Ada beberapa tulisan:
Kiriman: mulaharahap
Kompas, ll Februari 2007
Sobron Aidit Meninggal
Jakarta, Kompas - Penulis dan penyair yang bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Paris, Perancis, Sobron Aidit, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Paris, Sabtu (10/2) pukul 09.23 waktu setempat atau pukul 16.23 WIB.
Sobron yang lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934, adalah adik pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit. Saat peristiwa G30S meletus, Sobron tengah berada di Beijing sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Sejak itu, ia tak bisa pulang ke Indonesia.
Menurut penuturan keponakannya, Ilham Aidit—putra keempat DN Aidit yang saat ini bekerja di Nanggroe Aceh Darussalam—pamannya dilarikan ke rumah sakit di Paris pada Jumat malam karena penyumbatan pembuluh darah ke otak.
Sampai sore kemarin, dia belum tahu apakah pamannya itu akan dimakamkan di Perancis atau Belanda. Selama lima tahun terakhir, menurut Ilham, Sobron lebih banyak ulang alik Perancis-Belanda. "Temannya kebanyakan di Perancis, tapi kedua anaknya di Belanda," kata Ilham.
Sobron memiliki dua anak, yakni Wita dan Nita. Keduanya tinggal di Belanda dan memberinya lima cucu. Istri Sobron telah meninggal semasa mereka hidup di pengasingan di Beijing.
Sobron pindah ke Paris tahun 1981. Bersama sejumlah teman, dia kemudian mendirikan restoran "Indonesia" di Rue de Vaugirard, Paris. Sebagai penulis, Sobron menulis cerita-cerita pendek, yang beberapa di antaranya berlatar belakang restorannya itu. Tahun 2000, buku kumpulan cerpennya berjudul Kisah Intel dan Sebuah Warung (Garba Budaya) diluncurkan. Terakhir, terbit bukunya berjudul Razia Agustus (Gramedia Pustaka Utama). Buku itu diluncurkan dalam sebuah acara diskusi buku di Bentara Budaya Jakarta, November
2006. (BRE)
Kolom IBRAHIM ISA - IN MEMORIAM SOBRON AIDIT
Kiriman: Ibrahim Isa
Pagi ini Zus Els Tahsin, istri mendiang Suraedi Tahsin, menilpun kami:
BUNG SOBRON PAGI INI MENINGGAL DUNIA, katanya dengan suara sedih.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI 'UN – SEMOGA ARWAHNYA DITERIMA DI SISI TUHAN Y.M.E.
Sobron meninggal sesudah menderita serangan jantung dan pembuluh darah dua hari yang lalu. Ia meninggal di rumah sakit di Paris, salah satu rumah sakit yang baik. Keluarganya, dua orang putri, Wita dan Nita beserta cucu-cucu dan manantu syukur sempat menengok ayah, kakek, mertua beberapa saat sebelum Sobron Aidit meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Kesedihan besar yang menimpa keluarga Sobron Aidit juga dirasakan oleh para handai taulan di Paris, Amsterdam, Stockholm, Berlin, dan di tanah air tercinta Indonesia. Tak lain harapan kita semua keluarga yang ditinggalkan Sobron tabah adanya menghadapi musibah ini.
Sobron Aidit, adalah sahabat karibku, seorang kawan yang kukenal puluhan tahun lamanya. Oragnya peramah, gembira, optimis dan penuh dengan energi (entah dari mana energi itu, mengingat umumnya yang sudah di atas tujuh puluh). Boleh dikatakan, setiap hari Sobron menulis. Apakah itu cerpen, apa yang berjudul 'cerita-cerita santai', 'kolom saya', dan lain-lain judul yang hidup dan jenaka. Menulis, itulah 'hidup' nya Sobron Aidit. Tulisannya sering yang santai-santai, yan biasa-biasa saja, ditulis dengan gaya yang hidup, lugu apa adanya, menceriterakan kehidupan sehari-hari dari orang Paris, dari orang Amsterdam, dari keluarganya, dari anaknya, Nita, Wita dan cucu-cucu yang semuanya sangat dekat dihatinya. Tidak itu saja, Sobron juga berceritera tentang keadaan rakyat kita yang masih hidup serba kekurangan.
