Catila's posts with tag: samuel mulia
Oleh Samuel Mulia http://kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/04/01350749/rehat 1. Dari membicarakan kejelekan orang dan menggosip. Mulut Anda juga perlu istirahat. Mengunyah sejak kecil dan masih ditambah sebagai alat mengumpat orang. C spasi D. Capcai Deh! 2. Dari menjerat orang apa pun pancing yang Anda gunakan untuk menjerat 3. Dari melakukan berbuat tidak baik. Dan itu tak berarti setelah istirahat Anda melakukan lagi. Saya pikir Anda mengerti apa yang saya maksud dengan kata istirahat di sini. 4. Dari mengatakan kita harus bekerja keras, hidup tambah susah, dan semua untuk anak-anak. Bekerjalah secara efektif, efisien, dan sesuai kemampuan. 5. Dari mengatur jadwal kerja yang tidak benar. Manajemen waktu itu penting! 6. Dari mengundang teman-teman Anda datang ke rumah. Kalau Anda kesepian bukan ramainya teman-teman Anda yang akan menghilangkannya. Mungkin sejenak bisa jadi. Setelah mereka pulang, kesepian datang lagi. Kalau Anda memiliki waktu beristirahat dari mereka, Anda akan menghadapi kesepian itu sendiri. Problem itu harus dihadapi. Orang pesimis melihat problem sebagai halangan, orang optimis melihat problem sebagai peluang. Bagaimana Anda bisa melihat peluang kalau Anda tak pernah beristirahat? 7. Dari menjadwalkan akhir pekan dan masa liburan untuk bekerja. Tuhan memberi waktu untuk bekerja dan juga untuk beristirahat. Manfaatkan kedua-duanya. Tuhan lebih tahu mengapa Ia menciptakan keduanya. Kok Anda mau memorakporandakan. 8. Dari berpikir bahwa badan Anda, kaki Anda, perut Anda, paru-paru Anda tak perlu beristirahat. Bayangkan, kalau Anda yang menjadi paru-paru, sudah disuruh menyaring kotoran dari hasil pernapasan, masih dihajar dengan rokok. Demikian pula dengan pola makan Anda yang membuat hasil laboratorium Anda seperti rapor terbakar. Dan itu, Anda lakukan bertahun lamanya tanpa merasa bersalah untuk tidak istirahat.
 | Rehat | May 4, '08 7:10 AM for everyone |
Posted by: "Agus Hamonangan" agushamonangan@yahoo.co.id agushamonangan Sat May 3, 2008 9:36 pm (PDT) Oleh Samuel Mulia http://kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/04/01350749/rehat Di sebuah kamar hotel pada akhir pekan, saya dengan dua teman dekat menghabiskan akhir pekan sambil leyeh-leyeh di tempat tidur. Tidak melakukan aktivitas berarti meski kami sedang di Pulau Dewata, tempat liburan yang jarang membuat saya bisa melakukan rehat dengan benar. Padahal, ke Pulau Dewata itu tujuannya hanya satu. Yaaa! mau istirahat. Istirahat dari hiruk-pikuk Jakarta dan pekerjaan saya. Ternyata di tempat istirahat itu saya malah lebih hiruk-pikuk. Bahkan, karena saking hiruk-pikuknya, selalu terlambat tiba di bandara. Waktu kami sedang leyeh-leyeh, teman saya yang kebetulan ahli dalam soal public speaking berbicara mengenai pengalamannya. Kemudian saya tak membuang kesempatan untuk belajar dari ahlinya. Orang lain harus membayar mahal, saya malah bisa gratis. Wah ! kalau sudah begini, hidup itu tak hanya makin hidup, tetapi begitu adilnya. Saya menanyakan bagaimana agar saya bisa seperti dia. Kemudian dia menasihati begini, “Lo tu pinter.... Tetapi, lo itu kalau bicara kecepetan. Lo tu harus bisa menghormati yang namanya pause. Orang jadi enggak ngerti apa yang ingin lo sampaikan karena speed-nya terlalu tinggi.” Saya kaget setengah mati. Bukan karena komentarnya yang mengatakan saya berbicara terlalu cepat karena semua orang tahu soal itu, tetapi pada kalimatnya yang membukakan mata dan hati saya bahwa saya ini tak pernah menghormati momen bernama pause. Berhenti sejenak. Istirahat “grak”! Dua hari sebelum tenggat tulisan ini tiba, teman saya menelepon untuk berbincang-bincang. Ia mau curhat dengan saya. Saat saya menjawab pertanyaannya, ia mengingatkan saya untuk tidak berbicara terlalu cepat. “Mas, aku jadi enggak bisa ngikutin. Pelan dikit napa?” kata dia. Setelah dua kali peringatan itu datang, saya pikir sudah waktunya duduk tenang dan mengevaluasi apakah saya benar menghormati masa istirahat yang diberikan Tuhan kepada saya. Tidak hanya untuk merenungkan, mengevaluasi apa yang sudah dan yang akan saya kerjakan, tetapi apakah saya juga mengambil masa berhenti sejenak itu untuk benar-benar mengistirahatkan tubuh saya? Seorang pembaca setia kolom ini yang membaca aktivitas saya yang hiruk-pikuk itu menasihati, saya harus lebih berhati-hati, jangan sampai terlalu lelah. “Istirahat itu penting!” Saya merasa saya begitu dianugerahi Tuhan memiliki pekerjaan sehingga hidup saya menjadi semarak, tak merasa menjadi penganggur. Bisa ke kanan dan ke kiri. Bisa berada di dua kota dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Saya bisa punya teman sejuta banyaknya. Hari Senin makan malam dengan si A, malam Rabu ngupi-ngupi dengan si B, bahkan setelah ngupi dilanjutkan dengan nonton bersama si K. Itu sebabnya mengapa saya merasa istirahat lebih sering saya korbankan untuk tidak dijalankan. Setelah menonton, kalau the night is still young, saya tak keberatan minum-minum di sebuah lounge. Maka, dengan aktivitas semacam itu, saya tiba di rumah pukul dua pagi. Sementara empat jam setelah itu, saya harus berada di lapangan terbang. Tiba di tempat tujuan pun saya berencana untuk ke sana dan kemari. Dan, kalimat the night is young tentunya masih saja berlaku. “Alarm clock” Semua kegiatan di atas belum termasuk menghadiri undangan perkawinan, mendengarkan teman menangis karena perkawinannya seperti kain tambal sulam, memenuhi tugas pelayanan di beberapa rumah ibadah, dan menghadiri acara peragaan busana yang di Jakarta