jakarta, November
2006. (BRE)
Kolom IBRAHIM ISA - IN MEMORIAM SOBRON AIDIT
Kiriman: Ibrahim Isa
Pagi ini Zus Els Tahsin, istri mendiang Suraedi Tahsin, menilpun kami:
BUNG SOBRON PAGI INI MENINGGAL DUNIA, katanya dengan suara sedih.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI 'UN – SEMOGA ARWAHNYA DITERIMA DI SISI TUHAN Y.M.E.
Sobron meninggal sesudah menderita serangan jantung dan pembuluh darah dua hari yang lalu. Ia meninggal di rumah sakit di Paris, salah satu rumah sakit yang baik. Keluarganya, dua orang putri, Wita dan Nita beserta cucu-cucu dan manantu syukur sempat menengok ayah, kakek, mertua beberapa saat sebelum Sobron Aidit meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Kesedihan besar yang menimpa keluarga Sobron Aidit juga dirasakan oleh para handai taulan di Paris, Amsterdam, Stockholm, Berlin, dan di tanah air tercinta Indonesia. Tak lain harapan kita semua keluarga yang ditinggalkan Sobron tabah adanya menghadapi musibah ini.
Sobron Aidit, adalah sahabat karibku, seorang kawan yang kukenal puluhan tahun lamanya. Oragnya peramah, gembira, optimis dan penuh dengan energi (entah dari mana energi itu, mengingat umumnya yang sudah di atas tujuh puluh). Boleh dikatakan, setiap hari Sobron menulis. Apakah itu cerpen, apa yang berjudul 'cerita-cerita santai', 'kolom saya', dan lain-lain judul yang hidup dan jenaka. Menulis, itulah 'hidup' nya Sobron Aidit. Tulisannya sering yang santai-santai, yan biasa-biasa saja, ditulis dengan gaya yang hidup, lugu apa adanya, menceriterakan kehidupan sehari-hari dari orang Paris, dari orang Amsterdam, dari keluarganya, dari anaknya, Nita, Wita dan cucu-cucu yang semuanya sangat dekat dihatinya. Tidak itu saja, Sobron juga berceritera tentang keadaan rakyat kita yang masih hidup serba kekurangan.
Sobron juga berceritera tentang penderitaan para korban Peristiwa 1965 yang hingga kini masih didiskrisminasi, dimearginalisasi dan di 'paria'kan oleh penguasa dan para pendukungnya. Sobron aktif memperjuangkan agar para korban pelanggaran HAM tsb direhabilitasi nama baik dan hak-hak mereka sebagai warganegara yang mencintai tanah air dan Republik Indonesia. Sobron pandai melukiskan penderitaan para korban Peristiwa 1965 Pelanggaran HAM Orba, karena ia sendiri adalah salah seorang dari korban pelanggaran HAM rezim Orba, sebagaima halnya keluarganya, teristimewa abangnya Ahmad.
Membaca tulisan-tulisan Sobron, orang bisa tahu bahwa meskipun jasadnya tinggal di Paris, sebagai warganegara Perancis, tetapi semangat dan jiwanya tetap Indonesia, yang teramat cinta pada tanah air dan bangsa. Puluhan tahun berkelana di luarnegeri akibat persekusi Orba, tidak sedikitpun melunturkan jiwa patriotik Sobron.
Sobron Aidit telah tiada. Tetapi kenang-kenangan indah akan tetap pada kita semua: Sobron Aidit sebagai kawan, yang hangat, dengan siapa kita bisa bersenda gurau, tetapi juga bisa dengan serius membicarakan nasib bangsa dan tanah air, hari depan Indonesia.
Semangat dan energiknya Sobron Aidit menulis, ----- sesuatu yang pasti ada gunanya bagi generasi muda, merupakan suri teladan yang tak akan terlupakan sepanjang masa.
Berita Duka : Sobron Aidit-Paris
Kiriman: novelanjar
BERITA LANJUT TENTANG ALM. SOBRON AIDIT
Pagi ini, 10 Februari 2007, jam 09:23, matahari musim dingin masih belum nampak di langit yang kelabu. Di ujung sana kudengar suara lelah dan serak sehingga tidak mampu kukenal.
"Suaranya tidak terlalu jelas, Bung Pijo", ujarku menebak suara yang yang kudengar itu adalah suara Mas Pijo, salah seorang teman kami.
"Aku ini, Mil. Iba", tegas suara di ujung yang jauh mengetahui kekisruhanku.
"Ada apa? tanyaku. "Pasti berita buruk".
"Ya, pagi ini jam 09:00, Oom Sobron sudah meninggal di rumah sakit Pitie Salpetière. Kau siarkan berita ini, ya, agar teman-teman segera mengetahuinya". Lalu telpon pun ditutup dan percakapan kami berakhir.. Aku segera mencuci muka dan mengenakan pakaian musim dingin menuju rumah sakit. Sebenarnya, hari ini, sekitar jam 13:00, semua kami yang berada di sekitar keluarga Koperasi Restoran Indonesia, Paris, memang berencana menengok Bung Sobron di rumah sakit, setelah kemarin Bung Joso setelah pulang dari rumah sakit, menyampaikan keterangan dokter yang menangani Bung Sobron, bahwa Sobron sudah hanya menunggu saat kepergian. Sudah tak ada harapan lagi untuk tertolong. Mas Aji, teman kami yang seorang dokter bedah memberikan keterangan medisnya. Kami yang mendengarnya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Lalu sepakat untuk bersama-sama hari ini mengunjungi Bung Sobron. Ternyata perkembangan berlangsung lebih cepat dari keinginan dan rencana kami. Bung Sobron telah
meninggal mendahului rencana kami.
Keluar dari metro [kereta-api bawah tanah] Chevaleret, aku dan temanku segera menuju ke rumah sakit Pitie Salpetière, rumah sakit terbesar di Eropa Barat yang luas kompleksnya merupakan sebuah kota kecil dalam arti harafiah.
Menyusur jalan-jalan berkabut, di bawah angin dingin dan pepohonan meranggas, aku dan temanku meneliti nama-nama jalan dan papapan penunjuk arah. Sambil meneliti semua nama jalan dan papan petunjuk arah, kami berpapasan dengan seorang perempuan muda berpakaian putih, stateskop di kantong bajunya. Perempuan yang kemudian ternyata seorang dokter kami hampiri, menanyai alamat yang kami sedang cari.
"Mari kuantar. Aku juga sedang mau ke alamat tersebut", ujarnya..
"Terimakasih".
