Catila's posts with tag: volunteer
|  | Clossing Ceremony kali ini, lebih asyik dari tahun lalu. Acaranya lebih cem macem. Sayang disayang, fotonya banyakkkk yang gelap, jadi percuma juga di upload. Hanya ini lah…bagus diantaranya.
Btw, buat yang maksa2 minta difoto di depan pura bertingkat waktu pulangnya, walah...itu yang paling gelap. Mana orangnya juga gelap lagi…kqkqkq, just kidding. Jadi, maaf, ga keliatan apa-apa. Jangan kecewa yah…Datanglah lagi tahun 2007 dan minta difoto waktu masih sore2 aja.
Acaranya, antara lain, yang masih inget niy… Ada Pak Putu Wijaya dengan monolog nya: Kursi, trus beberapa pembacaan puisi dan cerpen, trus tarian2 gabungan India dan Bali. Paling asyik niy….soalnya rameee…! Ada 2-3 tarian, kalo ga salah. Trus, ada juga lagu tradisional orang Maori yang dilagukan dengan iringan musik tradisional dan apa adanya (soalnya cuma pake tangan dipukul2 ke badan, siy…). Trus…apa lagi yah…hmmm…terakhir acara bebas…dansa sampe terserah deh...mabok, bergeletakan…eh…ga sampe koq. Paling sampe bau aja...bau keringet kqkqkq.
Trus, makan malamnya, saya kebagian sisa-sisa-sisa doang…Ya, daripada ga dapat, lumayan lah, mengais-ngais diantara sendok-sendok yang tenggelam...Melas nian! Beer Storm nya juga ga kebagian hiks…hiks..hiks… Padahal pengennnn banget, bis pemiliknya dah kasih review spesial siy tentang beer nya ini.
Baru malam ini, ketemu dengan sisa2 volunteer yang masih tersisa. Bis ada yang pada dah pulang siy… Termasuk yang tahun lalu ketemu, eh…sekarang malah ga ketemu. Karena tahun ini lebih banyak volunteer, lebih banyak lagi yang saya baru kenal. Tapi, namanya volunteer, kali selalu merasa senasib dan seperjuangan yah... Jadi, biarpun baru sekali nya ini ketemu, kayanya dah kenal lama gitu… Pendeknya: SKSD!
Sampai jumpa lagi, teman!
|
|  | Di UWRF 2006 ini, saya hanya ikut dibeberapa hari terakhir saja. Itu pun hanya kebagian di children program. Jadi, ga ada kesempatan untuk ikut dan melihat banyak hal-hal yang menarik, bahkan untuk ke toko bukunya. Dari beberapa acara yang saya ikuti, ini, ada yang menarik.
Pak Susiawan dan Ibu Susan, membawa perlengkapan wayangnya, dan memperagakan nya pada anak-anak di Ubud. Pak Susiawan menciptakan musik iringan nya dengan gendang, sedangkan Ibu Susan menceritakan wayangnya, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, juga sambil bernyanyi2.
Ibu Susan tidak menyelesaikan cerita wayangnya, melainkan meminta anak-anak untuk melanjutkan, dengan imajinasi dalam kelompoknya. Cerita lanjutan nya tersebut ditulis dan digambar diatas kertas yang telah disediakan.
Setelah itu, mereka mendapat kesempatan untuk membuat wayang, dengan segala bentuk imajinasi cerita mereka, dan dengan bantuan peralatan yang telah disediakan. Sehingga, wayang mereka menjadi tampak hidup, karena bisa digerak-gerakkan.
Tidak hanya itu, mereka juga diberi kesempatan untuk memainkan wayang mereka dibalik kelir! Anak-anak sungguh senang, dan mereka semua ingin memperagakan wayangnya. Ada juga siy, yang masih malu-malu. Tapi, Pak Susiawan dan Ibu Susan membantu mereka untuk itu.
Acara berakhir dengan Ibu Susan yang memperagakan kembali, akhir dari cerita wayangnya, menurut versi Ibu Susan.
Waktu yang disediakan panitia, sebenarnya tidak cukup untuk dapat menyelesaikan acara ini, tetapi, karena melihat antusiasme anak-anak, akhirnya, waktunya ditambah, sehingga bisa selesai semuanya. Anak-anak pun senang dapat pulang dengan membawa hasil karyanya.
