Catila's posts with tag: sobron aidit

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sobron aidit
Blog EntrySobron Aidit dan Makna Sebuah NamaMar 10, '07 10:24 PM
for everyone

Oleh Budi Kurniawan

Wartawan; Penulis Buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit

 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/25/seni/3339330.htm

 

 

"kau dan aku hanya percaya dan setia maka kita berdua bisa begitu"

 

Dering telepon tiada henti memecah malam yang beku di Friendship Hotel, pinggiran Beijing. Agak tergesa, lelaki 28 tahun itu meninggalkan buku-buku Indologie yang tekun ia baca. Pelan ia mengangkat gagang telepon. Lima menit pembicaraan berlangsung. Lalu semuanya jatuh dalam muram. Seketika ruang yang disediakan pemerintah Tiongkok untuk para ahli itu jatuh dalam suram.

 

Seorang teman yang baru pulang dari Havana, Kuba, membuat Sobron Aidit tercenung. Indologie (ilmu tentang keindonesiaan) yang disiapkan untuk mahasiswa tingkat tiga dan empat di Institut Bahasa Asing (IBA) Beijing, ia biarkan berserakan.

 

Keindahan Istana Musim Panas di sebelah hotel lenyap seketika. Kawan yang baru bertemu Fidel Castro itu mengabarkan bahwa abangnya, Dipa Nusantara (DN) Aidit, telah tewas terbunuh. Melalui sang kawan, pemimpin revolusi Kuba itu menyampaikan dukacita yang mendalam.

 

Sobron menahan marah, kehilangan, juga sedih. Baginya Bang Amat—demikian panggilan sayang Sobron pada abangnya itu—bukan sekadar abang. Ia tahu betul, DN Aidit sangat memerhatikan kehidupannya. Malam kian larut dan beku pada November 1966 itu.

 

Di antara kebekuan itu, Sobron teringat sebuah peristiwa bersama DN Aidit yang sangat berkesan baginya. Di suatu senja yang temaram, Bang Amat memanggil Sobron ke kantornya di Kramat Raya 81 (Kantor Pusat Partai Komunis Indonesia).

 

Bang Amat meminta Sobron menimbang-nimbang pencantuman nama Aidit di belakang namanya. Dia khawatir hal itu akan menjadi persoalan di kemudian hari, sebab nama itu akan berkonotasi PKI karena ketuanya bernama sama.

 

Mendengar permintaan itu, Sobron terdiam. Ia sadar apa yang dimaksudkan abangnya itu. Abangnya ingin ia terus berkembang dan tetap eksis dengan bakat budaya yang ia miliki, tanpa harus terganggu dengan persoalan politik yang ingar-bingar dan melelahkan itu. Apalagi ketika itu Sobron dikenal khalayak sebagai sastrawan yang tulisannya menyebar di banyak media: Zenith, Sastra, Kisah, Republik, Harian Rakjat, Sunday Courier, dan Bintang Timur.

 

Di sepanjang jalan sebelum tiba di Kramat 81, Sobron mengira Bang Amat keberatan ia menggunakan nama belakangnya. Padahal, nama Sobron Aidit sudah dipakainya jauh sebelum Bang Amat menjadi anggota petinggi PKI. Ia sudah memakai nama itu sejak 1948. Sedangkan Bang Amat baru menjadi ketua partai pada tahun 1951. Sobron tetap kukuh menggunakan nama Aidit di belakang namanya.

 

Ketika senja yang temaram ditelan malam, kepada Bang Amat, Sobron menolak permintaan Bang Amat untuk mengubah namanya. Apa pun alasannya. Dengan jujur pula Sobron menceritakan pikiran-pikiran salahnya di sepanjang jalan sebelum bertemu Bang Amat.

 

Sambil meminta maaf, Sobron memeluk Bang Amat. Bang Amat membalas pelukan itu dengan sangat erat. Air mata Sobron mengalir deras di sela peluk yang erat itu.

