Catila's posts with tag: survival guide @work
Kiriman: John & Mely Sumber: unknown Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu. Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, iapun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik. Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya,"Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu." "Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek dikota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui." ???" Renungkan...! Semua orang akan melakukan apa pun bagi anda, bila anda memperlakukan mereka dengan penuh hormat, penting, dan berharga. Kritik seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi. Adakah kritik yang membangun? Yang pasti ada adalah penghargaan yang membangun. Renungan kali ini menggugah kita agar lebih pandai menyuarakan penghormatan, bukan hanya kritik belaka.
By Mac Anderson Excerpt from the Chapter entitled The Good News Girl
One of the most wonderful things about having a positive attitude is the number of people it touches, many times in ways you'll never know. Recently, I stopped by a convenience store to get a newspaper and a pack of gum. The young woman at the check-out counter said, "That'll be five dollars please," and as I reached into my wallet, the thought occurred to me that a newspaper and gum didn't quite make it to five dollars. When I looked up to get a "re-quote", she had a big smile on her face and said, "Gotcha! I got to get my tip in there somehow!" I laughed when I knew I'd been had. She then glanced down at the paper I was buying and said, "I'm sick and tired of all this negative stuff on the front pages. I want to read some good news for a change." She then said, "In fact, I think someone should just publish a Good News newspaper -a paper with wonderful, inspirational stories about people overcoming adversity and doing good things for others. I'd buy one every day!" She then thanked me for coming in and said, "Maybe we'll get lucky tomorrow; maybe we'll get some good news," and she laughed. She made my day. The following day after my business appointments, I dropped by the same store again to pick up bottled water, but a different young lady was behind the counter. As I checked out I said, "Good afternoon" and handed her my money for the water. She said nothing – not a word, not a smile...nothing.. She just handed me my change and in a negative tone, ordered..."Next!" It hit me right between the eyes: Two people, same age; one made me feel great, and the other, well, made me feel that I had inconvenienced her by showing up. By the choices we make, by the attitudes we exhibit, we are influencing lives every day in positive or negative ways...our family, our peers, our friends, and even strangers we've never met before and will never meet again So when you brush your teeth every morning, and get ready for work, ask yourself this important question, "Who do I want to be today?" "The Grouch" or "The Good News Girl?" Your answer will go a long way toward determining your success in business and in life.
Kiriman: resonansi_2002 "Action is the foundational key to all success" (Pablo Picasso) Pembaca, kali ini kita akan belajar langsung tentang cara menggapai sukses dari motivator kelas dunia, Anthony Robbins. Dalam prinsipnya, Anthony Robbins memperkenalkan istilah Ultimate Success Formula. Melalui buku-buku dan seminarnya, inilah tips yang diberikan Anthony Robbins untuk menginspirasi pendengarnya agar semakin mendekati gerbang kesuksesan mereka. Bahkan, prinsip Ultimate Success Formula inilah yang juga menjadi salah satu langkah fundamental dalam ilmu Neuro Associative Conditioning (NAC) yang diperkenalkan oleh Anthony Robbins. Singkatnya, dalam Ultimate Success Formula ini, diperkenalkan empat langkah yang jika diaplikasikan dengan sungguh-sungguh akan mengantar kita semakin dekat dengan tujuan kita. Pertama, perjelas tujuan yang hendak Anda capai (clear direction). Kedua, ambil keputusan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda mendekati tujuan itu (make decision). Ketiga, milikilah kepekaan apakah Anda semakin dekat dengan tujuan Anda (aware result). Keempat, terus perbaiki dan ubah pendekatan sampai Anda mencapai tujuan (flexible approach). Sekarang, mari kita bahas satu demi satu pendekatan Anthony Robbins ini. Clear direction. Pada prinsipnya, selalu ditekankan bahwa Clarity is Power (kejelasan adalah kekuatan). Pernahkah Anda perhatikan saat kaca pembesar (suryakanta) yang disoroti sinar matahari lalu diarahkan ke kertas? Ketika titip api atau fokusnya menjadi jelas, semakin besar kemampuan titik api tersebut untuk membakar kertasnya. Demikian pula, prinsip pertama dalam Ultimate Success Formula ini