sehari bisa terjadi tiga kali. Semuanya saya kerjakan karena ini anugerah dari Sang Pencipta. Dengan alasan itu saya membabi buta. Seharusnya saya juga tidak boleh lupa, Sang Pencipta juga memberikan alarm clock dalam wujud tubuh saya yang sudah pegal linu, kaki yang nyaris gempor, tenggorokan yang sakit kalau digunakan menelan, sampai kepala yang cenut-cenut, dan kepala yang sudah mulai berpikir untuk menggunakan obat, cairan penguat tubuh dari luar. Saya melakukan itu semua supaya saya tak menyia-nyiakan kesempatan. Supaya makin tambah kaya. Saya berpikir order berdatangan, gila saja kalau semua itu harus ditolak hanya untuk penghormatan sebuah kata bernama pause. Jangan pernah membuang kesempatan, bukan? Karena katanya kesempatan kedua belum tentu datang dua kali. Lama-kelamaan alarm clock yang diberikan Sang Pencipta tak berbunyi lagi dan saya merelakan diri untuk marah-marah, pusing karena begitu banyak pekerjaan harus diselesaikan, kemudian marah kepada orang lain yang tidak sepantasnya menerima kemarahan itu. Akhirnya, mungkin saya juga rela tepar di ranjang rumah sakit atau di ranjang rumah sendiri hanya untuk mengaminkan bahwa kesempatan kedua belum tentu datang lagi. Kalau saya memiliki keluarga, mungkin saya sudah lama menyia-nyiakan waktu untuk berkumpul dengan mereka. Mungkin saya bisa jadi lupa berapa jumlah anak yang saya punya karena saya tak pernah beristirahat dari menyetubuhi perempuan di mana-mana. Saya bahkan mungkin tak jeli bahwa semua orang sudah membicarakan istri saya yang disimpan pejabat ini atau bankir itu karena saya sibuk masuk keluar rumah ibadah untuk menyuarakan Tuhan itu baik. Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
ttp://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/01/urban/3413669.htm
1. Berhenti berpikir besar, mulai berpikir kecil.
2. Pikirkan bahwa kalau besar tak selalu berarti hebat, kecil tak selalu berarti kiamat.
3. Apakah yang dianggap besar adalah masuk dalam daftar makhluk terkaya di dunia, mukjizat datang bertubi-tubi, bisa beli satu tas Hermes setiap bulan, mendapat prioritas lebih ketimbang orang lain seperti saat saya menghadiri sebuah acara perkawinan di mana para menteri mendapat prioritas memotong jalur antrean panjang karena statusnya padahal malam itu mereka tak sedang dalam urusan kenegaraan sehingga menurut saya status mereka itu tak berlaku, tetapi apa boleh buat, itulah yang terjadi?
Kalau itu, maka menurut saya bila seseorang mampu menjadi kecil—terutama yang biasa selalu mau besar—adalah sesuatu yang justru melebihi luar biasa. Menjadi rendah hati, misalnya, disiplin terhadap waktunya beribadah seperti disiplinnya Anda latihan golf pukul lima pagi, berani susah, berhenti melakukan perbuatan yang tidak etis (curang dan menipu), dan berani tak cuci tangan. Saya yakin, penghargaan atas kemampuan Anda menjadi kecil telah disediakan Sang Khalik dan siap Anda genggam.
"Kayak pemenang Oscar gitu ya, Jeung...," kata teman saya tak henti berkomentar.
4. Mulailah melatih diri untuk melakukan aktivitas kecil pada butir tiga. Susah? Nah, kalau kata susah terlintas di kepala Anda, maka coba segera berpikir kalau Anda bisa susah dan mau susah untuk jadi besar, mengapa untuk menjadi kecil tiba-tiba Anda merasa kata susah
adalah beban?
5. Ingatlah, tak ada program imunisasi yang bisa Anda lakukan sehingga Anda imun terhadap angin kencang yang datang saat menjadi besar. Ingat sekali lagi, masih ada kemungkinan Anda jatuh ke bawah. "Kalau jatuh yaaa... ke bawah, Mas. Masak ke atas. Sampean itu bagaimana sih?" kata teman saya.
Hubungan spiritual Anda dengan Sang Khalik akan menguatkan Anda dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dan tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun. Namun, yang tak menjamin hubungan itu berjalan langgeng adalah kesenangan Anda dan saya untuk mulai mencoba-coba tak setia terhadap komitmen untuk langgeng bersama- Nya.
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/01/urban/3413669.htm
Dua minggu lalu saya mengikuti seminar soal iman dan visi. Tentu seminar ini untuk meningkatkan kehidupan spiritual setelah saya tak pernah kenyang meningkatkan kehidupan duniawi. Saat memberi tahu seorang teman saya hendak mengikuti seminar semacam ini untuk pertama kalinya, ia malah berkomentar, "Enggak salah? Sana mau jadi pendeta, yaaa?"
Dalam hati saya berkata, siapa juga yang mau menjadi pendeta. Laaa…wong saya justru mau lirak-lirik di tempat itu. Siapa tahu ke seminar semacam itu bisa jadi cara lain mencari pacar, bukan? Jiwa dikenyangkan, mata duniawi apalagi. Bukankah hidup begitu adilnya?
Singkat cerita, pesan dari seminar itu adalah bila saya beriman—tentu kepada Sang Kuasa—dan memiliki visi ke depan, maka saya dapat memiliki apa yang disebut dengan abundant life. Si pembawa seminar telah mengalami itu semua. Soal materi, soal mukjizat atas penyakitnya yang hilang lenyap, soal segala yang kemudian menjadi besar, yang tak terpikirkan oleh dia sebelum itu. Ia berapi-api menceritakan apa yang pernah dia alami pada menit pertama, sampai ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan. Tentu, tak ada api yang membakar ruangan itu dan dirinya.
"Small is beautiful"
Dalam perjalanan pulang, saya terngiang-ngiang soal seminar tadi. Hal yang membuat saya tak habis berpikir, mengapa abundant life senantiasa diartikan memperoleh sesuatu yang besar-besar saja. Akankah ada tepuk tangan gemuruh bila si pembicara mengatakan hal-hal
kecil sederhana? Mengapa yang selalu dikomunikasikan adalah uang, kekayaan, mukjizat, dihormati, dan kesuksesan?