 

Bang Amat berbisik pada Sobron: "Baik, sangat baik, aku selalu percaya kepadamu, kau sangat jujur. Aku senang akanmu. Kau harus tahu lagi bahwa aku menaruh kepercayaan kepadamu. Sangat dan sangat. Ingat itu! Pegang eratlah kepercayaanku kepadamu. Aku sangat ingin melihatmu jadi orang. Jadi sastrawan yang baik. Kalau sanggup, menjadilah kebanggaan rakyat! Kalau tidak sanggup, jadilah sastrawan yang jujur dan memihak rakyat! Tapi selalulah jangan menipu, menyiksa, dan menindas rakyat. Kita ini adalah bagian rakyat yang luas. Tanpa kita, rakyat yang luas itu takkan apa-apa. Tapi kita tanpa mereka yang luas itu bukanlah apa-apa. Tak ada artinya."

 

Menjelang malam, sesudah dua kali makan di kantor itu, keduanya berpisah. Bagi Sobron, sekali inilah ia merasa paling lama berbicara dari hati ke hati dengan Bang Amat. Ia kian mengerti siapa sebenarnya abangnya itu. Begitu juga dengan Bang Amat, ia kian mengerti siapa adiknya yang ia katakan sangat dipercaya itu.

 

Kepercayaan yang pekat seperti yang ditulis Sobron dalam sebuah puisinya enam tahun lalu. Kau dan aku/hanya percaya dan setia/maka kita berdua bisa begitu.

 

Walau bersaudara dan menggunakan nama belakang yang sama, Sobron Aidit sungguh berbeda dengan DN Aidit. DN Aidit sangat fasih dalam soal politik. Sobron justru tak menyukai politik. Sobron lebih memilih bergerak di ranah budaya dan sastra.

 

Sobron membuktikan orientasinya itu dalam rentang waktu yang panjang. Sobron menulis berbagai karya sastra kala berusia 13 tahun. Cerpennya, Buaja dan Dukunnja, mendapatkan penghargaan dari majalah Kisah pada 1955-1956. Basimah, cerpennya yang lain, pada 1961 mendapat penghargaan dari Harian Rakjat.

 

Selain menulis karya-karya sastra, Sobron juga menjadi guru dan dosen. Bahkan, pada tahun 1963, Sobron dikirim pemerintah ketika itu menjadi dosen tamu di Beijing.

 

Soal pilihannya yang berbeda dengan sang abang ini, berkali-kali disampaikan Sobron kepadaku. Ketika diundang hadir dalam pertemuan dengan kawan-kawannya di sebuah rumah yang asri di kawasan Cibubur; pada peringatan ulang tahunnya yang ke-70 di Blok M; ketika peluncuran dua bukunya di Gedung Juang di Menteng, November tahun lalu, Sobron menegaskan penolakannya pada dunia politik. Politik, kata Sobron, bukan bidangnya. Tolong biarkan saya untuk terus berjuang melalui tulisan dan karya sastra, katanya kepadaku.

 

Komitmennya pada sesuatu, saya kira, menjadi satu hal yang membuat Sobron tegar menghadapi segala dera dan coba. Ketika terempas oleh pusaran politik yang buram di China; mengungsi ke Perancis dan lalu membuka restoran di Paris; menjadi "kaum kelayaban" dan orang terbuang yang hanya boleh datang, tetapi tak boleh pulang ke tanah airnya; Sobron menunjukkan ketegarannya.

 

Sobron memang keras hati pada sesuatu yang dianggapnya benar. Tetapi, dia juga selalu ingin bersahabat dengan siapa pun, tak peduli warna kulit dan ideologi.