"C'est normal", “hal yang wajar", jawabnya ramah lembut.
Di ruang yang kami cari terdapat beberapa kamar. Kami tidak tahu di kamar mana jenazah Bung Sobron dibaringkan. Kembali aku bertanya kepada seorang jururawat perempuan yang kebetulan lewat. Ia menunjuk ke sebuah pintu.
"Masuklah", ujarnya sambil berlalu meneruskan pekerjaannya.
Aku dan temanku masuk. Tak ada seorang pun di kamar itu. Ponakan, anak, cucu dan menantu Bung Sobron masih belum datang. Di hadapan kami terbujur jenazah ditutup kain putih dari kaki hingga kepala. Kain putih itu kubuka dan kusaksikan wajah teman lamaku: wajah Sobron Aidit. Pucat. Dua matanya terkatup. Tak lagi ada gerak apa pun sudah. Kematian sudah menyekapnya. Yang berkeliaran di hadapanku adalah kenangan kebersamaan di berbagai negeri. Terutama di negeri orang. Yang masih tak mati adalah tulisan-tulisannya. Kata-kata tak terbunuh ajal. Arus mengalir dan mengalir. Angin yang tak punya dahan hinggap.
Usai mengambil beberapa foto dengan kamera digital sederhanaku, keluarga Bung Sobron dan teman-teman keluarga Koperasi Restoran Indonesia berdatangan. Melihatku Nita, puteri Bung Sobron langsung menangis dan menyandarkan dirinya ke bahuku. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan kecuali :"Ooom...".
"Gagah, nak", ujarku lirih ke telinga Nita.
"Ya, Oom. Aku akan gagah".
Kemudian Nita dan Wita, mbakyu kandungnya, mulai sibuk menangani soal-soal adminstratif di rumah sakit, berunding dengan Joso dan Didien, sebagai penanggungjawab Koperasi Restoran kami.
Dari diskusi itu untuk sementara yang bisa diputuskan bahwa hari melayat terbuka mulai:
HARI MINGGU, 11 FEBRUARI 2007
JAM: 13:30 sd 16.00
TEMPAT: CHAMBRE MORTUOIRE [RUANG JENAZAH]
ALAMAT: 22, RUE BRUANT
RUMAH SAKIT PITIE SALPETRIERE
75013 PARIS
METRO: CHEVALERET
Hari kremasi masih belum diputuskan. Menurut rencana sementara, hari kremasi itu akan dilakukan akhir pekan minggu depan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada teman-teman dari luar Perancis yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Sesuai dengan permintaan terakahir Bung Sobron, upacara akan dilakukan secara agama Kristen. Sobron sendiri sudah menetapkan pendeta yang ia harapkan bisa memimpin upacara. Sedangkan abunya, ia minta agar sebagian ditaruh didekat makam istrinya di Beijing, sedangkan separo lagi di samping makam ibunya di Indonesia.
Permintaan terakhir Sobron ini, mengingatkan aku akan kata-kata penyair Agam Wispi alm.:
"pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati".
Hidup merupakan arena berlaga cinta dan ajal. Benarkah kata-kata Chairil Anwar bahwa: "hidup menunda kekalahan" dan kita tidak lain dari Sysiphus, jika menggunakan ungkapan Albert Camus?!
Paris, 10 Februari 2007.
--------------------------------
JJ. Kusni
"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"
^-^ salam beraja, -anj- ^-^
Minggu, 11 Februari 2007
Kiriman: stephen
Reportase Mister Mak Nyuss...
Meski doyan semua jenis makanan, pencinta kuliner ini pantang memakan beberapa santapan.
BONDAN WINARNO
Rumah Bondan, Bukit Sentul, Bogor, Jawa Barat, Pukul 06.30
Hujan deras mengguyur Perumahan Bukit Sentul, Bogor, Kamis pagi dua pekan lalu. Seharusnya hari itu Bondan Winarno menjalani rutinitas paginya, jalan kaki keliling kompleks. Ia mengurungkannya karena cuaca tak bersahabat. Ia memilih meneruskan membuka e-mail, kebiasaan lain yang dijalaninya setiap pagi.
Sejak tinggal di perumahan yang kini bernama Sentul City itu, Bondan punya beberapa kebiasaan dalam membuka hari. Ia bangun pukul enam, membuka e-mail hingga pukul tujuh, lalu jalan kaki keliling kompleks sekitar satu jam. "Ini olahraga murah meriah," katanya saat kami menikmati kopi panas dan pisang goreng mentega di beranda rumahnya.
Sudah sekitar tiga tahun ia menetap di kompleks itu. Sebelumnya ia tinggal di Bintaro, Tangerang, Banten. Menurut dia, tinggal di Sentul lebih tenang, udaranya bersih, jauh dari hiruk-pikuk Ibu Kota. "Sangat cocok buat pensiunan seperti saya," ujar pria 56 tahun itu.
Rumah Bondan terasa nyaman dan asri. Aneka tanaman hias, dari rumput jepang, pisang kipas, aster, hingga anggrek, merimbuni halaman dan beberapa sudut rumah bercat kuning gading itu. Sejumlah lukisan dan hiasan dinding menghiasi ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dan beranda rumah bergaya arsitektur Meksiko itu.
Ada dua dapur di dalam rumah berlantai dua tersebut. Keduanya berada di lantai dasar. Menurut Bondan, satu dapur berfungsi untuk memasak hidangan sehari-hari, satu lagi khusus digunakan dia sendiri saat menjamu rekan-rekannya sesama penggemar kuliner. Biasanya sebulan atau dua bulan sekali mereka meriung, mencoba resep masakan baru.
Dapur khususnya itu juga digunakan saat menggelar acara keluarga, misalnya ulang tahun perkawinannya dengan Yvonne--seorang perempuan Belanda. Saat itulah Bondan akan memasak khusus buat tiga anak dan enam cucunya. "Anak dan cucu saya paling suka masakan Italia dan sop buntut bikinan saya," kata pria yang hobi masak dan jalan-jalan itu.
Sekitar pukul 9.30, Bondan mengajak sarapan. Ia mempersilakan Tempo mencoba nasi goreng bebek bikinan pembantu rumahnya. "Pembantu saya itu pinter masak," ujarnya. "Saya tinggal kasih tahu bahan dan bumbunya, dia akan memasaknya enak sekali."
Karena itu, ia dan istrinya tak perlu ikut repot memasak. Untuk menu makanan sehari-hari, ia mempercayakan sepenuhnya kepada Sri, yang telah membantu mereka selama 20 tahun.
