Catila's posts with tag: tips & trik

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag tips & trik
Blog EntryHari-Hari yang Tidak MenyebalkanMay 5, '08 10:44 AM
for everyone

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+Man&y=cybermed%7C0%7C0%7C13%7C562

 

Sekalipun hari yang akan dilalui, ditengarai terik matahari atau mendung disusul hujan rintik maupun lebat, tapi hati dan pikiran harus tetap cerah dan segar. Melewati hari dimulai dengan baik: bersemangat, pikiran jernih, jauh dari buruk sangka dan menyenangkan, merupakan separuh dari pencapaian tujuan. Hanya bila memperhatikan tips berikut:

 

1.       Untuk mendapatkan kesegaran fisik di pagi hari, tidur cukup di malam hari. Lepaskan masalah begitu berangkat tidur, beristirahat sebaik-baiknya. Yakinkan diri, esok hari akan lebih baik lagi.

2.       Untuk memulai aktivitas, diawali berdoa untuk mendamaikan pikiran dan tentramkan jiwa.

3.       Waktu pagi hari yang cukup sempit, sempatkan berolahraga ringan, semisal jalan berkeliling tempat tinggal atau senam.

4.       Pagi hari cukupkan kebutuhan energi dan gizi tubuh. Sarapan yang baik adalah modal untuk kebugaran tubuh sepanjang hari.

5.       Mengeluh kondisi lalu lintas, akan merusak suasana hati yang cerah. Selama berkendara, hibur diri dengan bersenandung atau mendengar obrolan santai di radio kesayangan.

6.       Sambut hari tanpa lepas senyum dan sapaan pada orang-orang yang dijumpai. Anda pun akan mendapat balasan senyum.

7.       "Siap bertempur" di dunia kerja, dijalani dengan ikhlas dengan memetik hikmahnya ketika: beban kerja yang kebetulan hari itu berlebihan, melakukan kesalahan sehingga ditegur pimpinan, ulah teman kerja yang tidak menyenangkan, relasi bikin ulah.

 

Sumber: Male Emporium


Blog Entry10 Resep Jadi PenulisMay 4, '08 5:20 AM
for everyone
oleh: Yon's Revolta
http://penamuda.multiply.com/journal/item/118/10_Resep_Jadi_Penulis 

Anda ingin jadi penulis, gampang! Untuk menjadi seorang penulis masalahnya bukan kita bisa atau tidak bisa. Tapi kita mau atau tidak mau. Jika kita mau, pasti ada jalan untuk meraih predikat itu. Baiklah, dalam kesempatan ini, akan diketengahkan beberapa resep ringkas bagi mereka yang ingin terjun ke dalam dunia tulis menulis. Semoga membantu yah.

1.Suka Membaca
Membaca tentu bukan asal baca, apalagi membaca apa saja. Kita perlu menetapkan skala prioritas apa yang kita baca sesuai dengan kebutuhan kita. Misalkan Anda seorang muslim, dalam satu bulan minimal tiga jenis buku yang perlu dibaca. Buku tentang keagamaan, buku sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan buku yang sesuai dengan minatnya. Dengan skala prioritas tersebut otak kita tidak dijejali beragam informasi yang justru membuat kita pusing, tapi informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai seorang penulis nantinya.


2.Suka Kliping
Kliping tak hanya soal gunting menggunting koran. Jaman sekarang, kliping bisa berupa data digital. Yah, semua orang tahu, kita tinggal mengunduh materi-materi sesuai dengan kebutuhan kita melalui jejaring dunia maya. Ingat, jangan terjebak untuk mengoleksi banyak informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Sekali lagi tetapkan prioritas untuk mengkoleksi informasi sebaga bahan mentah untuk karya yang akan kita buat kelak. Kliping gunanya hanyalah untuk menambah khasanah karya kita, yang paling penting tetap orisinalitas ide kita dalam sebuah karya.


3.Miliki Diary


Diary (catatan harian) perlu dimiliki oleh (calon) penulis. Diary akan melatih orang untuk jujur pada diri sendiri. Menuliskan sepenggal goresan spontanitas apa yang dirasakan. Kelak menulis secara jujur akan sangat berguna bagi karier kepenulisan. Sebab, bisa mengantarkan penulis untuk menulis dengan hati. Yah, harapannya ketika orang menulis dengan hati, pesannya akan sampai ke hati juga. Mulia sekali bukan penulis yang seperti ini.




4.Miliki Buku Sakti


Berbeda dengan diary. Buku sakti adalah bank data. Berisi kutipan buku-buku yang pernah kita baca, hasil-hasil penelitian dan juga momen-momen penting yang terjadi di dunia. Untuk apa buku sakti ini perlu kita miliki? Yah, seperti papatah mengatakan the palest ink is better than the best memory (tinta yang kabur sekalipun masih lebih baik daripada ingatan yang tajam). Ketika kita ingin menulis sebuah karya, untuk memperkaya khasanah kita tinggal membuka bank data tersebut. Misalnya ketika akan menulis artikel berjudul “Televisi itu Candu”, untuk memperkayanya, kita tinggal membaca rangkuman dan kutipan buku terkait televisi yang pernah kita baca beserta hasil-hasil penelitian terkait dengannya. Adanya buku sakti ini sebenarnya adalah usaha sebuah manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik.


5.Miliki Blog


Blog ibarat tabungan karya. Memang lebih bagus kalau blog kita itu spesifik dalam arti wadah menuliskan hal-hal yang tidak beragam. Satu tema saja. Dengan begitu, ketika kita menuliskan karya dalam blog kita, sesungguhnya adalah sedang menabung. Kita menabung karya yang punya potensi kelak disulap menjadi sebuah buku. Selain itu, memiliki blog juga bisa sebagai ajang latihan kita dalam menuliskan karya. Disana tulisan kita akan mendapat respon dari pembaca. Dengan demikian menjadi sebuah pembelajaran dan masukan tersendiri agar kelak kita bisa berkarya lebih baik lagi.


6.Gabung Milis Kepenulisan


Milis adalah forun diskusi di dunia maya. Kita bisa mengikutinya, banyak sekali milis tentang dunia kepenulisan. Misalnya milis terbesar kepenulisan seperti penulislepas@yahoogroups.com, forum_lingkarpena@yahoogroups.com, apresiasi-sastra@yahoogroups.com dsb. Dengan bergabung dengan milis kepenulisan, kita bisa mendapat banyak informasi yang mendukung karier sebagai penulis seperti kiat-kiat kepenulisan, bedah karya maupun beragam informasi lomba kepenulisan di mana kita juga bisa berkiprah di dalamnya.