Di bawah saya sertakan artikel dari Kompas yang mengupas kegiatan Pak Susiawan dan Ibu Susan, dan dari foto2 yang ada, bisa disimpulkan betapa asyiknya kalau punya kesempatan belajar seperti ini…
Semoga, suatu saat, Pak Susiawan dan Ibu Susan mempunyai kader2 yang dapat mewujudkannya!
Selasa, 18 April 2006
Susiawan Memfasilitasi Pendidikan Lewat Seni Oleh: Yenti Aprianti
Profesinya unik. Ia bekerja sebagai artist facilitator yang mendampingi guru kelas di lebih dari 20 sekolah di Toronto, Kanada. Tugasnya mempermudah guru memberi pemahaman kepada murid tentang berbagai materi pelajaran melalui seni.
Susiawan (50) mengajak murid-muridnya belajar sambil memainkan wayang atau gamelan. Dalam pelajaran sosial, misalnya, guru kelas meminta Susiawan membantunya mencapai target agar para siswa mampu menerapkan nilai-nilai kerja sama.
Susiawan mengelompokkan murid di kelas dan ditugasi membuat wayang, menulis naskah, dan mempertunjukkannya. Tentu saja yang mereka buat bukan wayang tradisional, tetapi wayang berbentuk kupu-kupu, manusia boneka, dan lainnya.
Demi murid-muridnya, Susiawan juga pernah kembali ke Indonesia untuk berguru memainkan gamelan di Bali. Ia membeli seperangkat gamelan tidak terpakai di gudang tua dan membawanya ke Kanada.
Susiawan menceritakan bahwa di Bali, orang bermain gamelan dengan bunga-bunga bertaburan di sekitarnya. Murid-muridnya segera berlari ke taman, memetik bunga-bunga, lalu duduk kembali di depan gamelan. Sambil mencium wangi bunga, mereka memainkan gamelan.
Seperti itulah pendidikan bagi anak-anak yang diimpikan Susiawan. Anak-anak bisa belajar dengan gembira, dekat dengan alam, dan menggunakan seluruh inderanya saat belajar.
Di Kanada ia mengajar di sekolah tingkat dasar hingga menengah. Biasanya usia muridnya 4-15 tahun. Satu kelas berisi 20 murid.
Laris dipesan
Saat mengajar, Susiawan bercerita tentang seni tradisional Indonesia. Murid-muridnya antusias untuk mengenal Indonesia. Setiap kali Susiawan pulang mudik dari Indonesia, murid- muridnya berseru, "Ayo… ayo, ceritakan tentang kampungmu," tiru Susiawan, yang sudah menjalani profesinya di Kanada selama 10 tahun.
Awalnya sebagian besar muridnya mengira Indonesia adalah negara miskin yang menakutkan. Namun, Susiawan mengubah kengerian itu menjadi kekaguman. Ia memotret gemerlap kehidupan metropolitan sekaligus sisi-sisi kearifan lokal Indonesia.
Ia pernah mengikuti dan memotret pedagang anglo atau kompor tanah liat. Pedagang itu mengatakan, ia tetap menjual anglo yang murah untuk masyarakat yang tidak mampu. Ia juga bersyukur jadi pedagang anglo sehingga bisa berjalan berkeliling kota setiap hari dan menjadikan tubuhnya sehat.
Kesederhanaan dan spiritualisme pedagang anglo tidak pernah terlintas di benak murid- muridnya yang terbiasa hidup individualistis sebagai ciri masyarakat negara industri.
Kanada selalu mengingatkannya pada Indonesia. Di mata Susiawan, industri berkembang sangat pesat di negeri agrarisnya. "Akibatnya, ketidakadilan tumbuh, korupsi merajalela. Indonesia seperti benang kusut yang sulit diuraikan oleh kaum intelektual sekalipun," kata Susiawan, yang sering membayangkan kelak Indonesia menjadi negeri seperti Kanada.
Anak jalanan
Di masa kecil Susiawan, anak seorang tentara ini pernah menjadi "bapak" asuh burung-burung yang tinggal di pohon dekat rumahnya. Tiap hari ia memberi makan burung-burung kecilnya hingga mereka dewasa, lalu terbang meninggalkannya.