 

Semua komitmen, jalan panjang, dan kenangan Sobron Aidit terhadap segala hal mencapai akhirnya pada pagi hari, 10 Februari 2007. Di usianya yang ke-73—lahir pada 2 Juni 1934 di Belitung—Sobron berpulang setelah terjatuh di sebuah stasiun kereta api bawah tanah di Perancis. Dia sempat dirawat di rumah sakit. Namun, Sang Khalik rupanya punya skenario lain. Selamat jalan sahabat yang terbuang….


Blog EntrySobron Aidit MeninggalMar 1, '07 10:32 PM
for everyone

Ada beberapa tulisan:

 

Kiriman: mulaharahap

 

Kompas, ll Februari 2007

 

Sobron Aidit Meninggal

 

Jakarta, Kompas - Penulis dan penyair yang bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Paris, Perancis, Sobron Aidit, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Paris, Sabtu (10/2) pukul 09.23 waktu setempat atau pukul 16.23 WIB.

 

Sobron yang lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934, adalah adik pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit. Saat peristiwa G30S meletus, Sobron tengah berada di Beijing sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Sejak itu, ia tak bisa pulang ke Indonesia.

 

Menurut penuturan keponakannya, Ilham Aidit—putra keempat DN Aidit yang saat ini bekerja di Nanggroe Aceh Darussalam—pamannya dilarikan ke rumah sakit di Paris pada Jumat malam karena penyumbatan pembuluh darah ke otak.

 

Sampai sore kemarin, dia belum tahu apakah pamannya itu akan dimakamkan di Perancis atau Belanda. Selama lima tahun terakhir, menurut Ilham, Sobron lebih banyak ulang alik Perancis-Belanda. "Temannya kebanyakan di Perancis, tapi kedua anaknya di Belanda," kata Ilham.

 

Sobron memiliki dua anak, yakni Wita dan Nita. Keduanya tinggal di Belanda dan memberinya lima cucu. Istri Sobron telah meninggal semasa mereka hidup di pengasingan di Beijing.

 

Sobron pindah ke Paris tahun 1981. Bersama sejumlah teman, dia kemudian mendirikan restoran "Indonesia" di Rue de Vaugirard, Paris. Sebagai penulis, Sobron menulis cerita-cerita pendek, yang beberapa di antaranya berlatar belakang restorannya itu. Tahun 2000, buku kumpulan cerpennya berjudul Kisah Intel dan Sebuah Warung (Garba Budaya) diluncurkan. Terakhir, terbit bukunya berjudul Razia Agustus (Gramedia Pustaka Utama). Buku itu diluncurkan dalam sebuah acara diskusi buku di Bentara Budaya Jakarta, November

2006. (BRE)

 

 

 

Kolom IBRAHIM ISA  -   IN MEMORIAM SOBRON AIDIT

 

Kiriman: Ibrahim Isa

 

Pagi ini Zus Els Tahsin, istri mendiang Suraedi Tahsin, menilpun kami:

 

BUNG SOBRON PAGI INI MENINGGAL DUNIA, katanya dengan suara sedih.

 

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI 'UN – SEMOGA ARWAHNYA DITERIMA DI SISI TUHAN Y.M.E.

 

Sobron meninggal sesudah menderita serangan jantung dan pembuluh darah dua hari yang lalu. Ia meninggal di rumah sakit di Paris, salah satu rumah sakit yang baik. Keluarganya, dua orang putri, Wita dan Nita beserta cucu-cucu dan manantu syukur sempat menengok ayah, kakek, mertua beberapa saat sebelum Sobron Aidit meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

 

Kesedihan besar yang menimpa keluarga Sobron Aidit juga dirasakan oleh para handai taulan di Paris, Amsterdam, Stockholm, Berlin, dan di tanah air tercinta Indonesia. Tak lain harapan kita semua keluarga yang ditinggalkan Sobron tabah adanya menghadapi musibah ini.