7.Kunjungi Perpustakaan dan Toko Buku


Kemana orang berlibur? Bisa ke pantai, mall, tempat-tempat wisata dsb. Tapi bagi orang yang ngebet pingin jadi penulis, liburan bisa digunakan untuk mengunjungi perpustakaan. Disana kita bisa refresing sekaligus menambah wawasan bagi otak kita. Ke toko buku juga perlu, selain kita bisa membaca sekilas buku-buku yang ada. Kita juga bisa mendapatkan inspirasi judul-judul buku yang laris manis di pasaran. Selanjutnya, kita berharap bisa memunculkan karya atau buku-buku yang digemari masyarakat pula.



8.Datangi Acara Kepenulisan



Penting sekali yang ini. Dengan mendatangi acara kepenulisan, terutama acara bedah buku, kita akan banyak mendapatkan ilmu. Biasanya adalah ilmu tentang proses kreatif sang pengarang buku. Bagaimana lika-likunya, mulai dari mendapatkan inspirasi, proses penulisan, mencari penerbit, sampai menyaksikan bukunya bisa dibaca orang lain dan barangkali bisa best seller, dicetak berulang-ulang. Dengan mengetahui cerita tersebut, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Menjadi penulis “hebat”. Tentu dengan cara yang berbeda.

9.Ikuti Komunitas Kepenulisan


Ikut komunitas kepenulisan itu perlu. Dengan mengikuti komunitas kepenulisan kita bisa berbagi pengalaman dalam berkarya. Begitu juga bisa saling memberikan kritikan dan masukan pada karya yang dibuat anggota. Dengan begitu akan matang sebelum karya benar-benar dikirimkan ke berbagai media maupun penerbit. Dengan ikut komunitas pula akan memberikan semangat kepada kita untuk berkarya. Biasanya kita akan terpacu dan bersemangat berkarya ketika ada salah satu anggota yang karyanya bisa tembus ke media massa maupun bukunya diterbitkan.



10.Angkat Mentor Inspiratif



Siapa mentor inspiratif itu? Dia adalah penulis favorit kita. Kita perlu mengangkat mentor walaupun tanpa kontak dengannya. Cukup kita mengakrabi karya-karyanya. Mentor ini gunanya dalam soal gaya menulis maupun bercerita. Bukan hal yang haram ketika kita mengikuti gaya menulis seseorang. Yang penting kita tetap punya ide orisinil tersendiri. Adanya mentor yang kita angkat sendiri ini akan membantu kita. Misalnya, akan menulis novel inspiratif, kita perlu mengangkat Paulo Choelo sebagai mentor. Ini sekedar contoh saja. Jadi karya kita nantinya berbau karya dia dalam soal gaya kepenulisan.


Baik, sementara ini dulu yah,
abaikan saja ke sepuluh resep diatas
kalau hanya bikin pusing dan menganggu pikiran.
Sekarang duduk dan menulislah, itu saja.
Selamat berkarya.

Blog EntryBijak di Masa SulitMay 4, '08 4:57 AM
for everyone
Kiriman: resonansi_2002

 

"Ada pelajaran yang dapat diambil dari situasi yang baik dan buruk."

-- Willa Cather, penulis, 1873-1947

 

KEJADIAN menarik terjadi pada hari Kamis, 17 April lalu. Sebanyak 100-an karyawan di bagian giling sebuah perusahaan rokok mengalami kerasukan roh halus atau yang lazim kita kenal dengan istilah kesurupan. Bukan hanya sunatan atau kawin saja yang massal, tetapi juga dapat terjadi dalam hal begini. Seram deh pokoknya. Mereka menjerit-jerit, bergumam, eh, ada juga yang kejet-kejet sambil mata melotot, iih, dan akhirnya kebanyakan dari mereka pingsan secara massal.

 

Pihak perusahaan sudah pasti panik dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Manajer Hubungan Industrial perusahaan tersebut melakukan investigasi kecil-kecilan. Setelah bertanya kepada beberapa korban yang mengalami pingsan itu, tentu setelah roh halusnya kabur, pejabat perusahaan itu mendapat keterangan, beberapa korban kedatangan roh itu karena pikiran mereka tengah kosong. Tanya kenapa? Duh, ternyata beban hidup yang mereka alami benar-benar bikin mereka senewen. Otak dan hati tak lagi sinkron. Hati sih ingin tenang bin tenteram, tapi otak mereka cenut-cenut luar biasa. Harga sembilan barang pokok alias sembako terbang ke angkasa, sedangkan penghasilan mereka semakin terperosok ke dalam tanah.

 

Rupanya butiran beras, bau minyak tanah yang tak lagi terendus, dan tekanan hidup lainnya terbawa hingga ke tempat kerja. Mereka pun bengong. Nah, teori sederhananya, di kala bengong, biasanya roh halus yang nongol di film horor, ikut nimbrung di tubuh mereka. Alhasil, ya itu tadi, mereka pun kesurupan massal. Waduh, ini sih luar biasa mengejutkan. Dunia makin maju, kok roh halus makin perkasa saja. Kata orang memang, hidup ini makin berat. Kalau kurang percaya, cerita berikut bolehlah disimak.

 

Kisah ini datang dari mulut seorang teman, sambil menyalakan rokok kreteknya, dia berkeluh kesah. "Hidup makin sulit," katanya. Menurut pengakuannya, untuk mengurangi biaya pengeluaran, ia harus berhemat di sana-sini. Persis seperti yang terjadi sepuluh tahun silam, ketika krisis ekonomi melanda negeri ini. Kini dia tidak lagi berlangganan koran. Untuk mengikuti berita, dia cukup menonton televisi atau browsing internet di kantor. Makan? Dia ganti jenis beras yang harganya lebih murah dengan tidak mengurangi mutu. Makan di luar pun sudah dikurangi. Tapi anehnya, dia sama sekali tak mengurangi jatah membeli rokoknya. "Kalau ini lain, untuk mengurangi stres," katanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

 

Situasi saat ini memang tak lagi bersahabat. Banyak sebabnya. Di tingkat global misalnya, lihatlah harga minyak dunia makin membubung tinggi. Pada 18 April lalu, untuk pertama kalinya, harga minyak menembus angka US$117 per barel. Juga terjadi kenaikan harga beberapa komoditas pangan di pasaran dunia, terutama beras. Di dalam negeri pun sami mawon pada bae keadaannya. Tingginya angka inflasi untuk Maret 2008, berada pada level 0,95%, inflasi year on year 8,71%, sementara itu Pemerintah menargetkan inflasi 2008 tidak lebih dari 6,5%. Langkanya minyak tanah dan elpiji membuat pusing kepala para ibu-ibu. Kalau pun ada, harus antre panjang dan harganya sudah tinggi.