mengajarkan, semakin jelas tujuan kita semakin besar pula daya bakarnya. Daya bakar apa? Daya bakar pada semangat dalam diri maupun orang-orang di sekitar kita. Inilah yang dilakukan Martin Luther King, saat dengan jelasnya, dia menggambarkan bagaimana harapannya akan persamaan kulit hitam dan kulit putih dengan pidatonya, I have a Dream. Ini pula yang kemudian ditiru oleh Nelson Mandela hingga usai dipenjara 22 tahun, dia dijanjikan akan bebas dengan bersyarat. Namun, dalam suratnya kepada Presiden P.W. Botha, dia menolak mengubah mimpinya dan menerima lima tahun penjara lagi, sebelum dibebaskan. Mimpinya sendiri begitu jelas. Nelson Mandela tahu, untuk apa dia harus berkorban. Sebagaimana dikatakan oleh Nelson Mandela, "Bagi saya sangatlah jelas bahwa saya perlu melakukan ini demi generasi-generasi kami di masa yang akan datang." Kenyataan menunjukkan, kejelasan akan tujuan serta arah inilah yang memberikan api yang menyalakan semangat mereka untuk bergerak. Sekarang, jadi sangat jelas bagi kita. Kalau kita ingin memiliki semangat serta daya juang yang tinggi, tujuan serta cita-cita kita harus diperjelas. Cita-cita serta arah ini pun akan menjadi daya tarik yang kuat bagi kita. Tatkala kita mengalami jatuh dan bangun, kejelasan akan cita-cita kita ke depan kitalah yang akan membuat kita tetap tegar berdiri. Make decision. Banyak orang yang mempunyai cita-cita, tetapi sedikit sekali yang berhasil mencapainya. Mengapa? Alasannya sederhana. Tidak banyak orang yang benar-benar mengambil tindakan. Banyak orang ragu dan tidak yakin pada kemampuan diri sendiri dalam mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Mereka berpikir dan mengharapkan kesempatan yang 'pas' akan tiba. Mereka mengharapkan 'waktu yang tepat' akan datang suatu ketika. Yang jelas, waktu 'suatu ketika' tidak akan pernah tiba. Jadi, yang disebut 'suatu ketika' itu adalah saat ini dan sekarang! Untuk itulah, Ultimate Success Formula mendorong kita untuk membuat keputusan mengambil suatu langkah, entah seberapa kecil, asalkan semakin membawa kita kepada tujuan kita. Perlu kita ketahui pula, konon kata decision atau keputusan mempunyai akar kata yang berarti memotong. Apanya yang kita potong? Yang jelas, yang kita potong adalah kebingungan arah dan alternatif. Kita membulatkan tekad untuk mengambil suatu langkah. Dan setelah langkah tersebut dibuat, tidak ada lagi kata untuk surut atau pun kembali atau bersikap setengah-setengah. Itulah kunci yang membawa kita semakin dekat dengan kemenangan pribadi kita. Aware result. Langkah-langkah yang kita ambil, punya dua kemungkinan. Semakin mendekati atau justru semakin jauh dari cita-cita kita. Karena itu, pentinglah bagi kita untuk membangun suatu radar yang membuat kita terus-menerus sadar, apakah langkah kita semakin membawa kita pada tujuan ataukah tidak. Flexible approach. Inilah langkah terakhir kita, yakni keinginan untuk terus-menerus memperbaiki proses ataupun metode kita hingga akhirnya membawa kita pada tujuan. Tahap ini membutuhkan kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan dan mengubah cara yang dipakai saat ini. Khususnya, kalau cara tersebut membawa pada kegagalan. Inilah yang sering dikatakan oleh Thomas Alva Edison saat ia mengomentari beberapa penemu. Menurut Edison, "Permasalahan dengan para penemu adalah mereka mencoba beberapa hal, dan tatkala percobaan mereka gagal, mereka pun merasionalisasikan hal itu lalu menyerah!" Itulah yang dia komentari saat dia diejek seorang profesor terkenal pada masanya, Silvanus P. Thompson yang mengatakan percobaannya telah gagal dan tidak akan pernah berhasil. Namun, Thomas Alva Edison adalah manusia dengan fleksibilitas dan kegigihan luar biasa untuk terus-menerus mengubah metode dan caranya hingga cita-citanya berhasil. Hal ini segera mengingatkan kita untuk senantiasa mau mengubah dan fleksibel saat cara kita belum berhasil. Janganlah kita terburu-buru untuk mengubur mimpi dan cita-cita saat segalanya belum berjalan sesuai rencana. Mungkin, kita harus mencoba beberapa langkah lagi dan mengubah metode ataupun pendekatan kita. Seperti pada diri Thomas Alva Edison, fleksibilitas serta kegigihannya itu berbuah pada kesuksesan luar biasa. Pembaca, semoga prinsip-prinsip dalam Ultimate Formula Successs ini segera menginspirasi Anda untuk mengambil langkah-langkah penting dalam hidup Anda. Buatlah keputusan dan segeralah bertindak. Kita sendiri tidak tahu berapa lama kita dikaruniai kehidupan. Karena itu bertindaklah sekarang juga dengan bekal formula sukses ini! Sumber: Ultimate Success Formula: Rahasia wujudkan mimpi Anda oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency
Oleh: Erwin Arianto Kehilangan sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh. Berhenti berkembang. Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka. Tidak memiliki rencana dalam hidup. Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,"Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa." Tidak bersedia berubah. Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk. Gagal dalam berhubungan dengan orang lain. Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak akan pernah bergerak maju dalam hidupnya. Tidak mau membayar harga kesuksesan. Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh harus mengorbankan banyak. Penghargaan yang tertinggi untuk pekerjaan Anda bukanlah apa yang Anda dapat karenanya, tapi siapakah Anda jadinya olehnya.
Kiriman: Heryanti Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" Muslim dari India (terbitan Mizania 2007). Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana. Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tingkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS. Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan? Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini. Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat. Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru," katanya tak lama setelah bergabung. "Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir." Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini. Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules. Penemuannya adalah sebagai berikut: Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. "Orang meninggalkan manajer, bukan perusahaan," tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules. "Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer." Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti : dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yangdiperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos. Seorang pakar manajemen mengatakan, "Jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu." Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda : dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: "Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu." Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan. Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan)?
By Mark Ellwood Where does all the time go? Long hours. Late nights. Snatched lunches. Some employees boast about their excessive work schedule as if it is a badge of honor: "I start work at 7:00 a.m. and work right though until 8:00 p.m." Some of their Herculean claims border on the absurd. "Last night I went to bed at three a.m. and had to get up two hours earlier to finish a report." Or, "I used to eat lunch at my desk. But I need to save more time, so I'm giving up eating." The problem is NOT that there is not enough time. Time does not expand. The problem is that people burden themselves with too many activities. The key to success is how you allocate your time to the important ones. In research we have conducted for clients, average employees spend about 50% of their time on A and B priorities. But among the top performers, A and B priorities will approach 60%. That is an increase of 5 hours per week that can make all the difference. Here is how to think about setting priorities. "A" activities are those that influence long term results. If you had nothing else to do tomorrow, what would affect your results one month from now? For sales people this means selling, which in fact only amounts to 23% of their time. For managers this means supervising people, which is only 18% of their time, and planning which is only 6%. "B" priorities are the aspects of your job description that must get done today. This could be responding to customers, attending monthly meetings, preparing reports, inputting data or shipping products. For example, store supervisors oversee maintenance, a "B" priority that takes up 7% of their time. "C" priorities are those unplanned or unwritten aspects of your job that need to be done. They include filling out expense reports, opening the mail, filing and answering requests from other departments. These are also known as administrative activities. Our research indicates that administrative tasks amount to 20% of the time. Within this, paperwork alone can take 5 hours per week. If you are spending more than that, the system is bogging you down. Finally "D" activities are those things that could be put off for a couple of days. Perhaps some of them are things you should not be doing at all. They include reading trade magazines, handling tasks that should be delegated, and conducting superfluous internet research. Miscellaneous time can be as much as 5% of the week. So make sure to focus your most productive time on the high priority items that