 

Sobron Aidit, adalah sahabat karibku, seorang kawan yang kukenal puluhan tahun lamanya. Oragnya peramah, gembira, optimis dan penuh dengan energi (entah dari mana energi itu, mengingat umumnya yang sudah di atas tujuh puluh). Boleh dikatakan, setiap hari Sobron menulis. Apakah itu cerpen, apa yang berjudul 'cerita-cerita santai', 'kolom saya', dan lain-lain judul yang hidup dan jenaka. Menulis, itulah 'hidup' nya Sobron Aidit. Tulisannya sering yang santai-santai, yan biasa-biasa saja, ditulis dengan gaya yang hidup, lugu apa adanya, menceriterakan kehidupan sehari-hari dari orang Paris, dari orang Amsterdam, dari keluarganya, dari anaknya, Nita, Wita dan cucu-cucu yang semuanya sangat dekat dihatinya. Tidak itu saja, Sobron juga berceritera tentang keadaan rakyat kita yang masih hidup serba kekurangan.

 

Sobron juga berceritera tentang penderitaan para korban Peristiwa 1965 yang hingga kini masih didiskrisminasi, dimearginalisasi dan di 'paria'kan oleh penguasa dan para pendukungnya. Sobron aktif memperjuangkan agar para korban pelanggaran HAM tsb direhabilitasi nama baik dan hak-hak mereka sebagai warganegara yang mencintai tanah air dan Republik Indonesia. Sobron pandai melukiskan penderitaan para korban Peristiwa 1965 Pelanggaran HAM Orba, karena ia sendiri adalah salah seorang dari korban pelanggaran HAM rezim Orba, sebagaima halnya keluarganya, teristimewa abangnya Ahmad.

 

Membaca tulisan-tulisan Sobron, orang bisa tahu bahwa meskipun jasadnya tinggal di Paris, sebagai warganegara Perancis, tetapi semangat dan jiwanya tetap Indonesia, yang teramat cinta pada tanah air dan bangsa. Puluhan tahun berkelana di luarnegeri akibat persekusi Orba, tidak sedikitpun melunturkan jiwa patriotik Sobron.

 

Sobron Aidit telah tiada. Tetapi kenang-kenangan indah akan tetap pada kita semua: Sobron Aidit sebagai kawan, yang hangat, dengan siapa kita bisa bersenda gurau, tetapi juga bisa dengan serius membicarakan nasib bangsa dan tanah air, hari depan Indonesia.

 

Semangat dan energiknya Sobron Aidit menulis, ----- sesuatu yang pasti ada gunanya bagi generasi muda, merupakan suri teladan yang tak akan terlupakan sepanjang masa.

 

 

Berita Duka : Sobron Aidit-Paris

Kiriman: novelanjar

 

BERITA LANJUT TENTANG ALM. SOBRON AIDIT

 

Pagi ini, 10 Februari 2007, jam 09:23, matahari musim dingin masih belum nampak di langit yang kelabu. Di ujung sana kudengar suara lelah dan serak sehingga tidak mampu kukenal.

 

"Suaranya tidak terlalu jelas, Bung Pijo", ujarku menebak suara yang yang kudengar itu adalah suara Mas Pijo, salah seorang teman kami.

 

"Aku ini, Mil. Iba", tegas suara di ujung yang jauh mengetahui kekisruhanku.

 

"Ada apa? tanyaku. "Pasti berita buruk".

 

"Ya, pagi ini jam 09:00, Oom Sobron sudah meninggal di rumah sakit Pitie Salpetière. Kau siarkan berita ini, ya, agar teman-teman segera mengetahuinya". Lalu telpon pun ditutup dan percakapan kami berakhir.. Aku segera mencuci muka dan mengenakan pakaian musim dingin menuju rumah sakit. Sebenarnya, hari ini, sekitar jam 13:00, semua kami yang berada di sekitar keluarga Koperasi Restoran Indonesia, Paris, memang berencana menengok Bung Sobron di rumah sakit, setelah kemarin Bung Joso setelah pulang dari rumah sakit, menyampaikan keterangan dokter yang menangani Bung Sobron, bahwa Sobron sudah hanya menunggu saat kepergian. Sudah tak ada harapan lagi untuk tertolong. Mas Aji, teman kami yang seorang dokter bedah memberikan keterangan medisnya. Kami yang mendengarnya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Lalu sepakat untuk bersama-sama hari ini mengunjungi Bung Sobron. Ternyata perkembangan berlangsung lebih cepat dari keinginan dan rencana kami. Bung Sobron telah

meninggal mendahului rencana kami.