 

Lantas bagaimana menyiasati keadaan hidup ini? Tentu bukan dengan merokok seperti sang teman atau banyak bengong kalau tidak mau kesurupan. Sebenarnya hanyalah akal sehat kunci semuanya. Kiat berikut ini sama sekali bukanlah hal yang baru, dalam hidup sehari-hari kita sudah mafhum. Barangkali bolehlah untuk menyegarkan kembali ingatan kita.

 

Ini yang primer, kita harus bisa membedakan dahulu antara keinginan (want) dan kebutuhan (need). Lantas di mana letak bedanya? Ah, ini sih sudah jelas bedanya. Makan adalah kebutuhan. Tapi makan enak dengan harga mahal itu adalah keinginan. Jadi, kalau uang di kantong tinggal selembar, pilihlah makanan yang bikin kenyang dan padat gizi, meski memang tidak terlalu memanjakan lidah. Paling tidak, aman bagi tubuh, alias tidak murcret, murah tapi mencret. Itu syarat minimal. Dalam skala kebutuhan yang lain, di luar primer, alangkah baiknya juga berlaku demikian. Di antara kita pastilah ada yang mengutang atau mengangsur. Nah, kalau yang ini, sebaiknya susun kembali cash flow dan forecast sederhana, yang memperkirakan arus uang masuk dan arus uang keluar. Nah, berikutnya tinggal mengatur langkah konkret seperti ini.

 

Buatlah Skala Prioritas Kebutuhan

Kita harus dapat membuat skala prioritas kebutuhan harian, bulanan, dua bulanan dan seterusnya. Dengan hal ini, kita tentunya mengetahui kebutuhan apa saja secara rutin dan berkala yang harus dipenuhi.

 

Membatasi Pembelian dengan Angsuran

Pikir-pikir lagi apakah barang yang akan kita beli dengan mengangsur itu benar-benar kita butuhkan?

 

Cegahlah Menggaruk yang Gatal

Ini hanya istilah dari `impulse buying', saat lihat langsung beli. Sering kali, setiap kali ketika kita ke pasar swalayan, kita membeli barang-barang di luar kebutuhan yang sudah ada di benak kita sebelum kita berangkat ke pasar swalayan. Ada baiknya, Anda membuat daftar kebutuhan apa saja yang memang benar-benar diperlukan dan harus dibeli. Dan ingat, Anda harus konsisten dengan daftar tersebut!

 

Tidak Terpengaruh Iklan

Jangan terpengaruh oleh iklan yang menyesatkan. Sebaik mutu atau sebersaing harga apapun barang atau jasa yang ditawarkan, bila hal itu memang bukan menjadi skala prioritas Anda, jangan dibeli!

 

Membandingkan Harga Produk yang Dibutuhkan

Bahasa kerennya, `price competition'. Agak repot memang. Dalam hal ini kita harus bertanya, bisa juga keluar masuk toko, atau minimal mencari informasi untuk mendapatkan perbandingan harga produk yang kita cari. Tapi capek sedikit untuk berhemat tidak ada salahnya juga. Karena setelah itu, dilain waktu, Anda sudah tahu produk apa yang akan Anda beli sesuai dengan kualitas dan kebutuhan yang Anda inginkan.

 

Mengerti Manfaat dan Fitur Barang

Jangan membeli barang tetapi Anda sendiri tidak tahu kegunaan barang tersebut.

 

Efisiensi Total

Anda harus melakukan efisiensi secara total terhadap pemakaian telepon, listrik, gas, air, pendingin udara dan lain sebagainya. Misalnya saja, tak perlu Anda menyalakan pendingin udara ketika malam hari.

 

Mengatur Mobilitas Sesuai Keperluan

Anda harus bisa mengatur mobilitas sesuai kebutuhan, mana kebutuhan untuk keluarga, mana kebutuhan untuk pekerjaan, mana kebutuhan untuk komunitas, dan mana kebutuhan untuk lingkungan sekitar.

 

Mencari Penghasilan Tambahan

Ada baiknya Anda juga memikirkan pekerjaan sambilan di luar pekerjaan tetap yang sudah Anda lakukan. Pekerjaan ini sebaiknya tidak mengganggu pekerjaan utama Anda. Bila mengganggu, tak usah Anda lakukan, karena bisa-bisa malah mengganggu karir Anda.

 

Jagalah Kesehatan

Kata orang, kekayaan yang paling berharga adalah tubuh yang sehat. Sehat tak dapat dibeli. Semua penghematan di atas itu haruslah bisa membuat kesehatan tetap terjaga dan prima. Nah, rugi dong, kalau dengan dalih ingin hemat, tetapi malah tubuh menjadi sakit. Oalah, sudah hidup semakin sulit seperti sekarang ini, eh duitnya malah dipakai berobat, cape deh. (210408)

 

Sumber: Bijak di Masa Sulit oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

 


Blog EntryThe Six Happiness ToolsApr 12, '08 4:53 AM
for everyone

From: Aarthi Vijayasarathy

 

Adapted from What Happy People Know by Dan Baker, Ph.D.

 

We all want to be happy, but most of us are trapped by ways of thinking and behaving that seem to keep us perpetually dissatisfied.

 

But there are six simple tools that will help us to be truly, deeply happy. Find out what they are, right here:

 

1.) Appreciation.

This is the first and most fundamental happiness tool. Appreciation is the purest, strongest form of love. It is the outward-bound kind of love that asks for nothing and gives everything. Research now shows that it is physiologically impossible to be in a state of appreciation and a state of fear at the same time. Thus, appreciation is the antidote to fear.

 

2.) Choice.

Choice is the father of freedom and the voice of the heart. Having no choices, or options, feels like being in jail. It leads to depression, anxiety, and the condition called learned helplessness. Choice can even govern perception. Anyone can choose the course of their lives, but only happy people do it.