Ketika kuliah tingkat tiga di Jurusan Seni Grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sekitar tahun 1978, Susiawan kembali menjadi pengasuh, kali ini bukan pengasuh anak burung, tetapi anak-anak kampung dan anak jalanan.
Ia membangun lembaga swadaya masyarakat Yayasan Anak- Anak Merdeka (YAAM) di Cisitu Lama, Bandung. LSM tersebut memfasilitasi anak-anak untuk belajar melalui seni. YAAM merupakan LSM bidang pendidikan pertama di Indonesia.
Setiap kali mencari kontrakan, lelaki asal Magelang ini mencari lokasi rumah yang dekat dengan sungai dan taman agar anak-anak bisa belajar dengan gembira. Ia juga mendidik anak-anak menjadi fasilitator bagi teman-temannya.
Kegiatannya ini berlangsung hingga 1991. Ia tak hanya membina anak-anak di Bandung, tetapi juga di Solo, Yogyakarta, Irian, dan Sumatera Selatan.
Sekitar tahun 1992-1995, ia diajak sebuah lembaga yang didukung Swiss Development Corporation (SDC) untuk menginformasikan pendidikan lingkungan kepada anak-anak.
"Pemerintah Kota Cirebon meminta saya untuk membuat poster lingkungan untuk anak-anak, tapi saya tolak. Saya malah membuat workshop bagi anak-anak," kata Susiawan.
Dalam rangkaian workshop, anak-anak mengkritik Kota Cirebon yang selokannya kotor dan banyak nyamuk. Kegiatan ini menarik perhatian pihak SDC dan beberapa peneliti. Salah satunya peneliti asal Kanada, Susan Allen, yang datang jauh- jauh ke Cirebon.
"Pada Susan saya katakan, jika ingin meneliti, dia tidak bisa hanya mewawancarai saya, tetapi harus ikut kegiatan kami," tuturnya.
Susiawan berhasil menjadikan Susan sebagai sukarelawan selama dua tahun sekaligus menjadi kekasih. Tahun 1995, mereka menikah dan pindah ke Kanada.
"Semua di luar skenario hidup saya," kata Susiawan sambil tertawa. Di awalnya, lelaki yang masih tercatat sebagai warga negara Indonesia ini sempat ingin kembali ke Indonesia. Untung, kegiatannya sebagai artist facilitator sukarelawan di Toronto Community Center membantunya mengatasi kerinduan. Ia banyak mempelajari multibudaya masyarakat imigran yang banyak datang ke Kanada.
Dua tahun kemudian, lelaki yang masih menanti kehadiran anak kandung ini menjadikan artist facilitator sebagai profesi. Istrinya yang penari dan instruktur yoga sering membantunya dalam berbagai kegiatan seni.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/18/Sosok/2574222.htm
Susan Allen (Canada)
Susan Allen adalah seorang pencerita dan dalang wayang kulit yang telah mengadakan pertunjukan di Kanada, Jepang dan Indonesia dengan perusahaan teaternya, Me and My Shadows. Ia menggunakan seni sebagai alat mengajar anak-anak, remaja dan orang dewasa, dan telah melatih guru-guru dengan metodologi ini. Ia memiliki gelar Master dalam Ilmu Lingkungan Hidup dan telah menyelesaikan pendidikan dua tahun untuk mendapatkan gelar Ph.D dalam Pendidikan Holistik. Ia memiliki hasrat yang tinggi untuk proses kreatif dan menjiwai segala sesuatu yang kita lakukan. Tur ini didukung oleh Canada Council for the Arts sehingga para pengunjung dari Kanada bisa mengetahui seniman dari daerah dan provinsi yang lain.