 

Keluar dari metro [kereta-api bawah tanah] Chevaleret, aku dan temanku segera menuju ke rumah sakit Pitie Salpetière, rumah sakit terbesar di Eropa Barat yang luas kompleksnya merupakan sebuah kota kecil dalam arti harafiah.

 

Menyusur jalan-jalan berkabut, di bawah angin dingin dan pepohonan meranggas, aku dan temanku meneliti nama-nama jalan dan papapan penunjuk arah. Sambil meneliti semua nama jalan dan papan petunjuk arah, kami berpapasan dengan seorang perempuan muda berpakaian putih, stateskop di kantong bajunya. Perempuan yang kemudian ternyata seorang dokter kami hampiri, menanyai alamat yang kami sedang cari.

 

"Mari kuantar. Aku juga sedang mau ke alamat tersebut", ujarnya..

 

"Terimakasih".

 

"C'est normal", “hal yang wajar", jawabnya ramah lembut.

 

Di ruang yang kami cari terdapat beberapa kamar. Kami tidak tahu di kamar mana jenazah Bung Sobron dibaringkan. Kembali aku bertanya kepada seorang jururawat perempuan yang kebetulan lewat. Ia menunjuk ke sebuah pintu.

 

"Masuklah", ujarnya sambil berlalu meneruskan pekerjaannya.

 

Aku dan temanku masuk. Tak ada seorang pun di kamar itu. Ponakan, anak, cucu dan menantu Bung Sobron masih belum datang. Di hadapan kami terbujur jenazah ditutup kain putih dari kaki hingga kepala. Kain putih itu kubuka dan kusaksikan wajah teman lamaku: wajah Sobron Aidit. Pucat. Dua matanya terkatup. Tak lagi ada gerak apa pun sudah. Kematian sudah menyekapnya. Yang berkeliaran di hadapanku adalah kenangan kebersamaan di berbagai negeri. Terutama di negeri orang. Yang masih tak mati adalah tulisan-tulisannya. Kata-kata tak terbunuh ajal. Arus mengalir dan mengalir. Angin yang tak punya dahan hinggap.

 

Usai mengambil beberapa foto dengan kamera digital sederhanaku, keluarga Bung Sobron dan teman-teman keluarga Koperasi Restoran Indonesia berdatangan. Melihatku Nita, puteri Bung Sobron langsung menangis dan menyandarkan dirinya ke bahuku. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan kecuali :"Ooom...".

 

"Gagah, nak", ujarku lirih ke telinga Nita.

 

"Ya, Oom. Aku akan gagah".

 

Kemudian Nita dan Wita, mbakyu kandungnya, mulai sibuk menangani soal-soal adminstratif di rumah sakit, berunding dengan Joso dan Didien, sebagai penanggungjawab Koperasi Restoran kami.

 

Dari diskusi itu untuk sementara yang bisa diputuskan bahwa hari melayat terbuka mulai:

 

HARI MINGGU, 11 FEBRUARI 2007

JAM: 13:30 sd 16.00

TEMPAT: CHAMBRE MORTUOIRE [RUANG JENAZAH]

ALAMAT: 22, RUE BRUANT

RUMAH SAKIT PITIE SALPETRIERE

75013 PARIS

 

METRO: CHEVALERET

 

Hari kremasi masih belum diputuskan. Menurut rencana sementara, hari kremasi itu akan dilakukan akhir pekan minggu depan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada teman-teman dari luar Perancis yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

 

Sesuai dengan permintaan terakahir Bung Sobron, upacara akan dilakukan secara agama Kristen. Sobron sendiri sudah menetapkan pendeta yang ia harapkan bisa memimpin upacara. Sedangkan abunya, ia minta agar sebagian ditaruh didekat makam istrinya di Beijing, sedangkan separo lagi di samping makam ibunya di Indonesia.