 

3.) Personal power.

This is the almost indefinable proactive force, similar to character, that gives you power over your feelings and power over your fate. Personal power has two components: taking responsibility and taking action. It means realizing that your life belongs to you and you alone, and then doing something about it. Personal power keeps you from being a victim.

 

4.) Leading with your strengths.

When you give in to the automatic fear reaction, it makes you focus on your weaknesses, which only reinforces your fear. But when you take the path of the intellect and spirit, you naturally begin to focus on your strengths-and start to solve your situation. People often think that fixing their weaknesses will save them, but it rarely works. It's just too painful. Leading with your strengths feels good, and that's why it works. Simple but true.

 

5.) The power of language and stories.

We don't describe the world we see-we see the world we describe. Language, as the single most fundamental force of the human intellect, has the power to alter perception. We think in words, and these words have the power to limit us or to set us free; they can frighten us or evoke our courage. Similarly, the stories we tell ourselves about our own lives eventually become our lives. We can tell healthy stories or horror stories. The choice is ours.

 

6.) Multidimensional living.

There are three primary components of life: relationships, health, and purpose (which is usually work). Many people, though, put all their energy into just one area. The most common choice is work, because work best assuages our survival fears of not having enough and not being enough. Other people become obsessed with relationships ( because relationship is another word for love ), and some people limit their lives in the name of longevity. None of this works. Happiness comes from a full life.


Blog EntryPerjalanan Menemukan Momentum SuksesApr 12, '08 4:51 AM
for everyone

From: Ida Arimurti

 

Wisdom of the day:

 

Karena saya sering bertemu pengusaha-pengusaha dari berbagai skala bisnis, banyak kawan2 yang bertanya kepada saya yang baru merintis bisnis sendiri, "dari pertemuan dengan mereka, apa sih sebenarnya rahasia sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka itu bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?".

 

Terus terang, tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Jawabannya bisa sangat panjang. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan kecil, dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa beragam, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ini seperti pertanyaan 'iklan seperti apa sih yang benar2 bisa menjual'.

 

Ada pengusaha besar relasi yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah 'menjaga kepercayaan’. Kalau kita sudah dipercaya maka kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli. Biasanya yang mengatakan seperti ini adalah pengusaha yg bisnisnya di bidang jasa dan banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Misalnya pengusaha jasa pertambangan, jasa kontraktor, pengusaha kurir korporat, jasa keamanan, dll. Malahan ada yang mengatakan 'kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik. Ini tidak salah, bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien -- dalam artian positif, bukan menyogok.

 

Sementara, bagi pengusaha sukses di bidang garmen, fashion dan consumer good, bisa jadi akan cenderung mengatakan, "inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen. Karena itu tugas kita adalah membangun merek agar semakin dikenal. Karena itu pula tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli. Pendapat ini tentu saja juga sangat betul, sesuai konteks industri yang digeluti.

 

Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama-sama ritel ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah membaca buku laris terbitan Gramedia Pustaka Utama berjudul "10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0", ditulis Sudarmadi, disitu ada contoh menarik pengusaha Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung. Pak Roni ini rupanya pengusaha yang mengembangkan merek tas terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan.

 

Dari situ ketahuan, momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari. Seperti dijelaskan di buku itu, untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan 'ruang' untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. Menurut saya, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun sejumlah proyek perumahan mewah di Bandung, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah 'menemukan momentum' seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya'. Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Kita tidak boleh lelah mencari 'kendaraan' agar bisa menemukan momentum seperti itu.

 

Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses juga sangat menyukai bacaan2 baru dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber, baik dari pelakunya langsung atau pihak lain yang tahu seperti para konsultan. Saya kira pilihan 'suka membaca' seperti itu bisa dimengerti karena bagi kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C -- kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta -- namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.

 

Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk 'menetes' maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan 'tetesan' itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?...

 

Semoga kita semua termasuk orang yang sukses 'menetes' itu sehingga usaha kita semua sukses dan diberkati. Amin.


From: Srinivasa Raghavan

 

Most people are familiar with the phrase "thoughts become things", and in a manner of speaking that is true. However, the more accurate way to explain that concept would be to say that thoughts become emotions.

 

Emotions in turn drive the machine of your life that creates the things that you think about. The fact that emotions need to be part of the equation is easily verified by thinking back to any time in your life whenever you thought long and hard about having or doing something, but those thoughts never manifested into whatever it was that you were thinking about. For example:

 

·         Many people think very often about having enough money to enjoy certain material possessions or experiences.

 

·         Almost all people give considerable thought to weight loss, physical fitness, or their overall health.

 

·         The majority of people also spend plenty of time thinking about satisfying romantic or other social relationships.

 

However, despite the massive amount of thought that is dedicated to some or all of those things, it is often the case that we do not have the level of success in those areas that we desire.

 

The reason for that is because we do not have the appropriate emotional attachment to the things that we want to bring into our lives. When giving thought to the things that we want, more is not necessarily better, since emotionless thoughts have no real power, no matter how many times we think them.

 

However, a consistent thought about something that also evokes a positive emotional response from you almost always serves to ultimately bring that thing into your life.

 

In order to illustrate this concept, simply think back to any job interview, health improvement program, date, or other social situation that you were involved in that you felt very positive and confident about. In most if not all of those situations, one of two things happened:

 

1) You attained or enjoyed the experience of whatever it was you felt positive about, or

2) You realized after the fact that you didn't really want it after all.

 

By feeling positive and confident about attaining something, you put yourself in charge of the outcome, as opposed to how a lack of confidence will tend to make you feel powerless to get what you want out of any given situation.

 

You need to be honest with yourself, however, when considering whether or not you truly feel positive and confident about attaining something. Strongly desiring something does not equate to feeling positive or confident about acquiring it. Everyone wants whatever they consider to be financial, health, or social success, but actually believing that we will attain it is another matter entirely.

 

It is this difference between giving a high quantity of thought to something vs. giving a high quality of thought to something that is ultimately the deciding factor in whether or not we attain it.

 

High quality thoughts about something are thoughts that evoke a consistent positive emotional response in relation to that thing. These thoughts fill you with the belief that – sooner or later – you will attain whatever it is that you are thinking about.

 

Compare that to the thoughts that most people have about attaining their desires. You will see that often people's thoughts about their dreams tend to evoke negative, disempowering emotional responses, such as doubt, fear, uncertainty, concern, lack of confidence, etc.