Sobron juga berceritera tentang penderitaan para korban Peristiwa 1965 yang hingga kini masih didiskrisminasi, dimearginalisasi dan di 'paria'kan oleh penguasa dan para pendukungnya. Sobron aktif memperjuangkan agar para korban pelanggaran HAM tsb direhabilitasi nama baik dan hak-hak mereka sebagai warganegara yang mencintai tanah air dan Republik Indonesia. Sobron pandai melukiskan penderitaan para korban Peristiwa 1965 Pelanggaran HAM Orba, karena ia sendiri adalah salah seorang dari korban pelanggaran HAM rezim Orba, sebagaima halnya keluarganya, teristimewa abangnya Ahmad.
Membaca tulisan-tulisan Sobron, orang bisa tahu bahwa meskipun jasadnya tinggal di Paris, sebagai warganegara Perancis, tetapi semangat dan jiwanya tetap Indonesia, yang teramat cinta pada tanah air dan bangsa. Puluhan tahun berkelana di luarnegeri akibat persekusi Orba, tidak sedikitpun melunturkan jiwa patriotik Sobron.
Sobron Aidit telah tiada. Tetapi kenang-kenangan indah akan tetap pada kita semua: Sobron Aidit sebagai kawan, yang hangat, dengan siapa kita bisa bersenda gurau, tetapi juga bisa dengan serius membicarakan nasib bangsa dan tanah air, hari depan Indonesia.
Semangat dan energiknya Sobron Aidit menulis, ----- sesuatu yang pasti ada gunanya bagi generasi muda, merupakan suri teladan yang tak akan terlupakan sepanjang masa.
Berita Duka : Sobron Aidit-Paris
Kiriman: novelanjar
BERITA LANJUT TENTANG ALM. SOBRON AIDIT
Pagi ini, 10 Februari 2007, jam 09:23, matahari musim dingin masih belum nampak di langit yang kelabu. Di ujung sana kudengar suara lelah dan serak sehingga tidak mampu kukenal.
"Suaranya tidak terlalu jelas, Bung Pijo", ujarku menebak suara yang yang kudengar itu adalah suara Mas Pijo, salah seorang teman kami.
"Aku ini, Mil. Iba", tegas suara di ujung yang jauh mengetahui kekisruhanku.
"Ada apa? tanyaku. "Pasti berita buruk".
"Ya, pagi ini jam 09:00, Oom Sobron sudah meninggal di rumah sakit Pitie Salpetière. Kau siarkan berita ini, ya, agar teman-teman segera mengetahuinya". Lalu telpon pun ditutup dan percakapan kami berakhir.. Aku segera mencuci muka dan mengenakan pakaian musim dingin menuju rumah sakit. Sebenarnya, hari ini, sekitar jam 13:00, semua kami yang berada di sekitar keluarga Koperasi Restoran Indonesia, Paris, memang berencana menengok Bung Sobron di rumah sakit, setelah kemarin Bung Joso setelah pulang dari rumah sakit, menyampaikan keterangan dokter yang menangani Bung Sobron, bahwa Sobron sudah hanya menunggu saat kepergian. Sudah tak ada harapan lagi untuk tertolong. Mas Aji, teman kami yang seorang dokter bedah memberikan keterangan medisnya. Kami yang mendengarnya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Lalu sepakat untuk bersama-sama hari ini mengunjungi Bung Sobron. Ternyata perkembangan berlangsung lebih cepat dari keinginan dan rencana kami. Bung Sobron telah
meninggal mendahului rencana kami.
Keluar dari metro [kereta-api bawah tanah] Chevaleret, aku dan temanku segera menuju ke rumah sakit Pitie Salpetière, rumah sakit terbesar di Eropa Barat yang luas kompleksnya merupakan sebuah kota kecil dalam arti harafiah.