 

Permintaan terakhir Sobron ini, mengingatkan aku akan kata-kata penyair Agam Wispi alm.:

 

"pita merah dan matahari

cinta berdarah sampai mati".

 

Hidup merupakan arena berlaga cinta dan ajal. Benarkah kata-kata Chairil Anwar bahwa: "hidup menunda kekalahan" dan kita tidak lain dari Sysiphus, jika menggunakan ungkapan Albert Camus?!

 

Paris, 10 Februari 2007.

--------------------------------

JJ. Kusni

 

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"

^-^ salam beraja, -anj- ^-^


Sobron Aidit

 

Dua bulan penuh saya tinggal di Idonesia. Sekali ini yang paling lama saya di Indonesia. Ada hal-hal yang masih tertinggal di pikiran saya. Lama saya terpikir dan sangat sulit mencernanya - tetapi lama-lama mengerti juga - hanya belum tuntas habis,

 

Secara tidak berurut - dan acak-acakan, saya kemukakan pikiran yang masih melekat ini.

Menurut pengamatan saya - menurut catatan saya yang tidak ada dalam buku catatan, karena memang tidak perlu,- bahwa kebanyakan rumahtangga Indonesia yang saya lihat dan saksikan - kebanyakan selalu punya pembantu - PRT. Ini terutama yang saya lihat di Jakarta dan Bandung. Jangan jauh-jauh - rumah tempat saya menginap di Cibubur saja - dengan lima jiwa - 3 dewasa dan dua bayi, punya tiga pembantu. Artinya 3 pembantu buat mengabdi - mengerjakan pekerjaan buat lima orang.

 

Saya tahu, keluarga saya ini samasekali tidak termasuk kaya dan punya uang banyak. Dan pensiunan sudah belasan tahun malah. Sedangkan mantunya - juga bukan orang yang banyak uang. Sedangkan tiga pembantunya ini - tinggal di dalam - punya gaji yang sama dengan PRT di luaran - jadi normal-normal saja. Lha - pikiran saya yang nggak banyak lika-likunya ini - lalu darimana dia menggaji pembantu yang tiga orang itu.

 

Lalu saya melihat pada rumahtangga lain. Juga begitu - rata-rata mereka punya pembantu. Dan ada juag yang rumahnya luas dan besar - punya lebih dari empat pembantu - lalu masih ada tukang-kebun - lalu masih ada satpamnya segala. Hanya rumah yang besar dan luas itu - terkadang ada halaman buat main volleynya - ada kolam renangnya - ada lapangan badmintonnya - bahkan saya lihat terkadang ada yang mungkin tuanrumahnya sedang jogging sekitar halaman rumah yang sangat luas itu.

 

Kebanyakan rumah besar dan luas yang saya lihat dari dekat ini - tidak jarang tuanrumahnya ini hanya datang sekali-sekali - bukan kediaman tetapnya. Mungkin mereka punya rumah lain lagi. Dan menurut orang yang paham betul liku-likunya tentang semua ini - rumah ini hanyalah sebuah investasi modal saja. Sewaktu-waktu bisa dijual dan biasanya semakin lama akan semakin mahal.. Dan katanya pabila dijualpun selalu melalui uang asing - dollar atau euro.. Kebanyakan rumah-rumah yang saya lihat ini - ada diwilayah Cibubur. Kebanyakan rumah-rumah tipe luarbiasa ini - selalu sangat tersembunyi letaknya - agak jauh dari jalan raya dan sangat sulit terlihat mata yang kurang jeli.