 

Rarely in history has anything of note been accomplished by someone thinking of how scared they were about whether or not it was actually going to happen. Disempowering thoughts such as fear do not tend to manifest positive results.

 

That is not to say that fear or similar feelings are not part of the process, because often they are. However, they are used only as tools to bolster the confidence and belief level of the person involved, as squashing disempowering feelings has the immediate effect of causing us to feel empowered! If you have ever faced down a fear, then you know this to be true.

 

The bottom line solution to using the power of your emotions as the fuel for self improvement is to make a conscious recognition of how you feel about something that you want to accomplish.

 

If the thought of improving your finances, your health, your social life, or any other area of your life causes you to feel anything other than positive and confident, you must embrace the fact that you have mental roadblocks that need to be cleared before you will achieve success in that area.

 

Those roadblocks can then be cleared by engaging in whatever activity will eliminate those negative feelings. That may include getting educated about what it will take to accomplish your goal, it may mean practicing affirmations or visualizations, it might involve doing research on the topic, hiring a professional to help you, or even something as simple as voicing the disempowering belief to yourself.

 

Once the dark things in our subconscious are brought into the light, they are often seen to have very little actual power over us, if any at all. Ferret out your negative, disempowering beliefs by being 100% truthful with yourself about how you feel about something that you want to attain.

 

Once you have recognized whatever it is that is causing your negative feelings, drag it kicking and screaming into the light, eliminate it, and you will leave yourself with nothing but positive and confident feelings about your ability to succeed. Then you will do exactly that!


Blog EntryOpen Minds and Closed MouthsApr 12, '08 4:43 AM
for everyone

by Jim Stovall*

 

Conversations are pleasant, discussions are interesting, debates are productive, but arguments are destructive. The difference between debates and arguments lies in whether you are dealing with the subject at hand or the personalities involved.

 

Whether it is in your personal or professional life, you will inevitably encounter a difference of opinion. This is not a bad thing. In fact, if you don't frequently encounter a difference of opinion, either you have no opinion, the people around you have no opinion, or people are not feeling the freedom to express themselves.

 

In any event, conversation, discussion, and debate are positive. They can ignite people's passions, their creativity, and bring their best ideas to the table; however, once it descends into an argument, there is a lot to be lost and little, if anything, to be gained.

 

Often, colleagues are put in a position to express differing opinions. There is a right way and a wrong way to carry on these dialogues.

 

Here are a few rules for keeping your conversation on a positive plane.

 

1.       Be sure the time is appropriate for a debate. Don't hijack people in the hall or catch someone rushing off to another commitment. Be sure there is time for a productive discussion.

 

2.       Be sure that the setting is conducive to a good conversation. It should take place where all of the relevant parties can comfortably come together, and interruptions should be avoided. Whenever possible, non-involved parties should be excluded.

 

3.       Everyone should agree on the matter to be discussed. Whenever possible, only one subject should be tackled at a time. Everyone should agree on what we are deciding, when the decision needs to be made, and what factors are involved in coming to a positive resolution.

 

4.       Only one person should talk at a time. Interruptions are threatening and counterproductive when people are expressing opposite opinions. If necessary, establish a "magic pen," which everyone agrees must be held in the hand of the individual speaking. No one talks unless they have the "magic pen."

 

5.       Agree that appropriate language will be used, everyone will be treated with respect, and the voice level will not be raised. If someone inadvertently violates this rule, calmly point it out and get back to the subject at hand.

 

6.       Find out not only what people who oppose you feel but why they believe their position is best. Try to understand their position so you can repeat their argument to them. This will demonstrate respect and create clarity.

 

Remember, in an argument, there are only losers. In a productive debate or discussion, everyone can win.

 

As you go through your day today, find ways to include the collective wisdom of those around you by encouraging discussion and avoiding argument.

 

Today's the day!

 

Jim Stovall is the president of Narrative Television Network, as well as a published author of many books including The Ultimate Gift. He is also a columnist and motivational speaker. He may be reached at 5840 South Memorial Drive, Suite 312, Tulsa, OK 74145-9082, or by

e-mail at JimStovall@aol.com. Visit http://www.JimStovall.com


Received from Abdul Kader from the Winwinalways yahoogroups

 

When I was a little girl, my mom liked to make breakfast food for dinner every now and then. And I remember one night in particular when she had made breakfast after a long, hard day at work.

 

On that evening so long ago, my mom placed a plate of eggs, sausage, and extremely burned toast in front of my dad. I remember waiting to see if anyone noticed. Yet, all my dad did was reached for his toast, smiled at my mom, and asked me how my day was at school.

 

I don't remember what I told him that night, but I do remember watching him smear butter and jelly on that toast and eat every bite. When I got up from the table that evening, I remember hearing my mom apologize to my dad for burning the toast. And I'll never forget what he said:

 

"Baby, I love burned toast."

 

Later that night, I went to kiss Daddy good night and I asked him if he really liked his toast burned. He wrapped me in his arms and said, "Debbie, your mommy put in a hard day at work today and she's real tired. And besides, a little burnt toast never hurt anyone."

 

In bed that night, I thought about that scene at dinner...and the kindness my daddy showed my mom. To this day, it's a cherished memory  from my childhood that I'll never forget. And it's one that came to mind just recently when Jack and I sat down to eat dinner.

 

I had arrived home late...as usual...and decided we would have breakfast food for dinner. Some things never change, I suppose.

 

To my amazement, I found the ingredients I needed, and quickly began to cook eggs, turkey sausage, and buttered toast. Thinking I had things under control, I glanced through the mail for the day. It was only a few minutes later that I remembered that I had forgotten to take the toast out of the oven.

 

Now, had it been any other day -- and had we had more than two pieces of bread in the entire house -- I would have started all over. But it had been one of those days and I had just used up the last two pieces of bread. So burnt toast it was.

 

As I set the plate down in front of Jack, I waited for a comment about the toast. But all I got was a "Thank you!" I watched as he ate bite by bite, all the time waiting for some comment about the toast. But instead, all Jack said was, "Babe, this is great. Thanks for cooking tonight. I know you had a hard day."

 

As I took a bite of my charred toast that night, I thought about my mom and dad...how burnt toast hadn't been a deal-breaker f or them. And I quietly thanked God for giving me a marriage where burnt toast wasn't a deal-breaker either.