Saya pernah menjadi kesal karena merasa seminar semacam itu hanya seperti film Hollywood. Memesona sekian jam di layar lebar, tetapi dipraktikkan di dunia nyata, acapkali malah tidak happy ending. "Kalau lo mau mengalami semua itu, mesti pakai iman, bukan otak lo, Mas," celetuk teman saya menasihati.
Justru karena baru dua tahunan belajar berjalan dengan iman dan masih terseok-seok pula, saya kok malah merasa saya ini tak perlu harus besar, penyakit saya tak perlu harus hilang lenyap, hanya untuk membuktikan Sang Khalik itu besar dan murah hati. Dengan tak punya mobil, tabungan kecil, penyakit tak hilang, saya katarak, yatim piatu pula, saya justru merasakan besarnya Sang Khalik di tengah situasi yang menurut ukuran mata bukanlah hidup dalam kategori berkelimpahan.
"Yaaa... berkelimpahanlah, Mas. Berkelimpahan sengsara, maksudnya," celetuk teman saya.
Dalam situasi yang tidak besar itu untuk pertama kalinya saya dimampukan melihat small itu memang beautiful. Kata berkelimpahan justru bermakna saat Sang Khalik memampukan saya berpikir bahwa menjadi kecil itu sama luar biasanya dengan besar. "Kayak cabai rawiiit ya, Jeung…," kata teman saya.
Dengan berpikir demikian, saya malah mampu menerima menjadi yang terbelakang pun sebuah hal yang tak kalah luar biasa, terutama bagi saya yang maunya selalu terdepan. Menjadi yatim piatu juga oke-oke saja.
Kalau dipikir-pikir, saya ini bukan yatim piatu karena Sang Khalik tak pernah meninggalkan saya.
"Lo yang seringnya ninggalin Dia. Egois," kata teman saya ketus.
Menjadi pelayan pun tak jadi masalah. "Apalagi buat manusia kayak lo ya, bo. Rendah hati susah, omong sering ketinggian," teman saya berkicau lagi. "Husshh… jangan ba, bo, ba, bo, lagi," kata saya memperingati.
Teman saya cuma menjawab ringan, "Memang Mbak Ratih sudah nelpon sampean?"
Cukup
Mengapa saya memilih tidak menjadi besar? Di tempat tinggi anginnya kencang sekali. Saya sudah pernah mengalaminya, saya malah terjatuh nyungsep tak sadarkan diri. Karena makin saya kaya, saya jadi lebih mencintai uang dan kekayaan saya ketimbang cinta mula-mula saya yang berapi-api seperti pembicara di seminar itu, kepada Sang Khalik. Hal-hal besar terutama banyak uang itu bak air yang memadamkan api.
Saya pernah dinasihati, aksi untuk mencintai uang (the love of money) adalah akar dari segala kejahatan. Waktu itu saya tak percaya, sampai saya nyungsep. Waktu saya nyungsep, saya baru percaya. Seperti biasa, saya sampai harus perlu celaka untuk mempercayai nasihat orang.
Daripada nyungsep lagi, saya memilih menjadi cukup saja. Sehari makan cukup, minum cukup, punya pacar cukup.
"Cukup empat ya, Mas?" teman saya berkicau lagi. Jadi, kalaupun saya mati cukup meninggalkan kartu nama saja. "Dan utang," kata teman saya menyambar bak kilat.
Yang justru gusar adalah bila saya game over dalam keadaan besar. Bingung uangnya akan dilarikan dan direbut siapa. "Sampean enggak perlu bingung, wong sudah game over juga," celetuk teman saya lagi.
Besar itu ternyata diperlukan juga dalam membuat seminar. Sejujurnya saya tak pernah mendengar seminar menjadi kecil. Itu menjadi sangat tidak menarik, tidak ada geregetnya, tidak "membakar" peserta seperti membakarnya seminar bagaimana melipatgandakan keuangan Anda. Maka, topik pembicaraan harus menarik, pembicara harus punya nama besar supaya mampu menarik pengunjung, padahal mungkin manusia biasa tak ternama pun tak kalah pandainya.
Kenyataannya, saya merasa lebih lebih yakin dikuliahi nama besar. Seperti seminar yang saya hadiri itu sampai mendatangkan pembicara dari negeri seberang, padahal seorang teman malah sudah membicarakan apa yang dibicarakan di seminar itu tiga minggu lalu. Tetapi, yaaa…,she is nobody.
Jadi, apa yang sudah diberitahukan si nama kecil hanya masuk ke telinga kanan saya dan keluar di telinga kanan juga, karena tak sampai ke telinga kiri.
"Mas, Mas, sampean itu bagaimana sih. La… pastinya enakan yang besar..Kecil-kecil mah enggak kerasa, enggak nendang. Kayak enggak tahu aja," celetuk teman saya.
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/08/urban/3429837.htm
1. Menurut pengalaman saya, jangan buru-buru mengatakan ingin menjadi teman. Karena menjadi teman punya syarat yang berat. Anda harus bisa dipercaya dan mampu memberi rasa nyaman, terutama rasa aman. Jadi, bertanyalah kepada diri Anda, jangan kepada rumput yang bergoyang, apakah Anda punya kualifikasi itu. Kalau tidak atau belum, sebaiknya jangan menjadi teman siapa pun dahulu. Seperti kalau Anda sedang terkena penyakit menular, maka untuk beberapa periode Anda terpaksa—mau tidak mau—harus "dikucilkan" terlebih dahulu sebelum Anda bersih dan tak punya kemampuan menularkan penyakit Anda itu.
2. Menurut pengalaman saya sendiri, pilihlah teman-teman Anda. Jangan bergaul dengan orang seperti saya, mulut tukang gosip, membocorkan rahasia orang dengan kalimat klise jangan bilang-bilangnya, atau mulut yang senangnya menjatuhkan orang dan menyebarkan berita menurut versi sendiri tanpa memberi kesempatan berpikir bila seandainya saya yang sedang dibicarakan. Anda akan mudah tertular, apalagi kekuatan iman Anda tak sampai sebesar biji semangka.