 

Belakangan barulah saya tahu - kebanyakan pemiliknya adalah orang-orang kaya - konglomerat - bahkan banyak yang penjabattinggi di pusat. Banyak yang bekas menteri dan bahkan pernah jadi wapres seperti Habibi dan beberapa bekas menteri - dan bahkan sang Presiden SBY-pun dekat dengan wilayah Cibubur ini - juga kepala kepolisian bahkan gubenur Sutiyoso itu dan katanya Bob Hasanpun punya rumah mentereng di sana.

 

Rasanya menurut saya - sangat sedikit rumahtangga di dua kota yang saya lihat ini, yang tidak punya pembantunya. Nah, pabila para pembantu ini pulang mudik berhubung dengan Hari Lebaran - maka rumahtangga ini terlihat agak lumpuh atau samasekali lumpuh - berantakan bagaikan kapal pecah - tidak teratur dan agak jorok! Selama para pembantu mereka ini pulang kampung - selama itu pula rumahtangga ini berantakan - dan centang-perenang.

 

Ada yang saya lihat keluarga yang tidak menonjol kekayaannya - tapi dia punya tiga sampai empat mobil pribadi - dan ada yang mewahnya. Lalu sangat sulit buat mengatakan orang ini tidak kaya - lalu darimana mobil-mobil itu didaoatkan?

 

Ada kesimpulan saya setelah melihat dan menyaksikan ini semua. Bahwa orang Indonesia yang saya lihat dari dekat itu - "sangat pandai hidup" atau "pandai mengatur hidup" - dan pandai buat berpura-pura. Belum lagi yang saya lihat ini orang-orang kaya benar-benar dan konglomeratnya benar-benar. Katanya mereka ini ada yang punya pulau - beli pulau. Dalam hati saya, sekiranya menara Eiffel yang di Paris itu - dijual - tentulah sudah lama dibeli oleh orang Indonesia. Lalu saya berpikir lagi - katanya Indonesia itu rakyatnys miskin - pada banyak yang melarat. Tetapi kenapa restoran besar dan chiks dan sangat mahal serta terkenal - penuh dengan pelanggan dan pembeli. Pesawat-terbang selalu penuh penumpang - kereta kelas eksekutif pada penuh - pasar dan pertokoan penuh sesak dengan orang-orang yang membeli.

 

Ini sekilas dan sekitar kota besar dan ibukota lagi! Sedangkan satunya adalah Parijs van Java yang di mata saya adalah sebuah kota burjuasi! Tetapi dari catatan dan penyelidikan selama ini - yang saya sebutkan dan ceritakan ini - adalah sekitar 5 persen orang. Selainnya itu adalah kaum tengah bawah dan kaum miskin. Kalau mau lihat di mana mereka itu - pergilah agak ke luar kota atau sekalian ke pedesaan - nah akan tampak borok-borok sebenarnya dari masyarakat Indonesia yang mayoritasnya,-

 

Almere - Holland,- 24 November 06,-


Oleh: Sobron Aidit

 

Hampir dua hari saya merasai dan mencicipi kehidupan kelas atasan - selebriti di Jakarta. Ini karena saya diminta untuk bisa ikut serta "mencicipi" barang-sekilas kehidupan kelas selebriti di sekitar Jakarta ini,

 

Semula kami ke "emyu" - MU - Mancheter United - sebuah klab malam yang kebanyakannya berorientasi ke Tanah Inggris Raya - terutama dalam perjudian sepakbola Liga Inggris. Ini juga sebuah klab-malam yang cukup beken. Di sini raja-raja judi dan penikmat kehidupan malam - "membunuh waktu"nya

 

Ada tarian strip-tease yang semakin malam semakin menjadi. Para penari tang berpakaian mini sesedikit mungkin - dan di pentas tontonan sambil menari erotis - memperagakan gerakan bersetubuh - dan ini di tengah tontonan yang disaksikan ratusan mata. Baru kali ini saya menikmati tontonan ini - yang sebenarnya buat saya samasekali tidak ada kenikmatannya - tapi hanya ada rasa aneh - rasa lain dari yang lain. Kok Jakarta sudah sampai begitu ya........