 

You know, life is full of imperfect things...and imperfect people. I'm not the best housekeeper or cook. And you might be surprised to find out that Jack isn't the perfect husband. He likes to play his music too loud, he will always find a way to avoid yard work, and he watches far too many sports. Believe it or not, watching " Golf Academy " is not my idea of a great night at home.

 

But somehow in the past 37 years Jack and I have learned to accept the imperfections in each other. Over time, we have stopped trying to make  each other in our own mold and have learned to celebrate our differences. You might say that we've learned to love each other for

who we really are.

 

For example, I like to take my time, I'm a perfectionist, and I'm even-tempered. I tend to work too much and sleep too little. Jack, on the other hand, is disciplined, studious, an early riser, and is a marketer's dream consumer. I count pennies and Jack could care less. Where he is strong, I am weak, and vice versa.

 

And while you might say that Jack and I are opposites, we're also very much alike. I can look at him and tell you what he's thinking. I can predict his actions before he finalizes his plans. On the other hand, he knows whether I'm troubled or not the moment I enter a room.

 

We share the same goals. We love the same things. And we are still best friends. We've traveled through many valleys and enjoyed many mountain tops. And yet, at the same time, Jack and I must work every minute of every day to make this thing called "marriage" work.

 

What I've learned over the years is that learning to accept each other's faults - and choo sing to celebrate each other's differences - is the one of the most important keys to creating a healthy, growing, and lasting marriage relationship.

 

And that's my prayer for you today. That you will learn to take the good, the bad, and the ugly parts of your married life and lay them at the feet of GOD. Because in the end, He's the only One who will be able to give you a marriage where burnt toast isn't a deal-breaker.

 

Have a great day! May God bless your marriage.

 

Now, The greats....you tell us, How for Marriage life could mould the human being ? . Most of the cases,misunderstand ing causes major pitfalls and the same time, communication between each other should be always open !!! Do await your valuable thoughts to share  With that thought in the back of your mind, its TIME TO GET THAT BUTT MOVIN' Time to "seize the day......"

CARPE DIEM

 

Until next time, make it a blessed day, Make this day good


Blog EntryDecide or Defeat!Apr 12, '08 4:29 AM
for everyone

From: resonansi_2002

 

"Whenever you see a successful business, someone once made a courageous decision" ~ Peter Drucker

 

Pembaca, mudah-mudahan Anda melewati masa liburan akhir tahun yang menyenangkan. Itu yang saya rasakan. Setidak-tidak, setelah melewati setahun yang meletihkan dengan jadwal training, seminar coaching dan personal konseling yang padat, saya berkesempatan lagi berlibur bersama keluarga ke Kuta, Bali.

 

Dan sewaktu menunggui anak saya bermain di kolam anak-anak, saya berendam di Jacuzzi sambil rileks dan membuka-buka beberapa buku yang dipinjamkan dari perpustakaan hotel. Saat itu, pikiran saya justru tertuju pada sebuah buku anak-anak bergambar. Dan, tak disangka, inilah yang menjadi bahan artikel motivasi untuk saya share-kan pada Anda di awal tahun ini.

 

Diceritakan dalam buku dongeng bergambar itu kisah tentang kelelawar yang tidak bisa memutuskan, apakah mau bergabung dengan kelompok burung ataukah bergabung dengan kelompok binatang.

 

Awalnya dikisahkan bahwa kedua kelompok ini sedang berseteru, bersaing dan berkelahi. Karena tidak ingin kalah dan tanggung risiko, maka kelelawar memutuskan menunggu siapa yang menang. Nantinya, kepada kelompok yang menang itulah, kelelawar akan bergabung.

 

Awalnya burung menang, maka kelelawar pun bergabung dengan burung. Tetapi tatkala burung akhirnya kalah, kelelawar pun berbalik arah bergabung dengan binatang. Namun, akhirnya karena tahu kelakuan kelalawar yang buruk, maka tidak ada satu kelompok pun yang menginginkan kelelawar.

 

Karena takut dan malu, kelelawar hidup menyendiri di gua yang gelap dan hanya berani keluar di waktu malam. Itulah nasib kelelawar yang tidak mau membuat keputusan yang pasti tentang nasib mereka.

 

Pembaca, cobalah kita renungkan soal pengambilan keputusan yang pernah Anda lakukan dalam hidup Anda. Ada satu hal yang pasti, bagaimana dan seperti apa kehidupan Anda sekarang, pasti tergantung dari keputusan yang telah Anda buat sebelumnya.

 

Namun, jangan hanya pikirkan keputusan yang sudah Anda buat, keputusan yang tidak Anda buat pun menjadikan diri Anda seperti sekarang. Dalam realita kehidupan, memutuskan suatu pilihan ataupun tidak mengambil pilihan, itupun suatu keputusan besar.

 

Cobalah lihat keputusan Anda. Misalnya keputusan di mana Anda bersekolah, di mana Anda bekerja, keputusan siapa yang akhirnya jadi pasangan Anda. Itulah keputusan-keputusan besar Anda. Maka nasib Anda hingga di awal 2008 pasti ditentukan oleh segala keputusan yang bersinergi membentuk kehidupan Anda saat ini.

 

Jadi, salah satu rumusan sukses yang kita ingin tegaskan dalam kesempatan ini adalah, buatlah keputusan! Kadang kita tidak pernah tahu apakah keputusan kita benar atau salah, tetapi kita harus berani membuat keputusan. Saya pun teringat dengan suatu puisi tentang seorang yang kebingungan di bahwa pohon apel yang rindang. Ia bingung soal apel manakah yang harus ia petik duluan. Semua tampak lezat. Di akhir kisahnya, sangat tragis. Orang itu tidak bisa memutuskan dan akhirnya ia mati kelaparan!

 

Tiga pelajaran

 

Kisah kelelawar maupun kisah orang yang mati kelaparan ini mengajarkan kepada kita tiga hal. Pertama, your decision will shape your destiny. Keputusan Andalah yang menentukan nasib Anda sekarang. Sukses atau gagal, mari lihat kembali semua keputusan yang pernah Anda ambil.

 

Jadi, pikirkanlah bahwa di tahun depan, ada banyak lagi keputusan yang harus Anda ambil, jika Anda menginginkan kehidupan yang lebih baik. Intinya, no decision, no change, no progress. Tanpa keputusan maka tak ada kemajuan berarti yang bakal terjadi. Camkan baik-baik!