3. Kalau Anda memutuskan memilih teman-teman Anda, maka orang lain akan mengatakan, Anda adalah orang yang pilih-pilih bulu. Saya sarankan lebih baik Anda pilih bulu sejak awal daripada Anda menjadi korban karena Anda lupa pilih bulu. Karena Anda tidak pilih bulu pun,
Anda akan menjadi santapan empuk untuk dibicarakan, apalagi Anda pilih-pilih bulu. Jadi, tidak memilih atau memilih bulu, Anda akan jadi seperti daging nikmat bagi mereka yang bak burung pemakan bangkai. Kalau keadaannya demikian, saran saya pilihlah bulu. Kalau saya mengatakan pilih bulu, itu tak berarti Anda antibulu. Mengerti maksudnya?
4. Saya beri tahu betapa sangat menyengsarakan bila Anda sudah tak bisa dipercaya. Kepandaian Anda tak ada gunanya.
5. Belajar dan latihlah agar mulut Anda berbunyi pada tempatnya dan latihlah menjadi pribadi yang bisa dipercaya dan membawa rasa aman sebelum Anda menghakimi orang. "Asuransiii… kali," celetuk teman saya.
6. Mulut itu lebih tajam daripada pisau sekalipun. Maka, kalau Anda mengatakan ih… ceyem lihat orang membunuh di layar tivi, coba ceyem mana mulut Anda dengan pisau? Tidak berdarah, tetapi mematikan. Ceyeemmm... kan?
"Hush.., itu kan penganan khas Jawa Barat, bukan?" tegur teman saya.
"Itu mah peuyuem, geblek," balas saya.
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/08/urban/3429837.htm
Pada hari Minggu ketika mata masih riyep-riyep dan tergeletak tak berdaya di tempat tidur, rasa malas masih menggelayut, telepon genggam saya berbunyi seperti sebuah jam weker yang mengingatkan matahari sebentar lagi berada di atas kepala.
Dengan tubuh gontai dan berjalan sambil mata tertidur, saya menghampiri tempat bunyi mengganggu itu bermula. Saya mencoba membacanya, semua huruf kabur tak terbaca, saya lupa, selain mata riyep-riyep, kondisi mata plus dua membuat mata yang riyep menjadi semakin riyep.
Setelah menemukan kacamata, saya membaca SMS itu. Sebuah SMS pujian atas tulisan saya minggu itu. Saya membalasnya dengan mengucapkan terima kasih.
Belum lagi saya meletakkan telepon genggam itu, ia berbunyi lagi. Dengan sedikit kesal, saya membacanya, eh… SMS itu membuat saya tambah kesal. Si pengirim SMS menanyakan kembali apakah saya benar tahu siapa dirinya.
Saya tak memedulikan SMS itu dan tentunya langsung saya delete. Saya cukup tersinggung seseorang telah meragukan ingatan saya yang memang harus saya akui sering kali hilang.
Kekesalan semacam itu sering kali juga terjadi kalau saya benar tidak tahu siapa pengirim SMS itu.
Ketika saya bertanya kembali siapa mereka, umumnya mereka selalu membalas dengan tulisan, "Nama gue dah lo delete ya?" atau mereka tak membalas sama sekali.
Mungkin mereka tersinggung dan semoga mereka juga bisa berpikir mereka sudah menyinggung saya juga.
Pemberi rasa nyaman
Saya ingin melanjutkan acara riyep-riyep itu, tetapi tak bisa lagi karena dihantui pemikiran saya tidak dipercaya. Ingatan saya diragukan. Pemikiran ini saya ceritakan kepada teman saya. Ia berkomentar, "Mungkin memang lo enggak bisa dipercaya, Mas."
Hari Minggu lalu saya menyaksikan Matt Damon beraksi dalam film The Good Shepherd, di salah satu adegan, kalau saya tak salah karena lupa juga—"Dan enggak ngerti bahasa Inggris," celetuk teman saya—ada percakapan di mana seseorang ditanya, kapan saatnya ia merasa paling nyaman. Pria itu menjawab, "Di antara teman-teman yang bisa saya percayai."
Waduh.., selesai saya mendengar percakapan dalam film indah itu, saya kini harus berbesar hati untuk bertanya kepada diri sendiri apakah saya ini seorang teman yang bisa memberi rasa nyaman—dan tentu aman—buat teman-teman saya. Saya harus menjawab, meski jawaban itu untuk diri saya semata. Saya hanya memerlukan sekian detik saja untuk mendapat jawabnya. Saya bukan teman yang memberi rasa nyaman dan aman. Itu berarti saya bukan seorang teman yang bisa dipercaya, tetapi kawan yang bisa berubah menjadi lawan pada saat bersamaan.
Sepanjang film garapan Robert de Niro itu, saya disinggung habis. Saya sering kali berlaku seperti mata-mata yang tak malu menjual diri kepada musuh sekalipun sehingga musuh percaya. Pada akhir cerita pun saya masih menyempatkan untuk menikam musuh yang telah menerima saya.
Orang sudah banyak tahu mulut saya seperti ember bocor. Salah satu teman saya memercayai saya untuk mendengarkan keluhannya, tetapi pada saat saya berkumpul bersama teman-teman lain pada akhir pekan, saya bisa berkicau menceritakan curhatnya itu tanpa disaring sama sekali. "Lah… mulutnya aja bocor, kok mau punya saringan," kata teman
saya.
Pada akhir pekan saya bisa menjadi teman, mencium, memeluk mereka, menanyakan kabarnya dengan suara yang luar biasa mulianya setelah akhir pekan saya menjadi lawan dan menjadi teman lagi di akhir pekan berikutnya. Tentu dengan sikap yang sama. Mencium seperti Yudas.
Musuh dalam selimut
Saya pernah jadi bos. Sebutan itu diberikan sopir dan office boy saya, padahal nama saya bukan bos.
"Nama lo bos lagi, Mas, Boseeenennn gitu loh," celetuk teman saya menyindir.
Dengan kedudukan itu, saya mencoba memeluk anak buah saya sebagai teman. Saya acapkali mendatangi mereka, duduk dekat mereka, tertawa bersama, mendengar cerita mereka, sambil antena saya terus berjalan, mencari celah di antara gelak tawa siapakah yang bisa saya terkam. Ketika waktunya tiba saya duduk di ruang rapat bersama para pemimpin tertinggi, maka saya akan menjadi pembunuh anak buah saya dan menjadi teman para "dewa" itu.
Bahkan, ketika para "dewa" itu meminta saya menemani mereka di akhir pekan bermain tenis, bermain golf, saya pun tak keberatan meski sejujurnya di dalam hati saya sangat keberatan karena lebih enak tinggal di tempat tidur ketimbang cuma duduk masuk angin untuk menemani para bos-bos itu. Jadi, saya bisa "setia", bahkan untuk mengorbankan tempat tidur saya.