Waroeng Shanghai Blue, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Pukul 12.30
Hari itu, Bondan diundang makan siang oleh staf Singapore Tourism Board. Bondan berjalan melalui teras menuju mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Ia mengenakan baju batik hijau pupus, celana krem, dan sepatu kulit hitam. Tepat pukul 11.00, kami meluncur di atas Opel Blazer abu-abu metalik menuju Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Sejak memutuskan pensiun dini pada 2004, ia tak terikat dengan perusahaan atau lembaga tertentu. Tapi pria energetik ini masih punya segerobak aktivitas. Ia menjadi konsultan komunikasi sejumlah perusahaan, kolumnis lepas media lokal dan regional, presenter acara kuliner, dan "kepala suku" Komunitas Jalansutra. Yang disebut terakhir itu justru memberi identitas khas baginya dan ikut melambungkan namanya.
Komunitas itu bermula dari kolom Jalansutra yang ditulis Bondan dan dimuat teratur di Kompas Cyber Media. Sejak dirilis pada Oktober 2000, kolom itu selalu mendapat respons gencar dari para pembacanya. Para penggemar Jalansutra kemudian merasa perlu berhimpun dalam sebuah milis demi komunikasi lebih intensif. Kini anggotanya mencapai 8.000 orang, tersebar di dalam dan luar negeri.
Menurut Bondan, semua yang dijalaninya seperti mengalir begitu saja. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 April 1950, sejak kecil ia memang suka memasak. Itu karena ia kerap diminta membantu ibunya memasak di dapur. "Akhirnya keterusan, deh, sampai sekarang," katanya.
Sebenarnya, ketika bocah, ia bercita-cita menjadi penerbang. Ibunya ingin ia menjadi dokter atau insinyur. Masuklah ia ke Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Tapi ia tak sampai lulus karena keburu jadi juru kamera Puspen Hankam di Jakarta.
Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap di lingkup komunikasi massa. Namanya mulai dikenal ketika menjadi kolumnis tetap rubrik Kiat, kolom pendek soal-soal manajemen di Tempo, sejak 1984 hingga majalah berita itu dibredel pada Juni 1994. Terakhir ia tercatat sebagai pemimpin redaksi harian sore Suara Pembaruan.
Hari beranjak siang. Hujan deras yang sedari pagi mengguyur mulai reda. Setibanya di restoran Shanghai Blue pukul 12.30, Bondan langsung menuju meja di ruang tengah rumah makan bernuansa Betawi-Tionghoa itu. Tiga staf dinas pariwisata Negeri Singa telah menunggunya.
Dalam acara makan siang itu dibahas rencana Singapura memperkenalkan makanan khas negerinya. Mereka meminta masukan Bondan seputar makanan yang sebaiknya dijajakan buat para turis yang datang ke negeri itu. Mereka juga menanyakan makanan apa saja yang mesti diperkenalkan ke luar Singapura, termasuk Indonesia.
"Terus terang, saya sangat iri dengan rencana mereka," kata Bondan saat kami meluncur menuju Studio Samuan, Senayan, Jakarta Selatan. Menurut dia, seharusnya Indonesia juga melakukan hal serupa. "Apalagi negeri kita sangat kaya dengan aneka jenis makanan."
Bondan lalu mencontohkan pemerintah Thailand, yang menggunakan boga sebagai alat mempopulerkan negerinya. Negeri Gajah Putih itu punya program "Thai Food to the World". Lewat program ini, negeri itu ingin mendirikan 20 restoran Thai di seluruh dunia dalam kurun tiga tahun ke depan. "Kini masakan Thai menjadi makanan etnis paling populer nomor empat di dunia setelah Tionghoa, Jepang, dan India," pria yang berobsesi memperkenalkan makanan Indonesia ke tataran global itu menjelaskan.
Studio Samuan, Senayan, Pukul 14.30
Sejak 3 Juli 2006, sosok Bondan menghiasi layar kaca. Pria dengan tinggi 170 sentimeter dan berat 74 kilogram itu menjadi pemandu acara Wisata Kuliner di Trans TV saban Senin hingga Jumat. Lewat acara yang mengupas aneka makanan itu kemudian populer istilah "mak nyuss". Kata yang kini menjadi stempel lulus kelezatan versi Bondan itu dicomot dari buku kumpulan esai karya almarhum Umar Kayam, Mangan Ora Mangan Kumpul.
Sejak Januari lalu, kontraknya berakhir. Ia tak memperpanjang. Sebagai gantinya, ia kini tengah menggodok program serupa dengan rumah produksi Studio Samuan. "Acara ini akan membahas makanan dan budayanya," katanya ketika tiba di Studio Samuan di kompleks pertokoan Permata Senayan.
Bondan langsung menuju ruang pertemuan di lantai tiga. Di ruangan itu, dua staf Studio Samuan telah menunggu. Rapat sekitar satu jam itu membahas konsep hingga rencana syuting acara itu, yang akan digelar di kawasan Ubud, Bali. Nantinya, kata Bondan, acara itu akan ditawarkan ke sejumlah stasiun televisi.
Setelah pertemuan itu, kami meluncur ke Plaza Senayan. Sepanjang perjalanan, Bondan berkisah tentang makanan khas Indonesia yang mulai punah. Menurut dia, tak usah jauh-jauh, di Jakarta saja ada sejenis dessert yang kini sudah sulit ditemukan, namanya es selendang mayang. Nasi ulam khas Betawi juga sudah semakin terpinggirkan. Lalu di Solo ada cabuk rambak dan brambang asem yang kian langka.
Makanya, saat luang, biasanya akhir pekan, Bondan kerap berburu makanan-makanan langka itu. Saat ini, misalnya, ia sedang rajin bertandang ke warung khas Betawi di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. "Saya sedang kesengsem dengan masakan khas Betawi, gabus pucung," ujarnya.
Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Pukul 16.00
Di sebuah kafe di lantai dasar plasa itu, Bondan bertemu dengan Wali Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Jefferson Rumayar. Hadir pula mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih. Dalam pertemuan itu, Wali Kota mempresentasikan rencana menjadikan Tomohon sebagai kota bunga. "Saya diajak berdiskusi karena dua kali berturut-turut dipercaya sebagai juri kontes bunga di kota itu," kata Bondan.
Petang, seusai pertemuan itu, kami makan nasi goreng di pinggir jalan di belakang gedung MPR/DPR, Senayan. Sambil makan, Bondan berkisah tentang sejumlah makanan yang menjadi pantangannya. Ia tak mau menyantap makanan yang berasal dari hewan yang dilindungi, seperti penyu dan telurnya. Ia juga ogah makan sajian otak kera, yang proses pembuatannya sungguh mengerikan.