 

Kedua, tidak ada keputusan tanpa risiko. Karena itu, keputusan harus tetap diambil. Tidak mengambil keputusan pun berisiko. Sama seperti yang dikatakan Warren Buffet dalam biografinya, mengutip dari buku yang pernah dibacanya. Ia pun berkata bahwa ia belajar dari keputusan-keputusan yang dibuatnya, termasuk belajar dari keputusan salah yang pernah dibuatnya.

 

Jika sudah demikian, dapat kita simpulkan bahwa keputusan itu tidak pernah salah. Yang ada hanyalah keputusan yang baik atau kurang baik. Semua keputusan pasti benar, dalam arti selalu mengandung hikmah pembelajaran di dalamnya.

 

Ketiga, jika sudah membuat keputusan berjuanglah sampai keputusan itu memberikan hasil. Kita baru tahu apakah keputusan itu baik atau tidak, setelah proses perjalanan waktu.

 

Para guru kebijaksanaan kita sebelumnya selalu mengajarkan pelajaran yang sederhana kepada kita. Ingat. Saat Ciputra memutuskan mengurusi proyek Senen ataupun menyulap pantai Ancol, banyak yang menganggapnya keputusan buruk. Namun, perjuangannya untuk menyukseskan keputusan itu membuahkan hasil yang spektakuler.

 

Karena itu, pembaca, bagaimana nasib Anda pada tahun ini bisa diramalkan dari keputusan yang segera akan Anda buat ataupun yang tidak Anda buat! Keputusan di mana Anda akan berinvestasi, keputusan dengan siapa Anda akan bermitra. Keputusan siapa yang akan menjadi pendamping Anda. Keputusan strategi apa yang Anda akan jalankan. Itulah yang akan membentuk nasib Anda pada 2008.

 

Dan jangan lupa, keputusan yang tidak Anda buatpun akan membentuk nasib Anda. Hanya saja, ketika Anda tidak membuat keputusan berarti Anda harus bermain dengan aturan yang diciptakan dari keputusan orang lain.

 

Akhirnya, mari kita renungkan apa yang diucapkan oleh psikolog terkenal Wiilaim James, "When you have to make a choice and you don't make it, that itself is a choice." (ketika Anda harus membuat keputusan, tetapi Anda tidak melakukannya. Itu sendiri sudah merupakan keputusan). Tergantung Anda mau memutuskan untuk hidup Anda atau membiarkan orang lain yang memutuskan nasib Anda. Selamat Tahun Baru 2008!

 

Sumber: Decide or Defeat! oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency


Blog EntryKepemimpinan ApresiatifApr 12, '08 4:26 AM
for everyone

Kiriman: resonansi_2002

 

Pada awal tahun, ada baiknya kita berefleksi tentang kepemimpinan. Coba kita simak apa kata Peter Drucker tentang tugas pemimpin. Dia mengatakan bahwa tugas kepemimpinan adalah menciptakan keselarasan dari kekuatan-kekuatan yang ada, sehingga kekurangan-kekurangan yang ada menjadi tidak relevan.

 

Berarti tugas pemimpin difokuskan kepada 'kekuatan', dan bukan pada kelemahan yang ada. Temukan kekuatan dalam organisasi, 'diolah' sedemikian rupa, sehingga kekurangan menjadi tidak relevan lagi. Fakta di lapangan acap mengatakan yang berbeda. Para pemimpin lebih fokus menemukan kekurangan organisasi, bukan kekuatannya.

 

Cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatan adalah dengan mengapresiasi apa yang dimiliki, dalam sebuah budaya apresiatif. Dalam budaya yang apresiatif, pemimpin menginginkan anggota organisasi terinspirasi dan terlibat, dan sebaliknya organisasi menginginkan pemimpin yang mampu memberikan inspirasi serta perasaan keterlibatan dalam setiap aktivitas organisasi.

 

Pemimpin yang apresiatif menyadari bahwa karyawan akan melakukan yang terbaik manakala mereka bekerja berdasarkan inspirasi sebagai hasil dari perhatian yang diberikan secara berkesinambungan terhadap kekuatan serta kesuksesan yang diraih.

 

Hal ini berkebalikan dengan pemimpin yang hanya berfokus pada pencarian kesalahan dan masalah, sehingga secara tidak sadar mereka mematikan semangat serta mengabaikan kekuatan yang dimiliki dan kesuksesan yang pernah dialami, yang menyebabkan para bawahannya menjadi enggan untuk terlibat lebih dalam pekerjaan yang dilakukan.

 

Pemimpin yang apresiatif membantu para karyawannya mengidentifikasi faktor-faktor penunjang perbaikan serta keberhasilan yang diraih, seperti kualitas produk yang meningkat, pelanggan yang puas, proses yang dikelola tanpa adanya kesalahan, dan sebagainya.

 

Fray mengatakan bahwa pemimpin yang apresiatif memahami pentingnya menjaga organisasi agar tetap mengingat praktik-praktik terbaik dan kapabilitas inti yang dimilikinya.

 

Mereka memanfaatkan waktunya untuk berbicara dengan karyawan mengenai impian serta kekuatan yang dimiliki, sehingga para bawahannya akan merasakan adanya semacam energi baru, serta lebih merasa percaya diri dalam jangka waktu yang lebih lama. Selanjutnya akan lebih menghidupkan peluang bagi terciptanya inovasi dan nilai tambah.

 

Menurut Fray, jika para karyawan ini diminta untuk menggambarkan masa depan, mereka akan melakukannya dengan mengungkapkan ide-idenya dengan lebih jelas serta pemikiran yang lebih ekspansif. Pemimpin dalam organisasi yang apresiatif memastikan bahwa para bawahannya bekerja berdasarkan kekuatan serta memiliki tujuan yang melibatkan imajinasi yang mereka miliki.

 

Pemimpin yang apresiatif lebih tertarik kepada kemungkinan-kemungkinan (possibilities) ketimbang solusi. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, menanyakan hal-hal apa saja yang bernilai, serta apa yang dapat dipelajari dari hal-hal tersebut. Mereka mengetahui saat-saat para bawahannya mengerjakan pekerjaan terbaik, memberi perhatian terhadap hal-hal yang telah berjalan dengan baik, serta memberikan suaranya terhadap aspirasi tertinggi organisasi.

 

Menurut Ricchiuto, pemimpin yang apresiatif mendedikasikan dirinya guna membangun kepercayaan diri dan kekuatan para bawahannya melalui pertanyaan yang sifatnya memberdayakan serta cerita-cerita yang memberikan inspirasi.