will make a difference. Here are a few other time tips for employees: Create a list of activities each day. Make a list of things to do with A, B and C priorities written beside each. Write your list on a piece of paper, in your time planner or even on a Post-It note. Paper does not quite seem to have disappeared from the office. The advantage to paper is that you can see it readily, you can change it and you can tick off items once they are finished. But do not write, "Work on monthly report." This is too vague. Instead, be more specific with "Prepare tables for monthly sales results." Block your time. First off, schedule time for your "A" priority activities. Plan to do them when you are at your peak and when interruptions are least likely to occur. Write the time down in your time planner like it is an appointment. Then, if someone asks you to meet during that time, say "Sorry, I have an appointment." No one will ask whom it is with. It is an appointment with you. Delegate things you think only you can do. If your department's intellectual capital lies with you alone, then you need to delegate more. And if you think someone is not ready for a new task, just remind yourself; they are ready! Delegate the objective, the standards to be met and then ask the person what they need to get started. If they need help, they will let you know. Then watch them wow you with results. Stop sorting the mail. Do your important work before looking at the mail. Even if you have just a few minutes, there is always something you can do on your major tasks. When you have to handle your mail, do not keep putting in different piles, FLAG it. That means File it, Let someone else handle it, take Action on it or throw it in the Garbage. The same goes for both traditional mail and e-mail. Spend money to save time. People say, "time is money", but for many of them it is not. They will drive across town just to save a dollar on a tank of gas. Or, they will spend hours doing unpleasant tasks that they could easily delegate. They are the same people who crave more time. But they spend their time to save money. On the other hand, successful people will spend money to save time. They hire others to do things they do not like doing or are not good at. They do not worry about spending a dollar if it will save them an hour. Go to a movie. Make time for balance. Working all day and night will increase your stress level. Schedule time for art, culture, recreation, spirituality, community or family activities in the same way you schedule your "A" priorities. Do not let time for the important things slip away. Plus, the experiences and insights you gain from these activities will allow you to do your job better. Above all remember, your time is worth it.
Kiriman: Malwa 1. Meja kerja bersih Meja kerja yang bersih dari kertas kerja akan sangat membantu anda untuk lebih fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Pekerjaan akan cepat selesai karena pandangan tidak terganggu dengan tumpukan kertas di atas meja. 2.Bekerja dengan prioritas Yup, SEMUA pekerjaan memang penting untuk diselesaikan secepatnya. Tapi, kita harus bisa membedakan mana yang mendesak untuk diselesaikan, mana yang bisa sedikit ditunda. Bekerjalah dengan prioritas! Dan beban pikiran pun akan jauh berkurang. 3. Segera ambil keputusan Semakin cepat anda mengambil keputusan dalam menghadapi masalah, semakin cepat pula masalah anda akan terselesaikan. And, guess what? Anda tidak perlu lagi berlama-lama stress memikirkan masalah itu. Bukan pekerjaan yang gampang, tapi harus dilakukan secepatnya supaya tidak berlarut-larut. SEMANGAT!! 4. Delegasikan pekerjaan Tidak ada orang di dunia ini yang bisa melakukan segala pekerjaan tanpa bantuan orang lain. So, biasakan untuk mulai membagi beban kerja dengan orang lain di tim kerja anda. Stress berkurang dan anda pun akan punya lebih banyak waktu luang untuk aktivitas lainnya. Masih juga stress? Mungkinkah karena anda tak punya pilihan lain dan merasa dipaksa untuk mengerjakan sesuatu yang sama sekali bukan minat anda? Atau, lebih parah lagi... Anda merasa diperlakukan seperti sapi perah yang hanya menghasilkan keuntungan buat boss anda? Kalau begitu, sudah saatnya anda bergerak maju dan bebaskan diri anda dari stress! Caranya? Cari peluang bisnis sampingan yang bisa mendatangkan penghasilan tambahan. Dengan bertambahnya penghasilan, anda akan punya lebih banyak pilihan dan otomatis stress pun jauh dari pikiran anda... Baca juga: *Pasar Bisnis Internet Naik Lebih dari 1.000 % (Seribu Persen!!) *Kenali Karakter Orang-orang Sukses *Sekolah GRATIS di Asian Brain Internet Marketing Center http://www.dexton.adexindo.com *hope it's useful - Salam Action* Rosa S. Rustam
| |