Yang pasti, meski doyan makan, Bondan tetap memperhatikan jumlah yang disantapnya. Demi menjaga kesehatannya, pengidap hipertensi ini enam bulan sekali kontrol darah. Lalu, setiap dua pekan ia juga melakukan detoks, mengkonsumsi jus buah-buahan, untuk menangkal racun dan kolesterol.
Kini, selain sedang sibuk menulis tiga novel, Bondan juga tengah menyiapkan buku tentang kuliner. "Buku itu diharapkan bisa menjadi petunjuk bagi penggemar wisata kuliner," kata pria yang terobsesi makan ulat sagu, makanan khas Indonesia Timur yang belum dicicipinya, itu.
NURDIN KALIM
Oleh Komaruddin Hidayat
Guru Besar Filsafat dan Rektor Universitas
Islam Negeri Jakarta; Pernah Menjadi Dosen Islamologi di Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/12/pustaka/3305684.htm
Sewaktu belajar di pesantren, saya pernah mendengar peringatan seorang ustadz (guru) agar jangan mempelajari filsafat karena cenderung menyesatkan iman. Filsafat adalah ilmu yang tidak berguna, yang mengawang-awang tidak menginjak bumi. Percuma membuang umur untuk belajar filsafat.
Bahkan, seorang dosen saya di IAIN dulu pernah membuat perumpamaan, belajar filsafat itu ibarat tukang pancing yang bisa-bisa dilarikan ikan. Alih-alih memperoleh ikan, malahan kita yang terseret hanyut. Ada benarnya, memang, memasuki dunia filsafat itu bagaikan menceburkan diri ke lautan ide yang tidak jelas batas kedalamannya.
Filsafat bermula dari pertanyaan, berakhir dengan pertanyaan. Namun, pertanyaan awal dan akhir memiliki bobot yang jauh berbeda. Bukankah pertanyaan cerdas dan mendasar (radikal) merupakan panduan dan amunisi bagi pencarian kebenaran? Ketika hidup tak lagi memiliki
pertanyaan bijak dan cerdas, maka hati dan pikiran kita tak lagi tumbuh, terjebak pada kesombongan dan sekaligus kepicikan.
Ketika membaca Karya Lengkap Driyarkara ini, ingatan saya langsung pada warisan Aristoteles, The Complete Works of Aristoteles, yang disusun oleh Jonathan Barnes. Meskipun ditulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagian besar isinya masih relevan dan mencerahkan untuk pembaca hari ini. Begitulah salah satu ciri karya filsafat yang ditulis secara serius dengan mengangkat tema dan masalah kehidupan yang sifatnya fundamental dan perenial.
Hemat saya, karya Driyarkara ini akan mengubah pandangan klise sebagian masyarakat yang memosisikan filsafat sebagai ilmu yang steril, sebuah permainan logika kering, dan tidak peduli pada kehidupan nyata sehari-hari yang penuh ingar-bingar dan sekaligus juga duka serta air mata. Hidup begitu kompleks dan warna-warni. Oleh karena itu, jika filsafat mengklaim dirinya sebagai sebuah pencarian serius, sistematis, dan mendalam tentang makna dan tujuan hidup yang sejati, maka filsafat juga harus terlibat dalam wacana kehidupan secara total dan multidimensional.
Dari sekian buku filsafat yang beredar, buku ini merupakan sebuah pembelaan nyata dan cerdas terhadap urgensi dan signifikansi studi filsafat, di samping buku ini juga merekam pemikiran reflektif dan konseptual, khususnya seputar kebudayaan dan pendidikan di Indonesia. Buah dari proses pendidikan suatu bangsa adalah membangun budaya unggul, tetapi di sisi lain jika budaya yang ada tidak sehat, maka kualitas pendidikan yang dihasilkan juga tidak bermutu.
Dalam buku ini hubungan dialektis antara pendidikan dan kebudayaan begitu kental dan menarik direnungkan, terutama oleh para politisi dan penyelenggara pemerintahan. Dikatakan, esensi pokok dari pendidikan adalah memanusiakan diri dan orang lain, lalu kita mengada bersama serta membangun kebudayaan yang merupakan rumah tempat tinggal.
Dalam rumah budaya itu kebebasan pribadi merupakan nilai yang sangat mahal dan harus dijaga bersama sehingga dalam proses mengada bersama terjalin komunikasi eksistensial yang autentik (halaman 282). Oleh karena itu, jika proses sosial, politik, maupun ekonomi malah menggerus kebebasan dan malah menindas pilihan-pilihan seseorang, yang demikian itu merupakan kejahatan eksistensial yang harus kita cegah.
Memiliki dan mengetahui
Sekalipun tema dan diskusi filsafat kadang muluk-muluk dan abstrak, sesungguhnya yang dikaji dan dibicarakan oleh filsafat adalah diri kita sendiri (halaman 1001). Dengan demikian, filsafat bersifat eksistensial, fokusnya adalah kehidupan kita sehari-hari, tentang keberadaan manusia itu sendiri dengan segala sepak terjangnya. Filsafat berpangkal pada kehidupan yang konkret dan nyata. Kalaupunmuncul teori yang kadang kala rumit dan njelimet, itu semata untuk mencoba menerangkan dan menggali makna di balik kehidupan manusia sehari-hari yang memang kompleks, menyimpan misteri dan kejutan, bukannya sebuah perjalanan yang selalu mulus dan lurus.
Jadi, kalau pada mulanya semua ilmu muncul dari rahim filsafat, yang demikian itu tidak salah mengingat filsafat bangkit dari sebuah kesadaran dan keheranan tentang dunia di sekeliling yang pada urutannya mendorong pemikiran sistematis, empiris, dan riset ilmiah. Dengan memahami perilaku dan watak alam, manusia melakukan sintesis-teknis-fungsional yang disebut teknologi agar kehidupan pada tataran teknis-praktikal menjadi mudah dan nyaman. Dewasa ini masyarakat sudah sangat bergantung pada teknologi yang merupakan kreasinya
sendiri. Perkembangan ini pun memengaruhi gaya dan makna hidup bagi seseorang.