Susiawan (Indonesia/Canada)
Susiawan adalah seorang seniman, pelukis dan fasilitator seni anak di Indonesia dan Kanada. Ia memiliki gelar B.F.A. dalam bidang Seni Grafik dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Ia merintis pendidikan alternatif dengan menggunakan wayang kulit untuk anak-anak di Indonesia (1981-1994) dan menerima beasiswa ASHOKA “Innovator for the Public”(1987), dan “Artists In Education” di Kanada (sejak 2003). Sejak itu ia bekerja untuk siswa dan guru dengan menggunakan wayang kulit untuk memajukan kreatifitas, pemahaman lintas–budaya dan perdamaian di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Tur ini didukung oleh Canada Council for the Arts sehingga para pengunjung dari Kanada bisa mengetahui seniman dari daerah dan provinsi yang lain.
http://www.ubudwritersfestival.com/ilist.php?id=S#9 |
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/30/keluarga/2617773.htm
Niat positif untuk melakukan pekerjaan amal, ternyata belum cukup. Walaupun semua orang tahu, beramal adalah sesuatu yang baik, tidak semua mudah percaya. Makanya, masih diperlukan kerja keras dan keteguhan hati dari para pelaku agar niat itu terwujud. Ketika Elizabeth Widjaja (34) berniat membuka sekolah gratis, dia harus mengetuk setiap rumah agar mau menyekolahkan anaknya di sana. "Mereka tidak ada yang percaya bahwa saya menyelenggarakan sekolah gratis. Katanya, di dunia ini tidak ada yang gratis," kata Eli menirukan ucapan seorang tukang bakso yang tidak percaya pada bantuannya.
Tetapi Eli tidak putus asa. Setiap hari dia datang ke rumah-rumah untuk mengundang anak-anak sekolah. Eli mendapatkan 27 murid. Namun setelah kegiatan sekolah berjalan, Eli melihat, banyak orangtua yang kurang menghargai sekolah gratis yang dia berikan. "Mereka tidak mempunyai komitmen untuk terus menyekolahkan anaknya karena merasa tidak mengeluarkan uang. Akhirnya saya tetapkan setiap murid harus membayar uang sekolah Rp 5.000 tiap bulan. Hanya anak yang benar- benar tidak mampu yang dibebaskan uang sekolah. Setelah diminta bayar, barulah mereka memiliki komitmen," cerita Eli.
Vanesa Wen, salah seorang penggagas Yayasan Untuk Cinta, yayasan yang membantu anak-anak penderita kanker, mengatakan, niat baik mereka untuk menolong penderita tidak selalu mendapat sambutan hangat.
"Pernah kami ditolak oleh seorang ibu karena ingin membawa anaknya yang menderita bibir sumbing dioperasi ke Jakarta. Ibu itu khawatir anaknya akan diapa-apakan. Akhirnya kami bawa saja seluruh keluarganya ke Jakarta, termasuk sang ibu, untuk mengurangi rasa khawatir itu," tutur Vanesa. Setelah selesai operasi, ibu itu lalu mengucapkan terima kasih dan mengagumi anaknya sudah tidak sumbing lagi.
Selain itu, Vanesa mengaku dirinya tidak boleh hanya menunggu bola saja, melainkan harus datang langsung ke rumah sakit. "Kalau hanya menunggu bola, kita justru akan kewalahan karena begitu banyak orang yang datang minta pertolongan. Kami lebih memilih datang ke rumah sakit, dan fokus pada anak-anak yang menderita kanker," ujar Vanesa.
Jika dilihat dari segi jumlah, mungkin apa yang dilakukan mereka belum ada apa-apanya. Namun sekecil apa pun itu, bantuan mereka sangat berarti buat mereka yang membutuhkan, dan juga buat negara yang agaknya masih belum mampu menyejahterakan rakyatnya ini.
(ARN/BOY)
Oleh M Clara Wresti dan Buyung Wijaya Kusuma
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/30/keluarga/2616578.htm
Gempuran iklan yang sangat persuasif ternyata tidak selalu berhasil mendorong orang-orang muda untuk hidup konsumtif. Ada juga orang muda yang punya banyak duit, mandiri, pergaulan luas, namun lebih memilih untuk mendedikasikan diri ke hal-hal sosial daripada menghabiskan waktu di dugem (dunia gemerlap) dengan teman-temannya.
"Bagaimana mau dugem jika waktu untuk kerja saja sering saya pakai untuk kerja sosial ini. Habis bagaimana lagi, anak-anak itu butuh hiburan dan biaya," kata Andi Lim (29), seorang desainer interior yang memiliki perusahaan sendiri. Dia bersama dua temannya yang lain, Vanesa Wen (30) dan Prasetyo Boogie (30), menjadi sukarelawan yang menghibur anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS Dharmais. Anak-anak yang mereka hibur itu adalah anak-anak dari kalangan menengah bawah, dan tidak punya cukup uang untuk sekadar mengurangi rasa sakit.