Saya bayangkan kalau saya sudah berkeluarga, saya mungkin tak keberatan meninggalkan mereka, seperti Matt Damon dalam film itu, mampu begitu setianya dengan negara bernama Amerika sampai ia begitu butanya bahwa kesetiaannya berujung bumerang untuk perkawinannya dan melayangkan jiwa calon menantunya. Saya dan Matt adalah domba yang
baik untuk si bos dan pembunuh untuk orang lain, bahkan untuk orang tercinta sekalipun,
Masih dalam salah satu adegan dalam film penuh aura ketidaksetiaan itu, saya terpesona dengan adegan di mana Matt Damon mengingatkan putranya untuk tidak boleh percaya kepada siapa pun karena dunianya yang telah mengajarkan dia demikian.
Ketika tiba saatnya ia menasihati putranya untuk tidak menikahi calon istrinya yang mata-mata itu, anaknya membalikkan nasihat mulia itu kepadanya. "Mengapa saya harus percaya kepada Anda, bukankah Ayah yang telah mengajarkan saya untuk tidak memercayai siapa pun?"
Matt terdiam. Saya yang menyaksikan di bangku nyaris terdepan pun diam sejuta bahasa. Setelah menyaksikan film itu, saya bertanya kepada teman saya, apakah menurut dia saya ini tepat memiliki predikat teman yang dapat dipercaya, teman yang mampu memberi rasa nyaman?
"Jauhlah, Mas. Jauh banget. Siapa juga yang mau percaya ama lo? Main sama lo tu mesti hati-hati. Enggak usah ge-er deh, dari dulu juga sudah enggak ada yang mau percaya sama lo, lagi," kata teman saya.
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/urban/3398505.htm
1. Saya diingatkan salah satu klien saya, bila mau berbisnis, harus dipikir masak-masak. Maksud saya bukan masak bisa, masak susah, masak gitu sih. Maksudnya pikirkan matang-matang, terutama harga yang harus saya bayar saat memutuskan memulai bisnis. Katanya lagi, jangan mengobral janji. Kalau saya tak mampu dari awal membayar harganya, jangan coba-coba "berutang".
2. Nasihat kedua dia, jangan jadi pengecut. Kata dia, kalau saya mau terjun dengan benar dalam bisnis, jangan setengah-setengah. Itu sama dengan perkawinan, katanya. Kalau saya sudah memutuskan menikah, berbesar hatilah menanggung segala risikonya. Jangan susah sedikit terus mau selingkuh atau mau cerai. Ia malah mengingatkan janji sehidup semati dalam susah dan senang.
"Lo janjinya sama Tuhan, lho," katanya. "Jangan cuma mau hartanya saja," lanjutnya menasihati.
Wah... saya senang sekali dengan nasihatnya yang kedua ini. Pertama, saya belum pernah memutuskan menikah. Terpikirkan saja tidak. Terlalu malas membayar harganya. Kedua, berjanji sehidup semati pun belum pernah juga. Yang pernah, malah saya hidup dan orang lain mati.
"Benar juga ya, Jeung. Seekor anjing, artinya cuma satu anjing. Jadi, sehidup, cuma satu yang hidup. Waduh... lo emang pinter banget, deh. Ngomong-ngomong, otaknya buatan mana, Mas?" celetuk teman saya.
3. Nasihat terakhir dari klien saya itu adalah jangan menyuruh orang lain membayar harga yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya.
"Itu kurang ajar namanya," katanya. Saya lalu bercerita, saya sedang mau belanja, uang tak ada, kemudian memakai kartu kredit. Jadi, saya mau gaya, tetapi orang lain yang disuruh bayar duluan. Akhir bulan baru saya bayar.
"Belum tentu. Malah mungkin lo cuma bayar batas minimumnya," katanya lagi. Teman saya dari perbankan nyeletuk, "Karena itu, kami ada untuk Anda."
4. Hari Sabtu lalu saya dinasihati teman wanita saya. Kalau seseorang membayar harga, artinya sesuatu harus dikeluarkan, baik berupa uang ataupun tindakan Dengan membayar itu saya akan menerima kembali apa yang sudah saya keluarkan.
"Kalau lo berutang, misalnya, dan lo berniat mengembalikan, lo akan merasa lega. Perasaan lega itu adalah imbalan yang kembali ke lo dan orang akan memberi penilaian bahwa lo orang yang bisa dipercaya," katanya menjelaskan.
Apabila saya tak mau membayar harga, jadi saya menahan uang atau tindakan yang harus saya keluarkan, maka imbalan yang baik tak akan datang kepada saya. "Kalau lo enggak bayar utang, maka bank atau debt collector akan mengejar lo," katanya lagi.
Jadi, menurut dia, dengan satu kalimat disimpulkan demikian. Give and you will be given!
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/urban/3398505.htm
Belum lama ini saya menyaksikan tayangan film di layar televisi, film jedar-jedor yang saya suka. Ceritanya mudah dicerna, apalagi untuk ukuran manusia seperti saya, yang disodori film Matrix terus ngeloyor keluar dari gedung bioskop setelah kira-kira empat puluh lima menit
ditayangkan, gara-gara ndak mudeng sama sekali. Dengan tingkat intelektualitas kocrot itu, yaa... paling enak menyaksikan film jedar-jedor atau roman.
Meminjam istilah teman saya, roman yang picisan. Saya terima saja karena kenyataannya saya memang demikian meski sesungguh-sungguhnya teman saya itu malah sedang menjalankan petualangan cintanya yang picisan juga.
"Yooo... bedo tho no. Sana layar lebar, sini punya kan kenyataan. Bagaimanapun picisannya, ya... bedo no. Ruwet dan membuat mumet, sampai jadi kerasa ndak picisan," katanya menjelaskan.
Saya yang mendengarnya ya... manut saja. Meminjam istilah teman saya yang lain. "Aaaaatur... saja."
Pengecut
Di salah satu adegan dalam film di layar televisi itu, si penjahat lari menghindari tembakan sang penegak kebenaran alias pak polisi.
"Ooo... menegakkan saja, ya? Belum tentu menjalankan toh?" celetuk teman saya.