Ketika seseorang terlahir, tumbuh, dan dimanjakan oleh kultur kapitalisme, maka filsafat tidak pernah berhenti melakukan interupsi dengan berbagai pertanyaan kritis dan radikal tentang makna hidup. Bagi para filsuf, konsep memiliki yang lebih tinggi bukannya berupa pengumpulan dan penumpukan materi, melainkan memiliki dengan jiwa dan akal sehat terhadap ilmu dan pengetahuan yang benar. Kebenaran dan jalan hidup yang benar, yang mestinya menjadi prioritas untuk dimiliki dengan jiwa dan pikiran. Dengan cara pandang ini, maka menjadi jelas konsep kekayaan dan kepemilikan menurut filsuf. Hal ini cukup menonjol pada perjalanan hidup dan jati diri Driyarkara, yang memilih kekayaan batin dan pengetahuan ketimbang popularitas dan jabatan, meskipun jalan terbentang.
Persona yang menyejarah
Sekalipun tema-tema yang disajikan dalam buku ini begitu beragam dan sudah akrab dengan telinga dan pikiran kita, pendekatannya sangat reflektif dan dalam. Di situlah salah satu kelebihan Driyarkara, mampu menyajikan masalah berat dengan bahasa yang cair, komunikatif, dan sangat piawai menciptakan istilah-istilah filsafat dalam bahasa Indonesia sebagai padanan bahasa asing, baik yang berasal dari bahasa Latin, Jerman, maupun Perancis.
Ketika membaca halaman 1267, "Ke Manakah Arah Sejarah?" yang merupakan epilog pembahasan seputar tokoh fenomenologi dan eksistensialisme, ingatan saya muncul kembali ketika pertama kali membaca buku itu sekitar tahun 1978 sewaktu menjadi mahasiswa fakultas usuluddin di IAIN Jakarta (sekarang UIN, Universitas Islam Negeri). Pengenalan saya terhadap aliran eksistensialisme pertama kali melalui buku karangan Prof Dr Fuad Hassan dan kedua Driyarkara.
Oleh Driyarkara, kita diajak melakukan tur intelektual secara reflektif dan kontemplatif, memasuki wilayah religi dan kemanusiaan yang merupakan subyek utama sejarah. Dia sangat menekankan dimensi kemanusiaan yang senantiasa tumbuh sehingga Driyarkara juga telah memperkaya dengan idiom-idiom filsafat dalam bahasa Indonesia yang mengekspresikan ciri aliran eksistensialisme yang religius. Misalnya, pembaca akan menemukan ungkapan-ungkapan kata kerja seperti mengada, menyejarah, membudaya, memasyarakat, dan menegara. Bahwa manusia senantiasa bereksistensi untuk membangun dan membentuk dan menjadi dirinya sendiri.
Menarik diamati bahwa eksistensialisme yang dikembangkan Driyarkara sangat kental dengan nuansa religius dan humanis yang kemudian diberi konteks keindonesiaan. Oleh karena itu, dia menawarkan relasi dinamis antara wilayah persona, masyarakat, dan negara dengan mengacu pada Pancasila pada tataran yang lebih substansial-filosofis, bukannya struktural-politik.
Dengan ungkapan lain, sekalipun kemanusiaan bersifat universal, sebagai individu setiap pribadi lahir, tumbuh, dan mengada dalam rumah kebangsaan dan terikat pada negara. Oleh karena itu, agama, kemanusiaan, dan Pancasila sebagai ideologi negara janganlah dipertentangkan. Semua saling berkaitan, memperkokoh yang satu terhadap yang lain. Mengingat manusia dan kemanusiaan itu inklusif dan tidak terbatas, sesungguhnya pada kodratnya apa yang disebut nasionalisme itu menuju dan bagian dari internasionalisme.
Baik pada nasionalisme maupun internasionalisme, kemanusiaan merupakan tali pengikat dan penghubung yang paling fundamental. Ikatan itu jika ditelusuri adalah semangat cinta kasih, yaitu keinginan untuk saling memberi. Namun, sekadar keinginan baik tidaklah cukup kalau tidak diatur oleh pranata hukum dan modus hidup bersama yang disebut demokrasi. Dalam melaksanakan demokrasi, seseorang tumbuh menegara, mewujudkan dan melindungi nilai-nilai kemanusiaan dalam rumah tangga negara. Tetapi negara bisa saja mengingkari cita-cita luhurnya jika menindas kebebasan dan martabat kemanusiaan warganya.
Jadi, spirit agama dan negara memiliki agenda besar untuk memanusiakan warganya sebagai bagian dari kemanusiaan universal dan sebagai makhluk yang selalu ingin memenuhi tuntutan religiusitasnya, yaitu mendekat Tuhan sebagai Sumber Kasih.
Putra bangsa yang visioner
Terlahir di lereng Pegunungan Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah, pada 13 Juni 1913, orangtuanya memberi nama Soehirman, tetapi setelah memulai hidup baru di Serikat Jesuit (SJ), lalu berganti nama Driyarkara.
Kecerdasan Driyarkara sudah terlihat sejak kecil. Bahkan, ketika duduk di kelas satu SMA, ia sudah menciptakan nama majalah seminar bernama Aquila yang berarti 'Rajawali'. Namun, Aquila sendiri merupakan akronim dari Augeamus Quam Impensissime Laudem Altissimi (bahasa Latin) yang berarti kira-kira 'Marilah kita tumbuh berkembang sekuat tenaga menambah keluhuran Yang Mahatinggi'.
Himpunan karya Driyarkara setebal 1.500 halaman ini merupakan rekaman pengembaraan intelektual sang rajawali dari bukit Gunung Menoreh, salah seorang anak bangsa yang pantas dibanggakan. Karya-karya tulisnya mengasyikkan untuk dibaca, seakan mendengarkan langsung kuliah dari sosok guru yang cerdas dan komunikatif.
Pembaca bisa memilih topik yang dikehendaki secara selektif karena tema yang disajikan sedemikian luas, meliputi persoalan negara, ideologi, pencarian makna hidup, pendidikan, dan kebudayaan. Gagasan besar dan pendekatan filsafat yang selama ini dipersepsikan njelimet dan berat, lewat tangan Driyarkara narasi filsafat menjadi cair, enak dibaca, bagaikan novel.
Bagi mereka yang sudah akrab dengan studi filsafat, buku ini memberikan inspirasi bagaimana disiplin filsafat dijadikan alat analisis dan refleksi kritis untuk meresponi masalah empiris sehingga filsafat tidak terpisah dari konteks kehidupan nyata, baik pada tingkat mikro maupun makro.