Adapun Elizabeth Widjaja (34) mengaku tidak punya waktu sama sekali karena dirinya sibuk menjadi pengelola sebuah TK bagi anak-anak yang tidak mampu.
"Banyak orang jalan-jalan liburan pada bulan Juni-Juli, saya justru tidak bisa. Di kedua bulan itu saya lagi sibuk-sibuknya melakukan acara pelepasan murid, menyusun kurikulum, dan penerimaan murid baru. Bagaimana bisa jalan-jalan," kata Eli, panggilan dia sehari-hari.
Eli adalah pemilik sekaligus pengelola Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak Pelangi yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sekolah ini memakai ruang tamu sebagai kelas bagi 55 murid yang belajar di sana.
"Saya melihat, ruang tamu saya yang begitu besar ternyata tidak ada fungsinya. Setiap kali tamu datang, mereka masuk lewat garasi, lalu duduk di ruang tengah. Akhirnya, daripada tidak terpakai, saya pakai saja untuk sekolah gratis bagi anak-anak yang tidak mampu," kata Eli.
Eli tersentuh untuk membuat sekolah, karena walaupun dia tinggal di daerah elite, ternyata banyak keluarga yang kurang mampu tinggal di sekitar kawasan elite itu. Dia melihat, banyak anak yang mengalami kesulitan di SD karena mereka tidak melalui TK. "Saat ini tidak ada TK yang murah. Karena tidak mampu menyekolahkan, orangtua memilih membiarkan anak-anaknya bermain di luar," cerita Eli yang mulai menjalankan TK itu sejak tahun 2003.
Ketika Eli memutuskan rumahnya dijadikan sekolah, dia langsung pergi ke RT, RW, dan Kelurahan untuk minta izin. Dia juga mencari sebuah yayasan yang bisa memasok guru ke sekolah itu. "Saya tidak mengurus izin resmi karena saya tidak punya dana untuk itu. Sekolah saya ini boleh dibilang gratis, dan sponsor utamanya adalah suami saya. Tujuan saya hanya mengisi anak- anak dengan sesuatu yang positif, sama sekali tidak mencari keuntungan materi," tegas istri seorang vice president di sebuah perusahaan modal asing ini.
Eli tidak hanya memberikan bermacam kegiatan untuk melatih motorik halus anak-anak. Dia juga mengenalkan anak-anak dengan kegiatan luar ruang. Dia membolehkan anak-anak itu latihan berenang di kolam renang pribadinya. Selain itu, setiap akhir tahun ajaran, anak kelas C mengadakan kemping bersama selama tiga hari dua malam di halaman kosong samping rumah Eli. "Ide awalnya adalah membawa anak-anak jalan- jalan. Pertama kali kami pergi ke Ragunan, karena biayanya murah. Setelah itu kami bingung mau ke mana lagi, karena tiket masuk di tempat lain mahal semua. Akhirnya, saya beli saja dua buah tenda besar, lalu anak-anak itu saya ajak kemping. Ternyata, walau mereka sering main di luar, kegiatan kemping sangat mengasyikkan buat mereka," cerita Eli.
Eli tidak hanya mengisi hal-hal yang positif pada anak- anak saja. Dia juga tergerak memberdayakan orangtua yang mengantar anak sekolah dengan membuat berbagai macam benda dari barang bekas. "Ketika sekolah sudah berlangsung enam bulan, saya lihat banyak ibu-ibu yang ngerumpi saja ketika menunggu anak. Akhirnya, saya putar otak, daripada bengong dan ngobrol yang tidak jelas, lebih baik mereka membuat sesuatu. Bahan baku saya sediakan, mereka hanya tinggal belajar bagaimana membuatnya. Sekarang, banyak sekali yang telah dibuat oleh ibu- ibu itu. Celengan, tempat sepatu, pin, gantungan kunci, hiasan magnet, dan sebagainya. Waktu ada Festival Jalan Kemang, barang-barang itu banyak yang terjual. Uangnya, ya, buat ibu- ibu," kata Eli yang memang sejak remaja senang menjadi sukarelawan di panti-panti asuhan.