 

Semua pakaian pokok dilepas - tinggal pakaian terakhir dan hanya kemaluan alat vital itu saja yang nggak dikeluarkan secara telanjang,-

 

Ini terjadi sesudah jam 24.00. Kami makan dan minum secara selebritis kebanyakan. Kami bertiga - minum CHIVAS - jenis alkohol lebih dari 45% - heran dan heran deh - kok saya turut juga minum dan melahap minuman beralkohol tinggi itu. Dari kami bertiga hanya saya yang tidak teler! Sebab saya hanya minum alakadarnya - hanya satu gelas. Teman saya itu menenggak 7 gelas rata-rata. Lalu kami makan dengan cara selebritis barangkali makanan konglomerat. Hanya harga CHIVAS saja sudah 700.000 rupiah satu botol. Dan malam itu kami menghabiskan hampir satu juta setengah rupiah.

 

Teman saya yang adalah cucu saya itu memamerkan sebuah vulprn - ballpoint - yang hanya ada 40 di seluruh Nusantara ini. Ballpoint itu berkepala intan murni - peringatan buat 100 tahun Ballpoint bercapkan MONT BLANC. Dan harganya 8.000.000 rupiah. Ini hanya permainan kelas atasan saja. Ketika itu ponakan saya ini berburu ballpoint-intan yang peringatan 100 tahun Ballpoint MONT BLANC - selama satu bulan - sebab ballpoint-intan itu pindah dari tangan ke tangan - ke Surabaya - Bandung dan bolak-balik sebelum menjadi hak pribadi seseorang. Memang bagus sekali - sangat indah - sesuai dengan harganya yang selangit. Rasanya saya nggak bakalan memilih ballpoint itu - bagi saya cukuplah ballpoint biasa yang harganya empat-lima euro dengan harga di Paris-nya.

 

Katanya dan konon beritanya - para wanita cantik yang berpakaian sangat erotis itu - bisa diteruskan buat berkencan sampai paginya - mau diapakan dan atas persetujuan bersama saja. Dan asal ingat isi kantong saja. Sebab pemakaian sampai pagi dengan berbagai posisi itu harganya antara satu setengah juta sampai dua juta rupiah buat hanya beberapa jam itu saja - sampai pagi dari tengah malamnya. Ya boleh coba......

 

Kami pada malam itu sudah tentu pulang paginya. Dan pada keesokan harinya - teman yang adalah cucu saya ini lagi-lagi mengajak makan di Citos - Cilandak Town Square. Sebuah mall yang mewah. Dan kami bertujuh orang dengan dua bayi - sekeluarga lengkap kami di Cibubur - makan di CHATTER-BOX Cafe - makan sekenyangnya dengan biaya hampir satu setengah juta rupiah.

 

Ini siangnya - dan malamnya saya ditawari lagi kalau mau pijit-urut bergaya SPAM. Dan lalu makan lagi makanan laut - sea-food termasuk sirip-ikan-hiu. Saya katakan kepada ponakan saya yng cucu saya itu - sangat terimakasih dan saya sudah tak tahan lagi - sudah sangat kenyang dan sangat lelah. Ruipanya saya ini samasekali nggak ada potongan buat jadi selibritis atau buat jadi orangkaya yang kelas atasan! Tapi saya merasa senang - sedikit banyaknya sudah mencicipi juga cara kehidupan atasan itu. Hanya dari segi satu segi kecilnya saja - dan itupun saya sudah menyerah - lantaran mungkin semua itu bukanlah ladang kehidpan saya,-

 

Cibubur,- 12 November 06,-


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help