Lewat buku ini pembaca juga akan mengenal lebih dekat pemikir-pemikir besar filsafat seperti Edmund Husserl, Max Scheler, dan Maurice Merleau-Ponty. Dari sekian pemikir yang disajikan, tampaknya Malebranche memiliki tempat khusus bagi Driyarkara yang menekankan subyek sebagai persona yang senantiasa mengada bersama yang lain, bukannya relasi yang ingin menaklukkan atau menindas.
Dengan mengulas Malebranche, Driyarkara mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan pendekatan ilmiah tidak cukup untuk mengerti totalitas dan misteri hidup itu sendiri. Apa yang dialami, dihayati, dan dicari manusia jauh melebihi apa yang bisa disajikan oleh logika murni dan penjelasan ilmiah.
Dalam hal ini tampaknya Malebranche mendahului Kant dalam melakukan kritik terhadap akal murni. Keyakinan dan kerinduan kepada Tuhan tidak cukup dengan mengandalkan logika ilmiah karena wilayah logika ilmiah selalu dibatasi oleh masukan dan wilayah empiris. Misalnya prinsip-prinsip moral yang selalu diperjuangkan manusia sepanjang sejarah, seperti kebebasan, harga diri, keadilan, dan perdamaian, semuanya masuk wilayah eksistensial yang ilmu pengetahuan positif tidak mampu menjelaskan.
Oleh karena itu, persona dan dunia tempat manusia menyejarah pada dasarnya sudah berada dalam wilayah keberadaan alam dan Tuhan itu sendiri. Manusia mencari dan membangun jati dirinya di dalam dan bersama keberadaan hidup itu sendiri, yang semuanya berada dalam kuasa ilahi.
Jadi, keberadaan Tuhan yang menjadi sumber dan akhir hidup manusia yang selalu dicari sepanjang sejarah manusia sesungguhnya sangat dekat dan jelas, tetapi sekaligus juga merupakan misteri yang sangat sulit dijangkau. Dalam hal ini, yang namanya kebodohan adalah situasi yang menutup kedekatan manusia dan Tuhannya. Pengetahuan akan kebenaran secara langsung dilihat sebagai kesatuan dengan Allah, sedangkan kesalahan merupakan keterpisahan dari tujuan terakhir, yaitu Allah. Memiliki kebenaran berarti memperoleh kebahagiaan, dan kesalahan adalah sumber kesusahan (halaman 1403). Menurut Malebranche, hanya ada Allah sebelum semesta ini diciptakan, dan semua realitas ini keluar dari ide-Nya. Dengan demikian, sesungguhnya semua realitas semesta ini ada di dalam Allah. Manusia, ibarat ikan, berputar-putar mencari lautan, padahal dia sudah berada dalam lautan.
Secara pribadi saya menjadi semakin memahami mengapa sosok Driyarkara lalu diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dengan kedalaman ilmunya dan juga pandangannya yang visioner, bermunculan pemikir-pemikir tangguh di bidang filsafat, agama (Katolik), dan kebudayaan dari STF Driyarkara. Kebertuhanan, keberperikemanusiaan, dan keberindonesiaan begitu kental mewarnai buku ini, yang semuanya memiliki nuansa dan spirit kata kerja, bukan kata benda, atau rumusan kognitif-formal.
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/26/sorotan/3266502.htm
Lepas tengah malam, ritme kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati yang cepat berangsur melambat. Para buruh yang semula berjalan tergesa-gesa mengangkut sayuran mulai bersantai di los tempat mereka bekerja. Ada yang mengobrol, menonton televisi, atau rebahan di lantai.
Geliat kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta Timur, berkebalikan dengan kehidupan normal. Pada saat sebagian besar orang sudah terlelap, buruh angkut dan pedagang baru bisa bersantai. Wajah kuyu dan sorot mata redup menjadi kebalikan tubuh-tubuh berotot para buruh angkut.
Mereka melepaskan penat dengan rebahan di sela-sela tumpukan sayuran maupun di atas atap kios dari papan kayu. Alas tidur mereka hanya lembaran kardus dan kertas koran.
Buruh angkut dan karyawan los memilih tidur di pasar karena tidak perlu membayar sewa tempat tinggal. Maka, pasar pun menjadi rumah besar bagi ratusan perantau dari berbagai daerah yang menggantungkan hidup di PIKJ.
"Berat rasanya saat pertama kali tidur di pasar. Lantainya dingin, pasarnya bising. Siapa pun yang baru pertama kali tidur di pasar pasti susah tidur, masuk angin, pusing, dan demam," tutur Eman Suherman, pedagang kentang dari Tasikmalaya.
Sejak lulus sekolah dasar, 19 tahun lalu, Eman merantau ke Jakarta dan tinggal di PIKJ. Berawal dari buruh angkut di los kentang milik saudaranya, Eman belajar berdagang hingga akhirnya menjadi juragan kentang seperti sekarang.
Pengalaman Firman tak jauh berbeda. Karyawan los bawang merah asal Sumatera Utara itu memilih tidur di pasar karena tak mampu membayar indekos. Jika indekos, biaya sewa kamar ukuran 2 meter x 3 meter sekitar Rp 125.000 per bulan.
"Kalau tidur di pasar, saya bisa menyisihkan sedikit uang untuk disimpan," ungkap Firman yang sudah 12 tahun tinggal di PIKJ.
Penghuni pasar
Firman, Eman, dan ratusan buruh angkut di PIKJ saat ini sudah menikmati nyenyaknya tidur di pasar berbantal pakaian. Keramaian pasar sudah menjadi musik pengantar tidur bagi mereka. "Bila lagi nginap di rumah teman, saya malah sulit tidur karena sepi," tutur Firman.
Namun, buruh yang tinggal di pasar harus terbiasa dengan minimnya fasilitas rumah. Pakaian dan peralatan mandi, misalnya, cukup disimpan dalam kantong plastik yang digantung pada pagar pembatas antarlos.
Geliat kehidupan di PIKJ adalah salah satu potret perjuangan hidup di tengah kota besar Jakarta. Setiap orang mempunyai kiat untuk bertahan hidup.
Ikin (26) adalah salah satunya. Karyawan los sayuran Dian Putra ini, dengan penghasilan yang kadang hanya Rp 10.000 per hari, terpaksa mandi dua hari sekali. Sekali mandi, lajang itu harus membayar Rp 1.000.
Agar lebih hemat, Ikin dan dua temannya berpatungan membayar jasa cuci pakaian Rp 4.000 sehari. Mereka pun berpatungan membeli air minum Rp 12.000 per hari.