Eli sudah menghitung, biaya operasional untuk kegiatannya ini memerlukan dana sekitar Rp 65 juta setahun. Dana ini sebagian besar diambil dari gaji suami. Sisanya, beberapa kali Eli mendapat bantuan dari teman- temannya.
Penderita kanker
Jika Eli sehari-hari disibukkan mengurus murid dan orangtua murid, Andi, Boogie, dan Vanesa banyak menghabiskan waktu di RSCM dan RS Dharmais sejak tahun 2003. Mereka datang untuk memompa semangat anak- anak yang menderita kanker dan keluarganya.
"Meskipun hanya kunjungan, tetapi anak-anak dan keluarganya sangat bahagia. Padahal kami tidak saling kenal. Jika kebetulan kami membawa artis yang mau ikutan, biasanya keluarga pasien sangat terhibur," ujar Boogie yang sehari-hari bekerja sebagai manajemen artis.
Andy mengaku tersentuh melihat penderitaan anak-anak itu karena mereka hanya mendapatkan fasilitas yang minimal. "Mereka menjalani kemoterapi dengan fasilitas seadanya. Setelah kemo, mereka tidak diberi obat pengurang rasa sakit karena obat itu sangat mahal. Bayangkan, orang dewasa saja kesakitan, apalagi anak-anak kecil itu," kata Andi yang bersyukur karena sembuh dari sebuah penyakit gara-gara malpraktik.
Vanesa mengatakan, bantuan yang mereka berikan dibagi dalam dua bentuk. Jika penderita tidak memiliki angka harapan hidup yang tinggi, mereka membantu dalam bentuk hiburan atau perbaikan nutrisi. Sementara untuk penderita yang masih memiliki angka harapan hidup cukup tinggi, bantuan lebih diarahkan untuk pembelian obat-obatan, termasuk obat pembunuh rasa sakit.
"Ada empat anak yang telah kami tolong. Tetapi tiga di antaranya sudah dipanggil Yang Kuasa. Untungnya, sebelum meninggal, mereka masih bisa bermain dengan boneka yang kami berikan. Tidak ada peristiwa yang lebih indah selain melihat mereka tersenyum saat main boneka itu," kata Vanesa yang berprinsip hidup harus mempunyai makna bagi orang lain.
Mereka bertiga mengakui, dana untuk melakukan kegiatan itu cukup besar. Selama ini dana itu berasal dari kantong pribadi mereka. Namun, mereka melihat kebutuhan untuk membeli obat- obatan semakin tinggi. Apalagi anak yang minta bantuan juga semakin banyak. Akhirnya, minggu lalu, mereka melakukan konser musik untuk mengumpulkan dana. Untuk itu, akhirnya mereka membentuk Yayasan Untuk Cinta, agar lebih mudah jika melakukan kegiatan pengumpulan dana.
"Dana yang terkumpul mencapai Rp 140 juta kotor, yang terkumpul dari donasi dan penjualan tiket. Banyak artis yang mendukung, dan mereka tidak minta bayaran. Kami melihat, sebenarnya banyak sekali orang yang mau membantu kerja amal, tetapi mereka tidak tahu caranya," kata Boogie, anak seorang dokter bedah plastik yang sejak kecil terbiasa melihat ayahnya membebaskan biaya pengobatan bagi pasien tidak mampu.
|  | The Jakarta Post (www.thejakartapost.com)
Volunteers join hands in an inclusive community
As the Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2005 geared up toward the official launch on Oct. 7, a flurry of activity and an underlying hum of energy surrounded the 30 or so festival venues scattered through town.
Meanwhile, local police and professional security personnel gather at street corners, along streets and other strategic points ahead of the first public appearance of Timor Leste President Xanana Gusmao, First Lady Kirsty Sword Gusmao and their family.
In the midst of ongoing workshops and the mass arrival of participating writers and local and foreign media were Indonesian and expatriate individuals -- distinguishable by name tags fluttering about their necks in a variety of colors - who manned their stations, welcoming all.
These are members of the UWRF volunteer corps, and the many shoulders upon which the festival's smooth running - and thus its ultimate success - rests.
Managed by coordinator Peta Hanslow, an Australian national who has recently retired in Ubud with her husband, the team of volunteers is responsible for the organization and facilitation of the entire festival, and from the box office to participant registration, from guest relations to venue monitoring.