 

Pada saat mereka berbicara dengan orang lain, melaporkan kinerja, atau berpartisipasi dalam sebuah pertemuan, mereka berfokus pada apa yang telah berjalan dengan baik serta faktor-faktor pendukungnya. Manakala percakapan mengarah kepada hal-hal yang bertujuan mencari kesalahan dan kekurangan, mereka mengarahkannya kembali kepada perpektif apresiatif yang lebih produktif.

 

Dorong kreativitas

 

Keberhasilan kepemimpinan apresiatif terletak pada kemampuannya menciptakan kondisi yang mendorong berkembangnya kreativitas, ketangkasan (agility), dan kolaborasi. Para pemimpin apresiatif bekerja dengan keras dan cerdas guna menciptakan lingkungan yang melibatkan kekuatan dan imajinasi.

 

Bagaimana membangun sebuah kepemimpinan yang apresiatif dalam sebuah organisasi?

 

Sebagai langkah awal, menurut Bushe, adalah membangun mindset yang juga bersifat apresiatif. Namun, hal ini bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan dari kita cenderung lebih terbiasa melihat hal-hal yang kurang baik.

 

Dalam sebuah organisasi, manajemen lebih sibuk mengidentifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dengan bagaimana kondisi yang semestinya, antara yang ideal dengan yang aktual, antara tujuan dengan kinerja saat ini. Kita lebih terpaku pada pemecahan masalah.

 

Untuk membangun mindset yang apresiatif, pemimpin perlu bersentuhan dengan imajinasi, aspirasi, dan spirit para bawahannya. Peluang untuk mengungguli, membuat perbedaan, tumbuh dan berkembang, memaksimalkan potensi menjadi yang terbaik, menjadikan dunia menjadi lebih baik, mewujudkan impian yang dimiliki, memperoleh pengharapan baru, berhasil melebihi ekspektasi, menjadi bagian dari tim yang dinamis dan peduli, serta membuat kontribusi yang bernilai adalah hal-hal yang menjadi perhatian dari para pemimpin yang apresiatif.

 

Membangun mindset yang apresiatif memang bukan merupakan hal yang mudah serta merupakan tugas yang harus dilaksanakan untuk waktu yang panjang.

 

Mereka yang gagal menjadi pemimpin yang apresiatif adalah mereka yang berfikir bahwa kesuksesan dibangun di atas ketakutan dan pengendalian, serta berfikir bahwa semata-mata berfokus pada masalah merupakan cara yang paling produktif guna mencapai perbaikan. Melalui coaching, lingkungan, peluang, serta waktu yang tepat, maka pemimpin yang apresiatif dapat ditumbuhkan.

 

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pemimpin yang menggunakan pendekatan yang bersifat apresiatif akan mendorong keterlibatan yang lebih dalam dari para bawahannya, yang selanjutnya akan meningkatkan kepuasan kerja serta memperbaiki produktivitas.

 

Sumber: Kepemimpinan Apresiatif oleh A. B. Susanto, Managing Partner The Jakarta Consulting Group


Blog EntryPeran Tingkah Laku dalam Menggapai SuksesApr 12, '08 3:56 AM
for everyone

Oleh: Erwin Arianto

 

Suatu hal kecil yang terkadang dilupakan orang dalam menggapai sukses adalah pengontrolan tingkah laku. pembelajaran tingkah laku adalah sebuah soft skill yang harus dimiliki seseorang dalam menggapai sukses, kenapa? Karena kita Sebagai Individu kita sering dinilai dari tinkah laku kita, manusia dapat dipengaruhi hidupnya oleh tingkah lakunya sendiri.jadi saya menyimpulkan bahwa pondasi dari sebuah kesuksesan adalah tingkah laku.

 

Perlu diketahui bahwa tingkah laku yang kita miliki sekarang bukanlah sesuatu yang sudah ada sejak kita lahir melainkan suatu hal yang terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan kita masing-masing. Jika memiliki tingkah laku yang negatif, akan menjadikan kita sebagai batu sandungan bagi diri kita sendiri. Orang-orang dengan tingkah laku yang negatif akan menghadapi masa sulit dalam mempertahankan persahabatan, pekerjaan, pernikahan dan hubungan secara umum, maupun dalam menggapai mimpi.

 

Karena kita tidak hidup sendiri didunia. Manusia adalah mahkluk sosial, yang akan selalu membutuhkan dan berinteraksi dengan sesama. Dan dalam menggapai sukses dan mimpi kita kita membutuhkan orang lain, jadi kita harus dapat mempuyai tingkah laku yang baik agar kita dapat menggapai mimpi atau sukses. Beberapa hal utama yang mempengaruhi tingkah laku seseorang adalah:

 

1. Lingkungan

Yang disebut dengan lingkungan adalah mulai dari tempat tinggal kita (rumah), sekolah, kantor sebagai tempat kerja kita sehari-hari, media massa yang kita tonton/dengar/baca setiap hari, latar belakang kebudayaan, latar belakang agama, latar belakang tradisi, latar belakang kepercayaan, lingkungan sosial serta lingkungan politik. salah satu lingkungan baru adalah lingkungan virtual/internet, yaitu bisa berupa blog ataupun milist yang kita ikuti saat ini

 

Di dalam lingkungan yang positif, output yang dihasilkan dari performa seseorang akan meningkat, sebaliknya di dalam lingkungan yang negatif, performa yang pada dasarnya sudah baik justru akan menghasilkan output yang kian menurun.

 

Corak kebudayaan di setiap tempat selalu berawal dari kedudukan yang paling atas atau pimpinan kemudian mempengaruhi kedudukan yang lebih rendah di bawahnya, tidak pernah sebaliknya. Sebagai contoh, bilamana pemerintahan suatu negara dilingkupi dengan atmosfer yang penuh dengan kecurangan/kelicikan maka secara umum Anda akan menemukan bahwa orang-orang yang berada di bawah pemerintahan tersebut juga memiliki karakter yang tidak jauh berbeda, demikian sebaliknya.

 

2. Pengalaman

Kebiasaan kita dalam bertingkah laku berubah seiring dengan pengalaman kita terhadap orang lain dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki pengalaman yang positif dengan seseorang, maka secara natural kita akan bersikap positif pula terhadap orang tersebut, demikian juga sebaliknya.