Semua kebutuhan di pasar memang harus diganti dengan rupiah. Para buruh tidak memiliki waktu untuk memasak apalagi mencuci pakaian. Waktu yang ada tersita untuk mengejar rezeki. Sisa waktu antara pukul 02.00 dan pukul 06.00 digunakan untuk tidur agar badan tetap fit.
Jika punya uang berlebih, sejumlah pedagang dan buruh memanfaatkan jasa pijat dan urut. Lepas tengah malam, tukang pijat berkeliling menjajakan jasanya dengan upah Rp 15.000-Rp 20.000 per 1,5 jam.
Jasa pijat dan urut banyak diminati karena bagi sebagian orang bisa mengembalikan vitalitas tubuh. Namun, sebagian orang justru menghindarinya karena takut ketagihan.
"Saya enggak mau pijat supaya tidak merasakan nikmatnya. Kalau ketagihan, uang bisa habis," kata Ikin yang memilih mengobati penat dengan tidur.
Ada juga jasa pijat "hiburan" bagi lelaki. Selepas pukul 20.00, belasan perempuan pemijat dan pekerja seks komersial sudah menanti pelanggan di balik pilar los daging dan ikan yang tengah dibangun di sisi timur PIKJ.
Karyawan los sayuran ESB, Asep Yayat, menyebutkan bahwa hiburan di PIKJ bermacam-macam. "Mereka yang tidak kuat mengontrol diri, ya bisa cari yang aneh-aneh. Kalau saya lebih suka menonton TV, mendengarkan musik, atau tidur," tuturnya.
Menabung untuk anak
Menahan keinginan mencari hiburan adalah salah satu cara untuk menabung. Uang yang terkumpul dikirim ke kampung untuk biaya hidup keluarga dan sekolah anak. Itu, misalnya, dilakukan Kusmini, pedagang sayuran asal Tegal, Jawa Tengah. Ia berhemat ekstra ketat supaya ketiga anaknya, Teguh (15), Asriyati (12), dan Iskaniah (10), bisa terus sekolah. Padahal, hasil yang diterimanya sehari bekerja hanya Rp 15.000 hingga Rp 25.000.
"Jangankan jalan-jalan cari hiburan, buat makan saja seadanya. Kalau bisa, sehari nabung sedikitnya Rp 10.000," ungkapnya.
Mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik menjadi semangat hidup para penghuni PIKJ. Biarpun angin malam menyesaki paru-paru dan badan bungkuk gara-gara mengangkut beban berat, pekerjaan itu tetap mereka lakoni untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan Jakarta. (LIA/NIT/MHD/ANG)
|  | Di UWRF 2006 ini, saya hanya ikut dibeberapa hari terakhir saja. Itu pun hanya kebagian di children program. Jadi, ga ada kesempatan untuk ikut dan melihat banyak hal-hal yang menarik, bahkan untuk ke toko bukunya. Dari beberapa acara yang saya ikuti, ini, ada yang menarik.
Pak Susiawan dan Ibu Susan, membawa perlengkapan wayangnya, dan memperagakan nya pada anak-anak di Ubud. Pak Susiawan menciptakan musik iringan nya dengan gendang, sedangkan Ibu Susan menceritakan wayangnya, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, juga sambil bernyanyi2.
Ibu Susan tidak menyelesaikan cerita wayangnya, melainkan meminta anak-anak untuk melanjutkan, dengan imajinasi dalam kelompoknya. Cerita lanjutan nya tersebut ditulis dan digambar diatas kertas yang telah disediakan.
Setelah itu, mereka mendapat kesempatan untuk membuat wayang, dengan segala bentuk imajinasi cerita mereka, dan dengan bantuan peralatan yang telah disediakan. Sehingga, wayang mereka menjadi tampak hidup, karena bisa digerak-gerakkan.
Tidak hanya itu, mereka juga diberi kesempatan untuk memainkan wayang mereka dibalik kelir! Anak-anak sungguh senang, dan mereka semua ingin memperagakan wayangnya. Ada juga siy, yang masih malu-malu. Tapi, Pak Susiawan dan Ibu Susan membantu mereka untuk itu.
Acara berakhir dengan Ibu Susan yang memperagakan kembali, akhir dari cerita wayangnya, menurut versi Ibu Susan.
Waktu yang disediakan panitia, sebenarnya tidak cukup untuk dapat menyelesaikan acara ini, tetapi, karena melihat antusiasme anak-anak, akhirnya, waktunya ditambah, sehingga bisa selesai semuanya. Anak-anak pun senang dapat pulang dengan membawa hasil karyanya.
Di bawah saya sertakan artikel dari Kompas yang mengupas kegiatan Pak Susiawan dan Ibu Susan, dan dari foto2 yang ada, bisa disimpulkan betapa asyiknya kalau punya kesempatan belajar seperti ini…
Semoga, suatu saat, Pak Susiawan dan Ibu Susan mempunyai kader2 yang dapat mewujudkannya!
Selasa, 18 April 2006
Susiawan Memfasilitasi Pendidikan Lewat Seni Oleh: Yenti Aprianti
Profesinya unik. Ia bekerja sebagai artist facilitator yang mendampingi guru kelas di lebih dari 20 sekolah di Toronto, Kanada. Tugasnya mempermudah guru memberi pemahaman kepada murid tentang berbagai materi pelajaran melalui seni.
Susiawan (50) mengajak murid-muridnya belajar sambil memainkan wayang atau gamelan. Dalam pelajaran sosial, misalnya, guru kelas meminta Susiawan membantunya mencapai target agar para siswa mampu menerapkan nilai-nilai kerja sama.
Susiawan mengelompokkan murid di kelas dan ditugasi membuat wayang, menulis naskah, dan mempertunjukkannya. Tentu saja yang mereka buat bukan wayang tradisional, tetapi wayang berbentuk kupu-kupu, manusia boneka, dan lainnya.
Demi murid-muridnya, Susiawan juga pernah kembali ke Indonesia untuk berguru memainkan gamelan di Bali. Ia membeli seperangkat gamelan tidak terpakai di gudang tua dan membawanya ke Kanada.
Susiawan menceritakan bahwa di Bali, orang bermain gamelan dengan bunga-bunga bertaburan di sekitarnya. Murid-muridnya segera berlari ke taman, memetik bunga-bunga, lalu duduk kembali di depan gamelan. Sambil mencium wangi bunga, mereka memainkan gamelan.
Seperti itulah pendidikan bagi anak-anak yang diimpikan Susiawan. Anak-anak bisa belajar dengan gembira, dekat dengan alam, dan menggunakan seluruh inderanya saat belajar.