"Waaah..., kalau begitu, aku yo iso. Cuma menegakkan saja tho, gampang," lanjutnya. "Lha wong menegakkan yang lainnya saja saya bisa kok," tambahnya lagi.
Saya menegurnya untuk tidak menyelak cerita saya. "Oh..., maap, maap. Terus, terus...," balasnya.
Kemudian saya melanjutkan cerita itu. Si polisi gagal menembak si penjahat karena ia berlari di antara kerumunan orang banyak yang sedang berseliweran. Ia terlepas dari peluru yang diarahkan kepadanya karena sang penegak kebenaran (dan sedang menjalankan kebenaran) tak berani mengambil risiko kalau-kalau pelurunya malah menghunjam salah satu manusia yang sedang berseliweran itu. Jadi, si penjahat terlepas dari maut dengan menggunakan manusia berseliweran itu sebagai tameng perlindungannya.
Ia cerdik. Namun, ada suara di nurani saya yang berdendang. Si penjahat memang cerdik, tetapi ia sangat egois dengan meminta perlindungan orang lain untuk menyelamatkannya. Dan, yang terutama, ia cuma berani jadi penjahat, tetapi tak berani membayar harga sebagai penjahat. Ia minta orang lain membayarnya.
Dan, itulah saya. Si penjahat cerdik sekaligus pengecut itu. Kini saya mengerti mengapa saat saya melihat adegan itu nurani saya seperti disinggung. Tampaknya saya sedang diperlihatkan bagaimana saya hidup selama ini. Bukan hanya mencari perlindungan dari orang lainnya, tetapi masalah yang lebih fatal, saya tak berani membayar harga untuk apa yang saya perbuat.
Saya mau menabur kejahatan, tetapi malas menuai hasilnya. "Hari gini, minta tolong orang saja ya, bo," celetuk teman saya. Saya mengingatkan sekali lagi untuk tidak lagi menggunakan kata ba, bo, ba, bo.
"Aduh maap, maap, Den Bagus...," jawabnya.
"Jangan sampai Mbak Ratih nelepon kamu lho, dia kan baca Kompas juga," balas saya.
"Ohh... gampang kalau itu. Nanti aku minta sampean yang bicara langsung. Sana kan sudah kenal dekat. Jadi, kemungkinan enggak akan mencak-mencak," jawabnya ringan.
"Take and (never) give"
Saya pernah memesan baju di salah satu desainer. Saya minta tolong diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama karena saya membutuhkannya untuk acara yang sebenarnya bukan dadakan. Hanya saja, saya lupa memasukkan ke dalam agenda dan pada dasarnya saya adalah manusia pelupa. Sang desainer menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang saya kehendaki. Masalahnya kemudian, saya tidak membayar saat baju pesanan itu selesai.
Dengan sejuta alasan, saya baru membayar akhir bulan. Saya memaksa orang lain menyenangkan saya, tetapi saya sama sekali tak berkeinginan membayar harganya dan menyenangkan orang lain.
Sama seperti penjahat dalam film itu, saya egois. Saya tak pernah mau melatih diri berpikir bagaimana seandainya saya yang giliran jadi desainernya. Saya tak pernah bercita-cita—terpikirkan pun tidak—punya gaya hidup memberi (give) dan menyenangkan orang, tetapi saya selalu memelihara gaya hidup mengambil (take).
Dan, dengan saya sebagai wartawan mode, sang desainer hanya berkata, "Ndak papa, Mas. Bener gak papa."
Kejadian seperti itu juga terjadi bila saya berbisnis dengan orang lain. Terutama saat bicara soal pembayaran, saya selalu minta keringanan. Kalau bisa, bayar dua kali, dua bulan, dua tahun, bahkan berutang. Namun, kalau terlambat mencetak majalah, misalnya, saya bisa berteriak seperti orang yang membayar tepat waktu. Saya sampai lupa akan rasa malu. "Memang sana punya kemaluan?" singgung teman saya.
Bersama dua teman, saya sedang mempersiapkan bisnis ecek-ecek. Sayalah yang paling bermulut besar akan menjadikan bisnis ini begini dan begitu. Harus buat ini dan buat itu, harus promosi ke sana-kemari. Tiba saatnya semua harus dilaksanakan, saya lupa pembicaraan mulut besar itu berujung duit dan kerja keras. Saya kemudian membekukan sementara waktu karena saya malas membayar harga untuk mengeluarkan dana terlalu banyak dan harus ke sana-ke mari. Janji tinggal janji.
"Macet, panas, terus mesti jualan pula. Malaslah yaao...," sindir teman saya. Apa boleh buat, saya hanya mengangguk saja.
Saya mengaku sebagai umat Kristiani, tetapi malas membayar harga dengan sejuta dos and don'ts-nya yang terdapat dalam buku suci nan tebal itu. Terus, paling gampang saya akan katakan, saya manusia biasa, penuh dengan kelemahan.
Saya memang manusia biasa. Biasa tak mau membayar harga dan biasa melemahkan diri, maksudnya. Itu mengapa saya susah mengasihi musuh saya, apalagi diperintahkan berdoa untuk mereka yang menganiaya saya. Padahal, ajarannya demikian. Saya malas membayarnya. Terlalu mahal. Saya tak kuat kemahalan. Mau pakai kartu kredit lebih dari platinum pun tak terbayarkan.
Saya mau minta perlindungan pihak lain (baca: Sang Khalik), tetapi saya tak pernah berkeinginan memiliki gaya hidup seperti yang diingini-Nya.
Di tengah segala kejahatan saya, cita-cita masuk surga tak pernah hilang. "Sana maunya masuk surga, tetapi enggak mau jadi manusia taat. Maksudnya?" tanya teman saya.
"Maunya sesuai sama jidat lo saja, sih. Ya, tak?" lanjutnya lagi.
Itu mengapa, seperti yang pernah saya tulis, ritual pengakuan dan pengampunan dosa adalah favorit saya. Senin sampai Minggu pagi, bahkan sampai sebelum ritual favorit itu berlangsung, saya masih bisa melakukan dosa, supaya bisa dirapel semuanya, terus jadi merasa "bersih" lagi dan terus buat dosa lagi sekeluar dari halaman rumah ibadah karena sudah ada ruang kosong untuk tempat dosa.
"Flashdisssk... kali," celetuk teman saya.