Menyusur jalan-jalan berkabut, di bawah angin dingin dan pepohonan meranggas, aku dan temanku meneliti nama-nama jalan dan papapan penunjuk arah. Sambil meneliti semua nama jalan dan papan petunjuk arah, kami berpapasan dengan seorang perempuan muda berpakaian putih, stateskop di kantong bajunya. Perempuan yang kemudian ternyata seorang dokter kami hampiri, menanyai alamat yang kami sedang cari.
"Mari kuantar. Aku juga sedang mau ke alamat tersebut", ujarnya..
"Terimakasih".
"C'est normal", “hal yang wajar", jawabnya ramah lembut.
Di ruang yang kami cari terdapat beberapa kamar. Kami tidak tahu di kamar mana jenazah Bung Sobron dibaringkan. Kembali aku bertanya kepada seorang jururawat perempuan yang kebetulan lewat. Ia menunjuk ke sebuah pintu.
"Masuklah", ujarnya sambil berlalu meneruskan pekerjaannya.
Aku dan temanku masuk. Tak ada seorang pun di kamar itu. Ponakan, anak, cucu dan menantu Bung Sobron masih belum datang. Di hadapan kami terbujur jenazah ditutup kain putih dari kaki hingga kepala. Kain putih itu kubuka dan kusaksikan wajah teman lamaku: wajah Sobron Aidit. Pucat. Dua matanya terkatup. Tak lagi ada gerak apa pun sudah. Kematian sudah menyekapnya. Yang berkeliaran di hadapanku adalah kenangan kebersamaan di berbagai negeri. Terutama di negeri orang. Yang masih tak mati adalah tulisan-tulisannya. Kata-kata tak terbunuh ajal. Arus mengalir dan mengalir. Angin yang tak punya dahan hinggap.
Usai mengambil beberapa foto dengan kamera digital sederhanaku, keluarga Bung Sobron dan teman-teman keluarga Koperasi Restoran Indonesia berdatangan. Melihatku Nita, puteri Bung Sobron langsung menangis dan menyandarkan dirinya ke bahuku. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan kecuali :"Ooom...".
"Gagah, nak", ujarku lirih ke telinga Nita.
"Ya, Oom. Aku akan gagah".
Kemudian Nita dan Wita, mbakyu kandungnya, mulai sibuk menangani soal-soal adminstratif di rumah sakit, berunding dengan Joso dan Didien, sebagai penanggungjawab Koperasi Restoran kami.
Dari diskusi itu untuk sementara yang bisa diputuskan bahwa hari melayat terbuka mulai:
HARI MINGGU, 11 FEBRUARI 2007
JAM: 13:30 sd 16.00
TEMPAT: CHAMBRE MORTUOIRE [RUANG JENAZAH]
ALAMAT: 22, RUE BRUANT
RUMAH SAKIT PITIE SALPETRIERE
75013 PARIS
METRO: CHEVALERET
Hari kremasi masih belum diputuskan. Menurut rencana sementara, hari kremasi itu akan dilakukan akhir pekan minggu depan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada teman-teman dari luar Perancis yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Sesuai dengan permintaan terakahir Bung Sobron, upacara akan dilakukan secara agama Kristen. Sobron sendiri sudah menetapkan pendeta yang ia harapkan bisa memimpin upacara. Sedangkan abunya, ia minta agar sebagian ditaruh didekat makam istrinya di Beijing, sedangkan separo lagi di samping makam ibunya di Indonesia.
Permintaan terakhir Sobron ini, mengingatkan aku akan kata-kata penyair Agam Wispi alm.:
"pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati".
Hidup merupakan arena berlaga cinta dan ajal. Benarkah kata-kata Chairil Anwar bahwa: "hidup menunda kekalahan" dan kita tidak lain dari Sysiphus, jika menggunakan ungkapan Albert Camus?!
Paris, 10 Februari 2007.
--------------------------------
JJ. Kusni
"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"
^-^ salam beraja, -anj- ^-^