"This is my first year as a resident here, so it was a great honor when (festival director) Janet De Neefe asked me to be their volunteer coordinator," said Hanslow, who previously managed up to 1,000 nursing staff at a Tasmanian hospital.
Consisting of nearly 70 individuals representing several nationalities, including Indonesian, American, Australian, Dutch, English, French and Swiss, the majority of volunteers hail from Ubud and surrounding areas, and have been working since January to put everything in place.
In addition, four Australian women who traveled to Ubud to take part in literary workshops also offered their support.
"I'm extremely grateful for their generosity," said Hanslow, who took it upon herself to assign them to venues featuring Indonesian writers and literature.
"It is important for visitors to experience Indonesian culture... we expats should be in the background," she stressed. Keeping this in mind, Hanslow also prioritized the participation of Indonesian volunteers, and some have come all the way from Jakarta to offer assistance.
"Our Indonesian volunteers are... essential, not only for their (dual) language abilities," but also as cultural representatives of their country. "After all, (Indonesian culture) is the face of this festival... and Janet has always emphasized this," she said. "And if participants pick up on this, then they'll feel they've accomplished something by coming here."
Personally screening and interviewing new volunteers - those who were not involved in the first Ubud literary festival, in 2004 -- especially expatriate candidates, Hanslow's main criterion was that potential volunteers had to be "a people person".
"Our basic aim is to ensure that every guest is made to feel extremely special... writers, participants and the media," she said. "We want to project that we are friendly, easy-going, but with a mind for protocol... and ethics."
Drawing upon her background in personnel management, Hanslow implemented training workshops on basic customer service, established a structured organization of volunteers and developed guidelines for each specific volunteer position.
"The festival is growing and becoming known internationally, so a professional, structured organization is an absolute must."
Venue volunteer Ariana, a resident of Banjar Batanancak in Mas village, Ubud, has returned for the second year "because I want to help the festival gain greater awareness from among the public".
As for her personal motives, she said: "I hope to gain more knowledge about literature and to attract more local people to love reading. From my experience, local interest in reading books is still low, even though most people have a good appreciation for listening to stories told verbally."
"I'm excited about the launch," Ariana added."It's very inspiring, because here in Ubud, it's usually an arts festival. Literary events are still new."
Another volunteer, British-born Ubud resident Mary Northmore, said: "I support and welcome all community initiatives that work toward breaking down borders between people, and so increase understanding of our cultures and worlds." Northmore, who was also involved in last year's festival, added that the experience so far had been "excellent. We had a very good workshop yesterday, and today's are going well. (There has been) Far less confusion than last time"; which indicated to her that lessons were definitely learned from 2004.
"The Ubud community is absolutely brilliant regardless of the festival," noted Hanslow. "But today, there is a definite buzz on the streets," she continued.
Even shopkeepers have called out to her in an excited hush,"Ibu. The festival!" On an earlier occasion, as she Hanslow walking down the street with festival posters under her arm, a young Balinese man on a motorcycle stopped by and offered to put up several posters near his area. "(The Balinese) are accepting."
Ariana agrees, describing the community's contributions to the festival in a single work: "Accommodation. From the village level and on up... even after the bomb, they have welcomed everyone with open arms."
"And I think one of the main reasons for this is that Janet and (husband) Ketut are so well-respected in the community," said Hanslow.
Indeed, the festival's theme, Between Worlds/Antar Bhuwana, appears to permeate its very organization in the abstract, but also personally.
According to Northmore, the theme "says it all -- we are all in transitional states; local-global, material-spiritual, traditional-modern".
For Ariana, it means "no borders. We are one, yet we have an opportunity to exchange cultures through our diversity".
"I suppose you could say that I am between worlds in dealing with expatriate and Indonesian volunteers," said Hanslow. "It has been most rewarding for me and a real pleasure to work with our Indonesian volunteers in particular... It's hard work, but an absolute joy... and an honor to be part of the festival."
After a moment, she added, "I think I'm the luckiest person on earth this week." – Chisato Hara
===
Btw, Ini foto-foto di Ina Inn, pagi hari sebelum pulang ke Denpasar. Sebenarnya, volunteer nya lebih dari ini, tapi di hari terakhir, hanya inilah yang tersisa di Ina Inn. |
| |