Di Kanada ia mengajar di sekolah tingkat dasar hingga menengah. Biasanya usia muridnya 4-15 tahun. Satu kelas berisi 20 murid.
Laris dipesan
Saat mengajar, Susiawan bercerita tentang seni tradisional Indonesia. Murid-muridnya antusias untuk mengenal Indonesia. Setiap kali Susiawan pulang mudik dari Indonesia, murid- muridnya berseru, "Ayo… ayo, ceritakan tentang kampungmu," tiru Susiawan, yang sudah menjalani profesinya di Kanada selama 10 tahun.
Awalnya sebagian besar muridnya mengira Indonesia adalah negara miskin yang menakutkan. Namun, Susiawan mengubah kengerian itu menjadi kekaguman. Ia memotret gemerlap kehidupan metropolitan sekaligus sisi-sisi kearifan lokal Indonesia.
Ia pernah mengikuti dan memotret pedagang anglo atau kompor tanah liat. Pedagang itu mengatakan, ia tetap menjual anglo yang murah untuk masyarakat yang tidak mampu. Ia juga bersyukur jadi pedagang anglo sehingga bisa berjalan berkeliling kota setiap hari dan menjadikan tubuhnya sehat.
Kesederhanaan dan spiritualisme pedagang anglo tidak pernah terlintas di benak murid- muridnya yang terbiasa hidup individualistis sebagai ciri masyarakat negara industri.
Kanada selalu mengingatkannya pada Indonesia. Di mata Susiawan, industri berkembang sangat pesat di negeri agrarisnya. "Akibatnya, ketidakadilan tumbuh, korupsi merajalela. Indonesia seperti benang kusut yang sulit diuraikan oleh kaum intelektual sekalipun," kata Susiawan, yang sering membayangkan kelak Indonesia menjadi negeri seperti Kanada.
Anak jalanan
Di masa kecil Susiawan, anak seorang tentara ini pernah menjadi "bapak" asuh burung-burung yang tinggal di pohon dekat rumahnya. Tiap hari ia memberi makan burung-burung kecilnya hingga mereka dewasa, lalu terbang meninggalkannya.
Ketika kuliah tingkat tiga di Jurusan Seni Grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sekitar tahun 1978, Susiawan kembali menjadi pengasuh, kali ini bukan pengasuh anak burung, tetapi anak-anak kampung dan anak jalanan.
Ia membangun lembaga swadaya masyarakat Yayasan Anak- Anak Merdeka (YAAM) di Cisitu Lama, Bandung. LSM tersebut memfasilitasi anak-anak untuk belajar melalui seni. YAAM merupakan LSM bidang pendidikan pertama di Indonesia.
Setiap kali mencari kontrakan, lelaki asal Magelang ini mencari lokasi rumah yang dekat dengan sungai dan taman agar anak-anak bisa belajar dengan gembira. Ia juga mendidik anak-anak menjadi fasilitator bagi teman-temannya.
Kegiatannya ini berlangsung hingga 1991. Ia tak hanya membina anak-anak di Bandung, tetapi juga di Solo, Yogyakarta, Irian, dan Sumatera Selatan.
Sekitar tahun 1992-1995, ia diajak sebuah lembaga yang didukung Swiss Development Corporation (SDC) untuk menginformasikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak.
"Pemerintah Kota Cirebon meminta saya untuk membuat poster lingkungan untuk anak-anak, tapi saya tolak. Saya malah membuat workshop bagi anak-anak," kata Susiawan.
Dalam rangkaian workshop, anak-anak mengkritik Kota Cirebon yang selokannya kotor dan banyak nyamuk. Kegiatan ini menarik perhatian pihak SDC dan beberapa peneliti. Salah satunya peneliti asal Kanada, Susan Allen, yang datang jauh- jauh ke Cirebon.
"Pada Susan saya katakan, jika ingin meneliti, dia tidak bisa hanya mewawancarai saya, tetapi harus ikut kegiatan kami," tuturnya.
Susiawan berhasil menjadikan Susan sebagai sukarelawan selama dua tahun sekaligus menjadi kekasih. Tahun 1995, mereka menikah dan pindah ke Kanada.
"Semua di luar skenario hidup saya," kata Susiawan sambil tertawa. Di awalnya, lelaki yang masih tercatat sebagai warga negara Indonesia ini sempat ingin kembali ke Indonesia. Untung, kegiatannya sebagai artist facilitator sukarelawan di Toronto Community Center membantunya mengatasi kerinduan. Ia banyak mempelajari multibudaya masyarakat imigran yang banyak datang ke Kanada.
Dua tahun kemudian, lelaki yang masih menanti kehadiran anak kandung ini menjadikan artist facilitator sebagai profesi. Istrinya yang penari dan instruktur yoga sering membantunya dalam berbagai kegiatan seni.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/18/Sosok/2574222.htm
Susan Allen (Canada)
Susan Allen adalah seorang pencerita dan dalang wayang kulit yang telah mengadakan pertunjukan di Kanada, Jepang dan Indonesia dengan perusahaan teaternya, Me and My Shadows. Ia menggunakan seni sebagai alat mengajar anak-anak, remaja dan orang dewasa, dan telah melatih guru-guru dengan metodologi ini. Ia memiliki gelar Master dalam Ilmu Lingkungan Hidup dan telah menyelesaikan pendidikan dua tahun untuk mendapatkan gelar Ph.D dalam Pendidikan Holistik. Ia memiliki hasrat yang tinggi untuk proses kreatif dan menjiwai segala sesuatu yang kita lakukan. Tur ini didukung oleh Canada Council for the Arts sehingga para pengunjung dari Kanada bisa mengetahui seniman dari daerah dan provinsi yang lain.
Susiawan (Indonesia/Canada)
Susiawan adalah seorang seniman, pelukis dan fasilitator seni anak di Indonesia dan Kanada. Ia memiliki gelar B.F.A. dalam bidang Seni Grafik dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Ia merintis pendidikan alternatif dengan menggunakan wayang kulit untuk anak-anak di Indonesia (1981-1994) dan menerima beasiswa ASHOKA “Innovator for the Public”(1987), dan “Artists In Education” di Kanada (sejak 2003). Sejak itu ia bekerja untuk siswa dan guru dengan menggunakan wayang kulit untuk memajukan kreatifitas, pemahaman lintas–budaya dan perdamaian di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Tur ini didukung oleh Canada Council for the Arts sehingga para pengunjung dari Kanada bisa mengetahui seniman dari daerah dan provinsi yang lain.
http://www.ubudwritersfestival.com/ilist.php?id=S#9 |
|
|