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/11/urban/3302683.htm
1. Kalau membaca peribahasa ini sebaiknya dengan kepala dingin.
Maksud saya, dengan berkaca melihat kemampuan Anda sendiri, karena untuk mencapai "setinggi langit" selain belum tentu enak dan menyenangkan, Anda juga harus punya senjata bernama IQ. Kalau IQ Anda sama jongkoknya dengan saya, nanti Anda malah frustrasi dan cita-cita tak tercapai, langit tak tersentuh malah jadi pungguk merindukan langit.
2. Setelah Anda berkaca dan mampu melihat sejauh mana kebodohan dan kepandaian Anda, mulailah mendata pekerjaan-pekerjaan apa saja yang bisa Anda raih dengan senjata kebodohan dan kepandaian itu. Bila Anda tak suka matematika dan pandai cuap-cuap, mungkin Anda bisa jadi tukang gosip atau tukang fitnah atau manipulator.
Bila Anda pandai berhitung dan bodoh dalam kejujuran, Anda bisa bekerja pada pekerjaan yang berhubungan dengan uang, dan mungkin bisa sambil korupsi. Kalau Anda bodoh menghafal, tetapi pandai melihat peluang, Anda mungkin bisa jadi penjilat. "Wah… aku mau tuh jadi penjilat," celetuk teman saya.
3. Jangan pernah menganggap profesi atau status pendidikan Anda tidak lebih baik daripada profesi orang lain. Membandingkan D-3 dan S-1, misalnya. Sejauh Anda menjalani profesi atau pekerjaan Anda dengan benar dan dengan hati bahagia, Anda tak perlu merasa menjadi kurang baik atau kurang pantas.
4. Menjadi dokter atau menjalani pendidikan formal tak ada salahnya, tetapi cobalah memberi peluang kepada mata Anda untuk melihat kesempatan di luar pendidikan formal atau profesi yang dianggap pantas itu. Menjual bakso, menerima pesanan menggambar kartu undangan (bukan membuat percetakan), misalnya. Bila Anda memang dikarunia kemampuan memasak tanpa harus belajar memasak, maka cobalah mulai memasak buat teman-teman Anda. Dari mulut merekalah umumnya promosi berlangsung. Siapa tahu suatu hari Anda mampu memiliki usaha katering.
Bila Anda banyak memiliki koleksi buku, mungkin Anda bisa membuka perpustakaan kecil-kecilan. Selain Anda membuat orang jadi pandai, Anda juga memperoleh laba dari peminjaman buku. Bahwa ada yang menjadi germo atau gigolo, itu kenyataan yang ada, tetapi bukan yang saya maksud dalam hal bekerja di luar pendidikan formal.
5. Bila Anda memimpin perusahaan, cobalah jangan mudah menilai dengan hanya melihat CV yang dikirimkan, nilai IP yang tertera di ijazah, atau nama universitasnya. Itu perlu tetapi tak menjamin apa-apa. Cobalah berpikir juga pada result oriented.
Teman saya seorang pengusaha percetakan, telah mempekerjakan delapan orang cacat dan kedelapan manusia cacat ini tak membuat usaha percetakan itu menjadi tersendat-sendat. Ia sebagai pemimpin perusahaan memberi penilaian tak berdasarkan keadaan fisik, ada atau tidak adanya ijazah, tetapi berdasarkan hasil pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
 | Sekolah | Apr 8, '07 5:35 AM for everyone |
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/11/urban/3302683.htm
Dari sejak kecil saya sangat tak suka sekolah. Buat saya, sekolah seperti neraka, meski sesungguhnya saya tak tahu neraka itu seperti apa.
Ketika duduk di kelas satu sekolah dasar, saya bertanya kepada Ibu, mengapa saya perlu sekolah. Mengapa saya perlu pergi ke sekolah tepatnya, lha wong kalau saya bisa belajar saja di rumah, terus kenapa?
Ibu saya diam saja. Mungkin geregetan melihat anaknya baru kelas satu sudah bawel setengah mati. Jawaban itu malah datang dari teman saya setelah SMA. "Nanti lo enggak dapat kerja karena enggak punya ijazah. Kan enggak mungkinlah yao nyak lo buat ijazah seenaknya sendiri."
Ijazah. Itu penting sekali rupanya, meski sekarang ini walau sudah di genggaman tangan pun saya melihat masih saja banyak yang kelabakan mencari pekerjaan. Hari Selasa lalu, saya hadir dalam rapat dengan seorang kurator bersama seorang teman kami. Hari masih pukul sepuluh pagi hari, harum kopi hitam di kafe membangunkan mata saya yang masih sembap.
Seusai rapat, sang kurator berbicara soal mahasiswanya yang tak bisa maju-maju di perusahaannya karena hanya berijazah D-3 dan bukan S-1. Padahal, teman sejawatnya yang berijazah S-1 tak sepandai murid D-3- nya dalam urusan fotografi. Toh kenyataannya perusahaan menilai manusia lebih tinggi karena ijazah S-1-nya itu.
Seperti WC
Saya itu ingin sekali bisa hanya dengan ijazah lulusan sekolah dasar bisa jadi presiden. Saya tak membayangkan dengan ijazah sekolah dasar saya bisa memenangi ujian penerimaan karyawan dan menjadi presiden di sebuah perusahaan multinasional, misalnya. Tetapi, Pak Harto bisa dan memimpin negara dengan rakyatnya yang memegang ijazah lebih tinggi darinya... dan menganggur.
Selain saya ingin seperti pak Harto, saya juga merasa sudah membuang waktu selama masa sekolah dengan hal-hal yang bukan saya. Saya bukan antipendidikan, saya malah mau bercerita bagaimana tersiksanya saya yang bodoh matematika, fisika, apalagi kimia serta susahnya menghafal Pancasila, serta tak bisa membuat prakarya dengan gergaji, tetapi semuanya harus saya laksanakan sekian tahun lamanya.
Ayah saya pernah marah-marah karena saya tak mengerti ilmu pengetahuan alam, sampai saya disetrap tak boleh ke mana-mana. Seandainya dulu saya bisa berbicara kepada ayah saya, saya akan mengatakan mengapa ia harus marah anaknya tak mampu ilmu alam bila anaknya malah mampu jadi penata rambut dan lebih bahagia di dapur bersama pembantu belajar memasak?
Di sekolah menengah dahulu, murid laki-laki mendapat pekerjaan yang dianggap pekerjaan laki-laki. Sampai sekarang saya tak mengerti bahwa ternyata pekerjaan punya jenis kelamin, seperti WC. Siapa yang membuat aturan bahwa gergaji adalah mainan laki-laki atau bertinju adalah kesenangan laki-laki? Lha… putrinya Pak Muhammad Ali malah memilih jadi petinju.
Murid perempuan mendapat kegiatan masak-memasak atau jahit-menjahit. Padahal apa ya semua perempuan mau jadi tukang masak dan tukang jahit? Lha wong, sekali lagi, putrinya Pak Ali malah memilih menjadi petinju.
Seperti Sebastian Gunawan
Sementara menurut penglihatan saya yang plus satu setengah ini, tukang masuk di hotel berbintang atau rumah makan tanpa bintang umumnya didominasi laki-laki. Dan pekerjaan itu tak membuat mereka jadi banci atau keperempuan-perempuanan. Jadi, mengapa saya tak boleh ikut masak saat sekolah menengah dahulu, lha wong saya lebih suka masak daripada main gergaji?
Coba saja saya boleh, saya mungkin tak perlu masuk SMA dan langsung kursus yang lebih spesifik dalam waktu singkat dan saya bisa jadi tukang masak.
Kalau tak diterima di mana-mana, ya bikin warung kecil sendiri. Mungkin saya akan lebih banyak punya uang pada umur yang sama daripada teman saya yang berkutat dengan H2SO4 di laboratorium.
Kalau saja pada masa sekolah itu saya bisa bergabung dengan kaum perempuan untuk belajar jahit-menjahit, mungkin saya tak perlu harus menuntaskan ijazah SMA, tetapi belajar jadi tukang jahit dan belajar desain. Mungkin sekarang saya bisa berbisnis pakaian jadi seperti Sebastian Gunawan tanpa harus membuang waktu bertahun lamanya. Mungkin sejak lama saya sudah bisa punya toko membuat pakaian di Jakarta Pusat, Timur, Utara, Barat, dan Selatan.
Sementara dunia jahit-menjahit juga banyak diminati laki-laki, mengapa saya harus belajar sampai terkantuk-kantuk soal P4 kalau saya lebih canggih menarikan jari-jemari saya di atas kain dan menggoyangkan kaki saya di meja jahit? Lha... wong saya dijejal P4, dan saya mencoba untuk menghayatinya dan mencintai negeri ini dengan sebenar-benarnya, malah sekarang banyak orang yang tak peduli dengan intisari P4.
Jadi, saya harus menjalani pendidikan formal supaya dapat ijazah, saya harus menjalani hal yang tak saya sukai bertahun lamanya. Masalahnya, situasi itu membuat saya menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk sesuatu yang tak ingin saya raih. Mungkin masalahnya juga masa itu—sebelum datangnya kesempatan jadi bintang sinetron atau selebriti—cita-cita saya cuma sampai jadi dokter, insinyur, atau ekonom. Sebuah cita-cita yang dianggap mulia dan pantas karena ada orangtua teman saya yang menyuruh anak lelakinya jadi dokter supaya sampai masa tua tak akan miskin.
Coba kalau semua orang jadi dokter, siapa yang membangun ruang praktik sang dokter atau yang mencukur rambut sang dokter? Apakah mereka akan jatuh miskin dibandingkan dengan dokternya? Situasi masa itu membuat saya tak bisa berpikir, dan tak punya keberanian mendatangi orangtua saya untuk menjelaskan kepada mereka saya ingin jadi penata rambut.
Saya kok yakin, orangtua saya bakal kena serangan jantung. Anak lelaki kok kerja seperti perempuan? Teman wanita saya bercerita, sewaktu ia lulus sekolah menengah atas di Bandung ingin sekali menjadi peragawati. Kebetulan memang posturnya pas untuk itu.
"Pengen kayak Okky Asokawati, bo," katanya. Alhasil, cita-citanya kandas di tengah jalan karena menurut ayahnya itu profesi yang tidak menjanjikan dan tidak pantas. Saya kemudian bertanya dalam hati, adakah profesi yang pantas?
Oleh Samuel Mulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/25/urban/3319491.htm
1. Itu adalah salah satu judul lagu yang dinyanyikan grup ABBA pada tahun ketika saya belum punya kumis. Sebagai manusia yang mencintai uang, mungkin saya dan Anda harus menghafalkan lagu itu, selain lagu kebangsaan negeri tercinta Indonesia Raya.
2. Uang tak dapat membeli kebahagiaan. Tentu. Karena kebahagiaan bukan kue apem, baju, atau telepon genggam yang ada di butik, toko, pasar, atau mal. Malah menurut IQ jongkok saya, penjual kebahagiaan dan pembelinya adalah saya sendiri.
Saya pernah punya sopir kantor yang punya anak empat, dan sengsara juga karena hasrat seksualnya berlebihan sampai bisa menyimpan istri lebih dari satu. Teman saya yang menganggur saja bisa merokok dan pakai narkoba, dan lalu sengsara.
Jadi, kalau ada orang kaya atau seperti saya yang keturunan pembanting tulang menjadi sengsara, jangan salahkan uangnya, salahkan manusianya. Kontrol ada di tangan manusianya, dan bukan uangnya. Kaya bisa sengsara, miskin ya bisa sengsara. Kaya bisa bahagia, miskin ya bisa bahagia. Jadi, kalau uang tak bisa membeli kebahagiaan, tak punya uang juga sami mawon.
Teman saya pernah menangis dan mengatakan ia sengsara karena cinta. Cinta kok menyengsarakan. Yang bisa membuat dirinya sengsara, ya dirinya sendiri. Uang dan cinta tak pernah salah, tetapi kita acap kali memilih mencari kambing hitam. Karena acap kali kita tak mau dijadikan kambing hitam, cinta dan uanglah yang dijadikan sate kambing.
3. Kalau Anda mau punya banyak uang, cobalah berteman dan belajar dari orang-orang yang banyak uang dan bekerja keras untuk itu. Bukan memilih jalan singkat menjadi simpanan. Pengalaman saya mengajarkan, pekerja keras umumnya bisa memberi inspirasi, memberi solusi dan strategi untuk bertahan hidup dan maju karena terbiasa sengsara.
Saya juga baru mendapat pelajaran untuk mengembangkan uang saya yang seimprit-imprit agar mendapat pemasukan lumayan. Lumayan seimprit, maksudnya.
"Awalnya seimprit-imprit, lama-lama kan jadi bukit imprit, Neng," kata teman perempuan saya.
|
|